Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Begitu rapat Zoom dengan investor Singapura ditutup, Pradipta tidak membuang waktu. Ia menyambar helm proyeknya dan melangkah lebar keluar dari kontainer kantor lapangan. Matanya tajam mengunci sosok Alana yang berdiri di dekat tumpukan besi tulangan, tampak gelisah sambil berkali-kali merogoh saku celananya.
Pradipta melihat bagaimana jemari Alana gemetar saat menatap layar ponsel, dan bagaimana bahunya merosot setiap kali sebuah notifikasi baru masuk. Ia tahu, jika dibiarkan, wanita ini akan hancur sebelum pengecoran selesai.
Penyitaan yang Tak Terduga
"Berikan ponselmu, Alana," suara berat Pradipta menginterupsi lamunan pahit Alana.
Alana tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya ke dalam adukan beton. Ia menoleh dan mendapati Pradipta sudah berdiri sangat dekat, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca—setengah tegas, setengah peduli.
"P-pak... maksud saya, Pradipta? Apa yang kamu lakukan di sini?" Alana berusaha menyembunyikan ponselnya di balik punggung.
"Ponselmu. Berikan padaku sekarang," perintah Pradipta lagi, kali ini sambil mengulurkan telapak tangannya yang lebar.
Alana mengernyit bingung. "Untuk apa? Saya sedang menunggu koordinasi dari bagian logistik, Pak."
"Jangan berbohong. Aku melihatmu terus menatap layar itu dengan wajah ketakutan sejak tadi pagi," ujar Pradipta tanpa basa-basi. "Pengecoran ini butuh fokus penuh. Satu kesalahan kecil pada struktur, dan seluruh gedung ini bisa runtuh. Aku tidak mau asisten manajerku bekerja dengan pikiran yang terbagi oleh... gangguan luar."
"Tapi ini urusan pribadi saya—"
"Dan urusan pribadimu mulai mengganggu kinerja profesionalmu," potong Pradipta telak. Ia mengambil paksa ponsel dari tangan Alana yang masih mematung. "Ponsel ini aku sita sampai jam kerja selesai. Kamu bisa mengambilnya kembali di meja makan malam ini. Aku tidak menerima penolakan."
Alana ternganga. "Makan malam? Tapi kita bisa menyelesaikannya di kantor lapangan nanti sore, Pak!"
Pradipta memasukkan ponsel tipis milik Alana ke dalam saku rompinya, lalu menepuknya pelan. "Sore ini aku ada peninjauan di sisi timur. Satu-satunya waktu luangku adalah jam delapan malam. Jadi, kalau kamu mau ponselmu kembali sebelum ibumu atau adikmu mengirim pesan gila lainnya, temui aku di restoran hotel."
Alana terdiam. Ia tahu ini adalah taktik klise Pradipta. Pria itu sengaja menyita ponselnya bukan hanya untuk "fokus kerja", tapi sebagai sandera agar Alana tidak punya alasan untuk menghindarinya malam nanti.
"Sekarang, kembali bekerja, Alana Caesarea casseline," ujar Pradipta dengan nada yang sedikit lebih lembut, namun tetap penuh otoritas. "Tunjukkan padaku kenapa aku memilihmu sebagai asisten manajer terbaik di perusahaan ini."
Pradipta berbalik dan berjalan pergi sebelum Alana sempat melontarkan protes lebih lanjut. Alana berdiri terpaku, menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk.
Anehnya, meskipun ia merasa kesal karena ponselnya disita, ada rasa lega yang menyelinap di dadanya. Tanpa benda itu di sakunya, ia tidak perlu lagi mendengar denting pesan dari Rian yang memaksanya menjadi mesin uang. Untuk beberapa jam ke depan, ia bebas dari tuntutan keluarganya.
"Dasar bos licik," gumam Alana pelan, namun kali ini tanpa nada marah. Ada seulas senyum tipis yang hampir tak terlihat di bibirnya saat ia kembali fokus pada aliran beton yang mulai mengisi pondasi.
Pradipta tidak langsung pergi menjauh. Setelah berjalan beberapa langkah, ia berhenti sejenak dan menoleh sedikit, cukup untuk menangkap bayangan Alana dari sudut matanya. Di sana, di tengah deru mesin dan debu konstruksi yang beterbangan, ia melihat Alana kembali menarik napas panjang—bukan napas sesak penuh beban seperti tadi pagi, melainkan napas lega yang seolah baru saja melepaskan ransel seberat berton-ton.
Sebuah senyum tipis, hampir tak kentara namun penuh arti, terukir di wajah tegas Pradipta.
Ia tahu tindakannya barusan sangat arogan. Menyita ponsel bawahan di tengah lokasi proyek bukanlah prosedur standar perusahaan mana pun. Namun, ia tidak peduli. Melihat garis wajah Alana yang mulai melunak dan cara wanita itu kembali memberikan instruksi kepada para pekerja dengan suara yang lebih mantap, adalah kemenangan kecil baginya.
"Ternyata benar," batin Pradipta sambil meraba saku rompinya, di mana ponsel Alana tersimpan. "Kadang, cara terbaik untuk melindungimu adalah dengan menjauhkanmu dari dunia yang terus-menerus memintamu menjadi pahlawan."
Pradipta kembali melangkah menuju sisi timur, namun senyum itu belum sepenuhnya hilang. Ia merasa puas, bukan karena kekuasaannya sebagai bos, melainkan karena ia berhasil memberikan "ruang bernapas" yang sangat dibutuhkan Alana, meskipun dengan cara yang sedikit memaksa.
Sepanjang sisa hari itu, Pradipta berkali-kali merasakan ponsel di sakunya bergetar. Ia tahu itu pasti rentetan pesan dari ibu atau adik Alana yang menuntut uang. Setiap kali getaran itu terasa, rahang Pradipta mengeras. Ia bersyukur benda ini ada padanya, bukan pada Alana. Ia tidak akan membiarkan kata-kata tajam dari rumah itu merusak kerja keras Alana hari ini.
Sementara itu, dari kejauhan, Alana tampak jauh lebih produktif. Ia memanjat tangga perancah, memeriksa kerapatan bekisting, dan berdiskusi dengan Pak Wayan tanpa sekali pun melirik ke arah saku celananya. Ada aura ketenangan yang kembali menyelimutinya, seolah beban "mesin ATM" itu telah berpindah tangan untuk sementara waktu.
Pradipta terus mengawasi dari jauh, memastikan asisten manajernya itu aman dalam "keheningan" yang sengaja ia ciptakan. Ia sudah tidak sabar menunggu pukul delapan malam nanti. Bukan hanya untuk mengembalikan ponsel itu, tapi untuk memastikan Alana tahu bahwa di dunia ini, dia tidak harus selalu menjadi orang yang memberi—dia juga berhak untuk dijaga.