NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Operasi Menjinakkan Gunung Es

POV Zea

Namaku Zea.

Dulu, definisiku tentang cowok idaman itu sederhana: Kapten basket, populer, wangi. Tapi hari ini, definisi itu hancur berantakan.

Digantikan oleh satu nama: Callen.

Cowok berkacamata, berwajah datar, naik sepeda, ranking 30, dan... berbahaya.

Aku duduk di bangku kelasku, memutar-mutar pulpen di antara jari. Pikiranku masih terjebak di kejadian hari Jumat lalu. Di belakang perpustakaan tua itu.

Tiga kakak kelas berbadan besar, tergeletak pingsan seperti bayi yang sedang tidur siang. Tidak ada luka, tidak ada darah. Dan Callen? Dia kembali kepadaku tanpa setetes keringat pun, sambil tersenyum tipis dan berkata, "Ssttt... Itu rahasia ya, Ze."

Suara baritonnya saat memanggilku "Ze" masih terngiang-ngiang di telinga, seperti kaset rusak yang terus diputar ulang. Panggilan itu pendek, sederhana, tapi efeknya... ya ampun. Rasanya seperti ada kembang api meledak di perutku.

"Ze... Ze... Ze..." gumamku pelan sambil senyum-senyum sendiri menatap papan tulis kosong.

"Heh! Kesambet lu ya?"

Tepukan keras di bahu membuatku melonjak. Rara berdiri di samping mejaku sambil menatap ngeri. "Dari tadi senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Serem tau."

"Apaan sih, Ra. Ganggu aja," gerutuku, tapi senyumku tak bisa hilang.

"Gara-gara si Callen lagi?" tebak Dinda yang duduk di depanku, memutar kursinya menghadap kami. "Serius deh, Ze. Sejak kapan selera lu turun drastis gitu? Kevin tadi nanyain lu terus lho."

Aku mendengus pelan. Kevin? Siapa itu Kevin?

"Kalian nggak ngerti," jawabku sambil menopang dagu, menatap punggung Callen yang duduk di pojok belakang kelas. Dia sedang membaca buku tebal—entah buku apa, sampulnya cokelat polos—dan terlihat sangat tenang seolah dunia di sekitarnya tidak ada.

Teman-temanku melihat Callen sebagai cowok biasa yang membosankan. Tapi aku? Aku melihatnya sebagai puzzle paling rumit dan menarik di dunia.

Aku tahu dia punya ibu super cantik yang fashionable. Aku tahu dia pernah punya rambut biru di Paris. Aku tahu dia bisa menjelaskan sistem drainase kota sambil makan sop ayam. Dan yang paling gila: aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana dia melumpuhkan tiga orang sekaligus tanpa jejak.

Dia itu seperti bawang. Makin dikupas, makin banyak lapisannya, dan makin bikin nangis (dalam artian bagus).

"Pokoknya," ucapku tegas pada Rara dan Dinda, mataku berkilat penuh tekad. "Gue bakal dapetin dia."

"Hah?" Rara melongo. "Dapetin gimana maksudnya?"

"Gue bakal bikin dia jatuh cinta sama gue. Gue bakal bikin dia lepasin topeng datarnya itu. Dan yang paling penting..." Aku mengepalkan tangan penuh semangat. "...gue bakal bikin dia nunjukin wujud aslinya yang ganteng banget itu ke sekolah."

"Lu sakit, Ze. Fix sakit," Rara geleng-geleng kepala.

Masa bodoh. Operasi Menjinakkan Gunung Es dimulai sekarang.

Strategi pertamaku: Pendekatan Agresif Berkedok Manajer.

Jam istirahat kedua. Callen tidak ke kantin. Dia tetap di kelas, mungkin menghindari keramaian setelah insiden Jumat lalu.

Aku berjalan menghampiri mejanya. Dia menyadari kedatanganku, tapi pura-pura tidak lihat. Dasar cowok tsundere.

"Cal," panggilku manis, duduk di kursi kosong di depannya.

Callen menutup bukunya perlahan, lalu menatapku di balik kacamata itu. Tatapannya datar, tapi tidak sedingin dulu. Ada sedikit rasa waspada di sana.

"Apa lagi, Zea?" tanyanya.

"Kamu beneran jadi daftar Tenis Meja kan? Sesuai omongan kamu di koridor Jumat lalu?" tembakku langsung.

"Hm. Sudah kedaftar tadi pagi sama ketua kelas," jawabnya singkat.

"Nah, bagus!" Aku menepuk tangan sekali. "Aku ambil tugas jadi seksi dokumentasi kelas. Jadi, secara teknis, aku bakal banyak ng

Alis Callen terangkat sebelah. "Terus?"eliput persiapan atlet kelas kita. Termasuk kamu."

"Terus..." Aku memajukan wajahku sedikit, menatapnya intens. "Aku mau nawarin diri jadi Manajer Pribadi kamu selama turnamen."

Callen mengerutkan kening. "Manajer? Tenis meja itu olahraga individu, Zea. Aku nggak butuh manajer. Aku cuma butuh bet sama bola."

"Ih, jangan salah!" bantahku cepat. "Siapa yang bakal bawain anduk kamu? Siapa yang bawain minum? Siapa yang ngatur jadwal tanding biar kamu nggak telat? Siapa yang teriak-teriak nyemangatin kamu pas lagi down? Itu tugasku!"

Callen menghela napas panjang. "Aku bisa urus diri sendiri. Dan aku nggak bakal down cuma gara-gara main pingpong."

"Ck, sombong amat," cibirku, tapi dalam hati aku tahu dia memang mampu. Orang yang bisa bikin pingsan tiga kakak kelas dalam 6 menit mana mungkin stres main pingpong.

Aku harus pakai cara lain. Cara yang lebih mengikat.

Aku melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada yang menguping.

"Oke, kalau kamu nggak butuh manajer... gimana kalau kita taruhan?" tantangku.

Mata Callen menyipit. "Taruhan?"

"Iya. Taruhan," ucapku mantap. "Kamu kan jago tuh. Aku udah liat sendiri buktinya Jumat lalu di belakang perpus."

Callen melotot sedikit, memberi isyarat agar aku mengecilkan suara. Dia jelas tidak mau insiden itu dibahas.

"Kalau kamu beneran se-dewa itu..." lanjutku dengan senyum licik. "Kamu pasti bisa menang emas di cabang Tenis Meja kan? Lawan kakak kelas sekalipun?"

Callen terdiam sebentar, menimbang-nimbang. "Mungkin. Tergantung mood."

"Oke. Gini deal-nya," kataku sambil mengacungkan jari telunjuk. "Kalau kamu berhasil dapet Medali Emas di Pekan Olahraga ini... aku bakal berhenti gangguin kamu di sekolah. Aku bakal berhenti ngikutin kamu, berhenti bawelin kamu, dan aku bakal jaga rahasia soal 'tidur siang' itu selamanya."

Ekspresi Callen berubah tertarik. Tawaran "kedamaian" itu jelas sangat menggiurkan baginya.

"Tapi..." lanjutku cepat sebelum dia setuju. "Kalau kamu kalah... atau kalau kamu menang tapi aku merasa kurang puas dengan performamu..."

"Syaratnya curang," potong Callen datar. "Masa 'kalau menang tapi kurang puas'?"

"Dengerin dulu!" selaku gemas. "Intinya, kalau kamu menang Emas, aku punya satu permintaan yang wajib kamu kabulin. Apapun itu. Nggak boleh nolak."

Callen menatapku curiga. "Permintaan macam apa?"

Aku tersenyum misterius. "Rahasia. Yang jelas nggak melanggar hukum dan nggak membahayakan nyawa."

Dalam hatiku, aku sudah menyusun rencana jahat (tapi indah). Permintaanku cuma satu: Aku ingin melihat Callen datang ke sekolah satu hari saja dengan penampilan aslinya. Tanpa kacamata netral, rambut ditata rapi (kalau bisa diwarnai biru temporer pakai hair spray), dan pakai baju keren kayak di foto Paris itu.

Aku ingin melihat pangeran itu secara nyata, bukan cuma di layar HP mamanya.

"Gimana?" desakku. "Takut kalah?"

Callen menatapku lama. Dia sedang menghitung probabilitas. Dia tahu aku keras kepala. Kalau dia menolak, aku pasti bakal terus menempel padanya seperti parasit cantik yang menyebalkan.

Tapi kalau dia terima... dia harus menang Emas. Dan kalau menang, dia harus mengabulkan satu permintaanku.

Callen menyandarkan punggung ke kursi, lalu tersenyum tipis. Sangat tipis.

"Baiklah," jawabnya tenang. "Aku terima tantanganmu."

Hatiku bersorak kegirangan. Yes! Kena kau!

"Tapi ingat, Ze," tambah Callen, suaranya merendah. "Aku nggak suka kalah. Jadi jangan harap kamu bisa liat aku gagal."

"Siapa yang berharap kamu gagal?" balasku sambil mengedipkan mata. "Aku kan suporter nomor satumu, Cal. Aku justru mau kamu menang."

Supaya aku bisa nagih janji itu, lanjutku dalam hati.

"Oke, Deal!" Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Callen menyambut tanganku. Cengkramannya kali ini tidak sekeras saat dia menahan tanganku Jumat lalu, tapi hangat dan mantap.

"Deal."

Saat tangan kami bersentuhan, aku merasakan aliran listrik aneh itu lagi. Aku menatap wajahnya yang tenang.

Tunggu aja, Cal, batinku sambil tersenyum lebar. Dua minggu lagi, satu sekolah bakal gempar liat siapa kamu sebenarnya. Dan itu semua berkat aku.

"Oh ya, Cal," ucapku sebelum melepaskan tangannya.

"Apa lagi?"

Aku mendekatkan wajahku, berbisik pelan.

"Mulai besok, latihan fisik bareng aku ya? Itung-itung pemanasan manajer dan atlet. Aku tahu kamu kuat, tapi aku mau liat seberapa kuat kamu di lapangan resmi."

Wajah Callen mendadak terlihat menyesal telah menyetujui taruhan ini.

Dan aku? Aku tertawa penuh kemenangan. Misi penaklukan dimulai!

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!