Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Satu Meja, Dua Dunia
Ruang rapat utama Aksara Muda mendadak terasa nggak nyaman. Pak Hermawan, pemimpin redaksi yang otaknya selalu penuh ide "ajaib", duduk di ujung meja dengan senyum lebar yang malah bikin firasat gue makin nggak enak.
“Saya mau kalian berdua pegang proyek paling bergengsi tahun ini,” buka Pak Hermawan sambil mengetuk-ngetuk map biru di depannya. “The Soul of Jakarta. Antologi esai naratif. Genta, kamu kelola strukturnya. Dan Aruna, saya butuh sentuhan emosional kamu yang biasanya bikin pembaca baper itu.”
Gue melirik Genta. Genta melirik gue.
“Sama dia, Pak?” tanya kami berdua barengan. Kompak. Sama-sama nggak suka.
“Masalah, Pak,” Genta langsung memotong dengan nada dinginnya yang khas. “Cara kerja Aruna itu terlalu... abstrak. Dia lebih sering pakai perasaan daripada data. Bisa berantakan ritme kerja saya.”
“Dan Pak Genta itu terlalu... kaku,” balas gue nggak mau kalah. Gue tatap matanya tajam-tajam. “Buku esai kalau isinya cuma logika kering, mending jadi buku manual mesin cuci aja, Pak!”
Pak Hermawan cuma tertawa, seolah percikan api di antara kami itu hiburan gratis. “Justru itu poinnya. Logika Genta dan perasaan Aruna. Kalian harus mulai sinkronisasi data malam ini juga. Besok pagi proposalnya harus sudah ada di meja saya.”
Sore harinya, Jakarta lagi-lagi hujan deras. Kantor sudah sepi, tapi di ruangan Genta, lampu masih nyala. Gue geser kursi ke samping mejanya. Jarak kami cuma semeter. Canggungnya? Jangan ditanya. Cuma ada suara tik-tik keyboard dan bunyi hujan yang menghantam jendela.
Gue iseng membuka HP sebentar. Ada satu notifikasi baru dari Kaka’s.
Kaka’s: Senja, gue lagi terjebak sama seseorang yang keras kepala banget. Rasanya kayak lagi debat sama dinding. Doain gue selamat ya.
Gue hampir aja nyembur ketawa. Dinding? Pas banget istilahnya. Gue pun membalas dengan semangat:
Senja_Sastra: Hahaha, semangat Kaka’s! Gue juga lagi ‘perang’ nih. Monster di samping gue ini lagi pasang muka paling galak sedunia. Kayaknya dia butuh disiram air doa biar agak kalem.
Tiba-tiba... PET!
Seluruh ruangan gelap gulita. Gue menjerit kaget, refleks menyambar dan mencengkeram lengan Pak Genta.
“Aduh!” seru Genta.
“Maaf, Pak! Refleks!” Gue buru-buru melepas pegangan. Gelap total. Listrik kantor benar-benar mati.
“Jangan gerak, saya cari senter di laci,” suara Genta terdengar lebih rendah dan dekat di telinga gue.
Tiba-tiba, layar HP gue yang masih tergeletak di meja menyala terang. Notifikasi pesan masuk muncul jelas di sana.
Kaka’s: Tapi kalau dia dinding, gue apa? Semennya? Biar kami nempel.?
Genta, yang lagi membungkuk mencari senter, nggak sengaja melihat layar HP gue yang terang itu. Matanya menangkap nama akun di pojok atas aplikasi: Senja_Sastra.
Genta mematung. Gue bisa dengar helaan napasnya yang tertahan.
Perlahan, dia merogoh saku celananya. HP Genta menyala, cahayanya menerangi wajah gue yang pasti sudah pucat pasi. Tapi dia nggak menyalakan senter. Dia justru membuka aplikasi NovelToon.
Dia mengetik sesuatu sambil tetap memperhatikan reaksi gue.
Drrttt...
HP gue bergetar.
Kaka’s: Lampu di tempat lo mati juga ya?
Gue langsung menyambar HP itu. Jantung gue rasanya mau copot ke lantai. Gue menatap layar, lalu menatap Genta yang masih memegang HP tepat di depan muka gue. Cahaya dari HP kami sama-sama nyala. Gue lihat jelas wajah Genta sekarang.
“Pak Genta...?” suara gue gemetar parah.
Genta diam. Dia menatap gue dengan tatapan yang susah ditebak, seperti kaget, bingung, dan ada sedikit rasa kagum yang seolah-olah selama ini dia tutup rapat-rapat.
“Ternyata...” Genta menggantung kalimatnya. “...Semennya ada di sini.”
Jantung gue rasanya berhenti berdetak saat itu juga. Semua langsung terasa nyata. Dan gue nggak siap. Dan yang paling bikin gue pengen menghilang sekarang juga, dan orang itu… Genta.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻