Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Julian masuk ke kursi kemudi, menutup pintu mobilnya, meninggalkan Vanya yang mematung sendirian di lobi kantor dengan wajah merah padam. Dia menyalakan mesin mobilnya, tapi tidak langsung tancap gas. Matanya melirik ke kaca spion tengah, di mana Syren masih duduk di kursi belakang dengan wajah cemberut.
"Masih cemberut aja, calon istri saya," goda Julian, senyum miringnya terlihat jelas.
"Apaan sih, Pak Bos. Nggak lucu," balas Syren ketus.
"Saya lihat kamu cemburu tadi pas Vanya ajak saya makan malam," tuduh Julian, sengaja memprovokasi Syren.
"Dihh, ngarang bebas!"
"Kalau bukan cemburu, kenapa tadi mukanya asem banget?" Julian semakin menjadi.
"Ya kesel aja ditinggal Gaby," Syren berusaha mengelak.
"Oh ya? Bukan karena saya mau kencan sama Vanya?"
"Bukan!" pekik Syren, sedikit salah tingkah.
Julian tertawa kecil, puas melihat reaksi Syren. "Ya sudah. Kalau gitu, nanti malam kita makan malam bareng aja. Gantiin Vanya," tawar Julian, kali ini suaranya lebih serius.
"Nggak mau!"
"Harus mau. Calon istri harus nurut sama calon suaminya," tutup Julian, lalu melajukan mobilnya membelah kemacetan sore hari, meninggalkan Syren yang merengut kesal di kursi belakang.
Mobil Julian berhenti di halaman rumah Syren. Syren yang masih merajuk di kursi belakang bersiap untuk turun, tapi Julian sudah lebih dulu keluar.
Julian membuka pintu belakang dan tanpa aba-aba, langsung menggendong Syren di depan seperti menggendong anak kecil. Syren yang terkejut setengah mati reflek mengalungkan tangannya di leher Julian dan kakinya ia kalungkan di pinggang Julian agar tidak jatuh.
"Pak Boss! Turunin!" bisik Syren panik.
Julian cuek, melangkah masuk ke dalam rumah Syren. Mereka pun sampai di ruang tamu. Ardi yang sedang fokus main game online di sofa langsung terkejut melihat pemandangan di depannya. Matanya melotot, headset-nya melorot.
"Mbak... Mbak Syren?!" pekik Ardi, kaget luar biasa.
"Diem, Di! Sana masuk kamar!" perintah Syren, wajahnya sudah merah padam.
Julian menurunkan Syren di sofa, tepat di sebelah Ardi yang masih loading dengan apa yang dia lihat.
"Syren, saya tunggu kamu dandan di sini. Habis ini kita makan malam," kata Julian santai, duduk di sofa seberang Ardi.
"Nggak mau!"
"Harus mau. Saya nggak terima penolakan," Julian tersenyum miring.
Ardi yang sudah sadar akhirnya nyeletuk. "Wuih, Mbak. To the point banget sih, Pak Bosnya! Langsung main gendong-gendong!"
"Diem lo!" sentak Syren, lalu berlari ke kamarnya untuk membersihkan diri, meninggalkan Julian yang tertawa dan Ardi yang penasaran setengah mati. Julian menunggu Syren dengan sabar di ruang tamu.
Di ruang tamu kecil yang furniturnya sudah mulai usang itu ,setidaknya itu yang dipercayai Syren sebagai bukti kebangkrutan ayahnya ,Ardi masih duduk mematung. Matanya berkedip-kedip, mencoba mencerna adegan sat-set ala bos besar yang baru saja menggendong kakaknya masuk ke rumah "miskin" mereka.
"Om Julian keren banget deh, langsung sat-set aja," kata Ardi sambil bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya kagum.
Julian yang duduk di kursi kayu ruang tamu itu tersenyum tipis. Ia melirik sekilas ke arah foto keluarga yang sempat ia lihat beberapa hari lalu—foto yang membuktikan kalau Syren sebenarnya putri dari teman karib ayahnya yang super kaya, yang sekarang lagi akting jadi orang susah.
"Ya makanya, kamu bantuin saya dapatin hatinya kakakmu," sahut Julian dengan nada rendah namun penuh keyakinan.
"Siappp, Om! Serahkan pada Ardi. Selama Om bisa bikin Mbak Syren berhenti galauin mantannya, saya dukung seratus persen!" jawab Ardi penuh semangat, memberikan jempol pada calon kakak ipar idamannya itu.
Tak lama kemudian, Syren keluar dari kamarnya yang hanya dibatasi pintu kayu biasa. Ia mengenakan dress selutut berwarna putih tulang yang dipadukan dengan cardigan biru soft kesukaannya. Rambutnya yang biasa dikuncir, kini ia gerai indah.
"Lama banget sih, Pak," gerutu Syren sambil menenteng tas kecilnya. Ia merasa sedikit minder dandan cantik di rumah yang ia pikir sudah bangkrut ini, padahal Julian tahu yang sebenarnya.
Julian berdiri, matanya menatap Syren tanpa berkedip. Di mata Julian, rumah sederhana ini tidak mengurangi aura kemewahan yang sebenarnya terpancar dari Syren. "Cantik," gumam Julian pelan.
"Ayo berangkat. Ardi, saya pinjam kakakmu sebentar," pamit Julian dengan sopan, menunjukkan tata krama kelas atas di hadapan keluarga teman papanya.
"Bawa aja Om, jangan dipulangin juga nggak apa-apa!" teriak Ardi saat mereka berjalan menuju mobil mewah Julian yang terparkir kontras di depan rumah itu.
"ARDIIII! MULUT LO YA!" teriak Syren kesal, wajahnya sudah semerah tomat.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui