Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Program hamil
Huda berdiri lebih dulu sambil melihat jam tangannya.
“Sudah malam. Kami pamit pulang dulu, ya.”
Kulsum cepat menahan.
“Loh, jangan dulu. Makan malam di sini saja. Mario juga harus minum obat setelah makan.”
Herry mengangguk setuju.
“Betul. Emaknya Anggi sudah masak. Sekalian makan bareng jangan sungkan kita kan sudah seperti keluarga.”
Tasya mendekat ke Aisyah.
“Tante… kita makan di rumah aja, ya?”
Aisyah berbisik pelan,
“Tante belum masak, Tasya.”
Herry tertawa kecil.
“Sudah, sudah. Ayo semua ke ruang makan.”
Mereka berpindah. Herry melihat kursi lalu mengernyit.
“Haduh, kursinya kurang satu.”
Anggika cepat menyahut,
“Anggi nanti saja makannya, Pak.”
Mario langsung berdiri.
“Kalau begitu saya sama Anggika makan di ruang tamu saja.”
Herry mengangkat alis.
“Eh, kamu tamu, Rio. Kamu yang duduk disini biar Bapak yang diruang tamu.”
Mario tersenyum santai.
“Nggak apa-apa, Pak. Saya nyaman kok.”
Kulsum menatap Anggika.
“Ambilkan makan untuk Mario, Gi.”
“Iya, Mak. Kamu tunggu di ruang tamu ya,” ujar Anggika pada Mario.
Di ruang makan, Aisyah memperhatikan piring Anggika yang hanya berisi Salad sayur.
“Yang banyak makanya, Gi. Kamu cuma ambil sayur aja?”
Anggika tersenyum kecil sambil menusuk potongan selada di piringnya.
“Aku lagi diet, Tante. Jadi nggak makan karbohidrat dulu.”
Aisyah memperhatikan isi piringnya yang penuh sayur.
“Lho, kok cuma makan sayur begitu? Nasinya nggak diambil?”
Kulsum ikut menjelaskan dari samping meja.
“Memang sejak pulang kampung, Anggi nggak makan nasi sama sekali. Paling cuma sayur, daging sapi tanpa lemak, dada ayam filet, sama buah. Katanya lagi jaga pola makan.”
Herry mengangguk pelan.
“Makanya badannya makin kecil. Tetangga sampai nanya, katanya kamu nggak pernah dikasih makan di rumah.”
Anggika tertawa kecil.
“Bukan nggak dikasih makan, Pak. Aku yang pilih makan sehat. Ini namanya langsing, Mak. Body gitar Spanyol.”
Aisyah tersenyum tipis.
“Yang penting sehat ya, Nak. Diet boleh, tapi jangan sampai kurang gizi.”
Anggika mengangguk.
“Iya, Tante. Aku tetap makan protein sama serat kok. Cuma memang nggak konsumsi nasi atau makanan tinggi gula dulu.”
Kulsum masih menatap khawatir.
“Pokoknya jangan terlalu keras sama diri sendiri, Gi. Kurus itu bagus, tapi sehat lebih penting.”
Anggika tersenyum meyakinkan.
“Iya, Mak. Tenang aja. Aku tahu batasnya.”
Herry geleng-geleng kepala.
“Tetap saja, jangan sampai orang kira kamu nggak dikasih makan.”
Huda tertawa.
“Perempuan memang suka begitu. Istri saya juga sering bilang diet,tapi tiap harinya ngemil terus.”
Aisyah langsung menoleh tajam.
“Papa…”
Huda angkat tangan menyerah.
“Iya, iya, salah ngomong. Jangan sampai nanti malam tidur di luar.”
Anggika membawa piring ke ruang tamu dan menyodorkannya ke Mario.
“Ini makanannya.”
Mario memperhatikan piring Anggika yang berbeda.
“Kamu nggak makan nasi? Dari pagi cuma bubur, sekarang cuma sayur?”
Anggika duduk di sampingnya.
“Dokter kandungan menyarankan aku mengatur asupan karbohidrat, terutama karbohidrat sederhana seperti nasi putih dan gula.”
Mario mengernyit.
“Kenapa memangnya?”
Anggika menarik napas pelan.
“Karena kondisi PCOS itu sering berkaitan dengan resistensi insulin. Kalau terlalu banyak karbohidrat sederhana, kadar gula darah bisa naik cepat, insulin meningkat, dan itu bisa memperparah ketidakseimbangan hormon.”
Mario mendengarkan serius.
“Makanya aku disarankan lebih banyak makan protein tanpa lemak, serat dari sayur, lemak sehat, dan buah dengan indeks glikemik rendah. Bukan berarti nggak boleh karbohidrat sama sekali, tapi harus dibatasi dan dipilih yang kompleks seperti nasi merah atau oat.”
Mario mengangguk pelan.
“Oh… jadi bukan karena kamu mau kurus semata.”
Anggika tersenyum tipis.
“Bukan. Lebih ke menjaga hormon tetap stabil dan membantu siklus menstruasi lebih teratur.”
Mario menyuap makanannya lalu menatap Anggika lembut.
“Kalau itu demi kesehatan kamu, aku dukung. Tapi jangan sampai kamu kurang nutrisi, ya.”
“Aku tetap makan cukup kok. Dokter juga bilang berat badanku masih dalam batas sehat.”
Mario tersenyum.
“Baiklah. Yang penting kamu sehat. Soal nasi, nanti kalau sudah stabil… aku suapin nasi merah sedikit-sedikit.”
Anggika tertawa kecil.
“Kamu ini.”
Mario berhenti mengunyah, lalu menatap Anggika lebih serius.
“Kamu kontrol ke dokter kapan lagi?”
Anggika menyendok saladnya pelan.
“Besok sebenarnya. Obatku sudah hampir habis. Kenapa memang?”
Mario mengangguk pelan.
“Aku antar ya. Sekalian aku mau ikut masuk, kalau kamu nggak keberatan.”
Anggika menoleh.
“Mau ikut? Buat apa?”
Mario tersenyum tipis.
“Aku mau tanya langsung ke dokternya. Soal kondisi kamu… dan kemungkinan program hamil nanti.”
Sendok di tangan Anggika terhenti.
“Program hamil?”
“Iya,” jawab Mario tenang. “Bukan sekarang juga. Tapi aku mau tahu secara medis dulu. PCOS itu kan banyak tingkatannya. Ada yang tetap bisa hamil alami, ada yang butuh bantuan seperti pengaturan siklus, induksi ovulasi, atau terapi hormon ringan.”
Anggika menatapnya, sedikit tak percaya.
“Kamu sudah cari tahu?”
Mario mengangguk.
“Sedikit. Katanya banyak perempuan dengan PCOS tetap bisa hamil, apalagi kalau ditangani dengan pola hidup sehat dan pengobatan yang tepat.”
Anggika menarik napas panjang.
“Dokterku bilang peluangku tetap ada. Bahkan sel telurku banyak, hanya saja ovulasinya kadang tidak teratur.”
“Berarti tinggal dibantu supaya ovulasinya lebih teratur, kan?” Mario tersenyum. “Itu yang mau aku tanyakan. Kita bisa program hamil atau nggak, kapan waktu yang tepat, dan apa saja yang harus dipersiapkan.”
Anggika menggigit bibirnya pelan.
“Kamu serius mau ikut konsul?”
“Serius. Ini bukan cuma urusan kamu. Kalau nanti kita menikah, ini urusan kita.”
Anggika terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Aku takut kalau ternyata hasilnya nggak sesuai harapan.”
Mario meletakkan sendoknya.
“Kita datang bukan buat memaksa hasil. Kita datang buat dapat penjelasan. Soal anak, itu rezeki dan takdir. Tapi usaha dan ilmu tetap perlu.”
Anggika menatapnya lebih lembut.
“Kalau ternyata harus terapi lama? Atau harus minum obat terus?”
“Aku temenin,” jawab Mario tanpa ragu. “Kalau perlu diet bareng, olahraga bareng, kontrol bareng. Bukan kamu sendirian.”
Anggika tersenyum tipis.
“Kamu ini… tiba-tiba jadi dewasa banget.”
Mario terkekeh kecil.
“Aku memang dewasa. Cuma kadang kamu yang nggak sadar.”
Anggika menggeleng pelan.
“Baiklah. Besok kamu ikut. Tapi jangan kaget kalau dokternya jelasin pakai istilah medis panjang.”
Mario tersenyum percaya diri.
“Nggak apa-apa. Yang penting aku paham satu hal.”
“Apa?”
“Bahwa masa depan kita nggak ditentukan satu diagnosis. Kita yang jalani bareng-bareng.”
Anggika menunjuk piring Mario yang masih setengah penuh.
“Lanjutin makannya. Habis itu kamu minum obat. Jangan banyak alasan.”
Mario menyender santai di sofa ruang tamu.
“Kalau minum obatnya kamu yang kasih kayak tadi pagi gimana?”
Anggika langsung melotot.
“Nggak ya. Jangan macam-macam. Itu tadi cuma biar cepat.”
Mario tersenyum jahil.
“Cepat sih cepat… tapi aku jadi ketagihan.”
“Mario!” Anggika menahan malu sekaligus kesal.
“Minum obat itu diminum, bukan dijadiin momen romantis.”
Mario tertawa kecil.
“Ya kan lumayan, ada bonusnya.”
Anggika menyilangkan tangan.
“Kalau kamu banyak bercanda, obatnya aku taruh di meja aja. Minum sendiri.”
Mario langsung mengangkat tangan tanda menyerah.
“Oke, oke. Aku makan yang banyak, terus minum obat sendiri. Tapi kamu duduk di sini temenin.”
Anggika mendesah pelan lalu duduk di depannya.
“Cepat habiskan. Dokter bilang lambung kamu lagi iritasi, jangan sampai telat minum obat.”
Mario menurut, menyuap nasi perlahan.
“Kamu perhatian banget ya.”
“Aku cuma nggak mau kamu balik lagi ke UGD,” jawab Anggika datar.
Mario menatapnya lembut.
“Kalau aku sakit lagi, kamu jagain lagi?”
Anggika mengangkat alis.
“Coba aja sakit lagi. Aku kasih sambel satu mangkok biar kapok sekalian.”
Mario tertawa kecil.
“Galak tapi perhatian. Kombinasi paling mematikan.”
Anggika mengambil gelas air dan obat dari tas kecilnya.
“Nih, sudah selesai makannya kan? Sekarang minum.”
Mario mengambil obat itu.
“Pahit nggak ya…”
“Obat lambung ya memang pahit. Jangan lebay.”
Mario memasukkan obat ke mulut lalu meneguk air. Ia meringis sebentar.
“Udah. Demi kamu aku tahan.”
Anggika tersenyum tipis.
“Bukan demi aku. Demi kesehatan kamu sendiri.”
Mario mengangguk pelan.
“Iya… tapi kalau sehat bareng kamu rasanya lebih enak.”