Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MINGGU PERTAMA SELESAI
Hari ketiga dimulai dengan latihan yang berbeda lagi.
Kali ini Yamamoto membawa mereka ke pantai saat matahari baru terbit.
"Hari ini latihan kecepatan dan refleks. Kalian berdua akan bertarung melawan aku—tapi aku akan pakai kecepatan penuh tanpa tahan diri."
"Tunggu, kemarin kan kami habis latihan delapan jam meditasi. Tubuh belum pulih sepenuhnya," Sabo protes.
"Justru itu bagusnya. Musuh tidak akan tunggu kalian pulih penuh sebelum menyerang. Kalian harus bisa bertarung bahkan dalam kondisi tidak sempurna."
Yamamoto tarik pedangnya. "Aturannya—kalian harus bertahan tiga puluh menit. Kalian boleh kerja sama. Boleh pakai semua kemampuan. Tapi kalau kalian terkena sepuluh kali—latihan dimulai ulang dari nol."
"Sepuluh kali dalam tiga puluh menit? Itu sangat ketat," Ace berkomentar.
"Karena kalian harus jadi lebih baik. Sekarang siap atau tidak—MULAI!"
Yamamoto menghilang.
Observation Haki Ace berteriak bahaya dari belakang!
Dia reflex berputar sambil menahan dengan Hinokami—
Pedang Yamamoto sudah ada di sana. Kecepatan serangan jauh lebih tinggi dari biasanya.
Yamamoto tidak berhenti. Langsung lanjut dengan kombinasi tebasan cepat yang hampir tidak terlihat.
Ace bertahan dengan susah payah—setiap tahanan bikin tangannya mati rasa.
Sabo mencoba bantu dari samping dengan tusukan—
Tapi Yamamoto sudah memprediksi. Dia menangkis tusukan Sabo sambil terus menekan Ace dengan serangan.
"Terlalu lambat!"
Tendangan cepat ke arah perut Ace—
Ace coba menghindar tapi tidak sempat. Kena.
"SATU!"
Yamamoto mundur sebentar sebelum menyerang lagi.
Kali ini target dia adalah Sabo. Kombinasi tebasan dan tendangan dengan kecepatan yang bikin Sabo harus gunakan Future Sight maksimal untuk sekadar bertahan.
"Ace! Aku butuh bantuan!"
Ace berlari untuk bantu tapi Yamamoto sudah mengantisipasi. Dia lempar beberapa pisau kecil ke arah Ace tanpa bahkan melihat—murni Observation Haki untuk bidik.
Ace harus menghindar pisau-pisau itu—kehilangan waktu berharga untuk bantu Sabo.
Punggung tangan Sabo kena sisi tumpul pedang Yamamoto.
"DUA! Kalian harus lebih baik dari ini!"
Lima menit berlalu. Hitungan sudah lima kali kena.
"Kita harus ubah strategi," Sabo bergumam saat dapat jeda singkat. "Dia terlalu cepat untuk kita kejar dengan cara biasa."
"Ada ide?"
"Ya. Kita tidak coba kejar kecepatannya. Kita prediksi dan pasang jebakan."
"Jebakan?"
"Kau buat area api di beberapa titik strategis. Aku akan umpan dia ke sana dengan gerakan yang bisa diprediksi. Saat dia masuk area api—kita serang bersamaan."
"Berisiko. Kalau dia baca rencana kita?"
"Dia pasti baca. Tapi dia juga pasti mau lihat kita coba strategi kompleks. Itu sifat dia sebagai guru."
Ace mengangguk. Rencana tidak sempurna tapi lebih baik dari terus bertahan.
"Oke. Aku akan pasang jebakan di tiga titik—kiri, tengah, kanan. Kau pancing dia ke salah satu."
"Siap."
Mereka bergerak. Ace cepat buat tiga lingkaran kecil api di tanah—tidak terlalu besar supaya tidak mencolok.
Yamamoto menyerang lagi. Kali ini Sabo sengaja mundur dengan pola tertentu—mengarahkan Yamamoto ke lingkaran api kiri.
Yamamoto mengikuti sambil terus menyerang—tapi dia pasti sudah sadar tentang jebakan.
Saat hampir masuk lingkaran—
"SEKARANG!"
Ace meledakkan lingkaran api—menciptakan dinding api yang menghalangi pergerakan Yamamoto sebentar.
Sabo langsung menusuk dari arah berlawanan dengan Ryuseikon dilapisi Haki—
Tapi Yamamoto melompat tinggi—menghindari api dan tusukan sekaligus.
"Bagus! Tapi masih kurang!"
Dia menyerang balik dari udara dengan tebasan ke bawah—
Ace sudah siap. Dia meledakkan dua lingkaran api lainnya bersamaan—menciptakan pilar api yang naik dan menghalangi tebasan Yamamoto.
Sabo gunakan kesempatan itu untuk mengatur posisi ulang dan menusuk lagi dari titik buta—
Kali ini kena! Ujung Ryuseikon menyentuh lengan Yamamoto sebelum dia bisa menangkis.
Yamamoto mendarat dengan senyum tipis.
"Akhirnya dapat satu kena. Bagus. Tapi itu belum cukup untuk seimbangkan skor. Kalian masih lima kena di belakang."
Dua puluh menit tersisa. Hitungan sekarang lima untuk Yamamoto, satu untuk mereka.
Mereka harus dapat empat kena lagi tanpa kena lima kali tambahan.
"Kita ulangi taktik yang sama tapi variasi," Sabo berbisik cepat.
"Yamamoto tidak akan kena trik sama dua kali."
"Makanya kita variasi. Kau buat pola api yang berbeda. Aku akan geraknya juga beda."
"Oke. Coba."
Pertempuran berlanjut lebih intens. Mereka coba berbagai variasi jebakan dan kombinasi—tapi Yamamoto selalu selangkah lebih depan.
Hitungan naik jadi tujuh untuk Yamamoto, dua untuk mereka.
Sepuluh menit tersisa. Tinggal tiga kena lagi sebelum harus restart.
"Kita harus habis-habisan," Ace bergumam. "Pakai serangan terkuat untuk paksa dia bertahan serius."
"Tapi energi kita sudah hampir habis untuk serangan besar."
"Tidak masalah. Ini latihan terakhir hari ini. Habiskan semua."
Sabo mengangguk. "Oke. Kita pakai kombinasi utama?"
"Ya. Guren Tatsumaki versi lebih kecil. Cukup untuk bikin dia harus fokus bertahan."
Mereka ambil jarak dari Yamamoto sebentar—mengumpulkan energi yang tersisa.
Api putih menyala di Hinokami. Angin berputar di Ryuseikon.
Yamamoto melihat persiapan mereka dan tidak menyerang—dia tunggu dengan penasaran.
"Kalian mau pakai teknik kombinasi lagi? Tunjukkan!"
Mereka menyerang bersamaan.
"GUREN SENPUU!"
Tidak sebesar Guren Tatsumaki penuh—tapi tetap puting beliung api dan angin yang cukup merusak.
Yamamoto tidak menghindar. Dia ambil posisi bertahan dengan pedang dilapisi Haki penuh—
Puting beliung menghantam dia langsung.
Yamamoto bertahan dengan pedang—tapi tekanan cukup kuat untuk mendorong dia mundur beberapa meter.
Ace dan Sabo tidak berhenti. Mereka mengikuti puting beliung—menyerang dari dua sisi berbeda saat Yamamoto masih fokus bertahan.
Tebasan dari kanan oleh Ace. Tusukan dari kiri oleh Sabo.
Yamamoto tidak bisa menghalangi keduanya bersamaan!
Dia menahan tebasan Ace tapi tusukan Sabo kena lengan.
Dan di saat yang sama, Ace mengubah tebasan jadi tipuan dan menendang kaki Yamamoto dengan Haki—kena juga.
"DUA KENA SEKALIGUS!" Sabo berteriak senang.
Yamamoto mundur dengan senyum lebar.
"Luar biasa! Kalian akhirnya koordinasi sempurna! Skor sekarang tujuh untuk aku, empat untuk kalian!"
Dia lirik waktu. "Dan waktu habis tepat sekarang. Kalian lolos! Tidak sampai sepuluh kena!"
Mereka berdua langsung kolaps di pasir—energi habis total tapi hati penuh kepuasan.
"Latihan hari ketiga selesai dengan bagus. Besok kita istirahat penuh—biarkan tubuh kalian pulih. Lusa kita mulai minggu kedua dengan tingkat kesulitan lebih tinggi."
Hari keempat memang istirahat penuh seperti dijanjikan. Tidak ada latihan brutal—hanya peregangan ringan, meditasi santai, dan makan banyak untuk pemulihan.
Ace dan Sabo menggunakan waktu ini untuk main dengan Luffy yang sudah kangen bermain bersama mereka.
"Ace-nii! Lihat! Luffy sudah bisa pukul lima kali berturut sekarang!" Luffy mendemonstrasikan Gomu Gomu no Gatling versinya—masih lambat tapi sudah lebih baik dari minggu lalu.
"Wah! Bagus sekali! Terus latihan ya!"
"Yosh! Luffy akan jadi sekuat Ace-nii dan Sabo-nii!"
Mereka menghabiskan sore dengan santai—sesuatu yang sangat langka dalam minggu terakhir.
Tapi malam harinya, saat sedang duduk di luar gubuk, Yamamoto datang dengan wajah serius.
"Ada kabar. Dari jaringan informasiku."
"Kabar apa?" Ace bertanya.
"Marine Headquarters sudah putuskan. Mereka akan kirim Vice Admiral ke East Blue bulan depan—khusus untuk tangkap kalian berdua."
Jantung Ace berdegup lebih cepat. "Vice Admiral yang mana?"
"Belum jelas. Tapi kemungkinan besar bukan yang lemah. Mungkin Momonga, Doberman yang sudah naik pangkat, atau bahkan Tsuru."
"Tsuru? Bukankah dia ahli strategi? Kenapa dia yang datang?"
"Justru karena itu. Kalian sudah terbukti sangat kuat untuk Vice Admiral biasa. Maka mereka mungkin kirim seseorang yang ahli strategi untuk tangkap kalian dengan taktik, bukan murni kekuatan."
Sabo mengerutkan dahi. "Bulan depan berarti... sekitar lima minggu lagi?"
"Ya. Lima sampai enam minggu. Setelah latihan tiga bulan kalian selesai."
"Berarti waktu pas. Kalau latihan berhasil, kita akan siap saat mereka datang," Ace berkata dengan tekad.
"Kalau berhasil. Tapi kalian harus lebih fokus dari sekarang. Tidak boleh ada hari yang terbuang."
Mereka mengangguk serius.
Satu minggu sudah berlalu dari rencana tiga bulan.
Masih ada sebelas minggu lagi.
Sebelas minggu untuk berubah dari level sekarang ke level yang bisa bertarung sejajar dengan Vice Admiral kuat.
Tidak ada waktu untuk santai lagi setelah hari ini.
Besok—minggu kedua dimulai.
Dan Yamamoto sudah bilang akan lebih brutal dari minggu pertama.