NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 26

Pagi harinya, Arka sudah berdiri di depan pintu hotel Karin.

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu yang tak sebentar.

Ia sudah menunggu di sana hampir satu jam.

Arka bersandar pada dinding lorong, sesekali mengalihkan berat badannya dari satu kaki ke kaki lain. Kakinya mulai terasa pegal, tapi ia tidak beranjak. Ia juga tidak mengirim pesan pada Karin.

Bukan karena lupa.

Melainkan karena takut.

Takut mengganggu.

Takut Karin merasa tidak nyaman.

Takut dirinya terlihat terlalu memaksa.

Jadi ia memilih menunggu.

Sesekali, Arka membuka ponselnya hanya untuk mengusir bosan—menggulir layar tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Ponsel itu lebih sering mati daripada menyala, seolah ia berharap pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya.

Setiap kali ada suara langkah di lorong, Arka refleks mengangkat kepala.

Lalu kembali menunduk ketika langkah itu bukan milik Karin.

Wajahnya tenang, tapi dadanya tidak.

Ada rasa gugup yang tak bisa ia sembunyikan, bercampur harap yang ia coba kendalikan.

Ia menghela napas pelan.

Menunggu memang melelahkan.

Tapi bagi Arka, menunggu Karin selalu terasa lebih baik

daripada mengambil risiko membuatnya menjauh lagi.

Tak lama kemudian, pintu kamar itu terbuka.

Karin melangkah keluar—dan seketika terhenti.

Ia terkejut mendapati Arka berdiri di sana, tepat di hadapannya. Pemuda itu menatapnya dengan senyuman. Senyuman yang sama. Senyuman yang pernah ia tujukan pada Karin di masa lalu.

Senyuman itu membuat dada Karin menghangat tanpa izin.

Ingatan lama datang begitu saja.

Pagi-pagi di masa sekolah, saat Arka menunggunya di depan pintu rumah. Tas di pundaknya, rambut sedikit berantakan, dan senyuman itu—senyuman yang selalu mengatakan, aku di sini.

Tak pernah berubah.

Arka masih tersenyum seperti dulu.

Senyuman yang membuat Karin merasa ditemani, bukan sendirian.

Untuk sesaat, waktu terasa mundur.

Seolah jarak dan perpisahan tak pernah ada.

Karin berdiri diam, menatapnya terlalu lama—hingga akhirnya ia sadar, bahwa meski senyuman itu masih sama, perasaan di hatinya kini tak lagi sesederhana dulu.

Aku rapikan dialog dan gesturnya

“Pagi, Karin,” sapa Arka.

Sapaan itu membuat Karin tersadar dari lamunannya. Ia berkedip pelan, lalu menatap Arka lagi, kali ini lebih sadar.

“Sejak kapan di sini?” tanyanya.

Arka menggaruk tengkuknya sebentar, lalu menjawab dengan nada santai yang dibuat-buat, “Aku baru aja sampai. Kebetulan lewat sini, jadi mampir.”

Itu bohong.

Ia sama sekali tidak lewat hotel Karin. Ia memang sengaja datang ke sana.

Tapi Arka memilih menyimpannya sendiri.

Ia ragu sejenak, lalu memberanikan diri lagi. “Mau aku antar?”

Karin terdiam.

Matanya menatap ke arah pintu hotel, lalu kembali ke Arka. Seolah sedang menimbang sesuatu di dalam dirinya sendiri.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab, “Oke.”

Jawaban singkat itu membuat dada Arka menghangat seketika.

Begitu Karin melangkah lebih dulu, membelakanginya, Arka mengepalkan tangannya kecil-kecil. “Yeesss…” gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.

Rasanya ingin melompat kegirangan.

Tapi tentu saja, Karin sudah berjalan di depan—tak melihat senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan.

Sebelum Karin masuk, Arka melangkah lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya.

Gerakan itu sederhana. Terbiasa.

Namun cukup untuk membuat Karin berhenti sesaat.

Ingatan lama menyeruak tanpa permisi.

Dulu, pada kencan pertama mereka, Arka melakukan hal yang sama—membukakan pintu mobil dengan wajah gugup tapi penuh senyum.

Saat itu Karin tersenyum lebar dan berkata, “Terima kasih, sayang.”

Kenangan itu terasa begitu dekat… dan begitu jauh.

Kini Arka berdiri di sana, memegangi pintu mobil dengan senyuman yang sama manisnya, meski ada kehati-hatian di baliknya.

“Silakan masuk,” katanya pelan.

Karin menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil sebelum masuk ke dalam mobil.

Tak ada kata sayang.

Tak ada balasan selain gerakan tubuh yang cepat dan rapi.

Arka menutup pintu perlahan.

Bedanya, kali ini— Arka membukakan pintu hanya dengan senyuman, tanpa keberanian untuk mengatakan apa pun.

Dan Karin masuk tanpa mengucapkan apa pun, menelan kata yang dulu begitu mudah keluar.

Mobil pun melaju, membawa dua orang yang pernah saling memiliki— kini duduk berdampingan, dengan jarak yang tak terlihat tapi terasa jelas di antara mereka.

Setibanya di lokasi syuting, Arka kembali membukakan pintu untuk Karin.

Gerakannya lembut. Terbiasa. Penuh perhatian.

Karin sempat menatapnya sekilas.

Untuk sesaat, ia seperti melihat Arka yang dulu—sosok yang hangat, peduli, selalu memastikan ia baik-baik saja sebelum memikirkan dirinya sendiri.

Namun anehnya…

hati Karin tidak lagi bergetar.

Tidak ada degup yang datang tiba-tiba.

Tidak ada rasa jatuh yang dulu begitu mudah terjadi.

Bukan karena Arka berubah.

Justru karena Arka kembali seperti dulu—dan Karin menyadari, mungkin semuanya memang sudah terlambat.

“Karin,” panggil Arka pelan.

“Iya?” Karin menoleh.

“Nanti siang… mau makan bareng aku?” tanyanya ragu, seolah takut jawabannya akan menutup satu pintu lain.

“Oke,” jawab Karin singkat, tanpa penolakan, tanpa antusias berlebih.

Arka tersenyum kecil.

Mereka lalu berjalan berdampingan menuju area syuting.

Beberapa anggota tim melirik, lalu saling berbisik.

Ada yang tersenyum, ada yang saling menyikut pelan—mengira mereka pasangan.

Arka mendengar bisik-bisik itu.

Dulu, ia akan menjaga jarak.

Dulu, ia akan pura-pura tidak peduli.

Dulu, ia takut jika dunia tahu bahwa ia memiliki Karin.

Namun hari ini, Arka berjalan tenang di sampingnya.

Seolah ia melupakan alasan mengapa ia pergi ke Inggris.

Seolah ia melupakan alasan mengapa setahun lalu ia memilih melepaskan Karin.

Seolah ia lupa bahwa keputusan itu pernah melukai dua hati—terutama hatinya sendiri.

Dan Karin menyadari satu hal pahit dengan sangat jelas:

Arka datang kembali dengan perasaan yang utuh.

Tapi hatinya sendiri… sudah tidak berada di tempat yang sama lagi.

Sementara itu, dari jarak yang tidak begitu jauh, James berdiri diam.

Tangannya dimasukkan ke saku jaket, tubuhnya bersandar santai, tapi matanya tertuju jelas pada dua sosok yang baru tiba bersama.

Karin dan Arka.

Mereka berjalan berdampingan. Terlihat selaras. Terlihat… tepat.

James menarik napas pelan.

Ia harus mengakui satu hal yang sejak awal selalu ia sadari—

mereka memang tampak sangat serasi.

Bukan hanya karena mereka berasal dari negara yang sama, atau karena bahasa yang mereka gunakan tanpa perlu menerjemahkan perasaan.

Tapi karena mereka berbagi masa lalu.

Kenangan yang jauh lebih panjang dari apa pun yang James miliki bersama Karin.

Ada tawa yang tidak perlu dijelaskan.

Ada diam yang tidak canggung.

Ada cerita yang tidak perlu diulang.

James tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip penerimaan daripada kebahagiaan.

Sejak awal, ia sudah bersiap.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri—

jika suatu hari Karin kembali jatuh cinta pada Arka,

jika setelah proyek film ini selesai Karin memilih hatinya yang lama,

maka ia akan kembali ke Korea.

Tanpa drama.

Tanpa menyalahkan siapa pun.

Karena James tahu,

cinta bukan soal siapa yang datang lebih dulu atau belakangan—

melainkan siapa yang akhirnya dipilih oleh hati.

Dan jika hati Karin memilih Arka,

James hanya akan membawa pulang perasaannya sendiri,

dengan cara yang paling sunyi.

Kalau mau, selanjutnya kita bisa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!