Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Suasana di koridor rumah sakit itu mendadak menjadi sangat dingin. Tatapan Naina yang tenang namun sarat akan kekecewaan membuat lidah David kelu. Michael, yang berdiri di samping Mayang, hanya bisa menghela napas berat , ia tahu badai baru saja dimulai.
Naina, aku..." David mencoba melangkah mendekat, namun Naina mundur satu langkah secara insting.
"Jangan sekarang, David," potong Naina dengan suara bergetar. "Fokuslah pada Aisyah. Dia yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana. Perasaan kita... bisa menunggu, atau mungkin memang sudah tidak perlu dibahas lagi."
Naina kemudian menoleh ke arah Rain yang masih berdiri dengan tangan terkepal di samping pintu. "Rain, aku minta maaf atas nama David. Tolong, jangan biarkan kemarahan mu memperburuk kondisi Aisyah."
Rain tidak menjawab. Ia hanya menatap Naina sekilas sebelum memutar tubuhnya dan masuk kembali ke dalam kamar perawatan. Ia tidak peduli lagi pada David, Naina, atau siapa pun. Fokusnya hanya satu , wanita yang kini menatapnya seperti orang asing.
Saat Rain masuk, Aisyah sedang berusaha membetulkan posisi duduknya. Wajahnya yang pucat tampak waspada saat melihat Rain mendekat.
"Tolong... panggilkan David," bisik Aisyah. Suaranya serak, matanya mencari-cari sosok di balik kaca.
Rain menarik kursi, duduk tepat di samping ranjang. Ia mencoba tersenyum, meski hatinya terasa seperti diremas. "Aisyah, dokter bilang kamu harus istirahat. David ada di luar, dia baik-baik saja."
Siapa kau?" tanya Aisyah lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas meski lemah. "Kenapa kau terus ada di sini? Di mana papa dan mama dan kak Firdaus? Kenapa pria asing sepertimu yang menjagaku?"
Pertanyaan itu menghantam Rain lebih keras dari kecelakaan mana pun. Kenangan tentang pernikahan mereka yang sederhana namun khidmat, tawa Aisyah saat Rain gagal memasak nasi goreng, dan senyuman indah setiap pagi, semuanya seolah menguap dari ingatan wanita itu.
"Namaku Rain," ujar Rain dengan suara rendah yang stabil. "Aku adalah orang yang berjanji untuk menjagamu dalam suka dan duka. Kita sudah menikah tiga bulan yang lalu, Aisyah."
Mata Aisyah membelalak. Ia menggeleng pelan, ekspresinya menunjukkan ketakutan sekaligus penolakan. "Tidak mungkin. Aku tidak mungkin menikah denganmu. Aku... aku mencintai David. Kami baru saja berencana untuk..." Aisyah mengerang, memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hebat.
Aisyah! Tenanglah," Rain refleks ingin memeluknya, namun Aisyah mendorong dada Rain dengan sisa tenaganya.
"Jangan sentuh aku! Panggil David! Aku mau David!" teriaknya histeris.
Mendengar teriakan itu, David hampir saja menerjang masuk, namun tangan Michael menahannya dengan kuat.
"Jika kau masuk sekarang, kau hanya akan memperkeruh suasana, Vid !" bisik Michael tegas. "Lihat Rain, dia suaminya. Biarkan dia menangani ini."
"Tapi dia memanggilku, Mike! Dia ketakutan!" David membalas dengan emosi yang meluap.
Mayang, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "David, Aisyah yang kau kenal adalah Aisyah dari masa lalu. Tapi Aisyah yang sekarang adalah istri Rain. Jika kau masuk dan memberikan harapan padanya saat dia sedang amnesia, kau sama saja dengan mencuri hidup yang sudah susah payah dia bangun kembali setelah kau meninggalkannya."
David terdiam. Kata-kata Mayang telak mengenai ulu hatinya. Ia menatap Naina yang berdiri tak jauh darinya. Naina hanya menatap kosong ke arah lantai, air mata jatuh tanpa suara. David sadar, kehadirannya di sini bukan hanya menyakiti Rain dan mengacaukan ingatan Aisyah, tapi juga menghancurkan hati wanita yang selama ini setia di sampingnya.
Dokter kembali masuk ke ruangan setelah mendengar kegaduhan. Ia memeriksa tanda vital Aisyah yang meningkat drastis karena stres.
"Pak Rain, saya sarankan Anda keluar sebentar," ujar Dokter dengan nada memerintah. "Dan untuk pria yang dipanggil pasien..." Dokter menoleh ke arah jendela, menatap David. "Mungkin kehadirannya bisa menstabilkan emosi pasien untuk sementara, tapi ini sangat berisiko bagi pemulihan ingatannya dalam jangka panjang."
Rain keluar dari kamar dengan bahu yang merosot. Ia berdiri di depan David, wajahnya menunjukkan kekalahan yang menyakitkan.
"Masuklah," ucap Rain lirih, hampir tak terdengar. "Dia membutuhkanmu. Tapi ingat, David... hanya sampai dia tenang. Selebihnya, dia tetap istriku."
David terpaku. Ia menatap pintu kamar yang terbuka sedikit, lalu menatap Naina yang kini membuang muka. Dengan langkah ragu namun didorong oleh kerinduan yang egois, David melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di dalam sana, Aisyah langsung tersenyum lebar saat melihat David. Sebuah senyum yang sudah tiga bulan ini menjadi milik Rain, kini kembali diberikan kepada pria yang pernah meninggalkannya.
Dalam sana, Aisyah langsung tersenyum lebar saat melihat David. Sebuah senyum yang sudah tiga bulan ini menjadi milik Rain, kini kembali diberikan kepada pria yang pernah meninggalkannya.
Langkah David terasa berat saat melewati ambang pintu. Begitu matanya bertemu dengan mata Aisyah, wanita itu seolah mendapatkan kembali nyawanya.
"David..." Aisyah mengulurkan tangannya yang gemetar, masih terpasang jarum infus. "Ke mana saja kamu? Kenapa pria tadi bilang kalau... kalau aku istrinya?"
David duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Aisyah yang dingin. Hatinya terbelah. Di satu sisi, ia merasa menang karena Aisyah hanya mengingatnya. Di sisi lain, ia melihat ketakutan yang nyata di mata wanita itu.
"Tenanglah, Aisyah. Aku di sini," bisik David, mengabaikan fakta bahwa ada Rain yang sedang mengawasi dari balik kaca dengan tatapan hancur.
"David, bawa aku pergi. Aku takut dengan pria itu. Dia terus menatapku seolah aku miliknya," rintih Aisyah. David terdiam. Ia ingin mengiyakan, tapi nuraninya berteriak bahwa ia sedang mencuri waktu milik orang lain. Setiap tawa kecil Aisyah saat ini adalah sembilu bagi Rain yang berdiri membeku di koridor.
Di luar, Naina tidak sanggup lagi menyaksikan pemandangan itu. Melihat David menggenggam tangan Aisyah dengan cara yang sama seperti saat David berjanji setia padanya adalah puncak dari segalanya.
"Michael, tolong antarkan aku pulang," ucap Naina dengan suara yang nyaris hilang.
"Naina, tunggu. David hanya sedang...."
"David sedang memilih, Michael," potong Naina dengan senyum getir yang menyakitkan. "Dan dia sudah memilih tanpa perlu mengucapkannya. Aku tidak punya tempat di drama masa lalu ini."
Naina berbalik, melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang dingin. Air matanya jatuh menetes ke lantai marmer, menandai berakhirnya sebuah penantian panjang yang sia-sia. Ia pergi meninggalkan rumah sakit, dan mungkin, meninggalkan hidup David untuk selamanya.
Dua Minggu Kemudian...
Kondisi fisik Aisyah membaik, namun ingatannya tetap tertahan di masa lalu. Hari ini adalah hari kepulangannya. Rain sudah menyiapkan mobil untuk kembali ke Jakarta, Rain berencana membawa Aisyah ke apartemen mereka di sana juga kedua orang tua Aisyah dan kedua orangtuanya sudah menunggu , mereka tidak sempat ke Bandung karena saat itu mereka berada di Dubai dan baru , namun di lobi rumah sakit, sebuah mobil hitam sudah menunggu. David berdiri di sana.
Aisyah akan ikut denganku," ujar David tegas saat melihat Rain menuntun kursi roda Aisyah. "Dia tidak mengenalmu, Rain. Membawanya ke rumahmu sama saja dengan menculiknya ke tempat asing. Itu akan merusak psikisnya."
Rain melepaskan pegangannya pada kursi roda, berdiri tegap menantang David. "Rumahku adalah rumahnya secara hukum. Ada foto pernikahan kami di sana, ada baju-bajunya, ada kenangan yang mungkin bisa memicu ingatannya kembali, dan satu lagi ada keluarga nya yang sedang menunggu di sana."
"Dia ketakutan setiap kali melihatmu!" balas David tak kalah keras. "Apa kau tega memaksanya tinggal dengan 'orang asing' demi ego-mu?"
Aisyah menatap keduanya dengan bingung dan cemas. Ia meremas ujung bajunya, lalu menatap David dengan penuh harap. "David, aku mau pulang ke rumah ku... atau ikut denganmu. Aku... aku belum siap tinggal dengan dia," tunjuknya pada Rain dengan tangan gemetar.
Dunia Rain kembali runtuh. Istrinya sendiri menolaknya di depan pria yang dulu menghancurkannya.