NovelToon NovelToon
Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Ketika Air Wudhu Dan Air Baptis Jadi Air Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Spiritual
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .

bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

" Apa ada sesuatu di balik kerja sama ini ,Vid?" Tanya Michael saat ia baru saja memasuki ruang kerja David di perusahaan,wajahnya terlihat tak senang saat mengetahui alasan David kembali ke Indonesia punya tujuan tersendiri.

David tersenyum tipis sembari menatap foto kecil yang ada di atas meja kerjanya.Sebuah foto kenangan dirinya dan Aisyah saat mereka masih bersama.Betapa bahagia nya mereka saat itu terlihat dari senyum lebar kedua nya di dalam foto itu.

" Ingat ,Vid.... Aisyah sudah menikah,kamu dan dia...."

" Aku tahu ,Mike....jangan khawatir." Potong David masih memandang foto yang berbingkai putih itu.

" Lalu kenapa kamu masih menyimpan foto itu?"

"Karena foto itu bukan hanya tentang aku dan dia, Mike!" David akhirnya mengalihkan pandangannya dari foto ke wajah Michael yang masih penuh keraguan, senyumnya kini sedikit lebih lebar. "Lihat dengan seksama!"

Michael mendekat dan mengintip foto itu. Di sudut kanan bawah foto, ada bayangan kecil sebuah cafe kecil yang tampak begitu ramai. Di belakang Aisyah, terlihat sebuah papan tulis dengan tulisan yang sudah mulai pudar: " Greens cafe".

"Kamu ingat kan? Saat kita masih kuliah, aku, Aisyah, kamu dan Mayang punya cita-cita membuka bisnis yang bisa seramai cafe itu. Foto ini diambil tepat saat kita menyepakati nama usaha kita: ' Warna laut cafe,setelah itu saat cafe kecil itu mulai kita buka, kemudian aku dan Aisyah ingin mengganti nya dengan nama Dasyah cafe dan kamu tentu tahu artinya nama itu.Dan yang membuat ku tak percaya Aisyah benar-benar mewujudkan nya sekarang."

Michael terdiam mendengar ucapan David, tapi rasa takut jika David masih menyimpan rasa cinta pada Aisyah semakin membuat nya yakin.

Michael mengangguk perlahan, tapi alisnya tetap terkunci erat. "Aku ingat semuanya, Vid. Tapi semua telah berubah kamu dan Aisyah kini sudah memiliki jalan hidup masing-masing,jangan merusaknya dengan kerjasama ini atau ada sesuatu yang lain di balik kerja sama ini?"

David menatap Michael dengan senyum kecut.." Kamu selalu saja tahu isi fikiran ku." David menghela nafas pelan bayangan wajah Aisyah saat mereka bertemu kembali kini mengisi fikirannya. Kami tidak pernah benar-benar putus dan aku..."

"Jangan pernah berfikir untuk kembali pada Aisyah,Vid...kamu telah memiliki Naina sekarang jangan pernah menyakitinya, dia juga teman ku." Potong Michael dengan nada kesal.

David menutup matanya sebentar, tangan nya secara refleks menyentuh cincin pertunangan di jari manisnya. "Aku tidak berniat menyakitinya, Mike. Kamu tahu betul seperti apa Naina di hidup ku." Dia berbalik menghadap jendela, melihat lalu lintas Jakarta yang padat di bawahnya.

"Tapi saat aku bertemu Aisyah lagi dua minggu lalu , aku sulit untuk menerima kalau kini dia milik orang lain, di matanya masih terpancar cinta yang sama ."

" Jangan mengada-ada,Vid....atau semua nya akan hancur . Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti Naina." Ujar Michael dengan nada tinggi lalu beranjak meninggalkan ruangan David dengan rasa kesal .

Pintu ruangan terdengar menggelegar saat ditutup oleh Michael. David tetap berdiri di depan jendela, tangan nya masih menekuk erat pada pagar kaca. Cincin pertunangan yang dikenakan nya terasa semakin berat di jari manisnya.

"Di matanya masih terpancar cinta yang sama..." Kata-katanya sendiri bergema di kepalanya. Padahal saat mereka bertemu di acara bisnis kemarin, Aisyah hanya tersenyum ramah dan berbicara tentang perkembangan Dasyah Cafe . Apakah dia hanya membayangkan saja rasa cinta itu?

David mengambil foto kecil dari atas meja, mengusap bagian kaca bingkai dengan lembut. Di balik wajah mereka yang bahagia dulu, terlihat sosok Mayang yang sedang bersandar di tiang pagar, sedang mengambil foto mereka berdua.

Tiba-tiba ponsel di mejanya bergetar. Layarnya menunjukkan panggilan masuk dari Naina. David menatapnya dengan perasaan ragu sejenak sebelum menjawab.

"Halo, Vid ...."

"Vid, hari ini kita ada pertemuan dengan beberapa klien. Dan juga kita ada jadwal pertemuan dengan Aisyah untuk membahas pembukaan cabang baru di Bandung besok." Suara Naina terdengar tenang, tapi David bisa merasakan getaran kesedihan di dalamnya.

David merasa sesak di dadanya, jari-jarinya menggenggam foto itu semakin erat hingga buku tangannya memerah. Ia menutup mata sebentar, mencoba menahan air mata yang sudah mulai menggelegar di sudut matanya.

"Ya, aku ingat, Naina..." Suaranya terdengar kasar dan sedikit bergetar. Ia cepat-cepat menaruh foto kembali ke atas meja dan mengusap wajahnya dengan bahunya, berusaha menyembunyikan bahwa air matanya sudah mulai menetes ke pipinya.

Di ujung lain sambungan, terdengar jeda sebentar. "Vid... kamu baik-baik saja kan?" Tanya Naina dengan nada yang semakin lembut, seolah ia bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada David.

David menoleh ke arah jendela lagi, melihat tetesan hujan yang mulai menerpa kaca jendela, menyembunyikan pandangannya ke luar kota yang padat. Air matanya kini tak bisa lagi ditahan, mengalir deras di pipinya yang dingin karena udara ruangan yang terlalu dingin.

"Aku... aku tidak tahu, Naina." Kata David sambil mencoba menahan isak tangis yang ingin meledak dari dalam dadanya. "Ketika aku melihatnya lagi, melihat Dasyah Cafe yang kini sudah begitu besar... semua kenangan lama kembali menghantui aku. Aku merasa seperti seorang penipu padamu."

Tangisnya akhirnya pecah, suara teredam namun penuh dengan kesedihan yang menyayat hati. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya bergoyang karena menangis. Cincin pertunangan di jarinya terasa semakin berat, seolah mencabik hati nya yang sudah terluka.

"Padahal aku sudah membuka hati untukmu, Naina... sungguh aku ingin memulai hidup dengan mu." Ucapnya sambil menangis, air matanya menetes ke lantai marmer yang bersih. "Tapi mengapa rasa rindu pada masa lalu ini begitu menyakitkan? Mengapa aku harus menghadapi dia lagi dalam kerja sama ini?"

Suara Naina di ponsel juga mulai bergetar, jelas ia juga sedang menangis. "Aku tahu, Vid... aku tahu tentang semua cerita masa lalu mu dengannya. Aku tidak pernah menyembunyikan bahwa aku tahu betapa dalamnya cinta mu pada nya ."

David menutup bibirnya dengan tangan, mencoba menahan tangisannya agar tidak terlalu keras. Ia melihat bayangan dirinya di kaca jendela , wajahnya pucat, mata merah karena menangis, dan ekspresi yang penuh dengan penderitaan.

"Naina, aku tak ingin menyakitimu. Aku berjanji padamu saat kita bertunangan bahwa hatiku hanya untukmu..." Ucapnya dengan suara bergetar. "Tapi kenapa hatiku ini seperti ingin terbelah dua? Aku tak bisa mengontrol perasaanku ketika melihatnya."

Di ujung lain, terdengar suara Naina yang sedang mencoba menenangkan diri. "Kita bisa melewati ini bersama, Vid. Kita hanya perlu berbicara dengan jujur. Tapi jika kamu merasa bahwa hati dan cintamu masih milik dirinya... jika kamu merasa bahwa kita tidak bisa melanjutkan..." Suaranya terhenti sejenak, diselingi dengan isak yang lembut. "...aku akan mengerti. Aku tidak ingin kamu tinggal bersamaku dengan hati yang terbagi."

David meraih ponsel dengan tangan yang gemetar, matanya masih penuh dengan air mata. Ia melihat foto kecil di mejanya , senyum bahagia dirinya dan Aisyah dulu, dengan sosok Mayang yang sedang mengambil gambar mereka di latar belakang. Dan di sana juga terlihat papan tulis "Greens cafe" yang sudah pudar.

"Aku tidak bisa pergi darimu, Naina." Kata David dengan suara yang lebih tegas meskipun masih penuh dengan kesedihan. "Kamu adalah bagian dari hidupku yang membuatku kuat. Tapi aku tak tahu bagaimana cara menghadapi Aisyah besok saat kita bertemu untuk membahas cabang baru di Bandung. Aku takut akan melihatnya dan semua kendaliku akan hancur."

1
maya
makasih sudah mampir kk😍
Isabela Devi
waduh ada mata mata yg melapor tiap gerak gerik mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!