Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sesuai Harapan
Malam itu, suasana ruang makan di kediaman keluarga Elios terasa berbeda. Biasanya meja makan panjang itu dipenuhi percakapan ringan dan tawa kecil Viviane yang manja. Namun kini, hanya suara dentingan sendok dan sumpit yang terdengar.
Tuan Leon duduk di ujung meja, wajahnya tegang. Nyonya Ruby sesekali menghela napas pelan dan Carlos makan tanpa banyak bicara, sorot matanya dingin.
Kebakaran di cabang Utara beberapa hari lalu masih menjadi beban pikiran mereka. Kerugian besar, reputasi tercoreng, dan penyelidikan yang hanya bisa ditutup paksa karena pada akhirnya mereka sudah tahu pelakunya namun tak berami bertindak jauh.
Viviane yang sejak tadi menunduk akhirnya meletakkan sumpitnya perlahan. Suara kecil itu cukup untuk membuat ketiganya menoleh.
Viviane menarik napas. Ia memaksakan senyum lembut. “Mami … Papi … soal mobil, Aku ingin menggunakannya ke kampus lagi. Jadi, aku ingin mobil .…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Tuan Leon langsung mengangkat wajahnya.
“Ah, iya, sayang. Soal mobil, bukan?”
Mata Viviane seketika berbinar terang.
Jantungnya berdegup cepat. Dalam benaknya sudah terbayang mobil baru mungkin keluaran terbaru, mungkin bahkan dengan teknologi seperti milik Naomi. Atau lebih canggih lagi dari milik Naomi.
Viviane menegakkan punggungnya dengan antusias. Terlihat Tuan Leon hanya merogoh saku jasnya dan meletakkan sesuatu di atas meja makan.
Sebuah kunci mobil, kunci yang sangat familiar. Senyum Viviane perlahan memudar.
Ia menatap benda itu beberapa detik sebelum berkata pelan, “Ini ... seperti kunci mobilku.”
Tuan Leon mengangguk tenang. “Itu memang kunci mobilmu, Viviane.”
Wajah Viviane terasa kaku.
“Papi sudah memperbaikinya seperti sedia kala. Bengkel mempercepat pengerjaannya karena Papi meminta prioritas,” lanjutnya. “Sekarang kondisinya kembali sempurna. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kamu bisa menggunakannya ke kampus lagi.”
Nyonya Ruby tersenyum lembut. “Kami tahu kau menyukai mobil itu, bukan?”
Carlos ikut menambahkan dengan nada datar, “Mesinnya sudah diperbarui. Kau tidak perlu khawatir lagi.”
Dada Viviane bergemuruh hebat. Ia memang menyukai mobil sport putihnya. Mobil itu mewah, cepat, dan menjadi pusat perhatian di kampus. Namun, itu bukan yang ia inginkan sekarang.
Yang ia inginkan adalah mobil baru. Mobil seperti Naomi. Mobil yang bisa berubah warna dengan sensor canggih itu.
Tangannya terasa dingin. Namun di hadapan keluarganya, ia tidak bisa menunjukkan rasa kesalnya itu. Ia memaksakan senyum kecil.
“Terima kasih, Papi,” ucapnya pelan.
Tuan Leon tampak puas. “Tentu saja. Selama kau bahagia, itu sudah cukup bagi Papi.”
Viviane mengambil kunci mobil itu.
Begitu kunci itu berada di tangannya, jemarinya langsung meremasnya kuat-kuat di bawah meja, tersembunyi dari pandangan yang lain.
Logam dingin itu terasa menekan kulitnya.
Nyonya Ruby memperhatikannya sekilas. “Kau terlihat lelah, sayang. Istirahatlah lebih awal setelah makan.”
Viviane mengangguk pelan. “Baik, Mami.”
Carlos meliriknya. “Jika ada yang mengganggumu di kampus, katakan padaku.”
Viviane terdiam sejenak. Bayangan Naomi dengan mobil yang berubah warna kembali terlintas di benaknya.
“Tidak ada apa-apa, Kak,” jawabnya akhirnya, suara lembut dan senyum dipaksakam.
Namun di dalam hatinya, badai kecemburuan sedang berkecamuk.
Sialan! Aku ingin mobil baru seperti Naomi! Desisnya dalam hati.
Vivienne bahkan sudah membanggakan diri di hadapan teman-temannya jika ia akan membeli mobil baru bahkan jauh lebih canggih dari milik Naomi. Tapi, tahu-tahunya hanya mobil lama yang diperbaiki.
*
Di sisi lain, malam itu kamar Naomi tampak tenang.
Lampu tidur berwarna hangat menerangi ruangan luas dengan ranjang queen size di tengahnya. Naomi duduk bersila di atas kasur empuk itu, wajahnya tampak berpikir.
Naomu menghela napas pelan. “Sila,” panggilnya. “Apa kau hanya berguna sebagai tempat penyimpanan saja? Tidak ada kelebihan lain? Misalnya … memberiku hadiah yang berharga?”
Beberapa detik hening.
Ding!
Sebuah layar transparan kebiruan muncul di hadapannya. Sosok virtual Sila menampilkan ekspresi percaya diri.
[“Tentu saja ada, Tuan,” ujar Sila dengan nada ringan. “Aku adalah sistem yang sangat canggih. Aku memiliki berbagai fitur dan hadiah.”]
Naomi mengangkat alisnya. “Benarkah? Jangan-jangan kau hanya pandai berbicara.”
Sila seolah mendengus kecil.
Tiba-tiba, sepuluh batu giok berwarna hijau zamrud muncul begitu saja di udara dan perlahan jatuh tepat di atas selimut di depan Naomi.
Naomi refleks memungut salah satunya.
Batu itu halus, dingin, dan memancarkan kilau lembut yang dalam.
“Ini .…” gumamnya pelan.
[Sila menjelaskan, “Itu adalah sepuluh batu giok dari Kekaisaran Ying pada masa lampau. Nilainya sangat tinggi. Jika dilelang, masing-masing bisa mencapai jutaan dolar.”]
Naomi mengerutkan kening. “Kenapa kau tiba-tiba memberiku hadiah? Aku tidak menyelesaikan misi apa pun.”
[Sila menjawab tenang, “Itu adalah hadiah atas peningkatan tingkat kesukaan Max terhadap Tuan. Saat ini sudah mencapai lima puluh persen.”]
Naomi terdiam sesaat. “Lima puluh persen?”
[“Benar. Namun Tuan sering menonaktifkanku, sehingga aku tidak sempat menjelaskan pencapaian tersebut.”]
Naomi berdecak pelan. “Jangan menyalahkanku. Kau juga jarang muncul tanpa alasan yang jelas.”
Meski begitu, sudut bibirnya terangkat. Ia mengambil satu per satu giok itu, memeriksanya dengan mata berbinar.
“Bagaimana jika aku melelang satu batu giok ini di pelelangan besok?” tanyanya.
[“Ide yang bagus, Tuan,” jawab Sila cepat. “Anda dapat memperoleh dana besar. Uang itu dapat digunakan untuk membeli bibit tanaman dalam jumlah besar sebagai persiapan menghadapi bencana salju.”]
Naomi mengangguk mantap. “Baik. Kita lakukan itu.”
Ia baru saja hendak menyimpan giok-giok tersebut ketika.
Klik!
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
Naomi terkejut. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan seluruh giok itu ke dalam ruang penyimpanan sistem.
Yang berdiri di ambang pintu adalah Max.
Naomi langsung tersenyum, meski sedikit kaku.
“Ada apa, Kak?” tanyanya setenang mungkin.
Max menatapnya dengan sorot mata tajam. “Kau berbicara dengan siapa?”
Naomi berpura-pura bingung. “Aku? Berbicara?” Ia terkekeh kecil. “Ah, tidak. Aku hanya sedang menghafal tugas yang diberikan dosen. Materinya cukup sulit.”
Max terdiam beberapa detik, seolah menilai kebenaran ucapannya. Akhirnya ia mengangguk pelan.
Kemudian ia mengulurkan sebuah kotak besar berwarna hitam elegan.
Naomi menatap kotak itu. “Itu apa?”
“Gaun,” jawab Max singkat. “Lengkap dengan perhiasan dan sepatu. Aku memesannya khusus untukmu. Untuk acara pelelangan besok.”
Naomi membelalakkan mata. “Untuk … pelelangan?”
Max mengangguk. “Bukan kau akan ikut? Jadi, kenakan itu besok malam.”
Naomi menerima kotak tersebut dengan hati-hati. Beratnya cukup terasa.
“Baik, Kak,” ujarnya patuh. Ia bahkan mengangkat tangan memberi hormat kecil dengan ekspresi ceria.
“Siap melaksanakan perintah.”
Max hanya menatapnya datar, meski sudut bibirnya nyaris bergerak tipis. Ia berbalik hendak pergi, lalu berhenti di depan pintu.
“Jangan lupa kunci kamarmu,” ucapnya tanpa menoleh.
“Baik,” jawab Naomi cepat.
Pintu pun tertutup kembali.
Begitu Max benar-benar pergi, Naomi mengembuskan napas panjang. “Nyaris saja,” gumamnya.