NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Sisi Lain Sang Jenius

"Sudah, sudah. Jangan menggoda mereka terus. Kasihan Callen, telinganya sudah merah tuh."

Suara tawa renyah Kak Nana dan siulan jahil Kak Raka masih terdengar samar-samar saat pintu kayu jati Ruang OSIS tertutup rapat di belakang punggung kami.

Akhirnya, hening.

Aku menghela napas panjang, membiarkan udara koridor yang tidak sedingin ruangan ber-AC tadi mengisi paru-paruku. Rasanya seperti baru saja keluar dari kandang singa—singa yang ramah, tapi tetap saja singa.

Aku melirik jam tangan hitam di pergelangan tanganku.

09.30 WIB.

"Masih ada sepuluh menit sebelum bel masuk pelajaran kedua," gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Pelajaran selanjutnya adalah Sejarah, dan gurunya terkenal disiplin. Kami harus kembali ke Gedung A secepatnya.

"Ayo, Ze," ajakku sambil melangkah.

Namun, tidak ada jawaban.

Aku menoleh ke samping. Zea masih berdiri mematung di depan pintu OSIS. Wajahnya masih menyisakan rona merah muda yang manis akibat godaan para senior tadi. Kedua tangannya bertaut di belakang punggung, dan matanya menatapku dengan binar yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman, rasa penasaran yang meledak-ledak, dan kebahagiaan.

"Kenapa diam saja? Mau ditinggal?" tanyaku, kali ini dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.

Zea tersentak dari lamunannya, lalu menggeleng cepat. "Ah! Enggak! Tungguin!"

Dia berlari kecil menyusul langkah lebarku. Kali ini, dia tidak berjalan di belakangku seperti bawahan, melainkan berjalan tepat di sampingku. Bahu kami sesekali bersentuhan saat menuruni tangga menuju lantai satu.

Suasana koridor penghubung antar gedung cukup sepi karena sebagian besar siswa masih berada di kantin atau di dalam kelas. Cahaya matahari pagi yang mulai meninggi menembus ventilasi, menciptakan pola garis-garis cahaya di lantai keramik putih.

"Cal..." panggil Zea pelan, memecah keheningan langkah kaki kami.

"Hm?"

"Tadi itu... beneran?" tanyanya ragu-ragu. "Soal kertas itu... soal koneksi kamu sama Kak Fazi... semuanya?"

Aku tetap memandang lurus ke depan, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Kamu sudah melihatnya sendiri kan di dalam sana?"

Zea mengangguk antusias, langkahnya menjadi sedikit melompat-lompat kecil saking semangatnya.

"Iya sih! Tapi aku masih nggak nyangka!" serunya. "Maksudku... Kak Fazi itu Ketua OSIS lho, Cal. Dia itu kayak 'Raja' di sekolah ini. Orang-orang segan sama dia. Bahkan anak kelas 12 yang nakal aja nggak berani macem-macem. Tapi kamu? Kamu melempar kertas ke dia seolah dia teman sebangkumu!"

Zea menatap profil samping wajahku dengan intens.

"Sebenarnya... sedekat apa hubungan kalian? Dan sejak kapan kamu kenal dia? Kok bisa kamu ngerjain soal anak kuliahan kayak gitu? Kamu belajar di mana? Terus—"

"Satu-satu, Ze," potongku pelan, menghentikan rentetan pertanyaannya yang seperti senapan mesin.

Biasanya, aku akan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Bagiku, menjelaskan diri sendiri itu merepotkan dan membuang energi. Tapi hari ini, melihat antusiasme murni di mata gadis di sampingku ini, entah kenapa rasa malasku menguap.

Aku memperlambat langkahku agar kami bisa berjalan lebih santai.

"Aku kenal Fazi sekitar tiga bulan lalu," jawabku jujur. "Waktu itu aku sedang duduk sendirian di perpustakaan lama, main catur lawan komputer di HP. Fazi lewat, dia penasaran, lalu menantangku main catur sungguhan."

"Terus? Terus?" desak Zea, matanya membulat. "Siapa yang menang?"

"Seri tiga kali. Menang dua kali. Kalah sekali," jawabku singkat.

Mulut Zea membentuk huruf 'O' sempurna. "Kamu mengalahkan Ketua OSIS dua kali?!"

"Itu cuma permainan papan, Ze. Bukan perang dunia," elakku merendah. "Dari situ kami sering ngobrol. Fazi itu sebenarnya kesepian di puncak. Dia butuh lawan bicara yang nggak menjilat atau takut padanya. Kebetulan aku nggak peduli sama jabatannya, jadi kami cocok."

Zea mengangguk-angguk paham, seolah baru saja mendapatkan potongan puzzle penting tentang kehidupan Callen.

"Terus soal kertas tadi?" tanyanya lagi, belum puas. "Kak Nana bilang itu soal level olimpiade nasional. Kamu beneran bisa ngerjain itu sambil pelajaran Bahasa Indonesia?"

Aku menghela napas kecil. "Pak Guru Bahasa Indonesia tadi cuma nyuruh merangkum. Itu membosankan. Otakku butuh stimulasi lain supaya nggak ngantuk. Kebetulan Fazi ngasih 'mainan' itu tadi pagi."

"Mainan?" Zea tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan menyenangkan di telingaku. "Orang lain bakal nangis darah ngerjain itu, kamu bilangnya mainan. Kamu beneran 'Monster' ya, Cal."

"Mungkin," jawabku acuh tak acuh.

Kami sampai di koridor Gedung A. Beberapa siswa yang lewat mulai memperhatikan kami. Pemandangan Zea—si Primadona Sekolah—berjalan akrab sambil tertawa dengan Callen—si murid pendiam berkacamata (yang sekarang tidak pakai kacamata)—jelas menarik perhatian.

Tapi anehnya, Zea tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Dia sibuk menatapku.

"Kamu tahu nggak, Cal?" ucap Zea tiba-tiba, suaranya melembut.

Aku menoleh padanya. "Apa?"

"Kamu berubah," katanya sambil tersenyum manis. "Biasanya kalau ditanya-tanya begini, kamu pasti cuma jawab 'hm', 'nggak tahu', atau malah pergi ninggalin aku. Tapi hari ini... kamu ngejelasin semuanya. Panjang lebar lagi."

Aku terdiam sejenak. Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu kelas X-A.

Benar juga. Sejak kapan aku jadi se-talkactive ini? Sejak kapan aku peduli untuk menjelaskan detail hidupku pada orang lain?

Aku menatap Zea. Gadis itu menatapku balik dengan penuh harap, matanya yang bening memantulkan bayanganku.

"Itu karena..." aku membuang muka sedikit, merasa canggung. "Itu karena kamu berisik. Kalau nggak dijawab, kamu pasti bakal nanya terus sampai besok pagi."

Alasan yang klise. Tapi Zea tahu itu bukan alasan sebenarnya.

Zea terkikik geli melihat tingkahku yang salah tingkah. Dia tahu aku mulai membuka diri, sedikit demi sedikit, khusus untuknya.

"Iya deh, iya... Siap, Bos Jenius," goda Zea.

Dia kemudian maju selangkah, merapikan sedikit kerah seragamku yang miring—gerakan yang sangat natural, seolah dia sudah sering melakukannya. Jantungku berdesir pelan merasakan kedekatan ini.

"Makasih ya, udah mau jujur sama aku," bisiknya tulus. "Rasanya... aku jadi satu langkah lebih dekat buat mengenal Callen yang asli."

Sebelum aku sempat membalas, bel tanda masuk berbunyi nyaring, memecah momen itu.

TENG! TENG!

Zea mundur selangkah sambil tersenyum lebar.

"Ayo masuk! Nanti dimarahin Guru Sejarah!" ajaknya ceria, lalu dia melangkah masuk ke dalam kelas X-A lebih dulu.

Aku berdiri mematung di ambang pintu selama dua detik, menatap punggungnya yang menjauh menuju bangkunya. Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis yang tulus.

Yah, mungkin membiarkan satu orang masuk ke dalam duniaku yang sepi ini... bukanlah ide yang buruk.

Dengan pikiran itu, aku melangkah masuk ke dalam kelas, siap menghadapi tatapan penuh tanya dari Rafan dan teman-teman sekelas lainnya yang pasti sudah melihat kedekatan kami barusan.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!