NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Tanpa Penonton

Aluna baru benar-benar paham arti kata jatuh ketika namanya tidak lagi memancing reaksi apa pun. Bukan cibiran... Bukan empati... Bahkan bukan rasa ingin tahu...

Dia berdiri di depan papan pengumuman fakultas, membaca surat keputusan yang ditempel tanpa seremoni.

Status : Ditangguhkan sementara dari seluruh kegiatan organisasi dan rekomendasi akademik.

Tidak ada tanda tangan besar. Tidak ada cap merah dramatis. Hanya keputusan.

"Jadi... selesai?" Gumamnya.

Seorang mahasiswa melewatinya, melirik sebentar, lalu pergi. Tidak berhenti... Tidak berbisik... Dan di situlah Aluna merasa benar-benar kalah.

Dia pulang ke kos dengan langkah lambat. Kamarnya masih sama. Poster di dinding. Rak buku. Cermin besar yang dulu sering dia gunakan untuk memastikan senyumnya sempurna.

Sekarang, dia menatap pantulan dirinya lama. "Kamu kalah." Katanya pada bayangan sendiri. Tidak ada yang menyahut.

Dia mengambil ponsel. Membuka kontak nama Raka, tangannya berhenti.

Dia menutup layar.

Untuk pertama kalinya, dia sadar... bahkan jika dia menelepon, tidak ada lagi yang akan menyelamatkannya.

Raka Mahardika sedang menyapu lantai kosnya sendiri. Gerakannya canggung. Seperti orang yang baru belajar hidup dari nol. Ember di sudut ruangan. Kemeja kusut tergantung di kursi. Tidak ada jadwal rapat. Tidak ada notifikasi penting.

Hanya sunyi.

Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding, keringat mengalir di pelipis.

"Jadi ini rasanya." Gumamnya.

Tanpa jabatan... Tanpa posisi... Tanpa orang-orang yang datang karena kepentingan.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari grup lama.

[Struktur baru sudah fix. Terima kasih atas kontribusi sebelumnya.]

"Sebelumnya, ya." Gumamnya sambil tersenyum getir.

Raka menutup chat. Menarik napas panjang. Dia merasa ringan. Dan sekaligus... kosong.

Di sisi lain kota, Nadira sedang berjalan sendirian di trotoar kampus barunya. Langkahnya tidak tergesa. Tas di pundaknya ringan. Pikirannya jernih.

Dia baru selesai presentasi kecil, tidak sempurna, tapi jujur. Dan untuk pertama kalinya, dia keluar ruangan tanpa menunggu komentar siapa pun.

Dia duduk di bangku taman. Mengeluarkan botol minum. Seorang mahasiswa asing duduk di bangku sebelah.

"Kamu Nadira, ya?" Tanyanya ramah.

"Iya."

"Aku Lintang. Kita satu kelompok kemarin."

Nadira mengangguk. "Oh... Hai."

"Presentasimu oke." Kata Lintang. "Kamu kelihatan... tahu apa yang kamu mau."

Nadira tersenyum kecil. "Aku baru belajar."

Lintang tertawa ringan. "Aku masih bingung mau jadi apa."

"Tidak apa-apa." Jawab Nadira. "Asal kamu tidak bertahan di tempat yang bikin kamu hilang."

Lintang menatapnya sejenak. "Kamu ngomong kayak orang yang sudah pernah mengalami pengalaman hidup yang pahit."

Nadira tidak menyangkal.

Aluna mencoba bertahan selama beberapa hari. Dia bangun pagi. Berpura-pura sibuk. Membaca ulang catatan lama. Tapi tidak ada yang memanggil... Tidak ada yang membutuhkan.

Akhirnya, dia mendatangi satu tempat yang dulu selalu memberinya rasa aman. Kos Raka...

Dia berdiri lama di depan pintu. Mengetuk pelan. Raka membukakan pintu dengan ekspresi terkejut.

"Aluna?"

"Aku nggak lama." Katanya cepat. "Aku cuma... butuh bicara."

Raka menatapnya... Lama. "Masuk." Katanya akhirnya.

Mereka duduk berhadapan. Jarak jauh. Tidak seperti dulu.

"Aku jatuh." Kata Aluna tanpa basa-basi.

Raka mengangguk. "Aku tahu."

"Aku kehilangan semuanya."

Raka menatap lantai. "Aku juga."

Aluna tertawa pahit. "Bedanya, kamu masih punya jalan."

"Kamu juga." Jawab Raka pelan. "Cuma bukan jalan lama."

Aluna menatapnya. Matanya basah. "Kamu masih peduli?"

Raka menghela napas. "Aku peduli. Tapi aku nggak bisa jadi tempatmu berlindung lagi."

Itu bukan penolakan kasar. Justru itu yang paling menyakitkan.

"Aku sendirian." Suara Aluna pecah.

Raka menatapnya dengan iba yang jujur. "Kadang, itu perlu."

Aluna menutup wajahnya. Menangis... Tanpa drama. Dan Raka... tidak memeluk. Dia membiarkannya jatuh tanpa penonton.

Nadira menerima email malam itu.

[Undangan untuk ikut seleksi lanjutan program luar kota.]

Dia membaca perlahan. Menghela napas. Ini kesempatan besar.

Dia menelepon ibunya. "Bu." Katanya pelan. "Kalau aku pergi, mungkin lama."

Ibunya terdiam sejenak. "Kamu takut sendirian?"

"Tidak." Jawab Nadira jujur. "Aku takut terlalu nyaman."

Ibunya tersenyum di seberang telepon. "Pergilah. Jangan tunggu apa pun."

Nadira menutup telepon dengan mata berkaca-kaca. Bukan sedih. Hanya... lega.

Raka mulai mencari kerja paruh waktu. Bukan karena perlu uang, tapi karena perlu struktur.

Dia diterima di sebuah kedai kopi dekat kampus.

"Pernah kerja beginian?" Tanya manajer.

"Belum." Jawab Raka jujur.

"Siap belajar?"

Raka mengangguk. "Siap."

Hari pertama, dia salah menyeduh kopi. Seorang pelanggan mengeluh. Raka meminta maaf. Mengulang...

Tidak ada yang memanggilnya koordinator. Tidak ada yang menunggu keputusannya. Dan anehnya... Dia merasa hidup.

Aluna mengemas barangnya.Dia memutuskan cuti kuliah sementara. Di terminal, ia duduk sendirian.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Raka.

[Jaga dirimu.]

Aluna menatap layar lama. Lalu membalas.

[Kamu juga.]

Itu saja. Tidak ada janji. Tidak ada pengharapan.

Bus datang. Aluna naik tanpa menoleh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak membawa siapa pun bersamanya.

Nadira bertemu Dr. Arvin di lorong fakultas.

"Kamu dapat undangan itu?" Tanyanya.

"Iya."

"Kamu akan ambil?"

Nadira mengangguk. "Iya."

Arvin tersenyum. "Saya senang."

Hening sejenak.

"Kita tetap profesional." Kata Arvin.

Nadira tersenyum. "Itu yang saya mau."

Arvin menatapnya dengan bangga yang tidak disembunyikan. Bukan cinta... Mungkin... Belum.

Malam sebelum keberangkatan, Nadira berdiri di depan cermin. Dia tidak lagi bertanya, siapa yang akan menungguku?

Dia hanya bertanya, apakah aku jujur pada diriku sendiri?

Dan jawabannya iya.

Di sisi lain kota, Raka menutup kedai setelah shift malam. Tangannya bau kopi. Tubuhnya lelah. Tapi untuk pertama kalinya, ia pulang tanpa beban peran.

Dan Aluna... berada di bus malam, menatap jalan gelap, tanpa rencana pasti, selain bertahan menata serpihan pecahan kaca.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!