NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Rencana Pembalasan

Setelah meninggalkan Aaron di taman belakang, Lunaris berjalan di koridor. Dadanya masih terasa sesak, dipenuhi oleh beban masalah yang bertubi-tubi menghantamnya sejak pagi.

Niat awalnya, ia ingin mencari keberadaan Sirius. Mengingat iblis itu kini berseragam Sevit dan entah bagaimana sudah resmi menjadi siswa di sini, Lunaris merasa perlu menuntut penjelasan lebih lanjut atau setidaknya memastikan iblis itu tidak membuat kekacauan mematikan di hari pertamanya.

Namun, belum sempat Lunaris membalikkan badan, suara tawa melengking yang sangat ia kenal—dan sangat ia benci—menggema dari arah persimpangan koridor utama.

Itu Bracia.

Gadis berwajah bak malaikat dengan mata birunya yang jernih namun berhati iblis itu berjalan dengan keangkuhan yang paripurna, diapit oleh dua pelayan setianya, Emmeline dan Tessa.

Seragam mereka terlihat sangat rapi, wangi, dan disesuaikan sedemikian rupa untuk menonjolkan status sosial mereka. Sangat kontras dengan penampilan Lunaris yang kusam, rambut sedikit berantakan, dan mata sembab.

Melihat Lunaris berdiri sendirian, langkah Bracia terhenti. Senyum merendahkan langsung tercetak jelas di bibir merahnya yang dipoles lip tint mahal.

"Ya ampun, lihat siapa yang masih berani menampakkan wajah lusuhnya di sini," cibir Bracia dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar beberapa siswa yang lewat bisa mendengarnya.

"Gue kira setelah video menjijikkan itu kesebar, lo bakal langsung bunuh diri lompat dari jembatan. Nyatanya muka lo tembok juga ya, Luna?"

Emmeline tertawa meremehkan, melipat tangannya di dada. "Bener banget. Sekolah kita sekarang punya artis porno! Hebat banget ya, dapet beasiswa jalur prestasi, eh prestasinya ternyata buka-bukaan di toilet sama cowok-cowok buangan. Gue jadi curiga kalo lo dapet beasiswa itu gara-gara lo udah ngangkang sana-sini."

"Kalau gue jadi lo sih, Luna," Timpal Tessa dengan raut wajah pura-pura prihatin yang dibuat-buat, "Gue udah nggak bakal punya muka buat datang ke sekolah lagi. Gue bakal ngurung diri di gubuk yang lo sebut rumah itu seumur hidup. Lo tuh bener-bener nggak tau malu ya? Udah miskin, murahan lagi. Cih."

Hinaan demi hinaan itu meluncur begitu saja tanpa ampun. Kata-kata mereka setajam silet, dirancang khusus untuk menguliti sisa harga diri Lunaris hingga tak bersisa.

Biasanya, jika dihadapkan pada situasi seperti ini, Lunaris hanya akan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia akan menggigit bibir bawahnya, menahan air mata, dan membiarkan dirinya diinjak-injak demi menghindari masalah yang lebih besar. Ia selalu berpikir bahwa diam adalah cara terbaik untuk bertahan hidup.

Lunaris selalu diam karena tidak ingin semakin membuat ibunya kesulitan, dan ada beasiswa yang harus dia pertahankan.

Namun hari ini berbeda. Kehancurannya sudah mencapai titik nadir. Beasiswanya sudah dicabut. Masa depannya sudah dihancurkan. Tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan dengan cara berdiam diri.

Perlahan, Lunaris mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi menyiratkan keputusasaan kini berkilat oleh amarah murni yang menyala-nyala. Ia menatap lurus ke dalam mata Bracia, menolak untuk merasa terintimidasi.

"Gue tau itu perbuatan lo, Bracia," Desis Lunaris, suaranya rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan. "Lo yang udah nyiksa gue sebelum nyuruh lima berandal sialan itu buat ngelecehin gue di toilet. Dan lo juga yang ngerekam terus ngedit video itu seolah-olah gue yang minta dilecehkan. Lo yang nyebarin semuanya ke dewan guru dan yayasan!"

Mendengar tuduhan langsung dan perlawanan yang tak terduga itu, Emmeline dan Tessa sempat terkesiap. Namun, Bracia sama sekali tidak gentar. Gadis itu justru memajukan langkahnya, mendekatkan wajahnya ke arah Lunaris dengan senyum mengejek yang semakin lebar dan mengerikan.

"Oh ya?" Bisik Bracia dengan nada menantang. "Terus kenapa kalau emang gue yang ngelakuin itu semua? Lo mau lapor polisi? Lo mau ngadu ke Pak Harrison?"

Bracia tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat kejam. "Pikir pakai otak lo yang pas-pasan itu, Lunaris. Lo punya bukti apa? Lo pikir ada yang bakal percaya sama omongan sampah dari cewek miskin yatim piatu kayak lo? Bahkan guru dan pihak yayasan aja lebih percaya sama uang donasi bokap gue daripada tangisan palsu lo. Nggak akan ada satu pun orang di sekolah ini yang bakal berdiri di pihak lo. Lo sendirian, Lunaris. Dan lo udah tamat. Bahkan Aaron gak bakal bisa ngelindungin lo."

Setelah melontarkan kalimat mematikan itu, Bracia membalikkan badannya dengan elegan. "Ayo cabut, girls. Udara di sini tiba-tiba pengap gara-gara kecampur sama kuman."

Ketiga gadis itu pun melenggang pergi, meninggalkan Lunaris yang berdiri mematung. Napas Lunaris memburu. Tangannya terkepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri, meneteskan setitik darah.

Rasa sakit hati, ketidakberdayaan, dan amarah meledak di dalam kepalanya, membuatnya nyaris kehilangan akal sehat.

Saking larutnya ia dalam emosi yang membakar dada, Lunaris sampai tidak menyadari perubahan suhu di sekitarnya yang mendadak anjlok menjadi sedingin es.

"Secantik itu... sayang sekali kalau dibiarkan hancur begitu saja, bukan?"

Suara bariton yang berat dan menenangkan—namun menyimpan aura kematian yang pekat—tiba-tiba terdengar tepat di sebelah telinga kanannya.

Lunaris tersentak hebat. Ia melompat mundur sambil memekik kaget, jantungnya serasa copot dari tempatnya. Saat ia menoleh, Sirius sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, berdiri santaidisamping Lunaris. Matanya yang berwarna perak menatap lurus ke arah punggung Bracia yang semakin menjauh.

"Siriu! Lo bisa gak sih jangan muncul tiba-tiba kayak hantu?!" omel Lunaris dengan napas tersengal, mengusap dadanya yang berdebar tak karuan.

Sirius sama sekali tidak memedulikan protes gadis itu. Sang iblis kuno itu justru memiringkan kepalanya, masih menatap kepergian Bracia dengan raut wajah penuh penilaian estetik layaknya seorang kolektor seni.

"Rambut yang indah, postur yang sempurna, dan aura keanggunan yang sangat pekat. Kombinasi yang lumayan," gumam Sirius santai, seolah ia sedang mengomentari pajangan vas bunga. "Mungkin aku harus menjadikannya selirku. Menjadikannya peliharaan abadi di istana kegelapanku sepertinya bukan ide yang buruk. Lagipula, aku butuh hiasan baru yang bisa menjerit dengan nada yang merdu."

Lunaris melongo. Mulutnya sedikit terbuka menatap pemuda di sampingnya dengan pandangan tidak percaya. Iblis ini... tiba-tiba sok-sokan mau mengambil selir? Dan selirnya adalah gadis yang baru saja menghancurkan hidup Lunaris?!

"Sialan lo ya!" Umpat Lunaris, menatap Sirius dengan tatapan sinis dan mematikan. "Lo ke sini niat mau bantu gue balas dendam atau mau cari jodoh?! Kalau lo cuma mau muji-muji musuh gue, mending lo pergi aja sana sekalian nikahin dia!"

Melihat wajah Lunaris yang memerah karena marah sekaligus merajuk, tawa Sirius meledak. Tawa yang jarang sekali ia keluarkan. Suaranya terdengar berat dan maskulin, bergema di koridor yang kosong.

Sirius menoleh, menatap Lunaris dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan yang sangat menjengkelkan.

"Jangan cemburu begitu. Aku hanya bersikap objektif. Setidaknya gadis bernama Bracia itu terlihat sangat enak dipandang dan pandai merawat diri. Berbeda denganmu yang... yah, lihat saja dirimu. Kusam, lusuh, dan menyedihkan bak tikus got yang kehujanan. Aku bahkan heran bagaimana bisa Pahlawan Kesianganmu tadi mau memelukmu."

Kalimat itu adalah puncak dari segala batas kesabaran Lunaris hari ini.

Dihina oleh Bracia sudah membuatnya gila, dan sekarang iblis yang terikat kontrak dengannya malah ikut-ikutan merundungnya?

Tanpa berpikir panjang, Lunaris menerjang maju. Dengan kedua tangannya yang terkepal, ia memukuli dada dan lengan Sirius secara membabi buta.

"Iblis brengsek! Mulut lo tuh bener-bener minta dijahit ya?! Gue lagi hancur malah lo ejek! Mati aja lo sana! Mati!" Teriak Lunaris meluapkan segala frustrasinya. Pukulan demi pukulan ia daratkan ke tubuh kokoh pemuda itu.

Bagi Sirius, pukulan manusia selemah Lunaris tidak lebih dari sekadar rintik hujan yang mengenai jaket bajanya. Tidak ada rasa sakit sama sekali. Jika ia mau, hanya dengan satu jentikan jari manisnya, ia bisa membuat Lunaris pingsan tak berdaya atau melumpuhkan seluruh sistem saraf gadis itu.

Namun, Sirius tidak melakukannya.

Entah kenapa, melihat manusia kecil ini meluapkan amarahnya yang menyedihkan dengan cara memukulinya justru membuat Sirius merasa terhibur. Ia pura-pura mengaduh pelan, mengangkat tangannya seolah kewalahan menangkis pukulan-pukulan Lunaris yang tak bertenaga.

"Aw. Hentikan, itu sangat menyakitkan. Tolong ampun," Ucap Sirius dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi yang sangat jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengejek.

Mendengar nada mengejek itu, Lunaris memukul dada Sirius satu kali lagi dengan pukulan terkerasnya, sebelum akhirnya gadis itu kehabisan napas dan berhenti, kemudian meringis merasakan sakit ditangannya.

Sialan, rasanya Lunaris seperti sudah memukuli tembok. Napasnya terengah-engah, bahunya merosot turun, dan setetes air mata lolos begitu saja dari sudut matanya. Ia menyeka air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Ia lelah. Sangat amat lelah.

Melihat Lunaris yang mendadak kehilangan tenaganya, senyum mengejek Sirius perlahan memudar. Ia menurunkan tangannya, aura di sekitarnya kembali berubah menjadi gelap, serius, dan mematikan. Main-mainnya sudah selesai.

"Jadi," Ucap Sirius pelan, suaranya kini seberat jangkar kapal. "Apa yang akan kau pilih untuk balas dendammu, Lunaris? Kau ingin aku melibas habis mereka sekarang? Menjadikan mereka debu dalam satu kedipan mata? Membakar mereka hingga tak bersisa? Sebutkan saja."

Lunaris terdiam. Ia menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatu pantofelnya yang kotor. Pikirannya berkecamuk. Ia ingin mereka hancur. Ia ingin mereka lenyap. Tapi... jika Sirius hanya membakar mereka atau membunuh mereka dalam sekejap, rasanya terlalu mudah. Itu tidak sebanding dengan rasa sakit, ketakutan, dan penghinaan yang harus ia tanggung. Kematian yang cepat adalah sebuah bentuk belas kasihan, dan Lunaris tidak memiliki belas kasihan untuk mereka saat ini.

"Enggak," jawab Lunaris pelan namun pasti. "Gue nggak mau mereka dihancurkan dalam sekejap."

Sirius menyipitkan matanya, tertarik. "Lalu?"

Lunaris perlahan mendongak, menatap sepasang mata perak sang iblis. "Menurut lo... apa yang lebih menyakitkan daripada kematian?"

Sirius terdiam sejenak. Angin dingin berhembus melewati koridor, mengacak pelan poni hitamnya yang sempurna. Sebagai entitas yang terlahir dari karma dan dosa, Sirius mengetahui segala bentuk penderitaan di alam semesta. Kematian hanyalah sebuah gerbang. Penderitaan sejati ada pada proses menuju ke sana.

"Kematian hanyalah akhir dari fungsi biologis," Ucap Sirius, suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh dengan resonansi kelam. "Yang lebih menyakitkan bagi manusia daripada kematian... adalah karma atas perbuatan mereka selama hidup. Karma yang menyiksa pikiran, mengikis kewarasan, dan membunuh jiwa secara perlahan dari dalam. Ada lima karma paling menyakitkan yang paling ditakuti oleh umat manusia."

Sirius mengangkat satu jarinya yang ramping. "Pertama, Karma Pengkhianatan Mutlak. Rasa sakit saat orang-orang yang paling kau percaya, perisaimu, pelindungmu, dan sekutumu... tiba-tiba berbalik menjadi mimpi terburuk yang merobek jantungmu. Ini menghancurkan dasar kepercayaan manusia terhadap realitas."

Ia mengangkat jari kedua. "Dua, Karma Kehancuran Harga Diri. Ketika semua kekayaan, status, dan kecantikan yang mereka agungkan dilucuti secara paksa di depan umum. Ditelanjangi secara metaforis hingga mereka merasa lebih rendah dari kotoran anjing, disaksikan oleh orang-orang yang dulu mereka ludahi."

Jari ketiga terangkat. "Tiga, Karma Isolasi Pikiran. Saat pikiran mereka sendiri menjadi penjara yang menyiksa. Mendengar suara-suara yang tidak ada, melihat bayangan yang mengerikan, hingga mereka tidak bisa lagi membedakan mana realitas dan mana ilusi. Kewarasan mereka hancur berkeping-keping."

Lalu jari keempat. "Empat, Karma Ketakutan Absolut. Sebuah teror tanpa henti. Saat mereka tahu ada sesuatu yang mengincar mereka di dalam kegelapan, bernapas di tengkuk mereka, tapi mereka tidak bisa melihatnya. Mereka tidak bisa tidur, tidak bisa makan, hanya bisa menunggu dalam kepanikan kapan eksekusi itu tiba."

Terakhir, ibu jarinya terangkat. "Dan yang kelima... Karma Keabadian Semu. Titik di mana siksaan fisik dan mental begitu luar biasa beratnya, hingga mereka memohon-mohon, menangis tersedu-sedu meminta kematian untuk menjemput mereka. Namun, kematian menolak datang. Mereka dibiarkan hidup hanya untuk terus merasakan rasa sakit tanpa akhir."

Mendengar penjelasan yang begitu rinci dan mengerikan itu, bukannya takut, mata Lunaris justru berkilat dengan sebuah resolusi yang kelam. Sudut bibirnya berkedut, membentuk sebuah senyum tipis yang sarat akan luka dan kebencian.

"Itu," Bisik Lunaris tegas. "Gue mau mereka merasakan itu semua."

Sirius menaikkan sebelah alisnya. "Semuanya?"

"Ya. Gue mau mereka merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang udah mereka lakuin ke gue, bahkan jauh lebih parah," rahang Lunaris mengeras.

Lunaris menatap Sirius lekat-lekat, menantang sang penguasa kegelapan. "Apa lo bisa ngelakuin itu? Menggunakan sihir lo buat mainin karma mereka, ngikis mental dan kewarasan mereka sampai habis?"

Seringai yang sangat lebar, mengerikan, namun teramat memikat mengembang di wajah Sirius. Mata peraknya menyala terang di bawah cahaya lampu koridor.

"Ternyata kau ini kejam juga ya,"

"Jadi bisa atau enggak?"

Permintaan Lunaris ini bagaikan alunan musik klasik yang paling indah di telinga sang iblis. Ini adalah seni penyiksaan murni yang sudah lama tidak ia lakukan.

"Bisa?" Sirius terkekeh pelan. "Gadis bodoh... kau baru saja meminta seorang maestro untuk memainkan alat musik favoritnya. Menghancurkan jiwa manusia perlahan-lahan dari dalam adalah keahlianku."

"Tapi sebelum itu..."

Tanpa aba-aba, tangan Sirius yang besar dan sedingin es meraih pergelangan tangan Lunaris. Cengkeramn tangan dingin Sirius tidak kasar, namun mustahil untuk dilepaskan. Ia mulai menarik gadis itu berjalan menyusuri koridor ke arah sayap gedung administrasi.

Lunaris terkejut dan berusaha menarik tangannya. "Lo mau bawa gue ke mana?!"

"Kita akan mengambil kembali hakmu yang dirampas paksa," Jawab Sirius santai tanpa menoleh, terus melangkah dengan kaki panjangnya yang membuat Lunaris harus setengah berlari untuk mengimbanginya.

"Hak gue? Maksud lo... beasiswa gue?!" Mata Lunaris membelalak. "Gimana caranya? Kepala sekolah udah cabut semuanya, Sirius! Dan lo bukan siapa-siapa di mata dewan sekolah!"

"Aku memang iblis yang kejam, Lunaris, tapi aku sangat membenci pencurian, apalagi jika yang dicuri adalah hak milik orang yang sedang terikat kontrak denganku," Ucap Sirius tenang. "Lagipula, kau pikir aku sudi membuang waktuku yang berharga untuk menyusup dan repot-repot membuat identitas palsu di sekolah ini, hanya untuk melihatmu ditendang keluar layaknya anjing liar di hari pertama? Tidak. Kau akan tetap sekolah di sini, agar aku bisa mengawasimu menikmati kehancuran musuh-musuhmu dari barisan paling depan."

Lunaris terdiam. Ada setitik rasa hangat yang aneh menjalari dadanya mendengar alasan Sirius. Iblis ini... apakah dia sebenarnya peduli? Apakah jauh di dalam lubuk hatinya yang kelam, ia memiliki rasa keadilan untuk membela Lunaris yang tidak bersalah?

Jawabannya adalah: Tidak sama sekali.

Sirius sama sekali tidak digerakkan oleh kebaikan hati, rasa kasihan, atau moralitas keadilan. Alasan yang ia lontarkan barusan hanyalah setengah dari kebenarannya.

Setengah kebenaran lainnya sedang berdiri sekitar dua puluh meter di belakang mereka, bersembunyi di balik pilar besar dekat tangga menuju taman belakang.

Dengan pendengaran dan penciumannya yang tajam melampaui batas nalar, Sirius sudah menyadari sejak awal bahwa ada seseorang yang mengikuti Lunaris.

Seseorang yang sejak tadi mengawasi interaksi mereka dari kejauhan dengan napas yang tertahan dan detak jantung yang berpacu tidak stabil.

Aaron berdiri mematung di balik bayangan pilar. Matanya yang biasa memancarkan kehangatan dan kebaikan, kini menatap tajam ke arah tangan Sirius yang menggenggam erat pergelangan tangan Lunaris. Rahang Aaron mengeras, giginya bergemeretak pelan. Kedua tangannya yang berada di sisi tubuh terkepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan emosi gelap yang bergejolak hebat di dadanya.

Aaron tidak bisa mendengar apa yang Sirius dan Lunaris bicarakan. Jarak mereka terlalu jauh, dan suara mereka diredam oleh gema koridor. Yang Aaron tahu dan lihat dengan mata kepalanya sendiri hanyalah: Lunaris, gadis yang beberapa menit lalu menolak mentah-mentah bantuan dan pelukannya, kini justru terlihat begitu akrab, mengobrol dengan Sirius.

Pemuda yang masih Aaron anggap sebagai orang asing yang berbahaya. Pemuda asing itu dengan seenaknya menggandeng tangan Lunaris membawanya pergi, dan Lunaris sama sekali tidak memberontak keras.

Rasa kepemilikan Aaron terluka parah. Rasa cemburu dan marah membakar egonya sebagai "orang yang selalu melindungi" Lunaris.

Sirius tahu persis apa yang sedang dirasakan oleh manusia bernama Aaron itu. Iblis itu bisa merasakan gelombang kecemburuan dan kemarahan memancar dari balik pilar tersebut layaknya aroma parfum murahan yang menyengat.

Dan jujur saja, bagi Sirius, itu sangat menghibur.

Sirius sangat suka melihat sisi munafik dan emosi gelap manusia yang berusaha disembunyikan di balik topeng kesempurnaan. Ia sengaja menggandeng tangan Lunaris bukan hanya untuk mengurus beasiswa, melainkan untuk memprovokasi Aaron.

Sebelum berbelok ke lorong administrasi dan benar-benar menghilang dari pandangan, Sirius sedikit memalingkan wajahnya ke belakang. Ia menoleh tepat ke arah pilar tempat Aaron bersembunyi.

Meski Aaron yakin posisinya tidak terlihat di dalam kegelapan bayangan pilar, mata perak Sirius menatap lurus menembus bayangan itu, mengunci pandangan dengan mata Aaron yang terbelalak kaget.

Di detik terakhir itu, Sirius menarik sudut bibirnya, memberikan sebuah seringai merendahkan dan penuh kemenangan khusus untuk Aaron. Sebuah deklarasi hening tanpa suara yang menyiratkan satu pesan jelas: Gadis ini sekarang dalam genggamanku.

Lalu, Sirius dan Lunaris pun menghilang di balik tikungan lorong.

Di balik pilar, Aaron masih berdiri kaku. Napasnya kini memburu. Tinjunya menghantam dinding pilar dengan keras, meninggalkan buku jarinya yang memerah, sementara pandangan matanya berubah menjadi sangat kelam dan berbahaya.

Permainan baru saja dimulai, dan Sirius baru saja menyalakan sumbu bom yang melibatkan jiwa-jiwa paling bermasalah di sekolah ini.

Bersambung...

1
Yani Sri
lanjut sebanyak-banyaknya kakak
Lucient Night: okayyy
total 1 replies
Draggnel
perasaan prolognya udah saya baca dan komen. kok hilang? apa error ya nt? btw ayo kita saling support. mampir juga di novel saya kalau berkenan 🤝
Draggnel: oh saya kira hilang atau error. sip, sama2. nanti saya baca lagi
total 2 replies
Draggnel
pas baca episode ini langsung berasa banget feelnya, beda sama prolognya.

lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
Yani Sri
yg like sangat sedikit kak, padahal cerita sebagus ini

berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
Lucient Night: hehe iya nih, makasih udah mampir 🤗
total 1 replies
Yani Sri
5 bunga bermekaran untukmu, kak
Yani Sri
😍💪💪💪
Yani Sri
bab ini terasa lebih panjang dari sebelum2nya....

walau sebagian tentang kilas balik...

segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭
Yani Sri
lanjut kakak,,,
Yani Sri
wow
Yani Sri
lanjut kak, aq kasih kopi untuk semangat
Yani Sri
boom like ya kak
Lucient Night: makasih 🥹🥹
total 1 replies
Yani Sri
setelah sekian lama tidak buka novel Toon, alhamdulillah nemu cerita sebagus ini, segera lanjut, ya Kak... bagus ceritanya...
Yani Sri
kapan lanjut?
Lucient Night: aku lanjut hari ini kok
total 1 replies
Yani Sri
cerita sebagus ini, kenapa like sedikit sih?
Jerryaw
mampir ketempat aku juga kk
Lucient Night: okayy, makasih udh mampir kak
total 1 replies
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!