NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bungkam

Ammar tengah mendengarkan penjelasan Nando terkait, rencana penambangan di lokasi baru. Lebih tepatnya penambangan minyak lepas pantai di salah satu wilayah. Dia diajak join sebagai investor.

"Kamu tidak mengajak Ben?" Tanya Ammar, dia menggoyangkan cairan berwarna merah gelap pemberian lelaki berdarah Sukabumi-Jerman itu. Katanya ini minuman buatan keluarga mendiang Padre. "Atau Alex mungkin." Tambahnya.

"Ben sedang sibuk dengan organisasi juga perusahaannya. Sedangkan Alex tidak mau mengambil resiko." Lelaki bermata hijau dan berambut cokelat itu, sedang memangku laptopnya. Jemari panjangnya sibuk beradu dengan tombol-tombol pada komputer jinjing berlogo apel tergigit. "Ini perkiraan keuntungan yang akan kita peroleh jika proyek ini berhasil." Nando menaruh laptop menghadap lelaki asal timur Tengah yang sudah lebih dari satu dekade berelasi dengan bos-nya.

Ammar memperhatikan angka-angka yang tertera pada monitor. Sebagai pengusaha dibidang pertambangan, dia paham betul tentang hal semacam ini. "Yah ... Cukup lumayan." Komentarnya. "Kapan dimulai?" Tanyanya.

"Saya akan memberitahu anda." Nando kembali mengambil alih laptopnya. "Akan Saya kirim email-nya pada anda, setelah semuanya beres."

"Oke ..."

Pagi-pagi sekali Ammar harus datang ke kantor untuk menemui lelaki yang datang jauh-jauh dari Bali. Katanya nanti siang harus kembali kesana. Nando datang ke Jakarta hanya untuk bertemu langsung dengannya.

Nando sudah selesai dengan laptop-nya. Dia memasukannya ke dalam tas milik-nya. Setelahnya dia mengeluarkan sebuah kotak. "Ini untuk istri anda, Tuan!"

Sebuah kotak berwarna biru tua, dengan logo yang Ammar kenal tentunya. Beberapa kali koleganya membawakan untuknya. "Seingat ku, aku tidak memesan."

"Saya dengar dari Rama, istri anda sedang hamil. Ini hadiah untuk beliau sebagai ucapan selamat dari Saya."

Ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik pikiran Ammar. "Terima kasih."

Nando bangkit dari duduknya. "Saya undur diri." Dia menyodorkan tangan untuk bersalaman dan Ammar menerimanya. "Semoga anda dan istri sehat selalu."

"Terima kasih untuk wine dan hadiahnya." Sahutnya. "Apa kamu langsung kembali?" Maksudnya adalah tempat kerja Nando sebenarnya, sebuah pulau yang terkenal karena wisatanya.

"Saya akan mampir ke tempat Rama sebelum berangkat ke bandara."

"Baiklah, hati-hati di jalan." Jabatan tangan itu terlepas.

Nando keluar dari ruangan, gantian Damian masuk. Lelaki bermata biru itu, membawa setumpuk dokumen yang harus diperiksa Ammar.

Namun baru satu dokumen yang diperiksanya, karena hendak dibawa kembali oleh asistennya. Ponsel Ammar berdering, tertera di layar nama Bibi Tuti.

"Iya Bi!" Ammar membubuhkan tanda tangannya.

" ..."

Mendengar penjelasan dari seberang sana, Ammar mendelik. Dia melirik pada asistennya yang baru pulang kemarin dari Afrika. "Baiklah, itu biar jadi urusanku." Panggilan diakhiri.

"Apa kamu tau, tempat istriku biasa memeriksakan kehamilan?" Tanyanya. Meski rasanya masih kesal, karena dikhianati. Tapi Ammar tak memiliki pilihan lain.

Damian menaikan bahu-nya. "Nyonya merahasiakan dari saya." Jawabnya jujur. "Apa beliau pergi tanpa pamit, Tuan?"

Ammar mulai menceritakan tentang cerita bibi Tuti yang mengatakan, Jika Nina tidak mau ditemani memeriksakan kandungan. Ini terjadi sekitar seminggu yang lalu.

"Mungkin Nyonya sedang berjalan-jalan di sekitar rumah, Tuan!" Damian mencoba berpikir positif.

Ammar menggeleng, "salah satu pelayan melihatnya menaiki ojek."

"Apa anda mengizinkan saya melacak keberadaan nyonya, Tuan?" Tanya Damian.

"Cari secepatnya dan bilang pak Sabar untuk menyiapkan mobil." Perintahnya.

***

Segala hal tentang perempuan sederhana itu, membuat Ammar tak habis pikir. Pertama, janda beranak dua itu sudah menjanda selama belasan tahun tapi mengaku tidak pernah berhubungan sama sekali dengan lelaki manapun. Jadi bisa dibilang, Ammar adalah lelaki kedua baginya. Terbukti dari pertama kali mereka berhubungan intim. Nina begitu kaku, dan terasa sempit serta mengigit di bagian bawahnya. Mungkin seperti gadis perawan rasanya. Sejauh ini, Ammar belum pernah mendapati tanda selaput dara yang robek.

Lalu yang kedua, Nina tidak terlihat serakah atau ingin menguasai hartanya. Itu dilihat dari pengeluaran selama tiga bulan pertama mereka menikah. Nina hanya menggunakan uang bulanan untuk bayaran sekolah anak-anaknya, jajan yang nilainya bahkan tidak sampai sepuluh persen UMP Jakarta. Atau membeli gamis di pasar yang harganya terbilang murah.

Ketiga, tempat persembunyian selama Nina menghilang. Bisa dibilang dekat dengan Penthouse, tapi Ammar dan orang-orang suruhannya sama sekali tidak menyadari.

Dan yang keempat, tentu pilihan rumah sakit tempat Nina memeriksakan kandungan. Hanya rumah sakit biasa, mungkin hanya tipe D. Entah apa alasannya, yang jelas ini bukan rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Layaknya rumah sakit milik kolega Ammar. tempat dimana rencananya Nina melakukan inseminasi.

Ammar hanya datang bersama supirnya. Dia meminta Damian tetap di kantor, mewakilinya menghadiri rapat. Meskipun asistennya tadi menawarkan untuk mendampinginya.

Setelah bertanya pada bagian informasi, Ammar langsung melangkah menuju poli kandungan. Ketika hendak berbelok, telinga nya mendengar nama Nina Khairunisa dipanggil. Itu istrinya.

Tapi tak memungkinkan dirinya untuk ikut masuk, pintu sudah tertutup dan tentunya terkunci juga. Jadi Ammar lebih memilih duduk di kursi tempat istrinya tadi duduk.

Mendadak jantungnya berdebar kencang, Ammar menunggu dengan cemas istrinya yang tengah diperiksa dokter.

Banyak tanya yang memenuhi isi kepalanya. Bagaimana keadaan istrinya di dalam? Berapa tensinya, detak jantungnya?

Lalu bagaimana perkembangan bayi mereka?

Ammar melihat, Nina menjalani kehamilan tak seperti kakaknya dulu. Yang sampai dirawat karena mengalami morning sick parah dan beberapa kali pendarahan.

Istrinya itu sama sekali tidak kerepotan dengan kehamilan. Bahkan menurut Bi Tuti, selama seminggu kebelakang, Nina makan dengan lahap semua makanan yang disediakan pelayan. Nina tidak pilih-pilih soal makanan.

Itu kabar baik untuk Ammar, setidaknya dia cukup tenang. Ammar sampai memutuskan untuk menetap di negara ini demi menjaga istrinya. Dia takut Nina mengalami apa yang Aisya alami. Aisya adalah kakak perempuannya.

Seorang perawat memangil pasien selanjutnya untuk bersiap, menunggu pasien di dalam keluar. Mendengar itu, Ammar langsung bangkit dari duduknya.

Ah ... Sedari tadi, Ammar tau, dia diperbincangkan oleh orang-orang disekelilingnya. Tapi siapa peduli, Ammar sudah terbiasa menjadi pusat perhatian jika datang ke tempat umum selama mengunjungi negara ini.

Mata cokelat itu melebar begitu melihat-nya. Itu sudah Ammar perkirakan. Menurutnya, ekspresi itu sangat lucu dan menggemaskan. Andai tak ingat tempat, mungkin Ammar sudah mencium bibir merah muda istrinya.

"Kok bisa?" Nina bergumam.

Belum sempat Ammar menyahut, seorang perawat meminta keduanya untuk bergeser agar tidak menggangu pasien yang akan menghadap pada dokter.

Nina duduk di kursi kosong, katanya dia sedang menunggu surat konsultasi untuk pertemuan berikutnya.

"Bagaimana keadaan kamu?" Ammar duduk di samping istrinya. "Kenapa tidak bilang kalau kamu akan memeriksakan kandungan? Aku bisa dampingi kamu." Ini juga yang ingin dia katakan.

"Saya bisa sendiri." Nina menunduk tak mau sama sekali menatap wajah suaminya.

"Aku suami kamu dan aku ayah dari bayi dalam kandungan kamu. Aku berhak mendampingi kamu." Ammar tidak terima, harga dirinya terluka. Secara tidak langsung, istrinya menolak keberadaannya.

Nina membuang napasnya kasar, "sudahlah Tuan! Kita hanya pasangan kontrak, tidak perlu terlalu dekat." Dia ingin membangun tembok setinggi mungkin.

Belum sempat Ammar menanggapi, nama Nina Khairunisa dipanggil. "Tunggu sini, biar aku yang hampiri."

"Tapi tuan." Nina menatap lelaki itu, dengan tatapan mengiba.

Ammar mendelik, "sudahlah Nina, aku sedang kesal pada kamu. Jadi duduk, dan turuti aku." Perintahnya tak mau dibantah.

***

Mobil milik Ammar sudah dimodifikasi. Ada pembatas antara bangku kemudi dan bangku penumpang dibelakangnya. Juga didesain kedap suara.

Ammar meminta pada supir untuk mengontrol kecepatan, karena sedang membawa istrinya yang tengah hamil.

Ammar ingin melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terputus. Nina meminta agar dirinya berbicara di rumah saja. Karena tak enak membicarakan urusan rumah tangga di tempat umum.

"Jawab jujur apapun yang aku tanyakan." Pinta Ammar penuh penekanan.

"Tanya apa?" Nina mulai merasa gugup.

"Mana buku pemeriksaan kamu?" Ammar mengulurkan tangannya. "Jangan ada yang ditutupi." Dia memperingatkan. "Aku bisa saja mencari tau, tapi aku menghargai kamu sebagai istriku. Jadi jujurlah."

Nina melihat ke arah luar, dia membuang muka dan tak ingin menatap balik pria di sebelahnya. "Janin ini baik-baik saja, Tuan! Tidak ada yang perlu anda khawatirkan."

Lihatlah, perempuan ini! Sama sekali tak menatapnya semenjak masuk ke dalam mobil. Malah membuang muka.

Apa mungkin menurut Nina, dirinya tidak tampan?

"Aku butuh sedetail mungkin pemeriksaan tadi."

"Tidak usah. Anda cukup menunggu anak ini lahir." Nina tetap kekeh. Dia tidak mau rahasianya terbongkar.

Ammar mengepalkan tangannya. Istrinya yang satu ini, padai sekali memancing amarahnya. Sepertinya sulit sekali membuat Nina buka mulut, padahal ini hal sepele menurutnya.

"Lex, tolong cari tau tentang rekam medis atas nama Nina Khairunisa di rumah sakit XX. Kalau sampai mereka tidak mau kasih, akuisisi rumah sakit itu. Aku mau laporan sedetail mungkin." Ammar terpaksa kembali merepotkan koleganya. Biar saja, biar uangnya yang banyak itu bekerja. Dia mengakhiri panggilannya begitu Alex mengiyakan.

Nina sontak menoleh dan memberikan tatapan tidak percaya pada lelaki berkemeja putih itu.

"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau, jadi jangan coba-coba menyembunyikan apapun dari ku." Ammar menyeringai.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!