“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Serangan Tak Terduga
Jendela restoran tiba-tiba meledak. Kaca berhamburan seperti hujan es saat sesosok bayangan besar menerjang masuk. Taring putih berkilat, mata kuning menyala penuh kebencian. Di belakangnya, asap hitam menggulung, membentuk sosok kurus berjubah… penyihir hitam, simbol-simbol kutukan berpendar di udara di sekelilingnya.
“Bunuh reinkarnasi Ratu vampir!” raung sang werewolf.
Wajah Ragnar membeku. “Ini bukan bagian dari skenarionya, bukan?” gumamnya.
“Bukan, Yang mulia!” jawab Dorian.
Ragnar sudah berada di depan Ivory yang semakin mematung ditempatnya, membentangkan tubuhnya seperti perisai. “Tinggal di belakangku,” perintahnya tegas. Tak ada lagi nada berpura-pura.
Sang penyihir hitam mengangkat tongkatnya, melafalkan mantra yang membuat udara menjerit. Meja-meja terangkat, kursi terlempar. Sang werewolf menerjang dengan kecepatan mengerikan.
Dorian segera mencabut belatinya kembali, kali ini sungguhan dan berdiri di sisi Rajanya. “Maafkan saya, Yang Mulia.” katanya cepat. “Skenario kita… telah gagal karena munculnya para pengacau ini.”
“Fokus,” balas Ragnar tanpa menoleh.
“Keselamatan Ivory lebih penting dari skenarionya.”
Mantra hitam meluncur seperti tombak menjadikan Ivory sebagai target utamanya. Ragnar menepisnya dengan perisai darah yang berkilau merah gelap. Dorian segera melompat, menyayat udara, memaksa sang penyihir mundur. Werewolf itu mengaum, cakarnya hampir meraih wajah Ivory. Nyaris… sampai Ivory bisa merasakan dengan jelas hembusan angina dari serangan tersebut.
Tepat saat itu juga Ivory bisa merasakan tangan dingin namun kokoh menariknya ke pelukan. Dan dalam kekacauan itu, ia mendengar detak jantung yang seharusnya tak ada dan menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus anehnya menenangkan hatinya. Ya, Ivory ditarik masuk dalam pelukan Ragnar yang berusaha memastikan dirinya tetap aman.
Siapa sangka skenario untuk mendekatkan dirinya dengan reinkarnasi ratunya telah berubah menjadi pertempuran nyata yang tak bisa dihindarkan. Kini Ragnar tidak peduli lagi dengan perannya sebagai seorang pahlawan di mata Ivory, ia hanya ingin memastikan tidak ada yang bisa menyentuhnya selain dirinya.
Suara kaca pecah yang memekakkan telinga kembali terdengar. Lantas Ivory refleks menutup wajah ketika jendela besar di sisi restoran meledak ke dalam, pecahannya berhamburan hampir menyentuh kulitnya. Angin malam menerobos masuk, membawa aroma logam bercampur amarah yang membuat tubuh Ragnar semakin menegang seketika.
“Sial, berapa banyak lagi yang datang kali ini,” umpat Ragnar terlihat sedikit panik.
Belum sempat siapa pun bergerak, bayangan di sudut ruangan berkerut, lalu mengental. Dari kegelapan itu muncul seorang penyihir hitam, jubahnya seperti asap hidup, simbol-simbol kutukan melayang di udara di sekelilingnya. Satu hal yang membedakan dari penyihir hitam sebelumnya, kali ini… kekuatan sihir hitamnya terasa jauh lebih kuat.
“Jangan bunuh dia terlalu cepat,” ucapnya dingin. “Aku ingin memastikan jiwanya benar-benar lenyap sampai tidak bisa bereinkarnasi lagi.”
“Percaya diri sekali! Selama ada aku di sini, kau bahkan tidak akan bisa menyentuh ujung rambutnya sekalipun.”
Ragnar kembali berdiri di depan Ivory. Tubuhnya membentuk perisai, bahu dan punggungnya terbuka pada ancaman. Mata merahnya menyala tajam, namun ada ketegangan yang jarang terlihat. Pasalnya saat ini hanya Dorian yang berada disisinya, sebab Theron dan Denzel sedang menjalankan tugas masing-masing. Mengira bahwa mereka tidak akan menyerang dalam waktu dekat, rupanya dia salah perkiraan sejak awal.
Werewolf itu tertawa kasar. “Kau terlambat, Ragnar.”
Ia menerjang. Gerakannya terlalu cepat. Cakar tajam menyayat udara, serangan tiba-tiba yang tak terbaca dan tidak bisa ia hindari. Secara spontan Ragnar mendorong tubuh Ivory ke belakang tepat sebelum serangan itu mendarat. Alhasil, satu cakar tetap mengenai tubuhnya. Darah merah gelap menyembur, mengotori lantai dan setelan hitamnya.
“Yang Mulia!” teriak Dorian panik.
Ivory terpaku, menahan napas saat menatap luka itu dari kejauhan. “Kau… terluka karena aku.”
Ragnar hanya mampu meringis, namun tetap berusaha berdiri. “Jangan lihat lukanya, Ratuku!” katanya rendah. “Lihat aku saja.”
Penyihir hitam itu mengangkat tangannya, melafalkan mantra kuno. Energi gelap menghantam dada Ragnar, melemparkannya ke belakang. Meja-meja terbalik, porselen hancur berderak.
Penyihir hitam lain maju, siap mengakhiri segalanya. Namun langkahnya terhenti saat dentuman keras terdengar dari pintu utama.
Sebuah pedang berlapis rune darah menancap di lantai tepat menembus dada penyihir itu, menghentikan langkahnya sekaligus hidupnya. Cahaya merah berdenyut dari bilahnya seolah menghisap asap hitam yang berasal dari kematian penyihir hitam.
“Langkah berikutnya akan memenggal kepala kalian semua.”
Dua sosok muncul dari balik pintu. Yang pertama, Theron yang menarik pedangnya kembali dengan satu gerakan tajam. Yang kedua berdiri di sampingnya, Denzel dengan telapak tangan bersinar dengan lingkaran sihir pelindung.
“Maaf kami terlambat, Yang Mulia,” ujar mereka serempak.
Pertarungan kembali meledak. Theron menghadang dan menghadapi para werewolf itu, membantu Dorian. Pedangnya beradu dengan cakar baja. Ledakan energi memantul di udara. Denzel tidak tinggal diam, ia menebarkan sihir penekan, memutus aliran mantra penyihir hitam hingga makhluk itu tersentak mundur.
“Kita mundur!” teriak sang penyihir hitam dengan wajah murka.
Werewolf itu mengaum penuh amarah, namun dipaksa mundur oleh tekanan dua vampir kuat. Dengan satu lompatan, ia mundur ke jendela yang hancur.
“Ini belum selesai, Ragnar! Aku pasti akan kembali untuk melenyapkan Ratumu itu sampai kau tidak bisa menemukan kembali jiwanya,” geram Penyihir hitam itu sebelum menghilang ke kegelapan.
Keheningan jatuh perlahan, hanya tersisa suara napas berat dan bunyi kaca yang masih berguguran. Ivory langsung berlari ke sisi Ragnar yang kini berlutut, menahan lukanya. Tangannya gemetar saat menyentuh darah hangat di sisinya.
“Kenapa kau melindungiku sampai sejauh ini?” bisiknya.
Sang raja vampir menatapnya, mata merahnya perlahan meredup, digantikan kelembutan yang tak bisa ia sembunyikan. “Karena aku sudah berjanji padamu,” ucapnya pelan, “… untuk menemukanmu kembali dan di kehidupan kali ini bisa melindungimu dengan baik.”
“Kenapa?”
“Aku bahkan tidak ingat bahwa kita pernah bersama sebelumnya? Aku bahkan tidak ingat bagaimana kehidupanku dulu, apalagi mengingatmu? Kenapa kau masih tetap mencari dan… berusaha menepati janjimu itu?”
“Bagaimana jika aku… bukan reinkarnasi Ratumu?” cecar Ivory dengan mata memanas, menahan air matanya.
“Setidaknya… tidak akan ada penyesalan lagi, meskipun bukan kau orang yang aku cari,” balas Ragnar memaksa senyumannya. “Sebab jika suatu hari ini terbukti bahwa kau memang reinkarnasi dari ratuku dan hari ini aku tidak melindungimu dengan baik… maka aku akan sangat menyesal. Hingga mungkin sampai membuatku nekad untuk mengakhiri hidup abadiku.”
Dan di antara puing-puing serta darah, Ivory tahu takdir mereka telah melangkah terlalu jauh untuk ditarik kembali. Kini Ivory mengakui bahwa ia mulai percaya bahwa vampire, manusia serigala, penyihir dan bahkan peri itu memang nyata.
Mereka benar-benar ada di antara manusia, menyatu seolah mereka berasal dari satu ras yang sama. Bahkan ia mulai berharap… kalau dirinya memang reinkarnasi ratu yang sedang pria itu cari.
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔