Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Rumah Sakit
...Happy reading^^...
...💮...
Gelap.
"Bangunlah! Kakak mohon kamu harus bangun!"
"Kakak sudah berjanji pada Papa dan Mama untuk menjagamu! Tolong bantu Kakak untuk mewujudkan janji Kakakmu ini! Kakak mohon padamu!"
"Kakak tidak ingin kehilanganmu! Walau kamu terus mengatakan bahwa Kakak sudah memiliki keluarga baru, tapi Kakak tetap perlu kamu sebagai keluarga Kakak! Kakak tidak mau kehilangan kamu seperti kehilangan Papa dan Mama!"
"Tolong bangun! Aleya!"
Aku mendengar suara Kakak laki-lakiku yang tampak lirih dan putus asa berbicara denganku. Dan aku juga mendengar tangisannya, begitu pun suara tangisan Kakak iparku.
Aku tiba-tiba ingin sekali bertemu mereka, sudah lama aku tidak berjumpa dengan mereka. Aku harus segera bangun!
Kelopak mataku susah sekali untuk dibuka, tapi aku tetap berusaha untuk membuka kelopak mataku yang berat ini.
Setelah mencoba sekian detik, aku akhirnya bisa membuka kelopak mataku.
Pandanganku masih kabur, tapi aku menunggu agar penglihatanku menjadi jelas. Hal pertama yang aku lihat adalah lampu putih di atas langit ruangan berwarna putih.
Sudah pasti ini bukan kamarku! Atau bahkan ini bukan ruanganku!
Sambil menatap langit ruangan berwarna putih itu, aku baru sadar kalau aku memakai alat bantu nafas serta terpasang infus di salah satu tanganku.
"Aleya! Panggil Dokter! Cepat!"
Suara teriakan di samping kiriku membuat aku menoleh, tampaknya suara teriakan itu sangat keras. Tapi suara itu terdengar kecil di telingaku, apa mungkin itu efek dari habis sadar dari pingsan?
Aku melihat Kakak iparku menangis melihatku, dia langsung mendekat padaku dan mengambil tangan kiriku yang tidak terpasang infus. Lalu mengecupnya perlahan dan berkali-kali. Tampaknya dia sangat terharu aku membuka mata dan itu membuatku meneteskan air mata.
Selang beberapa lama kemudian, Dokter dan para perawat datang setelah dipanggil oleh Kak Diro.
Selagi diperiksa, aku mengalihkan tatapanku pada Kak Diro dan kakak ipar yang masih memperhatikan pemeriksaanku. Pandangan mataku bertemu dengan Kak Diro. Aku dapat melihat senyuman leganya dari tatapan lembut kedua matanya itu.
Setelah memeriksa denyut nadi, kedua mata dan lidahku. Dokter perempuan itu pun melepas stetoskopnya dan tersenyum padaku. Dia lalu berbalik badan untuk menghadap kepada Kak Diro dan Kakak Ipar.
"Syukurlah keadaan Nona Pasien perlahan membaik, tubuhnya yang kekurangan makanan dan minuman masih dapat menerima cairan infus dan cairan pengganti makanan. Nanti kami akan menyediakan makanan lembut untuk Nona pasien, kita hanya perlu menunggu tenaga Nona pasien bisa kembali pulih agar dapat mengkonsumsi makanan." begitulah penjelasan Dokter tentang kondisiku. Di sisi lain, perawat yang ikut ke Ruanganku ini tengah merapikan kondisi selimutku dan juga mengatur posisi bantal agar nyaman untukku.
"Terima kasih banyak Dokter." jawab Kak Diro dengan masih terharu.
"Sama-sama. Nanti salah satu perawat akan mengantarkan makanan setelah lewat beberapa jam infus pengganti makanan habis. Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Oh, tentu Dokter. Mari, saya antar!"
Kak Diro pun pergi mengantar Dokter keluar Ruangan. Perawat yang tadi membantu mengatur posisi selimut pun ikut beranjak mengikuti Dokter setelah dirasa tugasnya membantuku selesai.
Sementara Kakak Ipar yang masih ada di Ruangan itu segera mendekat ke ranjang pasienku.
"Haus," pintaku dengan suara serak. Dengan segera Kakak Iparku mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja dekat ranjangku.
"Pelan-pelan," Kakak Iparku membantu mendudukkanku sedikit dan memegangi gelasnya.
Setelah selesai, aku dibantu lagi untuk merebahkan diri ke ranjang. Tubuhku masih tidak kuat untuk bangkit dari ranjang.
Sembari memperhatikan Kakak Iparku meletakkan gelas air minum yang tersisa setengah gelas itu, aku menoleh ke arah tangan kananku yang diinfus dua tempat.
"Kenapa aku diinfus dua sekaligus di tangan kananku?" tanyaku sambil memandang tangan kananku yang dipasangi dua infus sekaligus. Aku tiba-tiba ngeri membayangkan telapak tanganku disuntik lebih dari sekali untuk bisa memasang dua infus ini. Terlebih lagi, aku merasakan sedikit nyeri dari dua infus yang terpasang di tangan kananku.
"Oh itu, Kakakmu yang memberikan saran untuk memasang dua infusmu di satu tangan saja. Lebih lagi, Dokter mengatakan infus pengganti makanan ini akan dilepas jika kamu bisa mengonsumsi makanan kembali. Jadi, Kakakmu berpikir untuk langsung meminta Perawat untuk memasang infus di tangan kananmu agar memudahkanmu jika ingin ke Toilet." jelas Kakak Iparku. Aku menganggukkan kepalaku sebagai respon mengerti, untung saja Kak Diro menyarankan tangan kananku diinfus dua sekaligus agar memudahkanku untuk pergi ke toilet.
"Aku ada di Ruangan mana?" mataku memandangi Ruangan Rumah Sakit yang kutempati ini.
"Kamu ada di Ruangan kelas 2," jawab Kakak Iparku.
"Ck, kenapa harus Ruangan ini sih? Harusnya Ruangan biasa aja biar agak murah!" semburku jengkel setelah tahu Kak Diro memilih Ruangan yang agak mahal untuk kutempati.
Dapat kulihat Kakak Iparku menghela nafas kasar. "Udah sih! Jangan jadi orang perhitungan kek gini! Lagian duit Kak Diromu banyak, jadi gak sudah khawatir!" serunya menjawab kejengkelanku lalu merapikan selimut yang tampak kusut setelah aku minum tadi.
Memang, sifat perhitunganku ini memang kadang suka membuat orang di sekitarku jengkel, terutama Kakak dan Kakak Iparku yang keduanya memiliki sifat loyal terhadap uang. Sifatku ini aku dapatkan dari Papaku yang suka menghemat uang.
Lebih lagi, aku tidak suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat. Yang terkadang diceletuki oleh Kak Diro "Tidak suka menghambur-hamburkan uang itu gak beda tipis sama pelit, ya?"
Kedatangan Kak Diro yang masuk ke Ruanganku membuat kami menoleh.
"Lama sekali ngantar Dokternya!" Kakak Ipar memberikan raut muka jengkel. Kakak Iparku ini memang perempuan yang cepat jengkel dengan kelakuan lambat suaminya itu dan itu membuat Kak Diro kadang kewalahan menghadapinya.
"Ya ampun, sayang! Aku lama karena harus pergi ke Apotik dulu buat ngambil obat Klara sesuai resep Dokter." jelas Kak Diro yang berusaha meredakan kemarahan Kakak Ipar.
"Bohong kali tuh Kakak Ipar," aku ikut memanas-manasi suasana di Ruangan ini. Kak Diro melotot padaku.
"Kamu ini, ya! Lagi sakit juga masih aja pengen manas-manasi masalah Kakakmu ini!" serunya sambil menyentil keningku.
Aku mengaduh sakit karena sentilan Kakak laki-lakiku itu. Tapi setelah itu, Kak Diro mendapatkan pukulan dari Kakak Ipar karena berani menyentilku yang lagi sakit.
Kakak Ipar mengelus keningku yang disentil sembari melototi Kak Diro.
"Oh, ya! Ke mana Keponakan kecilku?" tanyaku pada Kakak Ipar. Semenjak aku sadar, aku belum melihat keberadaan Keponakan laki-lakiku itu.
"Dia Kakak titipkan ke Mama Kakak, sementara kami berdua di sini untuk menunggumu sadar dan merawatmu." jawab Kakak Ipar yang beralih mengelus rambut pendekku dengan lembut sambil tersenyum.
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading My Story^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 20 Januari 2026....