"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
"Oke kamu tenang dulu. Aku tahu kamu marah, Mel. Tapi aku juga nggak bisa mengabaikan informasi yang aku dapat. Jujur, aku masih kecewa sama kamu soal itu."
"Kenapa kamu percaya gitu aja, Rama? Apa kamu memang sudah beralih hati ke cewek kampung itu? " bentak Amel.
"Amel, nggak perlu menghina orang seperti itu. Kamu nggak lebih baik dari dia, " sahut Rama dengan nada ikut meninggi.
"Tuh, kan dugaanku benar. Kamu sudah di brain wash sama dia. Rama, aku lebih dulu sama kamu. Tega banget kamu campakkan aku gitu aja. Tujuh tahun itu nggak sebentar, Rama."
Rama menghela kasar.
"Oke, gini aja. Aku jamin, setelah kamu balik kita ketemu dan bicarakan ini. Aku minta kamu istirahat yang tenang di sana. Nikmati aja liburan mu."
"Aku nggak percaya."
"Terus mau mu gimana? "
"Kalau kamu nggak jawab telpon ku, nggak balas pesanku waktu aku udah pulang. Aku langsung ke kantormu."
"Gila kamu, Mel."
"Iya, aku udah gila gara-gara kamu."
"Aku pastikan respon kalau kamu hubungi aku, jangan bikin onar di kantor ku. Kamu bakal kena masalah besar, ngerti kamu!!"
"Awas kamu blokir nomerku lagi, aku bakal bener-bener bikin kamu malu karena kegilaanku."
Klik
Rama mematikan telponnya kasar. Ia duduk di kursi---lelah, kepalanya terasa penat. Helaannya berat dan panjang.
Berurusan dengan Amel betul-betul membuatnya kewalahan. Bukan rasa tenang seperti dulu, tapi penuh tekanan.
Ia beranjak dari kursi dan buru-buru keluar dari ruangan.
CEKLEK
Rama terkejut, Septi sudah ada di depan pintu ruangannya.
"Belum pulang, Septi? " tanya Rama heran.
"Oh.. itu, iya Pak mau pulang tadi.. mau pamit sama bapak. Kalau begitu saya pamit ya pak, Assalamu'alaikum."
Septi berlari menghindari tatapan curiga dari Rama, ia cemas Rama bertanya lebih banyak.
"Walaikumsalam, " jawab Rama lirih lalu berjalan keluar ruang departemen.
Saat ia keluar dari ruangan suasana sudah sangat sepi. Langit diluar juga sudah gelap. Tak lama adzan maghrib berkumandang.
Saat menyusuri jalan menuju parkiran ia bertemu Bayu.
"Loh, baru pulang? " tanya Rama heran.
"Iya, ngobrol lama sama Om Jaka. Dari pagi dan baru selesai, " sahut Bayu dengan wajah lelah.
" Sendiri apa sama Ardi? "
"Tadinya sama Ardi terus jam tiga dia pamit duluan, ada jadwal ketemu sama customer."
"Sholat magrib dulu yuk, " ajak Rama.
Bayu menoleh tak percaya, lalu spontan mengangguk.
Rama mengajaknya sholat di masjid kantor. Setelah berwudhu mereka berjalan ke dalam sambil mengobrol menunggu iqamah.
Tak lama...iqamah berkumandang dan sholat maghrib dimulai dengan khusyuk.
"Aku nggak menyangka, setelah menikah kamu banyak berubah, " ujar Bayu sambil duduk memakai kaos kaki dan sepatunya.
"Berubah? apa yang berubah? perasaan biasa aja."
"Kamu nggak sadar mungkin, tapi kita yang lihat pasti merasa perubahan kamu. Ternyata Aya benar-benar bikin kamu kembali seperti dulu lagi, Ram."
"Emang tadinya aku gimana? "
"Kamu terlalu bebas sama Amel. Terlalu sering ekspos kemesraan depan umum. Kayak kamu itu di buat cinta mati sama dia sampai nggak sadar pantas apa nggak."
"Dulu, waktu kamu belum kenal Amel. Kamu benar-benar punya sopan santun, nggak bar-bar, nggak kasar, nggak keras. Kamu sekarang lebih dewasa, tenang dan hangat."
Rama tersenyum, seperti mengakui semua penilaian Bayu.
"Kamu sudah pernah tidur sama Amel ya, Ram? "
"Ya ampun, nggak lah. Bisa-bisanya kamu mikir gitu, Yu? "
"Ya bisalah. Aku ngerasain sendiri efek sudah tidur sama istri, aku benar-benar kecintaan sama Nurul. Kamu?? akhirnya sudah kecintaan sama Aya juga ya?? "
"Hush, malah di bahas."
Bayu terkekeh, "Kayaknya emang udah berhasil ini. "
"Gimana kondisi kantormu? Masih frontal nggak omongan ke Aya? " tanya Rama mengalihkan pembicaraan.
"Postingannya cukup berpengaruh sih, tapi aku nggak tahu kalau di grup bayangan karyawan. Pernyataan dari Om Jaka juga cukup membantu meredam."
"Alhamdulillah kalau gitu, aku jadi tenang."
Bayu tersenyum melihat ekspresi cemas di wajah Rama.
"Ada satu hal yang aku salut sama Aya. Kabidnya konfirmasi soal postingannya itu. Dan dia jawab dengan tegas kalau klarifikasi itu atas nama dirinya. Karena dia merasa terhina dikatain macam-macam. Aku juga nggak habis pikir sekasar itu omongan orang-orang ke Aya. "
Setelah langkah mereka sampai di parkiran, mereka berpamitan.
Rama masuk ke mobilnya, menyalakan mesin dan menginjak pedal gas dengan mantap.
Malam itu langit tanpa bintang, sedikit mengabu tanda akan turun hujan. Mendengar cerita Bayu sebelum mereka berpamitan tadi, cukup membuat Rama merenung lama dalam perjalanan.
"Aya itu terlihat lembut, tapi kalau kenyamanannya di ganggu dia bakal bersikap tegas. Dia nggak berpikir pakai kekuasaan keluargamu untuk membela dirinya. Dia pakai kekuatannya sendiri. Salut dengan sikapnya itu. Terus dia sempat bilang sama aku, kalau dia pasrah soal hubungan mu dengan Amel. Dia cuma berharap dapat kompensasi sepadan kalau kamu akhirnya memilih Amel dan menceraikannya."
"Rama, aku selalu melihat Aya itu tulus sama kamu. Sejak dia memutuskan setuju menikah mendadak denganmu wajahnya tak pernah ragu, meski dia tau konsekuensi di belakang hari. Ia cuma berharap suatu saat hatimu berubah dan memilihnya."
Rama memijat pelipisnya yang menegang, sebelah tangannya tetap lurus memegang stir. Ia dilema, karena belum punya solusi soal Amel. Ia dilema, karena sangat merasa bersalah mencampakkan orang yang sudah lama bersamanya.
Rama dilema, karena ketulusan Aya membuatnya banyak berubah ke arah lebih baik. Ia dilema, karena Aya sudah membantunya memenuhi harapan dan janji orang tuanya.
Rama kini bagai berdiri di persimpangan, pikirannya buntu, entah harus melangkah ke arah yang mana. Membayar rasa bersalah, atau mengejar ketulusan.
***
Aya membantu Bi Sri menata makanan di meja ruang makan. Harum dan Raka sudah duduk di kursi mereka sambil mengobrol soal hari pertamanya magang di perusahaan karet.
"Aya, kita makan duluan aja. Papa makan di luar ada janji ketemuan sama rekanan kantor," ajak Harum.
"Mama duluan aja sama Raka. Aya biar tunggu bang Rama."
"Abang kemana? ikut Papa? " tanya Raka.
"Nggak, tadi chat baru mau pulang. Sholat maghrib dulu di kantor."
Raka dan Harum mengangguk lalu mulai makan. Mereka masih lanjut mengobrol soal perusahaan karet itu. SedangAya sesekali menatap keluar berjaga kalau mobil Rama datang.
"Jadi saat perkenalan, Robi nyeletuk godain Raka, yang lain pada ketawa. Untung kepala produksinya itu ramah, Ma. Kan nggak enak, dikira Raka masuk ke sana karena ada Robi."
"Loh, Robi kerja di kantor magang mu? " tanya Aya terkejut.
Raka terdiam, ia lupa kalau merahasiakan Aya mengenal Robi karena mereka satu SMA.
"Loh, Aya kenal Robi teman SMA Raka? " tanya Harum ikut terkejut.
"Kenal, Ma. Kami kan satu kelas di SMA, " jawab Aya santai dengan senyuman hangatnya.
Raka menunduk, lalu terlihat kikuk saat di tatap Harum sedikit curiga.
"Bang Rama pulang, " ujar Aya tiba-tiba. Ia beranjak keluar menyambut Rama di depan pintu.
"Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau satu SMA sama Aya? " tanya Harum setengah berbisik.
"Nggak penting juga Ma buat diceritakan, " jawab Raka sekenanya.
"Rama tahu? "
Raka mengangguk, ia melanjutkan makannya dalam diam saat ini. Sri yang duduk di tempat biasa, menangkap gurat sedih di wajah Raka.
"Assalamu'alaikum, " sapa Rama.
"Walaikumsalam, makan Ram, " ajak Harum.
"Duluan aja Ma, Rama mau mandi dulu biar segar. "
Harum mengangguk, Rama dan Aya lalu ke kamar. Raka hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Harum merasa aneh, Raka tiba-tiba mendadak diam seperti tak bersemangat lagi bercerita padanya.
"Raka, apa ada sesuatu diantara kamu sama Aya? "
Raka menghentikan kunyahannya, sendok menggantung di udara. Ia menoleh pada Harum menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
***
"Maaf ya, kamu kena imbasnya. Semoga saja setelah ini nggak ada omongan kasar lagi ke kamu."
"Nggak apa-apa, Bang. Aku juga ikut memutuskan. Awalnya aku nggak terpengaruh, tapi dikatain macam-macam begitu lama-lama aku kesal juga. Ya sudah, abang mandi dulu. Jangan lama ya, aku sudah laper."
Rama mencium pipi Aya dan berlalu ke kamar mandi.
Aya duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya dan memeriksa aplikasi pesan. Ada pesan yang baru masuk setengah jam lalu dari Septi.
[Aya, Pak Rama itu memang sempat dekat dengan model kan? aku dengar dia pacaran sama model itu sebelum nikah sama kamu?betul ya berita itu? Apa mereka masih saling komunikasi? ]
^^^[Kenapa? kok tanyanya borongan gitu? ]^^^
[Aku pulang terakhir tadi, sempat dengar suara pak Rama marah-marah di ruangannya, ternyata dia lagi telponan dan nyebut nama Amel. Aku pikir itu nama pacarnya dulu. Mereka belum putus? ]
Aya menghela nafas, matanya melirik ke pintu kamar mandi. Lalu menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang.