NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi di Lembah Kedamaian datang dengan jubah kabut yang tebal, menyelimuti pepohonan persik dan menyamarkan garis tebing yang menjulang tinggi.

Di dunia persilatan, matahari biasanya membawa harapan baru, namun bagi seorang buronan, setiap cahaya fajar adalah pengingat bahwa maut kini selangkah lebih dekat.

Liang Shan mencoba berdiri di atas batu datar di tepi sungai. Tubuhnya masih gemetar. Rasa sakit dari luka-lukanya telah berkurang menjadi denyutan tumpul, namun hawa dingin dari Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang kini terasa aneh.

Alih-alih membakar nadinya, racun itu terasa tenang dan mengendap seperti lumpur di dasar telaga yang jernih.

Liang Shan perlahan mengangkat lengannya dan mencoba menggerakkan Golok Sunyi. Gerakannya kaku. Ia menyadari bahwa obat-obatan Tabib Han tidak hanya menyembuhkan luka fisiknya, tetapi juga menekan aliran tenaga dalamnya.

Bagi seorang pendekar, kehilangan tenaga dalam sama saja dengan seorang penyair yang kehilangan kata-kata, ia masih bernapas, namun jiwanya telah lumpuh.

"Sudah aku bilang, jangan memaksakan diri," suara Han Xiang memecah kesunyian pagi.

Gadis itu berdiri tidak jauh darinya sambil memeluk sebuah keranjang berisi akar-akaran hutan. Wajahnya yang segar tampak sedikit cemas.

"Ayahku menghabiskan tiga belas jenis tanaman obat langka hanya untuk memastikan kau tidak mati saat tidur. Jika kau merusak tubuhmu lagi, dia mungkin akan benar-benar melemparmu kembali ke sungai."

Liang Shan menurunkan goloknya, napasnya sedikit memburu.

"Tabib Han ..., apakah dia sengaja menekan tenaga dalamku?"

Han Xiang mendekat, aroma harum tanaman obat menguar dari tubuhnya.

"Ayah membenci kekerasan. Baginya, setiap pendekar hanyalah sumber masalah yang berpindah-pindah. Dia menekannya agar racun di nadimu tidak mengamuk. Kau tahu, Liang Shan, arak yang paling keras bisa diredam dengan air dingin, tapi dendam yang membara hanya bisa diredam dengan kehilangan alasan untuk bertarung. Ayah ingin kau kehilangan alasan itu."

Liang Shan menatap mata Han Xiang yang jernih. Lalu berkata, "Tapi dunia luar tidak akan memberiku kemewahan untuk berhenti bertarung, Xiang-er."

###

Malam itu, di dalam gubuk yang remang oleh cahaya lilin, Liang Shan duduk berhadapan dengan Tabib Han. Pria tua itu sedang menumbuk obat dengan gerakan yang sangat berirama.

Setiap dentingan penumbuknya terdengar seperti detak jantung yang teratur.

"Kau memiliki mata yang sama dengan Liang Qi," ucap Tabib Han tiba-tiba tanpa mengangkat kepalanya. "Tajam, namun penuh dengan beban yang tidak seharusnya dipikul oleh satu orang."

Liang Shan tersentak. "Anda mengenali Ayahku lebih dari sekadar nama, bukan?"

Tabib Han berhenti menumbuk. Ia menatap lilin yang hampir habis.

"Lima belas tahun lalu, aku bukan hanya tabib istana. Aku adalah sahabat karib dari dua pria yang menentukan nasib kekaisaran. Satu adalah Ayahmu, sang cendekiawan yang terlalu jujur. Dan yang lainnya, adalah Long Zhanyuan."

Darah Liang Shan seolah membeku. "Persahabatan di Jianghu seringkali seperti bangunan pasir di tepi pantai, tampak kokoh saat cuaca cerah, namun akan hancur seketika saat ombak kekuasaan menerjang."

"Kami bertiga pernah bersumpah di bawah pohon persik untuk melindungi negeri ini," lanjut Tabib Han dengan suara yang bergetar karena emosi yang lama terpendam.

"Tapi saat surat wasiat itu muncul, Long Zhanyuan memilih kesetiaan pada takhta, sementara Liang Qi memilih kesetiaan pada kebenaran. Aku? Aku memilih melarikan diri karena aku hanyalah seorang pengecut yang hanya bisa memegang jarum, bukan pedang."

"Mengapa Long Zhanyuan tidak membantaimu juga?" tanya Liang Shan dingin.

"Karena dia berutang nyawa padaku. Dan karena dia tahu, aku memegang rahasia tentang kelemahannya. Long Zhanyuan memiliki luka lama di jantungnya yang hanya bisa diredam oleh ramuan buatanku. Itulah sebabnya dia tidak pernah menyisir lembah ini sampai sekarang."

Tabib Han menatap Liang Shan dengan tajam. Lalu berkata lagi, "Tapi dengan keberadaanmu di sini, sumpah itu sudah batal. Long Zhanyuan pasti akan datang. Bukan untuk mengambil ramuannya, tapi untuk memastikan putra sahabatnya tidak menghancurkan dunia yang telah dia bangun dengan darah."

Sementara itu, sepuluh mil dari pintu masuk Lembah Kedamaian, sebuah tenda militer besar telah didirikan.

Panji naga emas berkibar dengan angkuh. Jenderal Long Zhanyuan duduk di dalam tenda sambil menatap luka hitam di dadanya yang kini mulai bernanah.

Luka dari jurus Ratapan Tak Terdengar dari Tanah Kubur ternyata mengandung sisa-sisa energi Yin yang membusukkan daging.

"Jenderal," seorang bawahan masuk dan berlutut. "Mata-mata dari Klan Murong melaporkan adanya asap tipis dari Lembah Tersembunyi di balik kabut."

Long Zhanyuan memejamkan mata. Lalu bicara, "Terkadang, musuh yang paling sulit kita hadapi bukanlah orang yang membenci kita, melainkan orang yang pernah kita cintai, karena kita tahu persis di mana letak kelemahan mereka."

"Han tua ..." bisik Long Zhanyuan. "Kau masih menyimpan benih dari masa lalu itu."

Di samping Jenderal Long, berdiri seorang wanita cantik dengan kipas sutra di tangannya. Xu Ruomei. Wajah yang biasanya licin kini tertutup cadar tipis, menyembunyikan luka kecil di pipinya akibat pertemuan terakhir dengan Liang Shan.

"Jenderal," suara Xu Ruomei semanis racun. "Klan kami telah kehilangan banyak orang. Jika Anda ragu karena masa lalu, biarkan pasukan Klan Xu dan Murong yang meratakan lembah itu. Kami tidak memiliki kenangan manis dengan keluarga Liang."

Long Zhanyuan menatap Xu Ruomei dengan pandangan meremehkan.

"Kalian klan-klan besar hanyalah serigala yang lapar. Tapi ingat, di lembah itu ada sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa Liang Shan. Ada kehormatan terakhirku yang terkubur di sana."

Ia berdiri, lalu mengenakan zirahnya yang berat. "Siapkan pasukan. Kita berangkat saat fajar menyingsing. Jika Liang Shan tidak menyerahkan permata itu, maka Lembah Kedamaian akan menjadi Lembah Kematian."

Di Lembah Kedamaian, Liang Shan dan Han Xiang duduk di teras gubuk. Malam terasa sangat sunyi, kesunyian yang mencekam seperti sebelum badai besar datang menghantam.

"Besok kau harus pergi," ucap Han Xiang tiba-tiba. Suaranya kecil, tertahan oleh kesedihan.

"Aku tahu," jawab Liang Shan. Ia menggenggam gagang goloknya erat-erat. "Seorang pengembara tidak pernah benar-benar memiliki rumah, rumahnya adalah debu jalanan, dan bantalnya adalah bayang-bayang dendam."

"Ayahku telah menyiapkan kuda dan jalan rahasia di balik air terjun," Han Xiang menoleh, matanya berkaca-kaca di bawah cahaya bulan.

"Tapi aku tahu ..., kau tidak akan menggunakannya untuk melarikan diri. Kau akan menggunakannya untuk memancing mereka menjauh dari sini."

Liang Shan tidak membantah. Itu memang rencananya. Ia tidak ingin tangan Han Xiang yang lembut ternoda oleh darah yang selalu mengikutinya.

"Xiang-er," Liang Shan menyentuh pipi gadis itu perlahan. Ini adalah sentuhan pertamanya yang tidak didorong oleh kebutuhan medis.

"Di dunia ini, ada banyak hal yang layak untuk diperjuangkan. Dulu aku pikir hanya dendam. Tapi setelah bertemu dengamu, aku sadar ..., ada sesuatu yang disebut kedamaian."

Han Xiang menyandarkan kepalanya di bahu Liang Shan. "Maka kembalilah untuk kedamaian itu. Jangan kembali untuk dendam."

Liang Shan terdiam. Ia tahu permintaannya adalah sesuatu yang mustahil.

"Cinta adalah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan luka jiwa, tapi ia juga merupakan racun yang membuat kematian terasa sepuluh kali lebih menyakitkan."

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!