"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Tahta Berdarah
Ruangan besar di bawah tanah The Fortress itu mendadak terasa lebih dingin daripada salju di luar sana. Eros berdiri mematung, menatap pria yang selama dua puluh tahun ia tangisi sebagai pahlawan yang gugur. Ayahnya, Viktor Volkov, berdiri dengan setelan jas mahal, dikelilingi oleh server data yang menyimpan denyut nadi dunia bawah Rusia.
"Kau menggunakan aku, Ayah?" suara Eros terdengar kosong, seolah-olah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya.
"Aku membentukmu, Eros," Viktor mengoreksi dengan nada tenang yang mengerikan. "Cinta adalah insting paling primitif. Aku tahu jika kau mencintai Elena, kau akan melakukan apa pun untuk melindunginya. Dan dalam proses melindungi itu, kau membawanya tepat ke hadapanku, lengkap dengan kunci aset yang dicuri ayahnya."
Elena jatuh terduduk, kakinya terasa lemas, menatap Viktor dengan kebencian yang murni. "Kau adalah monster yang sesungguhnya. Lebih buruk dari Arkan, lebih buruk dari Paman Eros."
Viktor tertawa kecil. "Dunia ini milik para monster, Elena. Sekarang, berikan chip itu. Aku akan memastikan kalian berdua hidup mewah di pengasingan. Itu adalah imbalan atas jasa Eros."
Viktor meremehkan satu hal: Eros yang ia bentuk menjadi mesin pembunuh bukan lagi anak kecil yang bisa diperintah. Eros menoleh ke arah Liam yang masih berjaga di pintu, kemudian kembali menatap Elena. Sebuah pemahaman tanpa kata terjalin di antara mereka.
"Ayah benar," ucap Eros tiba-tiba, ia mengangkat kepalanya. "Cinta adalah motivator terbaik. Tapi cinta juga bisa membuat seseorang melakukan hal yang paling tidak masuk akal."
Eros tidak menyerang ayahnya. Ia justru mengarahkan senjatanya ke arah server utama di belakang Viktor.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Viktor, ketenangannya hancur seketika. "Jika kau menghancurkan itu, seluruh aset dan daftar hitam dewan akan lenyap selamanya! Kau akan membuat seluruh keluarga mafia di dunia ini memburumu!"
"Biarkan mereka datang," desis Eros. "Aku lebih baik diburu oleh seluruh dunia daripada hidup di bawah bayang-bayang kebohonganmu."
DOR! DOR! DOR!
Eros melepaskan tembakan ke arah pusat data. Percikan api dan ledakan kecil menghantam rak-rak server. Liam juga ikut menembak, menghancurkan sisa-sisa server yang menyimpan rahasia kotor Rusia.
Viktor berteriak murka, ia mencabut pistolnya, tapi Liam lebih cepat. Sebuah peluru menghantam bahu Viktor hingga pria itu terjatuh, sebelum Eros bisa menghabisi ayahnya, suara alarm penghancuran diri bergema. Paman Eros yang melarikan diri tadi rupanya telah mengaktifkan protokol pemusnahan agar rahasia dewan tidak jatuh ke tangan siapa pun.
Suara alarm penghancuran diri di The Fortress bukan lagi sekadar bunyi; itu adalah detak jantung dari sebuah monster yang sedang sekarat.
Debu semen dan serpihan kaca beterbangan di udara, menciptakan kabut putih yang menyesakkan napas. Eros masih berdiri mematung di depan ayahnya, Viktor Volkov, yang kini merayap di antara reruntuhan server, mencoba menyelamatkan kepingan-kepingan memori digital yang sudah terbakar.
"Eros ... ambil kodenya ... jangan biarkan semuanya musnah!" teriak Viktor, suaranya parau, hilang kewibawaannya yang tadi begitu mengintimidasi.
Eros menatap tangannya yang gemetar. Seluruh hidupnya adalah sebuah desain. Setiap peluru yang ia muntahkan, setiap luka yang ia terima di penjara, ternyata hanyalah pahatan dari tangan ayahnya sendiri untuk membentuknya menjadi kunci pembuka aset ini. Rasa mual yang luar biasa menghantam Eros. Ia merasa seperti produk eksperimen, bukan seorang manusia, apalagi seorang putra.
"Eros! Ayo pergi! Tempat ini akan runtuh dalam enam puluh detik!" Liam berteriak, ia sudah menggendong Ayah Elena yang pingsan di bahunya.
Elena merangkak ke arah Eros yang berdiri tidak jauh darinya, perutnya terasa melilit hebat—efek dari chip yang ia telan mulai bereaksi dengan asam lambungnya, menciptakan rasa nyeri yang menusuk. Ia menggapai ujung kemeja Eros yang robek. "Eros ... lihat aku. Jangan lihat dia. Lihat aku!"
Suara Elena memecah mantra kegelapan yang mengunci pikiran Eros. Eros menunduk, menatap Elena yang bersimbah keringat dingin. Seketika, insting pelindungnya mengalahkan rasa hancurnya. Ia tidak peduli lagi pada Viktor. Ia tidak peduli pada aset dewan. Ia hanya peduli pada wanita yang telah menelan maut demi dirinya.
Eros menyambar Elena, menggendongnya dengan gaya bridal style meski luka di bahunya memuncratkan darah segar. Mereka berlari menembus lorong yang mulai runtuh. Di belakang mereka, sebuah ledakan besar meluluhlantakkan ruang arsip, menelan Viktor Volkov dan seluruh rahasia dewan ke dalam api abadi.
Mereka berhasil keluar melalui pintu darurat di lereng bukit, tepat saat seluruh bagian atas The Fortress amblas ke dalam tanah, menciptakan awan jamur api yang menerangi langit Moskow yang bersalju.
"Kita harus ke bandara pribadi Vanya. Aku sudah mengancamnya untuk menyiapkan pesawat medis," Liam terengah-engah, meletakkan Ayah Elena di dalam mobil van hitam yang sudah menunggu.
Selama perjalanan menuju bandara, suasana di dalam van itu sangat sunyi, hanya diiringi suara sirine ambulans di kejauhan dan napas Elena yang semakin pendek. Eros memeluk Elena erat-erat di kursi belakang. Ia terus membisikkan kata-kata penenang, tapi matanya menatap kosong ke luar jendela.
"Eros..." bisik Elena, tangannya meraba wajah Eros yang kasar. "Kita ... kita sudah bebas?"
Eros mencium kening Elena, tapi bibirnya gemetar. "Belum, Sayang. Kita belum bebas sampai chip itu keluar dari tubuhmu dan kita berada di belahan bumi yang lain."
...****************...
MINGGU PERTAMA: Pemulihan yang Menyakitkan
Mereka tidak langsung ke Indonesia. Terlalu berisiko. Liam membawa mereka ke sebuah rumah rehabilitasi medis rahasia di pegunungan Swiss. Di sana, Elena harus menjalani prosedur medis yang menyakitkan untuk mengeluarkan chip tersebut tanpa merusak organ dalamnya.
Setiap malam, Elena terbangun dengan teriakan. Ia bermimpi tentang pisau bedah Vanya yang dingin di perutnya. Dan setiap kali ia terbangun, Eros selalu ada di sana. Akan tetapi, Eros yang sekarang berbeda. Pria itu jarang bicara. Ia sering duduk di sudut kamar yang gelap, memegang senjatanya, menatap pintu seolah-olah pasukan bayaran akan mendobraknya kapan saja.
Trauma Eros jauh lebih dalam. Mengetahui bahwa kasih sayangnya pada ayahnya selama ini adalah alat manipulasi telah mematahkan sesuatu di dalam dirinya yang paling mendasar: kepercayaan.
Sore itu, di balkon yang menghadap pegunungan Alpen, Elena mendekati Eros yang sedang menatap pegunungan es.
"Eros, makanlah sedikit. Kamu sudah kehilangan banyak berat badan," ucap Elena lembut, meletakkan nampan makanan di meja kecil.
Eros tidak menoleh. "Liam bilang ada pergerakan di perbatasan. Sisa-sisa pengikut ayahku mungkin masih mencari kita."
"Biarkan Liam yang mengurusnya, Eros. Kamu butuh istirahat. Kamu bukan lagi prajurit mereka," Elena memegang lengan Eros, mencoba menariknya kembali ke realitas yang tenang.
Eros berbalik, matanya merah karena kurang tidur. "Bagaimana aku bisa istirahat, El? Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat ayahku tersenyum saat kau berada di meja operasi. Aku membawamu ke sana. Aku yang membawamu ke sarang iblis itu karena aku terlalu bodoh untuk menyadari pengkhianatannya."
"Itu bukan salahmu!" Elena memeluk pinggang Eros, menyandarkan wajahnya di dada pria itu. "Kamu menyelamatkanku. Kamu menghancurkan segalanya demi aku. Itu sudah cukup."
Eros membalas pelukan Elena, tapi pelukannya terlalu kencang, seolah-olah ia takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Elena akan lenyap tertiup angin. Posesifitas Eros mulai tumbuh dari benih traumanya. Ia mulai tidak menyukai saat Liam masuk ke kamar Elena tanpa izinnya. Ia mulai tidak menyukai saat dokter pria menyentuh kulit Elena untuk memeriksa perban.
BULAN KEDUA: Persiapan Menuju Pulang
Kondisi fisik Elena membaik, tapi kondisi mental Eros semakin protektif. Liam sering berdebat dengan Eros di ruang tengah.
"Dia adikku, Eros! Aku berhak membawanya jalan-jalan ke desa bawah untuk menghirup udara segar!" teriak Liam pagi itu.
"Tidak ada yang keluar dari rumah ini tanpa izin dariku, Liam! Kau tidak tahu seberapa jauh jangkauan dewan!" Eros membalas dengan nada yang mengancam, tangannya sudah berada di gagang pisaunya.
"Kau gila! Kau mengurungnya di sini seperti Arkan mengurungnya dulu!"
Kata-kata Liam seperti tamparan keras bagi Eros. Ia terdiam, matanya berkilat penuh amarah sekaligus luka. Elena yang mendengar perdebatan itu dari tangga segera turun.
"Liam, cukup," lerai Elena. Ia mendekati Eros, mengusap lengannya yang tegang. "Eros, aku ingin pulang. Bukan ke desa kita yang dulu ... tapi ke tempat di mana matahari selalu ada. Tempat di mana kita memulai segalanya."
Eros menatap Elena lama. Ia bisa melihat kerinduan di mata istrinya. "Indonesia?"
"Iya. Tapi aku ingin belajar, Eros. Aku ingin sekolah. Aku ingin menjadi seseorang yang punya masa depan sendiri. Aku tidak mau hanya menjadi wanita yang bersembunyi di balik bayanganmu."
Eros terdiam cukup lama. Baginya, membiarkan Elena sekolah berarti membiarkannya terekspos ke dunia luar, ke mata pria-pria lain, ke bahaya yang tak terlihat, ia juga tahu, jika ia menahannya, ia tidak ada bedanya dengan monster yang baru saja mereka kalahkan.
"Aku akan mendukungmu, Elena," ucap Eros akhirnya, suaranya berat. "Apapun yang kau butuhkan. Universitas terbaik, perlindungan terbaik. Tapi kau harus berjanji satu hal."
"Apa?"
"Jangan pernah lepaskan jam tangan ini," Eros memasangkan sebuah jam tangan mewah di pergelangan tangan Elena. Di dalamnya, terdapat pelacak GPS paling canggih dan tombol darurat yang terhubung langsung ke ponsel Eros. "Dan ke mana pun kau pergi ... pengawalku akan ada di sana. Bukan untuk mengurungmu, tapi untuk memastikan aku tidak pernah kehilangan jantungku lagi."
sabar iya elena
mafia mana ngerti minta maaf😅😅😅😅