Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Fenrir masih hidup.
Walau tubuh raksasanya retak dan cahaya emas menggerogoti daging bayangannya, ketiga kepalanya masih bergerak.
Matanya yang merah menyala menatap Wakasa dengan kebencian.
Ia berusaha bangkit.
Cakar-cakar raksasanya menancap ke tanah, menggali bumi, menciptakan parit-parit dalam.
“Grrrrr…RRRRAAAGH!!”
Aura hitamnya meledak sekali lagi.
Kabut abyssal menyelimuti tubuh Fenrir, membuat bentuknya semakin besar, semakin gelap, tulang-tulang bayangan muncul keluar dari punggungnya seperti tombak.
Ketiga kepalanya membuka mulut bersamaan.
Lingkaran sihir merah darah berlapis-lapis terbentuk di udara.
“Last Howl of Oblivion.”
Seluruh mana di sekitarnya tersedot.
Ruang bergetar.
Langit seperti terbelah.
Sebuah bola kehancuran raksasa mulai terbentuk di antara ketiga rahang Fenrir—
Wakasa hanya menatapnya.
Tanpa ekspresi.
Ia perlahan mengangkat pedangnya.
Aura emas di tubuhnya berubah.
Bukan lagi sekadar cahaya.
Sekarang terasa… berat.
“Kalau ini usaha terakhirmu…”
Wakasa menutup mata.
Napasnya ditarik dalam.
Jantungnya berdetak satu kali.
Dua kali.
Saat matanya terbuka—
pupil emasnya berubah menjadi simbol bersinar berbentuk garis garis bercabang.
“Kalau begitu, aku akan mengancurkan mu sepenuhnya.”
Tanah di bawah kakinya hancur.
“Transcendent State: Sovereign Ascension.”
Ledakan cahaya emas meledak dari tubuh Wakasa.
Mantelnya robek oleh tekanan energi.
Rambutnya terangkat karna efek energi itu.
Sayap cahaya transparan terbentuk di punggungnya—
Fenrir langsung terdorong mundur hanya oleh tekanan auranya.
Wakasa mengangkat pedangnya ke langit.
Cahaya dari seluruh arah berkumpul.
“Absolute Authority Field.”
Medan realitas terkunci.
Fenrir mencoba bergerak—
Namun tubuh raksasanya membeku di tempat.
Ketiga kepalanya menggeram panik.
Wakasa melayang perlahan ke udara.
Ia menunjuk Fenrir dengan ujung pedangnya.
“Execution begins.”
Dalam sekejap—
Wakasa menghilang.
Ia muncul tepat di depan kepala kiri Fenrir.
“Zero Frame Slash.”
Satu garis cahaya.
Kepala kiri Fenrir terpotong.
Belum sempat tubuhnya bereaksi—
Wakasa sudah berpindah.
Di depan kepala kanan.
“Zero Frame Slash.”
Kepala kedua jatuh.
Energi hitam menyembur seperti darah.
Kepala tengah meraung.
Namun Wakasa sudah berada tepat di atasnya.
Pedangnya menusuk lurus ke tengkorak itu.
“Core Impalement.”
Pedang cahaya menembus hingga ke inti manifestasi Fenrir.
Pedang cahaya menembus hingga ke inti energi Fenrir.
Seluruh tubuh raksasa itu kejang.
Retakan emas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Wakasa memutar pedangnya.
“Sekarang…”
Ia menarik mundur pedangnya.
Energi yang tertanam di dalam tubuh Fenrir langsung bereaksi.
Wakasa mengangkat kedua tangannya.
Simbol raksasa berbentuk lingkaran sihir muncul di langit.
Puluhan lapisan magic array bertumpuk.
“Final Judgment: Worldbreaker Verdict.”
Sinar emas kolosal turun dari langit seperti pilar dewa.
Fenrir menjerit.
Tubuh raksasanya hancur dari dalam.
Bayangan, tulang abyssal, dan aura gelapnya terurai menjadi partikel cahaya.
Tidak ada ledakan besar.
Tidak ada sisa tubuh.
Fenrir lenyap—
Debu emas turun pelan dari langit.
Wakasa mendarat perlahan di tanah yang hangus.
Pedangnya menghilang menjadi partikel cahaya.
Ia berdiri diam beberapa detik.
Lalu berbalik.
Dengan suara tenang:
“…Selanjutnya.”
Debu emas masih turun perlahan dari langit yang retak.
Suasana masih sunyi.
Hanya suara bara kecil yang masih menyala di tanah hangus.
Wakasa berdiri sendirian.
Napasnya santai, dadanya naik turun tipis. Sisa aura emas masih terlihat samar di sekeliling tubuhnya.
Lalu siluet berjalan mendekat dari kejauhan.
Matanya merah tua.
Tatapannya tenang.
Inilah—
Fenrir asli.
Ia berhenti sekitar sepuluh meter di depan Wakasa.
“Yoh, apa kabar, Fen?”
Wakasa tersenyum sambil mengangkat satu tangannya santai.
Fenrir menatapnya beberapa detik.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Siapa sangka…”
Ia melirik bekas kehancuran medan perang.
“Kau bisa mengalahkan wujudku dalam bentuk energi.”
Wakasa tertawa pelan sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Heh… Tapi aku sempat kesusahan loh.”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Tapi… kekuatan milikmu besar juga ya.”
Fenrir menghembuskan napas kecil.
“Heh.”
“Tapi sekarang…”
Fenrir melangkah mendekat.
“kau bisa menggunakan kekuatanku.”
wakasa mendongak ke atas
" kau benar "
Setelah percakapan itu tempat yang sebelumnya hancur , perlahan berubah menjadi tempat yang sebelumnya wakasa tiba.
" Eeh...sudah pagi "
ucap wakasa mendongak ke langit.
" Baiklah...mari pulang "