Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duo Ular Beracun
"Kau sudah tidak waras, Cyntia," desis William dengan rahang mengeras. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman.
Tanpa menunggu balasan, William membanting pintu mobil, mengitarinya dengan langkah lebar, lalu segera memacu kendaraan itu meninggalkan area kafe.
Amarahnya nyaris meluap hingga ke ubun-ubun, ia merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan publik oleh wanita yang kini tampak mengejar mobilnya sambil terus meneriakkan nama Chika.
Desas-desus mulai menjalar di antara pengunjung kafe. Melihat Cyntia yang mengejar mobil dengan histeris, mereka berasumsi wanita itu adalah seorang ibu yang sedang berjuang mendapatkan hak asuh anaknya pasca-perceraian.
Beberapa orang bahkan mulai merekam adegan itu dengan ponsel mereka, mengunggahnya ke media sosial dengan judul: "Detik-detik Suami Tega Meninggalkan Istrinya di Jalanan."
Sementara wanita yang menjadi pusat perhatian akhirnya berhenti di pinggir jalan, napasnya memburu dengan keringat yang membanjiri wajah. Ia menyeka air matanya kasar, lalu bersandar di pintu mobilnya sendiri dengan wajah tertangkup. Begitu isakannya reda, ia segera menghubungi Monic, berharap kakak William itu punya cara lain untuk membuatnya bisa bertemu dengan Chika kembali.
.
.
Di dalam kabin mobil, suasana terasa begitu mencekam. Chika yang duduk di kursi belakang meluapkan amarahnya dengan meninju sandaran jok ayahnya berulang kali.
"Papa kenapa sih?! Sebentar lagi aku ujian akhir sekolah, aku butuh Miss Cyntia untuk mengajariku!" protes Chika kesal.
William hanya diam, matanya fokus pada jalanan meski napasnya masih tersengal menahan emosi.
"Apa salahnya Miss Cyntia? Dia itu baik! Papa tahu kan aku sudah berulang kali ganti tutor dan baru sekarang aku merasa cocok. Papa malah mengacaukannya! Ini pasti karena Mama, kan?!" cecar Chika lagi.
"Diam! Nanti Papa carikan tutor yang jauh lebih baik darinya. Mengerti?!" bentak William akhirnya, membuat Chika bungkam seketika meski wajahnya masih memerah karena kecewa.
Setibanya di rumah, Chika keluar dari mobil dengan gerakan kasar, membanting pintu hingga suaranya menggema di garasi.
Langkah kakinya yang menghentak keras terdengar sampai ke ruang tengah, tempat Vira sedang menemani Anggi.
Vira segera bangkit dan mengikuti langkah kaki putri sulungnya itu menuju kamar.
Begitu masuk, ia melihat Chika melempar tas ke lantai dan menendang sepatunya hingga terpental ke sembarang arah.
"Chika, kan Mama sudah bilang, kalau pulang sekolah—"
"BERISIK!" bentak Chika, memotong kalimat Vira dengan tatapan mata yang melotot tajam. "Ngomel terus! Biar nanti Bi Ijah yang membereskan semuanya!"
Vira menarik napas panjang, mencoba meredam egonya. Ia mendekati Chika yang duduk di tepi ranjang dengan bahu yang naik-turun. "Kenapa marah-marah pada Mama? Mama menegurmu karena sayang, Chika. Itu demi kebaikanmu."
"Mama kan yang menyuruh Papa agar Miss Cyntia tidak datang lagi?" Chika menggeser duduknya, menciptakan jarak yang lebar.
"Mama dan Papa akan mencarikan tutor lain, Sayang. Tapi bukan dia," jawab Vira lembut sembari mencoba mengusap kepala Chika.
Chika segera menyentak tangan itu. "Kenapa?!"
"Apa yang membuatmu begitu menyukainya?" Vira bertanya balik, menatap mata putrinya dalam-dalam.
"Miss Cyntia itu beda ... dia nyambung denganku. Kami cocok!" tukas Chika gigih.
Vira tertawa hambar. Ia sudah menduga bahwa Cyntia memanfaatkan kepolosan Chika dengan berpura-pura menjadi sosok yang paling mengerti dunianya.
Melihat tawa ibunya yang terkesan mengejek, Chika melempar kaus kakinya kesembarang arah.
Vira kemudian mendelik ke arah barang-barang yang berserakan. "Susun sepatumu dan kaus kakimu sekarang. Cepat!" titahnya tegas sembari menunjuk ke arah lantai.
Chika mendengkus, namun akhirnya bangkit dengan malas untuk membereskan kekacauannya.
"Mama juga bisa melakukan itu, Chika. Mengikuti apa pun yang kamu sukai. Itu hal mudah," ujar Vira lagi.
"Apaan ... Mama cuma tahu caranya marah dan mengomel," gerutu Chika pelan.
Vira meraih kedua bahu Chika, memaksa gadis itu menatapnya. "Mama marah karena kamu sulit diatur. Mama sayang padamu, Chika. Dia bukan tutor yang baik untukmu. Apakah dia yang bilang bahwa Mama hanya peduli pada Papamu? Miss Cyntia yang bicara begitu?!"
Chika memicingkan mata, "Memang kenyataannya begitu, kan?"
"Lalu menurutmu, kenapa seorang tutor justru mengatakan hal buruk tentang orang tua muridnya sendiri? Mama yakin kamu anak cerdas. Coba pikirkan, apa motif orang asing menjelekkan orang tuamu?" cecar Vira.
Chika terdiam. Pikirannya mulai berkecamuk. Ia tak bisa menemukan jawaban tentang alasan mengapa Cyntia harus mencampuri urusan pribadinya dengan sang ibu sambung.
Vira meraih tangan Chika, lalu mengecup punggung tangannya dengan tulus. "Mama sayang padamu. Untuk apa Mama bertahan sejauh ini kalau bukan karena peduli?"
Gadis belia itu terpaku. Ada desir hangat yang asing merambat di hatinya—sesuatu yang menenangkan yang selama ini selalu ia pungkiri. Bahu Chika yang semula menegang kini mulai luruh. Ia menarik tangannya dengan malu-malu, mengusap bekas kecupan Vira ke seragamnya.
"Mama mau ke Bandung, menjenguk Opa dan Oma. Kamu ikut, ya?" bujuk Vira. Ia ingin membawa Chika menjauh sejenak, sebelum Monic dan Cyntia kembali meracuni pikiran putrinya itu.
"Nggak ah, malas," tolak Chika lirih.
Vira merangkul bahu Chika dari samping. "Ikut ya... Mama kesepian nanti. Opa dan Oma juga pasti rindu padamu. Kamu kan cucu mereka sekarang. Siapa tahu kalau Chika datang, Opa langsung cepat sembuh," bujuknya lagi dengan nada merayu.
Chika mengembuskan napas panjang, tampak sedang menimbang-nimbang.
"Ayolah, Sayang. Pulang dari Bandung kita nonton di bioskop. Mama juga ingin tahu apa yang disukai anak Mama ini," Vira menyandarkan kepalanya di bahu mungil Chika.
"Ya sudah, deh," jawab Chika singkat, meski suaranya hampir tak terdengar.
Vira tersenyum lebar. Ia melepaskan pelukannya lalu mendaratkan ciuman gemas di pipi Chika. Mata Chika membulat, ia segera mengusap bekas kecupan itu dengan wajah sebal yang dibuat-buat. "Jangan cium-cium!"
"Kenapa sih? Kalau mama nggak cium kamu dan Anggi, mama cium siapa lagi?" ujar Vira lalu bangkit. "Mama siap-siap dulu, kamu lepas seragam taruh di tempatnya dan mama tunggu di bawah. Mama barusan masak nih, cobain ya."
Chika hanya melirik dan tak menjawab.
"Mama tunggu di bawah. Awas kalau nggak turun." Vira memberi kecaman dengan nada bercanda.
"Iya, iya! Berisik!" gerutu Chika.
Vira keluar dari kamar dan menutup pintu. Saat sudah tertutup rapat, Vira mengeluarkan ponsel milik Chika dari balik apron yang masih dipakainya. Ia baru saja mengambil ponsel putrinya diam-diam untuk mencari tahu apa saja yang Cyntia bicarakan dengan sang putri di chat.
"Aku nggak akan biarin duo nenek lampir itu menghasut Chika lagi." Vira segera membawa ponsel itu dengan sembunyi-sembunyi ke kamarnya, berniat memblokir semua akses yang biasa Cyntia lakukan untuk kembali menghubungi putrinya.
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭