Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Labil
Awan hitam menaungi ibu kota siang ini, suara petir samar terdengar dari tempatnya berada saat ini. Rasanya malas sekali untuk sekedar bangkit dari kasur.
Tubuhnya remuk, rasanya seperti habis bekerja seharian menjadi Kuli angkut di pasar. Dia pernah melakoni profesi tersebut, beberapa tahun lalu. Namun bertahan tidak sampai seminggu, setelahnya dia harus dirawat di puskesmas kecamatan di kampung halamannya.
Setelah lebih dari empat belas tahun, tak ada lelaki yang menyentuhnya. Semalam Nina merasakan lagi. Tapi seingatnya, dulu tidak sampai melelahkan seperti ini.
Apa mungkin karena saat itu dirinya masih muda? Sehingga tubuhnya masih kuat.
Ah ... Nina juga ingat, dirinya sempat pingsan beberapa kali. Apa memang berhubungan intim seperti semalam, itu wajar?
Nina merasakan perbedaan cukup mencolok. Bukannya membandingkan, tapi dari durasi, ukuran, hingga gaya. Kenapa sangat berbeda?
Nina ingat pernah tanpa sengaja mendengar mantan tetangganya di kampung, membicarakan soal ukuran tongkat milik orang Timur Tengah. Mereka bilang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan para pria lokal.
Dan karena itulah, kini Nina merasakan perih di sekitar area sensitifnya. Atau mungkin justru bengkak? Dia belum memeriksa.
Rencana hari ini jelas gagal total. Nina tak perlu melakukan proses inseminasi demi bisa mengandung pewaris. Karena si pemilik benih, memaksanya untuk melakukan proses alamiah.
Apa di usianya yang kepala tiga, Nina masih semudah itu hamil? Seperti dulu ketika mengandung si kembar.
Nina menyentuh perutnya yang rata, dalam hati dia berdoa agar di sana si calon pewaris itu tumbuh dengan baik.
"Ehmm ..."
Nina yang sedang membelakangi pintu, lalu menoleh. Dia mendapati lelaki yang membuatnya lelah, sedang berdiri dan menyandarkan lengan di pintu kamar.
"Beberapa jam lagi, aku akan berangkat ke bandara. Mungkin kita tak bertemu lebih dari seminggu lamanya." Lelaki yang hanya mengenakan celana training tanpa kaus itu tengah menjelaskan. Terbesit dalam hatinya, agar menunda atau bahkan membatalkan perjalananya kali ini. Intinya Ammar ingin terus bersama istri barunya yang semalam, telah memberinya rasa baru.
Rasa yang sepertinya akan membuatnya rindu, saat mereka tak lagi satu atap bahkan kota. Belum lagi sensasi yang membuatnya melayang di awan-awan.
Nina melengos, rasanya malas sekali melihat lelaki beringas itu. Masih kesal mengingat kejadian sepanjang malam hingga subuh tadi.
"Kenapa kalau kita bicara, kamu tidak pernah mau menatap balik aku?" Ammar mendengus, dia melangkah menghampiri perempuan yang masih bergelung di balik selimutnya. Dia duduk di sisi ranjang. "Ayo jawab ..."
Nina menutup wajahnya dengan selimut, dia benar-benar ingin sendiri. Selain karena kesal membuat tubuhnya tidak nyaman, Nina juga malu.
"Hey ..." Ammar meraih selimut tebal itu dan membuangnya sembarang. Alhasil tubuh polos istrinya, terpampang nyata tanpa selembar kain pun yang menutupi. Lihat kulit kuning Langsat itu telat dia tandai. Bukan hanya satu, tapi banyak tanda cinta dia ukir di sana. Itu artinya Nina adalah miliknya seorang. Jiwa posesifnya mendadak muncul.
"Kamu apa-apaan si?" Nina sontak terduduk dan menutupi tubuhnya dengan bantal.
Ammar menyeringai, "Apanya yang apa-apaan? Memangnya apa salahnya, aku melihat tubuh istriku sendiri?" Katanya. "Tadi aku bertanya, kenapa kamu tidak mau menatap balik aku ketika berbicara? Apa aku buruk di mata kamu?" Mengingatnya, membuat Ammar kembali merasa kesal.
Nina melirik kearah selimut, sambil meremas bantal yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya. Rasanya malu sekali.
"Jawab aku!!!" Ammar mulai gusar.
"Aku malu ..." Wajah Nina memerah.
Gusar yang sempat melanda, berubah menjadi rasa gemas pada perempuan bermata cokelat itu. Ini merupakan pertanda bahaya untuk Ammar, dia menyadari itu. Tapi tak apa, toh ini bukan di negaranya dan hanya dia yang tau rasa baru ini.
"Mau aku bantu mandi?" Tawarannya seraya membelai lembut rambut panjang istrinya. Padahal ini bukan pernikahan pertamanya, tapi mengapa seolah dia habis menyalami Malam pertama pasca pernikahan?
Nina Khairunisa benar-benar memberikan rasa baru untuk seorang Ammar Rasyid.
***
Suara sendok beradu pelan dengan piring keramik, mengisi keheningan di meja makan. Tak ada yang angkat bicara terlebih dahulu.
Padahal sebelumnya suasana hangat berubah menjadi dingin, usai telepon yang diterima oleh Ammar kala dia dan Nina sedang bercumbu.
Setelah sesi mandi-memandikan, keduanya sempat kembali bercumbu di ruang Wardrobe milik Ammar.
Pada akhirnya, Nina menerima sepenuhnya suami kontraknya. Dia luluh oleh rayuan maut pria asal Timur Tengah itu. Walau masih terasa sedikit berhati-hati.
Tapi hanya hitungan menit, segalanya berubah. Sikap Ammar yang tadinya hangat dan terus melemparkan rayuan pada Nina. Nyatanya kembali ke mode awal. Ammar kembali dingin.
Entah telepon dari siapa, Nina tak mengerti apa yang suami kontraknya itu bicarakan dengan bahasa asing.
"Damian akan sesekali berkunjung untuk memastikan kamu tidak kekurangan." Ammar angkat bicara, usai menyelesaikan makannya.
Nina melirik ragu, lalu mengangguk kemudian. Suara derit kursi, membuat Nina mendongak menatap lelaki yang kini bangkit berdiri.
"Jaga diri kamu baik-baik." Ujar lelaki berkemeja hitam itu.
"Apa anda akan berangkat sekarang, Tuan?" Tanya Nina.
"Hmmm ..."
"Apa saya perlu membantu anda menyiapkan koper?" Nina pernah melihat sahabatnya menyiapkan pakaian milik suami ketika hendak keluar kota. Maksudnya adalah suami Nanik.
Walau masih sedikit tidak percaya tentang status barunya, Nina berusaha sebaik mungkin menjalani perannya. Meski hubungan ini hanya berdasarkan kontrak.
Ammar menggeleng, "kamu tidak perlu melakukan hal itu." Katanya. "Kamu hanya perlu cepat hamil dan memberikan aku seorang pewaris."
Apa baru saja ada yang menyilet hati Nina? Kenapa rasanya hatinya sakit?
Apa memang Ammar memiliki karakter yang labil? Kenapa cepat sekali berubah sikap?
Awalnya dingin, lalu hangat seolah pria itu memiliki rasa suka pada Nina dan sekarang kembali dingin.
Memang mereka baru mengenal beberapa hari dan menjalani hubungan berdasarkan kontrak. Tapi bisakah jangan membuat Nina bingung?
Sepanjang malam hingga tadi pagi, juga beberapa menit lalu. Ammar terlihat menyukainya, tapi sekarang?
"Damian sudah transfer uang ke rekening kamu. Kamu bisa gunakan untuk membeli apapun semau mu. Tapi ingat, jangan coba-coba kabur."
Nina menganggukkan kepalanya, dia masih berdiri pada tempatnya.
"Hubungi Damian jika kamu membutuhkan sesuatu." Pesan Ammar lagi.
Nina kembali menganggukkan kepalanya. Dia sendiri bingung harus menanggapi apa. Sisi dirinya mengingatkan jika mereka hanya menjalani pernikahan kontrak demi calon pewaris. Jadi sebaiknya tidak terbawa perasaan.
"Cup ..."
Nina mendongak begitu benda lembab nan basah menyentuh keningnya. Mata cokelatnya dan mata hitam legam itu bertemu.
Ammar terlebih dahulu memutuskan kontak itu, bisa-bisa dia terjerat semakin dalam dengan pesona perempuan asli Indonesia ini. Sikapnya yang dingin tadi, sebagai pengingat diri, jika hubungan mereka sebatas kontrak. Ingat ada Leticia yang sedang menunggunya.
"Aku akan kembali, setelah urusanku dengan Leti selesai." Ammar ingin saja menjelaskan. "Dia meminta berlibur, setelah urusan bisnis ku di Paris selesai."
Lagi Nina bingung hendak menanggapi apa, dia hanya mengangguk-angguk dan mencoba mengerti. Tapi hatinya bertanya siapa Leti?
"Aku berangkat sekarang." Ammar hendak melangkah menuju private lift, tapi tangannya ditahan oleh Nina. Istri kontraknya itu, meraih tangannya dan menciumnya.
"Hati-hati dan jaga kesehatan anda, Tuan!" katanya seraya memberikan senyuman.
Ada sesuatu yang mendadak terasa sejuk menyelimuti dada Ammar, melihat senyuman manis dan sikap sopan istri barunya.