Saat kita baru tau jika kita memiliki seorang anak, bagaimana perasaan kita?,
Reynaldi, seorang pria yang baru saja bebas dari penjara harus memulai hidup baru lagi karena dia sadar telah membuat kesalahan yang bikin semua kelurganya malu. Delapan tahun Reynaldi harus hidup di penjara atas kesalahannya di masa lalu. Namun tak pernah ia duga ia harus bertemu dengan wanita yang dulu sempat jadi kekasihnya dan seorang anak perempuan yang baru berusia tujuh tahun. setelah di selidiki ternyata anak itu merupakan ank kandungnya yang tidak pernah ia ketahui.
Bagaimana cara Reynaldi menebus semua kesalahannya terhadap mantan kekasihnya dan anaknya?...
yu baca ceritanya!!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu orang baik.
Kinan terus berjalan tanpa tujuan sampai tiba-tiba hujan Kinan pun segera berteduh dia masuk ke sebuah rumah yang terlihat sepi. Namun saat Kinan sedang berteduh tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan Kinan pun memilih segera pergi dan memilih berteduh di samping pagar yang lumayan teduh. Namun tiba-tiba seorang perempuan menghampirinya.
"Ayo masuk, di sini hujan, " ajak perempuan itu yang sepertinya usianya tidak jauh dengan Kinan.
"Gak usah mbak, aku disini saja, " tolak Kinan karena merasa gak enak.
"Udah ayo ikut masuk, lagian aku tinggal sendiri kok, " beritahu perempuan itu.
Kinan pun akhirnya ikut masuk dan benar saja di rumah itu tidak ada lagi orang hanya dia sendiri.
"Kamu mandi dulu, ganti baju kamu basah, " ucap perempuan itu dan Kinan menurut saja.
Namun Kinan bingung kenapa perempuan itu mau masukin orang asing ke dalam rumah bagaimana kalau kinan berniat jahat. Setelah selesai Kinan keluar dan dia kaget saat melihat makanan sudah tersedia di meja makan.
"Ayo sini makan! " panggil perempuan itu dan Kinan pun mendekat.
"Kamu pasti lapar, ayo temani aku makan, " ucap perempuan itu.
"Oya aku lupa mengenalkan nama, aku Nara kamu siapa? " ujar perempuan yang bernama Nara sambil mengulurkan tangannya.
"Kinan, " balas Kinan.
"Kamu lagi hamil? " tanya Nara.
"Iya mbak, baru jalan tiga bulan mau empat bulan, " jawab Kinan sambil mengusap perutnya.
"Kalau aku gak ke guguran mungkin kita sama sedang hamil, " ujar Nara dengan nada sedih.
"Kenapa bisa ke guguran mbak? " tanya Kinan.
"Kecelakaan, " bohong Nara karena dia gak mungkin cerita kebenarannya karena Kinan masih orang luar.
"Suami mbak kemana? " tanya Kinan karena Nara tinggal sendiri.
"Kami udah pisah, aku janda, " jawab Nara sambil tersenyum.
"Oh maaf mbak, " ucap Kinan.
"Kamu mau kemana?, terus suami kamu mana? " tanya Nara.
"Aku lagi cari rumah mbak, aku di usir dari kontrakan. Aku gak punya suami mbak, ayah anak ku gak mau tanggung jawab, " jawab Kinan membuat Nara merasa kasihan dan memegang tangannya.
Namun tanpa merek atau kalau mereka dari satu pria yang sama yaitu Reynaldi. Kinan dan Nara mereka lumayan lama bicara dan bercerita sampai akhirnya Nara menyuruh Kinan untuk tinggal bersama nya agar Nara ada teman.
"Ini kamar kamu, " ucap Nara menu bukan kamar ya g dulu sering di tempati sang adik Kania.
"Makasih lo mbak udah izinkan aku tinggal di rumah nya, " ucap Kinan.
"Iya sama-sama, semoga kamu betah ya! " balas Nara lalu dia masuk ke kamarnya.
Kinan pun masuk dan duduk di tempat tidur dia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Nara yang baik banget. Pagi nya Kinan bangun lebih pagi dia pun langsung membereskan rumah karena dia gak mungkin cuman hanya diam saja sedangkan dia tinggalkan di rumah orang. Setelah selesai membereskan rumah di dalam Kinan pun langsung ke halaman rumah menyiram dan menyapu halaman. Namun saat menyapu halaman tiba-tiba bu Narsih datang dan dia kaget ada orang yang sudah melakukan tugasnya.
"Kamu siapa? " tanya bu Narsih.
Kinan yang sadang jongkok langsung berdiri karena kedatangan bu Narsih.
"Saya Kinan bu, temannya mbak Nara, " jawab Kinan.
"Temannya neng Nara, " kaget Bu Narsih.
Bu Narsih pun langsung masuk dan menemui Nara sedangkan Kinan dia melanjutkan pekerjaannya. Namun tiba-tiba Nara menemuinya.
"Kamu lagian apa? " tanya Nara pada Kinan.
"Eh mbak udah bangun, " ucap Kinan. "Aku bantu mbak membereskan rumah, " jawab Kinan.
"Udah simpan biar bu Narsih yang lanjut, kalau kamu ngerjain semua kasihan bu Narsih dia gak kerja, " ucap Nara.
"Tapi aku gak enak kalau cuman diam saja, " balas Kinan.
"Kamu ini tamu bukan buat kerja di rumah ini, udah kamu nurut saja sama aku, " ucap Nara lalu menarik Kinan masuk.
Mereka duduk di meja makan sambil menunggu sarapan ya g sedang di buat bu Narsih.
"Kamu ini lagi hamil gak boleh capek-capek, " ucap Nara.
"Aku udah biasa kerja mbak, " balas Kinan.
"Denger aku, tugas kamu di sini cuman temani aku jadi gak usah ngapa-ngapain, " ucap Nara dan Kinan menurut saja.
Hari berlaku begitu saja dan Kinan tidak terasa tinggal di rumah Nara sudah hampir satu bulan dan Nara memberikan peluang usaha pada Kinan yaitu dengan berjualan kue. Bu Narsih pun ikut senang karena pada akhirnya Nara ada teman jadi tidak terlalu kesepian. Kinan benar-benar bersyukur karena bisa bertemu Nara yang sangat baik padanya. Nara pun selalu ajak Kinan buat periksa kehamilannya. Sampai tak terasa usia kehamilan Kinan sudah sembilan bulan dan tinggal menunggu lahiran saja. Nara sudah menyiapkan segalanya buat Kinan dan bahkan keluarga Nara tidka keberatan jika Kinan tinggal bersama Nara. Sampai hari kelahiran Kinan tiba yang sibuk bukan Kinan tapi Nara bahkan yang lebih khawatir itu Nara. Kinan melahirkan anak perempuan yang cantik dan imut membuat Nara terharu.
"Kalau saja kamu ada mungkin sebentar lagu kamu akan lahir ke dunia, " gumam Nara mengingat calon anaknya yang sudah tidak ada.
"Mbak, " panggil Kinan saat melihat Nara melamun dan menangis.
"Eh, maaf aku malah melamun, " balas Nara lalu menyerahkan sang bayi pada Kinan.
"Mau kamu kasih nama apa? " tanya Nara.
"Mbak saja yang kasih nama, karena mbak juga ibu nya, " jawab Kinan membuat Nara terharu.
"Nindi putri Amelia, " ucap Nara dan Kinan mengangguk.
"Panggilannya Lia, " lanjut Nara.
Kinan tersenyum karena dia benar-benar sangat bahagia karena bisa di pertemukan dengan orang sebaik Nara dan dia tidak memandang rendah dirinya. Bahkan Kinan juga sangat bersyukur karena keluarga Nara sangat perhatian padanya bahkan setelah keluar dari rumah sakit mereka mengadakan syukuran untuk sang anak.
"Kinan, " panggil bundanya Nara saat Kinan sedang mengendong sang anak karena dari tadi rewel.
"Eh bunda, " ucap Kinan.
"Sini biar bunda gendong, kamu pasti capek dari tadi, " pinta sang bunda dan Kinan pun memberikan sang anak pada sang bunda.
"Bunda salut sama kamu, kamu bisa menjalani ini semua, kalau bunda belum tentu bisa, " ucap sang bunda.
"Aku sempat putus asa bun, namun setelah bertemu mbak Nara dan keluarga bunda aku merasa punya keluarga dan ada orang yang peduli sama aku, "balas Kinan.
" Kamu jangan sungkan anggap bunda ibu kamu sendiri, "ujar sang bunda.
"Makasih bunda, " balas Kinan.
"Dia udah berhenti nangisnya bunda, " ucap Kinan saat melihat sang anak sudah tidur lagi.
Sang bunda pun langsung menidurkan sang bayi dan dia langsung keluar dari kamar Kinan.
Waktu berjalan begitu saja dan Kinan sudah bisa Terima semua nasibnya.