Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Saat Nama Dipanggil Kembali
(POV: Noah)
Nama itu akhirnya diucapkan dengan lantang.
Bukan oleh Alice.
Bukan oleh diriku sendiri.
Melainkan oleh suara asing yang menggema dari balik pintu kayu villa.
“Alice Blackwood.”
Suara itu tegas. Pria dewasa. Terlatih untuk tidak terdengar mengancam, namun justru karena itulah terasa berbahaya.
Aku berdiri di antara pintu dan Alice tanpa berpikir dua kali.
Tanganku masih memegang palu dari gudang—alat yang sama yang kupakai untuk memperbaiki tangga patah kemarin. Beratnya terasa nyata di telapak tanganku, dingin, kokoh. Senjata darurat, jika harus.
Alice membeku di belakangku.
Aku bisa merasakan napasnya berubah. Tidak lagi teratur. Tidak lagi tenang.
“Siapa kalian?” tanyaku, suaraku rendah namun jelas.
Di balik pintu terdengar gesekan sepatu di salju.
“Kami hanya ingin berbicara,” jawab suara itu.
“Kami tahu dia ada di sini.”
Aku melirik Alice sekilas. Wajahnya pucat.
Bibirnya nyaris tidak berwarna.
“Tidak ada siapa pun di sini selain aku,” kataku.
“Villa ini kosong.”
Keheningan jatuh sesaat.
Lalu terdengar tawa kecil. Bukan tawa geli—tawa orang yang yakin dia memegang kendali.
“Kau Noah,” kata suara itu. “Montir dari Norden.
Tidak punya keluarga dekat. Tidak punya catatan kriminal. Hidup sederhana.”
Darahku berdesir.
Mereka tahu namaku.
“Kami tidak tertarik padamu,” lanjutnya. “Tapi gadis di belakangmu… dia milik dunia yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.”
Alice mencengkeram ujung jaketku dari belakang.
Aku bisa merasakan getaran di jarinya.
“Katakan pada mereka kau tidak ada di sini,” bisikku tanpa menoleh.
Dia tidak menjawab.
Aku tahu kenapa.
Karena untuk pertama kalinya, bersembunyi tidak lagi cukup.
(POV: Alice)
Aku selalu tahu momen ini akan datang.
Aku hanya tidak tahu seberapa cepat.
Atau seberapa menyakitkan.
Nama belakangku—Blackwood—selalu terdengar seperti rantai. Berat. Panjang. Tak terlihat, tapi melilit pergelangan kakiku ke mana pun aku pergi.
Aku mengira villa ini akan menjadi pengecualian.
Tempat di mana namaku hanya sebatas nama.
Aku salah.
“Buka pintunya,” bisik suara di luar lagi. “Atau kami akan masuk.”
Noah menegang. Aku bisa melihat rahangnya mengeras, bahunya sedikit naik—tanda seseorang yang bersiap menghadapi sesuatu yang tidak seharusnya dia tanggung.
Dan itu salah.
Ini urusanku.
Aku melangkah maju, keluar dari bayangannya.
“Noah, jangan,” kataku pelan.
Dia menoleh cepat. “Alice—”
“Aku tidak bisa terus bersembunyi di
belakangmu.”
Aku berjalan ke pintu. Setiap langkah terasa seperti menyeret masa lalu yang beratnya berton-ton.
Tanganku menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Sebelum aku membukanya, Noah menggenggam pergelangan tanganku.
“Kau tidak harus,” katanya, suaranya lebih emosional daripada yang pernah kudengar. “Aku bisa—”
“Kau sudah melakukan terlalu banyak.”
Aku menatapnya. Benar-benar menatapnya.
Pria ini—yang awalnya hanya tukang perbaikan.
Yang hidupnya sederhana. Yang tidak tahu apa-apa tentang kontrak, dewan keluarga, atau dunia yang ingin menelanku hidup-hidup.
Dan justru karena itu… aku tidak ingin menyeretnya lebih jauh.
Aku melepaskan tangannya perlahan.
Lalu aku membuka pintu.
(POV: Noah)
Tiga orang berdiri di luar.
Dua pria berpakaian hitam, postur tegap, mata waspada. Dan satu wanita di tengah—bermantel panjang abu-abu, rambut disanggul rapi, ekspresi datar seperti marmer.
Dia melangkah maju satu langkah.
“Alice,” katanya. “Akhirnya.”
Alice berdiri tegak. Lebih tegak dari sebelumnya.
“Bu Marianne,” jawabnya dingin. “Aku berharap kau tidak akan menemukanku.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Kau terlalu meremehkan keluargamu.”
Aku berdiri di sisi Alice. Tidak menyentuhnya, tapi cukup dekat untuk memberi sinyal bahwa dia tidak sendirian.
Tatapan Marianne beralih padaku.
“Dan kau pasti Noah,” katanya. “Orang lokal.”
“Ada urusan apa kau datang ke sini?” tanyaku.
“Bukan urusanmu,” jawabnya tenang.
Alice tertawa pendek. Pahit.
“Segala sesuatu tentang hidupku selalu dianggap ‘bukan urusan orang lain’,” katanya. “Padahal kalian yang mengatur semuanya.”
Marianne menghela napas kecil. “Kami mengatur demi kebaikanmu.”
“Kebaikan versi siapa?” Alice membalas. “Versi dewan? Versi investor? Atau versi keluarga yang tidak pernah bertanya apa yang kuinginkan?”
Keheningan menegang.
Aku melihat sesuatu berubah di mata Marianne. Bukan marah. Bukan kesal.
Kecewa.
“Kau harus pulang,” katanya akhirnya. “Kontrak itu masih berlaku. Pernikahan itu masih dijadwalkan.”
Dadaku terasa sesak.
Pernikahan?
Alice tidak pernah menyebutkannya secara eksplisit. Tapi sekarang semuanya masuk akal.
Alice menatap lurus ke depan.
“Aku tidak akan menikah dengan pria yang bahkan tidak kukenal,” katanya tegas. “Aku bukan alat untuk menyelamatkan reputasi keluarga.”
“Kau pewaris,” Marianne membalas. “Dan pewaris punya kewajiban.”
Aku melangkah maju setengah langkah.
“Dia juga manusia,” kataku.
Marianne menatapku lama. Menilai.
“Kau pikir ini kisah romantis?” tanyanya dingin.
“Gadis kaya kabur dan menemukan kebebasan di desa kecil bersama montir lokal?”
Aku tidak menjawab.
Karena sebagian dari diriku takut… dia benar.
Takut bahwa aku hanya jeda sementara dalam hidup Alice.
(POV: Alice)
“Kalian tidak bisa memaksaku,” kataku.
Marianne tersenyum tipis lagi. “Kami tidak perlu memaksa. Kami hanya perlu menunggu.”
Aku menegang.
“Kau kehabisan uang,” lanjutnya. “Kartu-kartumu dibekukan. Aksesmu ditutup. Dunia di luar sana tidak akan ramah selamanya.”
Aku menggertakkan gigi.
“Aku bisa bekerja,” kataku.
Marianne melirik Noah sekilas. “Di sini?”
Nada suaranya meremehkan. Dan entah kenapa, itu membuat dadaku panas.
“Ya,” jawabku cepat. “Di sini.”
Noah menoleh padaku. Terkejut.
Aku tahu aku baru saja menariknya ke dalam pusaran yang lebih dalam.
Marianne tertawa kecil. “Kau tidak tahu apa yang kau katakan.”
“Mungkin,” balasku. “Tapi untuk pertama kalinya, aku memilih sendiri.”
Aku menutup pintu villa dengan tegas.
Bukan membanting. Tapi cukup jelas.
Aku memilih.
(POV: Noah)
Malam itu, villa terasa lebih sempit.
Seolah dinding-dindingnya mendengar percakapan kami dan memutuskan untuk mendekat.
Alice duduk di depan perapian, memeluk dirinya sendiri. Api menyala rendah. Bayangannya menari di dinding.
Aku duduk berhadapan dengannya.
“Aku minta maaf,” katanya tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Untuk menyeretmu ke dalam ini.”
Aku terdiam lama.
“Jika kau menyesal bertemu denganku,” lanjutnya pelan, “aku akan mengerti.”
Aku menatapnya.
“Jangan membuat keputusan untukku,” kataku.
“Itu satu-satunya hal yang tidak akan kuterima.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan,” katanya jujur. “Aku takut. Bukan pada mereka.”
“Lalu pada apa?”
“Pada kenyataan bahwa… mungkin aku tidak sekuat yang kupikir.”
Aku berdiri dan berjalan mendekat. Duduk di sampingnya. Tidak menyentuhnya.
“Kekuatan bukan soal bertahan sendirian,” kataku. “Kadang itu soal tahu kapan harus berhenti lari.”
Dia menoleh padaku. Jarak kami sangat dekat.
“Dan jika berhenti lari berarti kehilangan segalanya?” tanyanya.
Aku menghela napas.
“Maka kau akan tahu apa yang benar-benar penting.”
Di luar, angin kembali bertiup.
Salju mulai turun lagi.
Tapi kali ini, aku tahu—
badai yang sesungguhnya bukan datang dari langit.
Ia telah berdiri di depan pintu kami.
Dan cepat atau lambat, kami harus menghadapinya bersama.