NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan dan Senyum Kecil Pertama

Secercah cahaya dari pintu yang terbuka membuat Kinan terganggu dalam tidurnya. Baru saja dia hendak terlelap, namun suara tapak kaki berbalut heels tak terlalu tinggi kembali membuatnya terjaga.

Di sana, seorang wanita dengan gaun hitam melangkah masuk dengan langkah ringan. Sudah beberapa hari dia menghilang dari pandangan Kinan. Dan malam ini dia kembali muncul dengan wajah lelahnya.

Ella tersenyum simpul begitu melihat Kinan yang membuka matanya. "Mama ganggu tidur kamu, ya?" tanyanya.

Kinan menggeleng. Matanya mengernyit begitu lampu kamar kembali dinyalakan oleh Ella. Dengan begitu, dia bisa melihat sang ibu dengan lebih jelas. Meski wajah Ella tersenyum, bahu layu itu tak sedikit pun menyembunyikan lelahnya.

Aroma kue hangat menguar dari tubuhnya. Sudah dapat dipastikan bahwa Ella tak hanya sibuk menggantikan posisi Kinan sementara di perusahaan, tapi juga masih terus bertanggungjawab pada toko kue yang sudah dia bangun bahkan sebelum membangun keluarga dengan mendiang suaminya.

"Nggak usah duduk, Ki. Nanti sakit lagi." Buru-buru Ella mencegah anaknya untuk bangkit.

Namun, Kinan sudah lebih dulu menurunkan kakinya. Dia biarkan lantai dingin rumah sakit menyentuh permukaan telapak kakinya. Dia tinggalkan alas kaki empuk yang biasanya dia kenakan.

Kinan meraih tas berat yang bergelayut di salah satu bahu Ella. "Mama harusnya nggak perlu repot-repot ke sini. Aku bisa sendiri kok."

"Emangnya Mama nggak boleh nengokin anak sendiri?" sahut Ella mencebik.

"Boleh," Kinan meletakkan tas itu di atas nakas dan memberikan sandal miliknya. "Tapi nanti kalau aku udah pulang."

Mendengar itu, Ella hanya melirik anaknya sekilas. Dia segera mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa dan melepas heels hitam yang membalut kakinya. Tak menolak kala Kinan memberikan sepasang sandal yang tentu kebesaran untuknya itu.

"Jadi, gimana selama nggak ada Mama beberapa hari terakhir?" tanya Ella membuka percakapan.

Terdengar derit pelan kala Kinan kembali ke ranjangnya. Pria itu memandang bingung pada Ella. "Apanya yang gimana?"

"Kamu udah mau makan kan? Nggak nyusahin Suster Alana kan?" cerocos Ella.

Terdengar gemercik aliran air di sela hening mereka. Ella yang tengah mencuci tangannya di wastafel, melirik ke arah Kinan dari pantulan kaca di depannya. Entah mengapa pria itu tiba-tiba terdiam.

"Mama tahu dari mana kalau Suster Alana yang ngurusin aku selama Mama nggak di sini?" Kinan balik bertanya.

Mendengar itu, Ella langsung memutuskan pandangannya dari Kinan. Belum lagi saat pria itu membalas tatapannya dari pantulan kaca yang sama.

Sembari menunduk dan mengusapkan tangannya yang basah pada gaun hitamnya, Ella menjawab, "Mama yang minta secara langsung, sekalian pamit beberapa hari yang lalu."

"Ma...," tegur Kinan lembut.

Ella gelagapan. "Ya nggak apa-apa kan? Bukannya selama ini juga Suster Alana yang lebih sering ke sini?"

"Itu karena Mama yang minta juga. Kalau ada suster lain yang ke sini, Mama selalu nanyain dia dan minta dia yang ke sini," jelas Kinan atas kelakuan Ella selama ini.

Ella menghela nafasnya sejenak. Matanya menatap Kinan dengan pandangan sayu. "Mama baru selesai kerja dan langsung ke sini buat nemenin kamu loh, Ki. Kok kamu malah kayak gini ke Mama?"

Kinan terdiam. Dia bahkan tak sedikit pun meninggikan suaranya, cara bicaranya pun terbilang cukup manis terhadap ibunya malam ini. Namun, tatapan Ella mampu membuatnya merasa bersalah.

"Maksud aku, kerja sebagai perawat aja udah capek, Ma. Belum lagi kalau Suster Alana masih Mama minta secara personal kayak gitu."

Tanpa Kinan sadari, Ella mengembangkan senyumannya. Niat terselubung yang sudah dia rencanakan jauh hari tampaknya hampir berhasil. Entah apa yang membuat hatinya terdorong untuk mendekatkan Kinan dengan seorang perawat yang sudah mencuri perhatiannya sejak beberapa hari Kinan dirawat di sana.

"Kamu khawatir kalau Suster Alana kecapekan, Ki?" tanyanya.

Kinan yang semula menunduk sambil mengusap pelan infus yang menempel di punggung tangannya, lantas mendongak. "Maksud Mama?"

Senyuman yang sempat mengembang di wajah Ella mendadak sirna. Matanya beralih ke arah lain, jemari tangannya bergerak gelisah di atas pangkuannya. Berusaha menyembunyikan raut yang sebelumnya dia buat.

Tepat saat itu juga, pintu kamar diketuk pelan. Tirainya terbuka, menampilkan sosok perempuan yang berdiri di sana dengan seragam perawat yang masih melekat di tubuhnya. Seseorang yang selalu melesak dalam topik pembicaraan mereka akhir-akhir ini.

"Permisi, waktunya ganti infus ya, Pak, Bu," ujar Alana begitu mendorong pintu kamar.

Pandangan Kinan lantas mengarah pada nampan yang ada di tangan Alana. Tak ada yang berbeda, hanya sebotol infus dan perban yang memang biasanya ada di sana.

Begitu Alana sampai di hadapannya, Kinan memalingkan wajah. Dia biarkan Alana menyibukkan diri dengan infus yang ada di atas sana, sementara dirinya memandangi dinding dingin ruangan yang mengurungnya hampir satu bulan terakhir.

Tak berbeda dari biasanya, Ella selalu memandangi punggung Alana dengan tatapan lekat. Tak sedikit pun dia melewatkan berbagai gestur hati-hati dalam merawat pasien yang dia temui. Seolah dia sudah terlahir untuk melakukan ini.

"Terima kasih karena Suster sudah merawat Kinan selama saya nggak ada." Ella kembali membuka suara.

Mendengar itu, Kinan lantas menoleh ke arah sang ibu. Bukan apa-apa, hanya saja nada bicara yang keluar dari mulut Ella seolah Alana melakukannya secara sukarela, bukan atas permintaannya.

Sementara, Alana hanya tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Bu. Sudah tugas saya sebagai perawat."

Namun sepertinya jawaban itu tak begitu memuaskan di telinga Ella. Tampak jelas dari postur duduknya yang gelisah seolah berusaha menekan kalimat yang sudah tak tertahakan di dalam dada dan kepalanya.

"Soal pertanyaan saya kemarin, Suster belum jawab, ya?" tanyanya.

Alana menoleh sekilas. "Yang mana ya, Bu?"

"Soal Suster Alana sudah punya pacar atau belum," lanjut Ella.

Kalimat itu sempat membuat pergerakan tangan Alana berhenti sejenak. Beruntungnya dia langsung tersadar dan melanjutkan memasang infus pada Kinan. Jantungnya berdebar kencang kala mendapat pertanyaan seperti itu. Entah apa arti di balik reaksi tubuhnya ini.

"Saya--"

"Mau dia udah punya pacar atau belum, bukan urusan Mama, kan?" timpal Kinan.

Alis Kinan menukik tajam. Tentu kalimat itu cukup mengganggunya, membuatnya merasa tak enak hati pada Alana yang tentu hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang perawat di sini. Sikap Ella kali ini memang cukup berlebihan di matanya.

Alana mendongak. Dari jarak sedekat ini, tampak jelas bagaimana raut Kinan yang tampak sedikit kesal pada sang ibu. Jujur saja, Alana takut jika terjadi pertengkaran di antara ibu dan anak itu di sini, saat ini juga.

Akhirnya, Alana memilih buka suara. "Nggak ada, Bu. Saya juga terlalu sibuk buat pacaran atau sekedar berkenalan sama orang baru."

"Padahal, mau saya jodohkan sama Kinan," gumam Ella yang tentu bergema dalam ruangan hening ini.

Siapa pun yang mendengar kalimat itu, tentu menangkap penolakan halus dari Alana. Termasuk Kinan yang kini mengalihkan pandangan pada perempuan di hadapannya. Meski tentu dia merasa malu atas sikap ibunya yang entah mengapa mendadak kekanakan seperti itu.

Setelahnya, terdengar derit kursi yang digeser pelan. "Kalau gitu, Mama ke kamar mandi dulu, ya." Bukan sekedar pamit, Ella juga mencoba memberi ruang untuk mereka meski sebentar.

Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara kran air menjadi satu-satunya bising yang terdengar, tak ada lagi yang mau membuka suara. Meski sebenarnya Alana sudah terbiasa dengan suasana ini, tak dapat dipungkiri bahwa dia sedikit gugup kali ini.

"Besok setelah infusnya habis, Pak Kinan bisa pulang," ucap Alana setelah membenahi plester infus di tangan Kinan.

Tak menjawab, Kinan malah menatap Alana lekat-lekat. "Soal ucapan Mama saya tadi, jangan terlalu dipikirkan."

Alana meneguk ludahnya kasar. Dia ingin segera merapikan barang-barangnya dan keluar dari sana begitu saja. Namun, waktu seolah bergerak lebih lambat, pergerakan tangannya pun terasa lebih berat dari biasanya. Entah mengapa gumaman terakhir Ella sebelum pamit ke kamar mandi tadi cukup mengganggu pikirannya.

"Saya minta maaf atas ucapan Mama saya yang lancang," lanjut Kinan seraya menundukkan kepalanya pada Alana, sebagai gestur permintaan maaf yang sungguh-sungguh.

Mendapat perlakuan seperti itu, Alana gelagapan. dia menggeleng bersama dengan kedua tangannya yang dia kibaskan ke kanan dan ke kiri. "Nggak apa-apa, Pak. Namanya juga orang tua!"

Kinan mendongak dan kembali menatap lurus pada Alana. Membuat senyuman canggung itu hilang seketika. Alana mengatupkan bibirnya, menyadari dia salah bicara.

"M-maaf, maksud saya--"

"Benar, orang tua memang suka ngelantur," ucap Kinan setuju sambil tersenyum tipis. Sangat tipis.

Meski begitu, Alana mendapatinya dengan jelas. Pemandangan itu tentu membuat Alana merasa lega dan merekahkan senyumnya tanpa sadar. Melihat Kinan tersenyum kecil, cukup membuat Alana melupakan bagaimana sembabnya mata pria itu saat keluar dari ruangan Dokter Tifa siang tadi.

"Besok, Suster juga yang akan melepas infus saya?" tanya Kinan.

Alana menggeleng. "Saya masuk dari siang, Pak. Mungkin nanti Suster Betari yang membantu melepas infusnya."

Mendengar itu, Kinan mengangguk. "Terima kasih, Sus."

"Kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga cepat pulih, ya, Pak!" pamit Alana.

Perempuan itu berjalan mundur sambil mengepalkan tangannya di udara, memberi semangat pada Kinan yang tentu belum bisa dinyatakan baik-baik saja meski sudah diizinkan pulang esok hari. Meninggalkan secercah semangat yang entah akan terpakai atau tidak.

Begitu pintu bangsal tertutup dan Alana sudah menghilang dari pandangannya, Kinan kembali tersenyum. Kali ini lebih jelas dari biasanya. Membuat sepasang mata yang mengintip interaksi mereka dari balik pintu kamar mandi menyipit karena senang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!