"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Kelembutan di Balik Badai
Setelah malam yang menghancurkan di ruang kerja itu, Shena tidak terbangun sebagai wanita yang penuh amarah. Sebaliknya, ia terbangun dengan sebuah ketenangan yang menakutkan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; matanya masih sedikit sembap, namun dagunya terangkat tegak.
Jika Devan menganggapnya sebagai "aset" atau "pengganti", maka ia akan menjadi versi terbaik dari apa yang pria itu butuhkan. Bukan karena ia menyerah pada penindasan, melainkan karena ia menyadari bahwa api tidak bisa dilawan dengan api. Untuk menjinakkan pria seperti Devan Adiguna, ia harus menjadi air yang tenang namun mampu melubangi batu karang secara perlahan.
Pukul lima pagi, saat rumah masih diselimuti sunyi dan para pelayan baru mulai terbangun, Shena sudah berada di dapur.
"Nyonya? Apa yang Anda lakukan di sini?" Bi Inah, pelayan senior di rumah itu, terkejut melihat Shena mengenakan celemek sederhana di atas gaun tidurnya.
"Aku ingin menyiapkan sarapan untuk Mas Devan, Bi. Tolong bantu aku menunjukkan di mana letak bumbu-bumbunya," ucap Shena dengan senyum tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan.
Bi Inah sempat ragu, namun kelembutan di mata Shena membuatnya luluh. Selama dua jam berikutnya, Shena berkutat dengan penggorengan dan pemanggang roti. Ia tidak membuat menu barat yang biasa dipesan Devan, melainkan masakan rumahan yang hangat—nasi goreng bumbu rempah dan kopi hitam dengan aroma kayu manis.
Saat Devan turun dengan setelan jas abu-abu gelapnya, ia berhenti sejenak di tangga terakhir. Bau masakan yang menggoda menyeruak ke seluruh penjuru rumah, menggantikan aroma roti bakar hambar yang biasanya ia santap.
Ia melangkah ke ruang makan dan menemukan Shena sedang menata piring dengan rapi. Tidak ada wajah cemberut, tidak ada air mata, tidak ada tatapan benci seperti semalam.
"Apa ini?" tanya Devan dingin, meskipun perutnya memberikan reaksi yang berbeda.
"Sarapan untukmu, Mas. Aku tahu kau punya jadwal padat hari ini, jadi aku membuatkan sesuatu yang lebih mengenyangkan," Shena menjawab sambil menarikkan kursi untuk Devan. "Duduklah."
Devan menyipitkan mata, mencari tanda-tanda racun atau sarkasme di wajah istrinya. Namun, yang ia temukan hanyalah kepatuhan yang tulus. Ia duduk dan mulai mencicipi sesuap nasi goreng itu. Matanya sedikit membelalak; rasanya jauh lebih enak daripada masakan koki manapun yang pernah ia sewa.
"Kau tidak perlu melakukan ini," ucap Devan tanpa menoleh, namun ia terus menyuapkan makanan itu ke mulutnya. "Pelayan sudah dibayar untuk ini."
"Melayani suami adalah tugasku, Mas. Terlepas dari bagaimana kita memulai pernikahan ini, aku ingin menjadi istri yang baik bagimu," Shena berkata sambil menuangkan kopi ke cangkir Devan.
Tangan Devan yang memegang sendok sempat terhenti sejenak. Ia merasa ada yang aneh. Semalam ia telah menghina wanita ini, meremukkan harga dirinya, dan mengungkap rahasia gelap tentang ayahnya. Seharusnya Shena membencinya. Seharusnya Shena mengamuk atau meminta cerai.
"Apa rencanamu sebenarnya, Shena?" Devan meletakkan sendoknya, menatap tajam ke arah istrinya. "Apa ini taktik baru agar aku luluh dan melepaskan hutang ayahmu?"
Shena berhenti bergerak. Ia menatap Devan dengan mata yang jernih. "Tidak ada rencana, Mas. Aku hanya menyadari bahwa hidup dalam kebencian itu melelahkan. Aku di sini, di rumahmu, sebagai istrimu. Aku hanya ingin melakukan apa yang bisa kubisa agar rumah ini terasa seperti rumah, bukan penjara."
Devan tidak menjawab. Ia menghabiskan kopinya dengan cepat, lalu bangkit berdiri. Sebelum pergi, ia berhenti di samping Shena.
"Jangan berpikir kelembutan ini akan mengubah apa pun," bisiknya tajam. "Sarah tidak pernah bisa memasak, tapi aku tetap menginginkannya. Kau... kau hanya pelipur lara di meja makan."
Kalimat itu tajam, namun Shena hanya mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan, Mas."
......................
Hari-hari berikutnya menjadi ujian kesabaran yang luar biasa bagi Shena. Ia mulai merawat rumah dengan detail yang tidak pernah terpikirkan oleh Devan. Ia mengganti bunga-bunga layu di ruang tamu dengan lili putih segar—bukan mawar merah kesukaan Sarah. Ia memastikan pakaian Devan selalu harum dan tertata sesuai warna.
Setiap malam, ia menunggu Devan pulang, tidak peduli seberapa larut pria itu kembali. Kadang Devan pulang dalam keadaan mabuk, dan dengan sabar Shena membantu melepaskan sepatunya, menyeka wajahnya dengan air hangat, tanpa satu pun keluhan.
Suatu malam, Devan pulang dengan emosi yang tidak stabil karena proyek besarnya di kantor mengalami kendala. Saat Shena mendekat untuk mengambil jasnya, Devan menepis tangan Shena hingga gadis itu terdorong ke meja kayu.
"Berhenti bersikap sok peduli!" bentak Devan.
"Kau membuatku muak dengan wajah 'istri sempurna' itu! Kau pikir aku tidak tahu kau menderita? Berhentilah berakting, Shena!"
Shena merasakan perih di lengannya yang membentur sudut meja, namun ia tidak menangis. Ia bangkit, mengambil jas Devan yang jatuh ke lantai, lalu menatap suaminya dengan tenang.
"Aku tidak berakting, Mas. Jika kau lelah, marahlah padaku. Jika kau sedang sulit, tumpahkan padaku. Aku tidak akan pergi," ucapnya lembut.
Devan tertegun. Ia mengharapkan Shena membalas teriakannya, tapi keheningan wanita itu justru membuatnya merasa seperti monster yang sesungguhnya. Ia menatap Shena cukup lama, melihat memar yang mulai muncul di lengan gadis itu karena perbuatannya.
Ada kilatan rasa bersalah di mata Devan—sebuah emosi yang jarang sekali ia tunjukkan—sebelum akhirnya ia berpaling dan masuk ke kamar dengan membanting pintu.
Shena duduk di sofa ruang tamu, mengusap lengannya yang memar. Air mata akhirnya jatuh, namun ia segera menghapusnya. Ia teringat nasihat almarhumah neneknya: Hati seorang pria adalah hutan belantara; kau tidak bisa menebasnya dengan parang, kau harus menanam benih di sana sampai ia berubah menjadi taman.
Di dalam kamar, Devan berdiri di balik pintu yang tertutup. Jantungnya berdebar tidak karuan. Mengapa ia merasa begitu terganggu dengan ketenangan Shena? Mengapa rasa bersalah ini mulai menggerogoti dinding es yang selama ini ia bangun untuk memuja Sarah?
Ia menoleh ke arah meja rias, di mana foto Sarah masih terpajang di sana. Namun, saat ia menatap foto itu, pikirannya justru tertuju pada aroma kayu manis dari kopi yang dibuatkan Shena pagi tadi.
Shena mulai masuk ke dalam celah-celah hidupnya, secara perlahan, tanpa suara, dan dengan kesabaran yang menakutkan. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan pengganti itu terjadi, Devan merasa bahwa ia tidak lagi memegang kendali penuh atas permainannya sendiri.
...****************...
Jangan lupa like dan Comment ya guys ꈍᴗꈍ