NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penasaran

Lara sedang duduk santai di pojok kantin kampus yang masih agak sepi. Jam makan siang belum sepenuhnya ramai, hanya beberapa mahasiswa yang lalu-lalang sambil membawa nampan.

Di hadapannya tergeletak sebuah map bening berisi formulir kampus.

Formulir itu sebenarnya sudah hampir ia serahkan ke bagian administrasi, tapi langkahnya terhenti saat menyadari satu kolom yang masih kosong—Yaitu data wali.

Lara menghela napas pelan.

Tangannya membolak-balik kertas itu, matanya berhenti cukup lama di kolom yang belum terisi. Nama, alamat, nomor kontak wali, tanda tangan.

Masalahnya sederhana… sekaligus rumit.

Meski pernah hidup serumah dengan Arka, nyatanya Lara nyaris tidak tahu apa-apa tentang pamannya itu.

Bukan alamat kantor resminya, bukan jabatan lengkapnya, bahkan tanggal lahirnya pun Lara tidak yakin.

Ironis, pikirnya.

Seseorang yang paling dekat dengannya saat ini justru menjadi orang yang paling sedikit ia ketahui.

Lara bersandar di kursinya, menatap langit-langit kantin sambil berpikir.

Apa nanti sore aku harus mampir ke kantor Ayah saja? Akan lebih mudah jika meminta data dari paman langsung.

Lamunannya buyar seketika saat sesuatu yang dingin tiba-tiba menempel di pipinya.

“Dingin—!”

Lara refleks tersentak, lalu menyadari ada dua gelas plastik berisi minuman dingin yang sengaja ditempelkan ke wajahnya.

Saat menoleh, Lara langsung tersenyum.

“Axel,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Axel tertawa hangat melihat reaksinya.

“Refleksmu masih sama.”

Ia meletakkan kedua minuman itu di meja.

“Ini. Aku beli karena kamu pasti suka.”

Lara melirik gelas itu, lalu wajahnya berbinar.

“Serius? Kamu masih ingat?”

Axel mengangkat bahu santai.

“Kelihatannya sepele, tapi kamu hampir selalu beli itu.”

Lara mengambil salah satunya, menyeruputnya dengan pelan.

“Pas banget. Aku lagi butuh minuman dingin.”

Axel tersenyum melihat Lara terlihat lebih santai. Ia lalu menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Saat itulah—

tanpa sengaja—pandangan Axel tertuju pada map bening di atas meja.

Cover map itu sedikit terbuka, cukup untuk memperlihatkan halaman pertama.

Tulisan rapi di sana membuat Axel berhenti bernapas sejenak.

Keylara Putri Kusuma.

Axel terdiam.

Bukan karena nama depannya. Keylara terdengar indah—unik, cocok dengannya.

Tapi nama belakang itu.

Kusuma.

Ada sensasi aneh yang menjalar di dadanya, seperti pintu lama yang tiba-tiba diketuk dari dalam ingatan.

Potongan memori kemarin muncul tanpa diminta,saat papanya yang belum lama ini mengatakan kalau dia mempunyai tunangan masa kecil dengan putri dari keluarga Wijaya Kusuma.

Axel mengerjap, lalu cepat-cepat menggeleng kecil, seolah ingin menepis pikirannya sendiri.

Enggak mungkin, batinnya.

Nama Kusuma kan pasaran. Lagi pula Lara… mana mungkin.

“Kenapa?” tanya Lara, menyadari tatapan Axel yang terlalu lama tertuju pada map itu.

Axel tersentak kecil.

“Eh—nggak. Aku cuma baru tahu nama lengkapmu.”

Lara tertawa ringan.

“Iya. Agak panjang ya, Makanya aku lebih suka dipanggil Lara.”

Axel ikut tersenyum, tapi kali ini ada sesuatu yang tertahan di dadanya. Ia ingin bertanya lebih jauh—tentang keluarganya, tentang siapa sebenarnya paman dan orangtuanya.

Namun entah kenapa, Axel memilih diam.

Ada firasat samar yang membuatnya menahan pertanyaan itu.

Bukan karena tidak peduli— melainkan karena takut jawabannya akan mengubah sesuatu.

Axel meneguk minumannya pelan, sementara pikirannya berputar.

Kalau pun cuma kebetulan…kenapa rasanya aku tidak ingin itu sekadar kebetulan?

Tapi Axel cepat menahan diri. Dunia ini terlalu luas untuk berharap pada kebetulan, batinnya.

Ia mengangkat pandangannya ke arah Lara.

“Nanya dikit boleh?”

Lara mengangguk.

“Boleh.”

“Udah berapa lama kamu tinggal sama pamanmu?” tanyanya, nada suaranya dibuat sebiasa mungkin, seolah hanya sekadar ingin tahu.

Lara berpikir sebentar.

“Hmm… lama sih. Sejak aku kecil. Mungkin sejak umur enam tahunan.”

Axel terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Ia mendengarkan dengan penuh perhatian saat Lara, tanpa diminta, mulai bercerita.

“Dulu aku sering nungguin dia pulang,” kata Lara sambil tersenyum kecil, matanya menerawang ke masa lalu.

“Kadang capek, kadang ketiduran di sofa. Tapi aku selalu berharap dia pulang dan membawa es krim.”

Axel tersenyum tanpa sadar.

“Kedengerannya… manis.”

“Iya,” jawab Lara pelan. “Walau aku nggak terlalu ingat detailnya. Aku bahkan nggak tahu waktu itu dia umur berapa.”

Axel tidak menyela.

Ia hanya mencatat semuanya dalam diam—usia Lara, jarak waktu, kenangan kecil yang terlalu tulus untuk dibuat-buat.

Lalu, tiba-tiba Lara menoleh padanya.

“Kalau kamu sendiri gimana? Kamu punya teman dekat?”

Pertanyaan itu membuat Axel sedikit terkejut.

Ia tertawa kecil, kali ini tanpa kepura-puraan.

“Ada satu. Sahabat SMA. Tapi sekarang dia udah berkarier di luar negeri.”

“Terus selain dia?”

Axel mengangkat bahu.

“Selain dia… kayaknya belum nemu lagi yang benar-benar cocok.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih pelan,

“Tapi sekarang… sepertinya aku udah nemu deh."

Lara mengerjap.

“Siapa?”

Axel tidak menjawab.

Sebagai gantinya, ia mengangkat kunci motornya yang tergeletak di meja. Di sana, tergantung sebuah gantungan kunci boneka mini—yang bentuknya jelas tidak asing bagi Lara.

Lara tersenyum simpul.

Senyum yang kecil, tapi hangat. Ia tahu persis siapa yang dimaksud Axel.

Lara melirik layar ponselnya.

Sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Ia sedikit tertegun, lalu mendesah pelan.

Ia hampir lupa dengan misinya sendiri.

Formulir itu…

Tatapannya kembali jatuh pada map di meja. Data wali belum lengkap, dan mau tidak mau ia harus ke kantor ayahnya—atau lebih tepatnya, ke kantor Arka—untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.

Lara membuka ponsel dan mengetik pesan singkat.

Lara:

Paman, nanti sore Lara mau mampir ke kantor ya.

Tidak lama kemudian, balasan masuk.

Arka:

Perlu dijemput?

Lara menatap layar itu sejenak.

Ada rasa hangat, tapi juga sedikit sungkan.

Ia cepat membalas.

Lara:

Nggak usah, Paman. Lara udah pesen taxi online.

Sebenarnya ia belum memesan apa pun. Tapi Lara memang tidak ingin Arka repot hanya karena urusan sepele seperti ini.

Beberapa detik kemudian, pesan Arka masuk lagi.

Arka:

Baik. Hati-hati.

Hanya dua kata.

Tapi cukup membuat Lara tersenyum kecil.

Axel yang sejak tadi memperhatikan Lara akhirnya angkat bicara.

“Kamu kelihatan serius. Kenapa?”

Lara mendongak.

“Oh, aku mau mampir ke kantor pamanku habis ini. Ada urusan dari kampus.”

Axel mengangguk pelan, lalu spontan berkata,

“Kalau gitu aku anterin aja.”

Lara sempat ragu sepersekian detik.

Tapi kemudian ia mengangguk.

“Boleh,” jawabnya ringan.

Axel tersenyum.

Tidak terlalu lebar, tidak berlebihan—tapi jelas terlihat tulus.

Motor Axel berhenti mulus di depan gedung megah yang menjulang anggun dengan dominasi kaca dan marmer. Lara turun lebih dulu sambil membenarkan tasnya, sementara Axel melepas helmnya.

Baru saja helm itu terangkat, pandangan Axel tanpa sengaja menangkap logo perusahaan besar yang terpampang di area lobi.

Ia mengernyit tipis.

Kenapa logo ini terasa… familiar?

Axel yakin pernah melihatnya. Bukan sekali. Tapi entah di mana.

Kantor ayahnya? Acara bisnis? Dokumen lama?

Pikirannya terpotong saat ia sadar Lara menatapnya.

“Ini… kantornya siapa?” tanya Axel, berusaha terdengar santai.

Lara menjawab tanpa ragu,

“Kantor pamanku.”

Lara tidak berbohong. Hanya… tidak sepenuhnya lengkap.

Di benak Lara, sejak ayahnya pergi ke luar negeri, Arka-lah yang menggantikan peran itu. Jadi wajar saja jika ia menganggap ini sebagai kantor pamannya juga.

“Oh,” Axel mengangguk pelan, lalu tersenyum sambil bercanda,

“Keren juga ya. Besar, megah.”

Lara ikut tertawa kecil.

“Iya sih.”

Namun, di balik senyum itu, pikirannya sempat bergulir sendiri.

Tumben banget…

Axel kan anak pengusaha.

Masa iya kagum cuma lihat gedung kayak gini?

Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya menganggap itu candaan biasa.

Padahal, bagi Axel, senyum itu adalah tameng.

Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya— bahwa dadanya terasa aneh sejak melihat logo itu,

bahwa ada sesuatu di ingatannya yang seperti hampir tersentuh tapi menguap begitu saja.

“Kalau gitu aku tunggu di sini aja,” ujar Axel akhirnya.

Lara mengangguk.

“Makasih ya, Axel.”

Axel tersenyum, kali ini lebih lembut dari sebelumnya.

Saat Lara melangkah masuk ke gedung itu, Axel masih berdiri di tempatnya, menatap logo perusahaan itu sekali lagi.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!