Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Dari pagi langkah Nara tetap tenang.
Ia masuk gerbang kampus seperti biasa, ransel di pundak, wajah datar namun anggun.
Tatapan mahasiswa lain menusuk dari segala arah, ada yang berbisik, ada yang terang-terangan memandang sinis, seolah Nara makhluk aneh yang baru turun dari langit.
Tapi Nara tidak peduli. Ia berjalan lurus. Seakan dunia sedang sunyi. Padahal sedang ribut.
Sandra yang sudah duduk di bangku kelas langsung melambaikan tangan kecil.
“Nar…” suara Sandra lirih, seperti sedang khawatir.
Nara duduk di sebelah Sandra dengan santai.
“Tenang aja,” bisik Nara, “nanti juga capek sendiri.” kata Nara seolah tahu apa yang ada di pikiran Sandra.
Belum sempat Sandra menjawab, beberapa mahasiswa lain langsung mendekat.
Ada yang menyilangkan tangan. Ada yang mendengus meremehkan.
“Enak ya hidup kamu sekarang, Nar,” sindir salah satu mahasiswi.
“Pantesan sok kaya, ternyata ada om-om yang biayain.”
Yang lain tertawa kecil.
“Mahasiswi beasiswa tapi naik mobil mewah, transfer puluhan juta pula. Logikanya dari mana kalau bukan simpanan?”
Sandra hendak membela, tapi Nara menahan lengannya pelan.
“Sudah,” ucap Nara tenang.
“Ngapain dengerin orang yang senang mengarang hidup orang lain.” ucap Nara lagi.
Sikap cuek itu justru membuat mereka makin panas.
“Lihat tuh sok suci!”
“Kalau bersih harusnya klarifikasi dong!”
Keributan makin ramai. Suara kursi bergeser, bisik-bisik berubah keras.
Dan tepat saat itulah, sebuah suara terdengar,
“ADA APA INI?” Suara tegas dosen membuat seluruh kelas langsung terdiam.
Dosen menatap sekeliling, lalu berhenti di kelompok yang mengerumuni Nara.
“Kenapa ribut sebelum kelas dimulai?” tanya dosen.
Salah satu mahasiswa dengan berani melangkah maju.
“Pak, kami cuma tidak terima ada mahasiswa yang kelakuannya tidak pantas.”
“Tidak pantas bagaimana?” Tanya Dosen.
Dengan suara jelas, bahkan sedikit puas, mahasiswi bernama Raya berkata, “Nara jadi wanita simpanan, Pak. Foto-fotonya sudah tersebar.”
Ruangan seketika hening. Semua mata langsung tertuju pada Nara. Ada yang penasaran. Ada yang merasa benar. Ada pula yang menunggu Nara menangis.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nara mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tenang. Tidak takut. Tidak gugup.
Bahkan… ada senyum tipis yang sulit diartikan.
“Pak,” ucap Nara lembut namun tegas,
“boleh saya klarifikasi?” tanya Nara.
Dosen mengangguk. “Silakan.”
Nara berdiri. Menatap satu kelas.
Dan dalam hati ia bergumam, "Baik, Kalau kalian mau main depan umum, kita main sekalian besar." kata Nara dalam hati.
Tetapi Nara baru saja membuka mulut untuk berbicara, namun dosen mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar Nara menunggu.
“Bukan sekarang waktunya klarifikasi,” ucap dosen dengan suara tegas namun tenang.
“Kita di sini untuk belajar, bukan mengadili seseorang berdasarkan gosip.”
Suasana kelas kembali sunyi. Dan tentunya semuanya merasa heran, tadi Dosen mempersilahkan, tapi sekarang malah melarang.
“Kalau memang ada pelanggaran,” lanjut dosen itu sambil menatap seluruh mahasiswa,
“pihak kampus punya prosedur. Bukan kalian yang menentukan benar atau salah.”
Beberapa mahasiswa menunduk. Namun wajah Naumi justru mengeras. Baginya, ini tidak adil.
"Bagaimana mungkin Nara yang jelas-jelas pamer uang dan naik mobil mewah masih dibela?" pikir Naumi.
Naumi mengepalkan tangan di samping kursinya.
“Pak, tapi—” salah satu mencoba berbicara.
“Cukup,” potong dosen dengan nada yang tak bisa dibantah.
“Saya tidak mau mendengar tuduhan tanpa bukti resmi.”
Naumi terdiam, tapi matanya penuh amarah.
Ia merasa rencananya gagal. Ia ingin Nara dipermalukan, ingin dikeluarkan dari kampus, ingin semua orang membenci gadis itu.
Namun justru Nara berdiri tenang, seolah tidak tersentuh badai apa pun.
Tak satu pun dari mereka tahu. Bahwa dosen yang berdiri di depan kelas itu adalah sahabat lama Arkan. Mereka pernah kuliah bersama.
Pernah jatuh bangun membangun karier.
Dan semalam, Arkan bahkan sempat mengirim foto pernikahannya.
Dosen itu tahu persis satu hal. Nara bukan simpanan siapa pun. Nara adalah istri sah Arkan.
Dan jika kampus benar-benar menyelidiki,
yang akan malu bukan Nara.
Melainkan mereka yang sudah terlalu cepat menghakimi. Dosen baru ingat saat melihat wajah Nara.
Naumi masih menatap Nara penuh dengki.
Tanpa sadar, ia sedang menantang orang yang salah.
Setelah kelas berakhir, suasana masih terasa canggung. Beberapa mahasiswa masih melirik Nara, ada yang penasaran, ada yang sinis, namun Nara memilih tidak peduli.
Ia langsung menarik tangan Sandra pelan.
“Sand, jalan yuk,” kata Nara santai, seolah tidak terjadi apa-apa tadi.
Sandra ragu. “Kamu nggak capek? Abis ribut gitu…” tanya Sandra.
Nara tersenyum kecil. “Justru pengen refreshing.”jawab Nara.
Sebelumnya Nara sempat mengirim pesan ke Arkan, meminta izin pergi sebentar bersama Sandra. Tak butuh waktu lama, balasan Arkan masuk. "Jalan aja. Aku juga pulang malam ini, ada meeting. Hati-hati. I Love You." pesan balasan dari Arkan membuat Nara tersenyum malu dan juga tersenyum lega.
"Kalau begini, hari ini benar-benar bebas." pikir Nara.
Mereka keluar dari kampus dan naik mobil yang menjemput Nara menuju mall terdekat. Begitu masuk, mata Sandra langsung berbinar melihat deretan toko.
“Nara… ini mahal-mahal semua,” bisik Sandra.
Namun Nara terkekeh. “Kita lihat-lihat dulu. Kalau cocok ya beli.” jawab Nara.
Padahal dalam hati Nara sudah berniat.
Ia tahu betul bagaimana rasanya hidup pas-pasan. Menghitung uang makan, menahan ingin jajan, menolak ajakan teman karena tak punya biaya. Apalagi pusing dengan baju yang itu-itu saja karena tidak ada uang untuk membeli pakaian.
Sandra itu baik,menurut Nara, satu-satunya yang tidak pernah merendahkannya.
Mereka masuk ke toko pakaian.
“Nara, ini lucu banget tapi pasti mahal,” kata Sandra sambil memegang dress sederhana.
“Coba pakai,” jawab Nara cepat.
“Eh jangan—” cegah Sandra.
“Coba aja.” jawab Nara.
Beberapa menit kemudian Sandra keluar dari ruang ganti. Dress itu pas di tubuhnya.
“Cantik banget,” puji Nara jujur.
Sandra tersenyum malu. “Iya sih… tapi nggak kebeli, harganya mahal." jawab Sandra berbisik.
Nara langsung memanggil pegawai.
“Mbanya, yang ini ya. Sekalian dua warna.” kata Nara memanggil pegawai toko.
Sandra langsung panik. “Nara! Jangan gila kamu!”
Nara tertawa. “Tenang, ini traktiran sahabat orang kaya mendadak.”
Sandra terdiam, matanya berkaca-kaca. “Nara… aku nggak enak…”
“Aku senang bisa beliin kamu. Dulu juga aku pengen banget ada yang begini ke aku.” jawab Nara.
Mereka lanjut belanja, sepatu sederhana, tas kecil, bahkan makan enak di food court tanpa Sandra harus mikir harga.
Untuk pertama kalinya sejak kuliah, Sandra makan tanpa menghitung uang di dompet.
“Nara… makasih banget,” ucap Sandra lirih.
Nara tersenyum hangat. “Kita sama-sama berjuang dari bawah. Sekarang aku cuma lagi dapet rezeki lebih.” jawab Nara yang belum jujur kalau dia menikah dengan orang kaya.
Selain mengajak Sandra makan, Nara juga membelikan beberapa makanan dan camilan untuk Sandra nanti di kos-kosan, Nara tahu bagaimana tidak enaknya tidak punya makanan.
Sementara itu, jauh di kampus, beberapa foto Nara di mall mulai tersebar lagi.
Captionnya makin kejam. "Baru jadi simpanan, langsung hedon."
"Pantesan bisa transfer 10 juta." kata-kata kejam terus mengalir dan komentar negatif sangat banyak.
Tanpa mereka sadar. Setiap langkah Nara justru sedang menuju hidup yang tidak akan pernah bisa mereka jangkau.
Dan badai yang mereka buat, sebentar lagi akan berbalik menghantam mereka sendiri.