Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. The Rescue in Paris
Hari ulang tahun Ibu Vane di Amerika seharusnya menjadi hari penuh tawa. Namun, di kediaman Vane, suasana berubah menjadi kecemasan yang mencekik. Julian berdiri di ruang tamu, sudah mengenakan setelan rapi, namun ponselnya tidak berhenti menempel di telinga.
"Tidak aktif. Masih tidak aktif," desis Julian. Ia menatap Ayah Alice dengan mata yang mulai berkilat panik. "Ini tidak benar, Om. Alice tidak mungkin melewatkan ulang tahun Tante tanpa kabar sama sekali."
Ayah Alice mengerutkan kening, mencoba menghubungi Sean, namun hasilnya sama. "Sean juga tidak bisa dihubungi. Apa mungkin ada masalah dengan jaringan di apartemen mereka?"
"Atau Sean memang tidak ingin dia menghubungi kita," jawab Julian tajam. Firasatnya sebagai pria yang pernah hidup dalam kegelapan mulai berteriak. "Aku berangkat sekarang. Aku sudah menyiapkan jet pribadi. Aku tidak bisa menunggu sampai besok."
"Hati-hati, Julian. Sean bukan pria yang bisa ditebak saat dia sedang terpojok," pesan Ayah Alice.
Julian hanya mengangguk singkat. Di dalam benaknya hanya ada satu tujuan: Paris.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang kini terasa seperti penjara emas di pusat kota Paris, Alice duduk di pojok ruangan. Ia menatap paspornya yang robek dengan pandangan kosong.
Pintu kamar terbuka. Sean masuk membawa nampan makanan seolah tidak ada hal gila yang terjadi.
"Makanlah, Al. Kau butuh tenaga untuk perjalanan kita ke Maldives besok pagi," ujar Sean tenang, suaranya terdengar sangat lembut namun justru itu yang membuat Alice merinding.
Alice mendongak, matanya sembab. "Kenapa kau melakukan ini, Sean? Kau bukan pria yang kukenal. Pria yang kukenal tidak akan menyakitiku seperti ini."
Sean meletakkan nampan di meja kecil, lalu berjongkok di depan Alice. Ia mencoba menyentuh pipi Alice, namun Alice memalingkan wajahnya. Tangan Sean tertahan di udara, dan rahangnya mengeras.
"Pria yang kau kenal itu terlalu sabar, Alice," bisik Sean. "Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun. Aku melihatmu menangisi Julian, aku melihatmu dihancurkan oleh fans-fansnya, dan aku yang memunguti kepingan hatimu. Tapi apa balasannya? Begitu dia meneleponmu dengan lagu religi bodoh itu, kau langsung lari kembali padanya."
"Dia berubah, Sean! Dia berusaha sembuh!"
"Dia tidak akan pernah berubah!" teriak Sean, suaranya mengguncang ruangan. "Dia hanya manipulator ulung! Dan kau... kau hanyalah gadis naif yang selalu jatuh dalam perangkapnya. Aku menyelamatkanmu, Alice! Di sini, bersamaku, kau aman. Tidak ada paparazzi, tidak ada Ellena, tidak ada drama Julian!"
"Tapi aku tidak bahagia, Sean! Kau menahanku seperti tawanan!" Alice berdiri, mencoba mendorong Sean. "Buka pintunya! Aku ingin pulang!"
Sean mencengkeram kedua bahu Alice, mendorongnya kembali ke dinding. "Kau tidak akan ke mana-mana. Besok, setelah kita di Maldives, kau akan sadar bahwa hanya aku yang kau butuhkan. Kau akan berterima kasih padaku nanti."
Tiba-tiba, suara gedoran keras menghantam pintu depan apartemen. Bukan sekadar ketukan, tapi hantaman yang sangat kuat hingga suara kayu yang berderit terdengar sampai ke kamar.
"SEAN MILLER! BUKA PINTUNYA!"
Suara itu. Alice membelalak. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. "Julian?" bisiknya tidak percaya.
Wajah Sean berubah pucat, lalu berubah menjadi amarah yang murni. "Bajingan itu... bagaimana dia tahu?"
Sean berlari ke ruang tamu, sementara Alice mencoba mendobrak pintu kamarnya yang dikunci dari luar. "Julian! Aku di sini! Julian, tolong aku!" teriak Alice sekuat tenaga.
Hantaman kedua jauh lebih keras. Pintu depan apartemen itu akhirnya jebol. Julian Reed melangkah masuk dengan napas memburu. Ia tidak membawa pengawal, ia hanya datang dengan kemarahan seorang pria yang wanitanya sedang dalam bahaya.
Sean berdiri di tengah ruangan, memegang sebuah vas bunga kristal yang berat. "Pergi dari sini, Reed! Kau tidak punya hak di sini!"
Julian tidak berhenti melangkah. Matanya menyapu ruangan dan berhenti pada pintu kamar yang terkunci. "Di mana dia, Sean?"
"Dia tidak ingin bertemu denganmu! Pergi!" Sean mengayunkan vas itu, namun Julian dengan cepat menghindar.
Julian melayangkan tinju keras tepat di rahang Sean, membuat pria itu terjerembap ke lantai. Julian tidak berhenti di situ, ia menarik kerah baju Sean. "Kau merobek paspornya? Kau menahannya di sini? Kau benar-benar sudah gila!"
"Aku mencintainya lebih dari kau!" teriak Sean sambil mencoba membalas pukulan Julian.
Terjadi baku hantam yang hebat di ruang tamu itu. Julian yang selama ini dikenal sebagai pria lembut di depan kamera, kini bertarung dengan brutal. Namun, di tengah perkelahian itu, Julian teringat akan kata-kata Ayah Alice tentang pengendalian diri dan doa.
Ia melepaskan Sean yang sudah tersungkur lemas di lantai. "Aku tidak akan membunuhmu, Sean. Karena kau tidak layak membuat tanganku kotor lagi."
Julian segera mengambil kunci yang tergeletak di meja dan berlari menuju kamar Alice. Saat pintu terbuka, Alice langsung menghambur ke pelukannya.
"Julian!" Alice menangis sejadi-jadinya di dada Julian.
Julian mendekapnya erat, mencium puncak kepala Alice berkali-kali. "Maafkan aku... maaf aku terlambat. Aku di sini, Al. Aku di sini."
Alice menunjukkan paspornya yang robek. "Aku tidak bisa pulang, Julian. Dia merusaknya..."
Julian mengambil paspor itu, lalu menatap Alice dengan mata yang kini sangat lembut dan penuh kepastian. "Kita akan urus semuanya. Aku sudah membawa tim pengacara dan orang-orang dari kedutaan di bawah. Kau akan pulang, Alice. Hari ini juga."
Julian membimbing Alice keluar, melewati Sean yang masih tergeletak sambil menatap mereka dengan tatapan hancur. Saat mereka melangkah keluar dari apartemen itu menuju cahaya matahari Paris, Alice merasakan beban berat di pundaknya terangkat.
"Julian," panggil Alice pelan saat mereka di dalam lift.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah menjemputku. Terima kasih sudah tidak menyerah."
Julian menggenggam tangan Alice, lalu mengecup jari-jarinya. "Tuhan yang membawaku ke sini, Alice. Dia tidak akan membiarkan benang merah kita putus oleh tangan siapa pun lagi."
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/