"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Sesampainya Keyla di Perusahaan Arlan, dengan ditemani oleh Rena bersamanya, tanpa ragu Keyla langsung masuk kedalam perusahaan besar itu dengan gaya percaya dirinya.
"Mbak, saya udah bilang, saya janji sama Pak Arlan. Nama saya... Keyla Baskoro," ucap Keyla dengan wajah seserius mungkin.
Resepsionis cantik di lobi Dirgantara Group itu mengernyitkan dahi, menatap Keyla dari ujung kepala sampai ujung kaki. Keyla hari ini memakai blazer hitam milik kakaknya yang sedikit kebesaran di bagian bahu, dipadukan dengan rok span dan sepatu hak tinggi yang membuatnya berjalan agak gemetar.
"Keyla? Maaf, Adik ini adiknya Pak Arlan? Atau saudaranya?" tanya resepsionis itu.
"Bukan. Saya... calon istrinya," jawab Keyla tanpa berkedip.
Rena yang berdiri dua meter di belakang Keyla langsung pura-pura batuk keras sambil menutupi wajahnya dengan majalah bisnis yang ia ambil dari meja tamu. "Key, gila lo!" bisik Rena tertahan.
Resepsionis itu tampak menahan tawa, namun tetap profesional. "Maaf, Dek. Tapi di jadwal Pak Arlan tidak ada nama calon istri untuk jam makan siang ini. Kalau tidak ada janji atau kartu identitas karyawan, silakan tunggu di sofa sana."
"Tapi saya bawa makan siang spesial buat dia, Mbak. Ini salmon saus tiram buatan... ehem, koki pribadi saya," bohong Keyla, padahal itu hasil pesan antar dari restoran Jepang depan sekolah.
"Mohon maaf, silakan duduk dulu ya."
Keyla menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan menghampiri Rena. "Gagal, Re. Penjaga gerbangnya lebih galak dari ibu kantin kita."
"Ya iyalah! Lo ngaku jadi calon istrinya, ya jelas nggak dipercaya. Muka lo aja masih muka-muka butuh uang jajan tambahan gitu," cibir Rena. "Udah yuk pulang, sebelum satpam yang dateng."
"Nggak. Gue nggak bakal menyerah. Lihat itu!" Keyla menunjuk ke arah lift VIP yang baru saja berdenting terbuka.
Seorang pria dengan asisten yang membawa tumpukan dokumen keluar dari sana. Itu Arlan. Dia tampak lebih tampan dari kemarin. Kemeja putihnya yang digulung sampai siku memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin, menambah kesan mahal pada penampilannya.
"Om Arlan!" teriak Keyla tanpa tau malu.
Seluruh orang di lobi yang tadinya tenang seketika menoleh. Arlan menghentikan langkahnya, keningnya berkerut tajam saat melihat sosok gadis yang tampak asing namun suaranya sangat ia kenali.
"Siapa dia?" tanya Arlan dingin pada asistennya.
"S-saya tidak tau, Pak. Sepertinya tamu yang tidak terdaftar," jawab sang asisten gugup.
Keyla berlari kecil menghampiri Arlan, mengabaikan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. "Om! Ingat aku kan? Yang di halte kemarin!"
Arlan diam membatu. Ia memperhatikan penampilan Keyla. "Kamu... kenapa pakai baju orang dewasa? Dan kenapa ada di sini?"
"Ini baju saya sendiri kok!" bohong Keyla lagi sambil memutar tubuhnya. "Aku ke sini mau nganterin makan siang buat Om. Pasti Om capek kan kerja terus? Nih, dimakan ya."
Arlan melirik kantong plastik di tangan Keyla, lalu kembali menatap mata gadis itu dengan dingin. "Kamu bolos sekolah?"
"Nggak! Hari ini sekolah libur, ada rapat guru. Makanya aku sempetin ke sini demi Om."
"Jangan panggil saya Om di sini," desis Arlan pelan agar tidak terdengar karyawan lain. "Dan bawa pulang makanan itu. Aku tidak menerima pemberian dari orang asing."
"Ih, kok orang asing sih? Kan kita udah kenalan kemarin. Namaku Keyla, masa lupa? Ingatan Om pendek ya karena faktor usia?"
Mata Arlan menyipit. "Kamu bilang apa?"
"Eh, maksud aku... Om kan udah matang, jadi harusnya ingatannya kuat," Keyla nyengir kuda. "Ayo dong, Om, terima ya? Aku udah jauh-jauh naik ojek online ke sini."
"Pak Arlan, rapat dengan dewan komisaris akan dimulai sepuluh menit lagi," interupsi asistennya dengan sopan.
Arlan mengangguk, lalu kembali menatap Keyla. "Pergilah. Jangan buat keributan di kantorku. Ini tempat kerja, bukan taman bermain anak SMA."
"Aku nggak bakal pergi sebelum Om terima ini!" Keyla menyodorkan kotak makannya dengan gigih.
Arlan menghela napas panjang, tampak sangat tertekan dengan keberadaan Keyla. "Berikan pada asistenku."
"Nggak mau! Harus Om yang terima langsung. Biar ada kontak batinnya."
Rena yang melihat adegan itu dari jauh hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Ia benar-benar heran dengan urat malu Keyla yang sepertinya sudah putus total.
Arlan, karena tidak ingin drama ini berlanjut dan menjadi tontonan karyawannya, akhirnya ia mengambil kotak makan itu dengan kasar. "Sudah? Sekarang pulang."
"Sama-sama, Om Calon Suami! Nanti habis makan, jangan lupa kabari aku ya enak atau nggak. Ini nomor HP aku ada di dalem kotaknya!" seru Keyla sambil melambaikan tangan saat Arlan berbalik pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Keyla kembali ke arah Rena dengan wajah kemenangan yang luar biasa. "Lihat kan? Diterima, Re! Strategi maksa itu emang selalu berhasil."
"Key, dia nerima itu karena malu dilihatin orang kantor, bukan karena terpesona sama lo," ujar Rena realistis.
"Sama aja! Yang penting masuk ke tangannya dulu. Langkah kedua, nunggu dia telepon gue."
"Gue jamin 100 persen dia nggak bakal telepon lo. Paling itu makanan dikasih ke satpam atau dibuang ke tong sampah."
"Kita taruhan!" tantang Keyla. "Kalau dia telepon gue malam ini, lo harus bayarin gue seblak selama seminggu!"
"Oke! Kalau dia nggak telepon, lo harus berhenti ngejar-ngejar dia dan fokus belajar buat ujian nasional. Deal?"
"Deal!"
Keyla tersenyum lebar. Dalam hatinya, ia sangat yakin. Meskipun Arlan sedingin es kutub utara, tidak ada pria yang bisa mengabaikan perhatian tulus dan sedikit gila dari gadis secantik dirinya.
Namun, di dalam lift, Arlan menatap kotak makan di tangannya dengan tatapan muak. Ia membukanya sedikit, menemukan sebuah catatan kecil di atas kotak plastik itu.
"Semangat kerjanya, Om Dingin. Jangan lupa makan, karena pura-pura nggak suka sama aku itu butuh tenaga banyak. Love, Keyla."
Arlan meremas catatan itu dan membuangnya ke tempat sampah kecil di pojok lift. "Benar-benar anak nakal," gumamnya.