Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".
Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.
Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.
"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Judi Satu Tembaga
Pasar Gelap Kaki Gunung Sekte Pedang Awan bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Itu adalah labirin tenda-tenda kumuh yang didirikan di antara pepohonan raksasa, di mana bau dupa murahan bercampur dengan aroma darah kering dan logam.
Di sini, murid-murid sekte menjual hasil buruan ilegal mereka, dan para kultivator liar menjajakan barang-barang yang asal-usulnya meragukan. Tidak ada hukum sekte di sini. Hukum yang berlaku hanyalah kekuatan dan kelicikan.
Seorang pria paruh baya dengan wajah penuh bekas luka dan aura yang tidak bersahabat melangkah masuk ke dalam pasar. Dia mengenakan jubah abu-abu kasar yang umum dipakai oleh para petualang.
Ini adalah Han Luo. Atau lebih tepatnya, persona pertamanya: "Si Wajah Parut".
Di balik wajah garang itu, Han Luo yang asli sedang menghitung detik.
Sisa Qi di dantian-ku hanya cukup untuk mempertahankan wajah ini selama 45 menit. Aku harus bergerak cepat.
Dia tidak langsung menuju penjual pedang. Dia tahu dia miskin. Tiga koin tembaga di sakunya bahkan tidak cukup untuk membeli secangkir teh herbal di sini. Dia butuh modal, dan dia butuh itu sekarang.
Matanya yang tajam memindai barisan pedagang kaki lima yang menggelar dagangan di atas tikar kotor. Dia mengabaikan senjata berkilau dan pil-pil yang diklaim sebagai "Obat Dewa". Dia mencari sesuatu yang spesifik.
Ingatan Bab novel muncul kembali.
Di sudut pasar, ada seorang kakek tua buta yang menjual tanaman obat layu. Di antara tumpukan sampah itu, ada satu batang 'Rumput Bintang Ungu' yang belum mekar, yang sering disalahartikan sebagai rumput liar biasa.
Han Luo berbelok ke sudut pasar yang sepi. Benar saja, seorang kakek tua dengan mata tertutup kain sedang duduk bersila, di depannya terhampar berbagai akar dan daun kering yang tampak menyedihkan. Tidak ada pembeli yang meliriknya.
Han Luo berjongkok di depan tikar itu. Tangannya memilah-milah tumpukan tanaman dengan kasar, seolah-olah dia kecewa dengan kualitasnya.
"Semuanya sampah," gerutu Han Luo dengan suara yang sengaja diberatkan.
"Satu koin tembaga per ikat," jawab kakek itu datar, tidak tersinggung. "Ambil atau pergi."
Jantung Han Luo berdesir. Tangannya berhenti pada sebatang tanaman kecil berwarna cokelat kusam yang tampak mati. Daunnya keriting dan batangnya keras. Bagi orang awam, ini adalah Rumput Ekor Tikus yang tidak berharga. Tapi Han Luo tahu, jika kulit batangnya dikupas, di dalamnya ada serat ungu yang memancarkan Qi murni.
Ini adalah Rumput Bintang Ungu berusia 50 tahun. Bahan utama untuk Pil Pembersih Sumsum. Harganya di pasar resmi minimal 20 Batu Roh.
"Aku butuh sesuatu untuk mengganjal sepatu botku yang longgar," kata Han Luo dengan nada meremehkan. Dia melempar satu koin tembaga ke atas tikar—sepertiga dari seluruh kekayaannya. "Aku ambil ikat sampah ini."
Kakek itu meraba koin tersebut, menggigitnya sedikit untuk memastikan keasliannya, lalu mengangguk. "Pergilah."
Han Luo menyambar tanaman itu dan memasukkannya ke dalam lengan baju. Dia berdiri dan berjalan pergi dengan santai. Begitu dia berbelok dan hilang dari pandangan, dia berlari kecil menuju bangunan kayu terbesar di tengah pasar: Paviliun Seribu Herbal.
Di dalam Paviliun, aromanya jauh lebih harum. Han Luo mendekati konter kasir di mana seorang pelayan muda sedang menguap bosan.
"Aku ingin menjual bahan," kata Han Luo, meletakkan tanaman 'mati' itu di atas meja kayu.
Pelayan itu melirik sekilas dan mendengus. "Paman, kami tidak membeli sampah dapur. Keluar sebelum aku panggil penjaga."
Han Luo tidak bergeming. Dengan kuku jempolnya yang panjang, dia menggores sedikit kulit batang tanaman itu.
Sret.
Cahaya ungu tipis memancar keluar dari goresan itu, disertai aroma manis yang langsung memenuhi ruangan. Mata pelayan itu terbelalak. Kantuknya hilang seketika.
"R-Rumput Bintang Ungu?! Dan melihat warnanya... ini setidaknya berumur 50 tahun!" Pelayan itu tergagap. Dia menatap Han Luo dengan pandangan baru—penuh hormat dan sedikit takut. Orang yang bisa mengenali harta karun di balik sampah pastilah ahli tanaman obat yang menyamar.
"20 Batu Roh Rendah," kata Han Luo dingin. "Tidak ada tawar-menawar."
Pelayan itu menelan ludah. "T-Tunggu sebentar, aku harus panggil manajer..."
"Aku sedang buru-buru. 15 Batu Roh, tapi bayar sekarang," potong Han Luo. Dia tidak punya waktu. Wajah palsunya mulai terasa gatal—tanda Qi-nya menipis.
"Baik! Sepakat!" Pelayan itu segera membuka laci, takut Han Luo berubah pikiran. Dia mengeluarkan kantong kecil berisi 15 batu kristal seukuran kelereng yang bersinar redup.
Han Luo menyambar kantong itu dan keluar dari paviliun tanpa menoleh lagi.
Modal: Didapatkan.
Sekarang, tujuan utama.
Han Luo bergegas ke sisi timur pasar, tempat para pandai besi dan penjual besi tua berkumpul. Dia berhenti di depan sebuah lapak yang dijaga oleh seorang pria bertubuh kekar yang sedang memukul-mukul besi panas. Di sudut lapak, ada tumpukan senjata rusak yang dijual kiloan.
Mata Han Luo langsung terkunci pada sebuah pedang hitam yang patah di bagian ujungnya. Bilahnya penuh karat, dan gagangnya sudah lapuk dimakan rayap.
Di novel, Long Tian membeli pedang ini karena Cincin Kakek Tuanya bergetar. Han Luo tidak punya getaran itu, tapi dia punya ingatan.
Di dalam gagang kayu yang lapuk itu, tersembunyi sebuah gulungan kulit binatang tipis berisi teknik pedang kuno: Tebasan Bayangan Kilat. Sebuah teknik tingkat Bumi yang mengandalkan kecepatan ekstrem—sempurna untuk pembunuh.
"Berapa harga rongsokan ini?" Han Luo menunjuk tumpukan itu dengan dagunya.
Penjual itu melirik. "5 perak untuk satu pedang. Ambil sendiri."
Han Luo mengeluarkan satu Batu Roh Rendah dari kantongnya. Satu Batu Roh setara dengan 100 koin emas di dunia mortal. Nilainya jauh di atas 5 perak.
Mata penjual itu berbinar tamak. "Tuan, itu..."
"Aku ambil pedang patah itu," Han Luo menunjuk, "Dan berikan aku belati terbaik yang kau punya sebagai kembaliannya."
Penjual itu mengangguk antusias. Dia segera mengambilkan pedang patah itu dan sebuah belati baja hitam yang tajam. "Tuan punya mata yang bagus! Belati ini terbuat dari Baja Dingin, bisa memotong rambut yang jatuh di atasnya."
Han Luo menerima kedua senjata itu. Dia menyelipkan belati di pinggang dan memegang pedang patah itu erat-erat.
Tiba-tiba, rasa perih menyengat di pipi kirinya. Waktunya habis.
Han Luo segera menarik tudung jubahnya menutupi kepala dan berbalik untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti.
Di pintu masuk pasar, terjadi keributan. Sekelompok murid berbaju putih bersih dengan lambang awan biru di dada mereka sedang berjalan masuk, membelah kerumunan seperti bangsawan yang masuk ke kandang babi.
Han Luo mengenali pemimpin mereka. Seorang pemuda tampan dengan wajah arogan yang membawa kipas lipat.
Liu Ming. Murid Dalam. Salah satu antek utama yang akan menyiksa Han Luo di penjara bawah tanah nanti.
Han Luo menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mulai "meleleh" kembali ke bentuk aslinya, dan menyelinap ke dalam bayang-bayang gang sempit.
Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena kebencian yang mendidih. Dia menggenggam pedang patah itu.
Belum saatnya, batinnya. Tunggu sampai aku membuka gulungan di dalam pedang ini.
Dia menghilang ke dalam hutan, meninggalkan pasar gelap dengan harta yang seharusnya menjadi milik Sang Protagonis.
Satu takdir telah dicuri. Masih ada ribuan lagi yang harus diambil.