NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Ibu dan Adik Tiri

“Ada apa Daniyal, masih ada jadwal untukku hari ini?” tanya Aariz pada pemuda berusia 27 tahun itu.

Sebelum menjawab, Daniyal menoleh ke arah Hanin yang tengah duduk di sofa seolah apa yang ingin disampaikannya ada hubungannya dengan gadis itu.

“Saya hanya ingin bertanya, kapan Anda menjadwalkan untuk memperkenalkan putri Anda itu di depan semua orang. Di luar gosip sudah merebak,” kata Daniyal.

“Gosip miring apa?” tanya Aariz datar.

“Apa lagi kalau bukan menganggap Anda sebagai Sugar Daddy gadis itu.”

“Dia putriku, Daniyal. Untuk urusan ini aku tidak punya waktu menanggapinya, gosip murahan yang tidak penting.”

“Ya, jika Anda segera mengklarifikasi maka tidak akan ada gosip lagi.”

“Nanti aku pikirkan. Jika tidak ada lagi aku akan menyelesaikan beberapa berkas setelah itu pulang.”

“Baik, Tuan.”

Daniyal berjalan pergi, dia menunduk sesaat kepada Hanin yang sekilas melihat ke arahnya lalu berjalan ke arah pintu. Saking melengnya memperhatikan Hanin, laki-laki itu nyaris menabrak pintu yang masih tertutup.

Satu jam kemudian ...

Aariz telah selesai dengan pekerjaannya, dia begitu serius sampai tak menyadari putrinya tertidur di sofa. Dia hampir lupa jika di ruangan itu ada orang lain selain dirinya

Aariz meraih jasnya lalu berjalan menghampiri Hanin. Berjongkok memperhatikan putrinya yang belum menyadari kehadirannya. Melihat wajah gadis itu mengingatkannya pada Nissa. Dia begitu mirip dengannya dari mata dan bibirnya.

“Nak, bangun, kita pulang sekarang,” ucap Aariz lirih sembari mengusap kepala Hanin.

Hanin membuka matanya, mendapati wajah ayahnya, dia berjongkok di hadapannya

“Di mana, Kak Awan?” tanya Hanin begitu dia duduk.

“Kau baru bangun jadi lupa, Awan sudah kembali ke Yogyakarta.”

Tiba-tiba Hanin merasa sedih, seharusnya dia tidak membiarkan Awan pulang sendiri. Sekarang saat dirinya sedih dengan siapa dirinya akan berbagi. Ayahnya pasti sibuk dengan pekerjaannya.

“Kenapa Kak Awan tidak tinggal bersama kita? Dia kakakku juga?” tanya Hanin.

“Ayah tak terpikirkan akan hal itu, kau juga tak meminta, kan?”

“Saat ini dia sedang sedih karena dia tidak tahu siapa dan di mana ayah kandungnya. Seperti Hani saat pertama Kali tahu Hani hanya anak angkat keluarga Elvan, Hanin ingin tahu siapa orang tua Hani yang sebenarnya.”

“Tapi begitu tahu, kau justru mau meninggalkan ayah,” balas Aariz.

“Hani takut, tidak bisa menyesuaikan diri dengan istri baru Ayah.”

“Ada Ayah, kau tidak perlu cemaskan hal itu. Mulai sekarang kau adalah prioritas ayah.” Aariz menggenggam tangan Hanin meyakinkannya. Hanin merasa sedikit terhibur.

Baru saja Hanin bangun dari duduknya, pintu ruangan didobrak dari luar dengan kasar. Seorang wanita sudah berdiri di ambang pintu disusul Manajer Daniyal muncul dari belakang wanita itu. Dia berusaha memberikan penjelasan, tapi kalah bicara dengan wanita di sampingnya.

“Nyonya, dia ...,”

Wanita berambut kecokelatan itu berjalan ke arah Hanin dan Aariz. Dia cantik, tapi tatapannya tajam terlihat tak ramah. Raut wajahnya pun tampak suram seperti nenek sihir, membuat Hanin beringsut merapat pada ayahnya.

Melihat kedatangan istrinya, Aariz sigap menghadang dengan berdiri di antara mereka.

“Minggir, Aariz!” ucap wanita itu dengan sikap tenang, tapi ucapannya tegas.

“Kamu sedang apa di sini, Sabrina? Bukankah seharusnya kau sedang bersama dengan teman-temanmu?” balas Aariz.

“Memang benar, tapi mendadak telingaku panas saat mendengar orang-orang membicarakanmu. Di luar ruangan mereka juga sedang bergosip dan mengatakan kau datang membawa perempuan muda. Aku penasaran dan ingin melihatnya.”

“Dia adalah putriku,” jawab Aariz.

Wanita itu menatap Aariz lama berusaha mencerna ucapan suaminya, lalu beralih pada Hanin yang masih berdiri di belakang punggung ayahnya hampir tak terlihat.

“Jadi benar dia putrimu, kalau aku tidak memaksa masuk, aku tidak akan tahu putri sulungmu itu masih hidup. Aariz apa kau berniat untuk menyembunyikannya dariku?” pertanyaan itu seketika membuat Aariz dan Hanin keheranan. Sabrina tiba-tiba saja berubah hanya dalam beberapa detik. Sikapnya menjadi lembut. Padahal saat datang wanita itu seperti ayam betina yang kehilangan induknya.

“Mana mungkin aku menyembunyikannya darimu, hari ini aku berniat membawanya pulang,” jawab Aariz.

Sabrina menyingkirkan Aariz dari hadapannya, lantas mendekati Hanin. Meskipun sikapnya terlihat baik, tapi Hanin tidak bisa seketika mempercayainya. Pertama melihatnya saja dia bisa merasakan tatapannya yang tak suka dengan dirinya.

Sabrina berniat menyentuh wajah Hanin, spontan Hanin menghindar, membuat tangan wanita itu mengambang di udara.

Sabrina tampak kecewa, tapi dia berusaha tak menunjukkannya dan berusaha tetap tersenyum.

“Baguslah kau membawanya ke rumah, dengan adanya putrimu ini suasana rumah pasti menjadi lebih hangat. Luna pasti senang memiliki teman baru di rumah.”

‘Luna, jadi adik tiriku bernama Luna,’ batin Hanin menerka.

Aariz masih terpaku di tempatnya. Dari sikapnya dia masih tidak percaya kalau Sabrina bisa begitu baik kepada Hanin. Jadi dia berpikir tidak akan sulit untuk menyatukan mereka.

Aariz tersadar saat Sabrina menggamit lengannya.

“Kita pulang sekarang, Aariz, aku tidak sabar mempertemukan dia dengan Luna.”

Melihat antusias istrinya, Aariz menjadi lebih bersemangat. Mereka meninggalkan ruangan, lupa meninggalkan Hanin di belakang.

“Ayo Nona,” kata Daniyal pada Hanin yang masih diam melamun.

Di mobil Hanin duduk di depan, di samping Daniyal, sementara Aariz dan Sabrina duduk di belakang. Hanin merasa risi saat melihat tingkah Sabrina yang seperti wanita nakal, seakan tengah menunjukkan mereka sepasang suami-istri yang bahagia dan romantis. Melalui kaca spion Hanin melihat Sabrina terus saja menempel pada Aariz dan menciumi leher dan pipi suaminya dengan tanpa rasa malu. Bagaimana dia melakukan itu di depan orang lain.

Hanin hatinya panas, dia benar-benar tidak rela ayahnya diperlakukan seperti itu.

“Kak Daniyal, apa mobil ini tanpa AC, kenapa tiba-tiba aku merasa gerah?” celetuk Hanin tiba-tiba. Tidak hanya membuat Daniyal kaget dipanggil kakak, Aariz seketika juga menghentikan tingkah istrinya.

“Nona bisa juga bercanda, mobil sekeren ini mana mungkin tanpa AC, kalau panas karena suhu orang-orang di dalam mobil ini yang membuat suasana menjadi panas,” jawab Daniyal penuh sindiran.

Hanin langsung terdiam, Daniyal memahami maksudnya. Bisa membalas sindirannya, tapi perasaan Hanin masih kesal dan murung hingga mereka tiba di rumah, di sebuah vila di New Cairo.

Sabrina selalu saja menempel dengan Aariz semenjak keluar dari mobil hingga masuk rumah, seakan dia begitu khawatir orang akan mengambil suaminya darinya. Daniyal yang pengertian dengan situasi itu tak membiarkan Hanin seorang diri. Dia menemani anak atasannya itu saat mereka masuk rumah.

“Apa wanita itu selalu seperti itu pada suaminya?” tanya Hanin di tengah jalan.

“Maksud, Nona, Nyonya Sabrina?”

“Apa ada wanita lainnya di sini selain dia?”

“Dia sebenarnya jarang datang ke perusahaan, dia lebih sering pergi bersama teman-temannya untuk kumpul-kumpul, makan-makan dan acara pada umumnya wanita-wanita elite seperti mereka. Dia ada di jam sebelum Luna berangkat sekolah, karena setelah itu dia tidak akan betah tinggal di rumah sendirian. Dia pergi dan pulang saat petang sebelum Tuan Aariz pulang.”

“Kak Daniyal tahu banyak tentang keluarga ayahku. Lain kali apa bisa berbicara atau bertemu dengan kakak.”

Daniyal diam berpikir sebelum menjawabnya.

“Kalau tidak mau enggak papa.” Hanin pura-pura merajuk.

“Siap, Nona, Anda boleh menyimpan nomor kontak saya.” Akhirnya Daniyal menyetujuinya, meskipun dia cemas karena takut ketahuan Aariz.

Hanin tersenyum senang. Dia mengeluarkan ponselnya lalu memasukkan nomor Daniyal dalam daftar kontaknya.

“Tapi, jangan bilang pada Tuan kalau saya memberikan nomor kontak ini pada Anda.”

“Tenang saja.”

Mereka melanjutkan masuk ke dalam rumah.

“Daniyal kau boleh pulang sekarang, besok datang kemari tepat waktu!”

“Baik, Tuan.”

Daniyal pergi, tinggal Hanin masih berdiri mematung di tengah ruang utama. Memperhatikan suasana rumah itu yang terlihat cukup nyaman. Rumah mewah yang jauh lebih besar dari rumah milik Papa Elvan sebelumnya. Keadaannya sangat rapi dan bersih. Hanin perkirakan ada banyak asisten di rumah itu.

“Hani, ayah antar kamu ke kamarmu,” ajak Aariz.

“Biar aku saja, Aariz,” ujar Sabrina.

“Tidak perlu,” kata Aariz. Dia langsung membawa Hanin untuk di perkenalkan dengan rumah itu, dibawa berkeliling.

Kamar Aariz dan Sabrina ada di lantai bawah, sementara Luna dan Hanin di lantai 2. Satu lantai atas adalah kolam renang pribadi, ruang santai dan dilengkapi dapur kecil.

Di rumah itu ada dua asisten rumah, Paman Omar dan Bibi Zaenab. Kelihatannya mereka baik, Hanin bertemu dengan mereka saat di dapur.

“Sekarang kau istirahat, kalau butuh bantuan untuk merapikan pakaianmu kau bisa meminta bantuan Bibi Zaenab,” kata Aariz begitu tiba di kamar Hanin.

“Iya, Ayah.”

“Selamat datang, Hani, semoga kau kerasan tinggal di rumah ayah.”

Aariz merentangkan tangannya, Hanin mendekat menerima pelukan hangat ayahnya. Pelukan yang membuatnya merasa terlindungi. Hanin berharap hanya dirinya yang mendapat pelukan hangat itu dari ayahnya, bukan Sabrina maupun Luna.

“Baba, min hadhih alfatati?” suara keras seorang gadis memecah suasana. Luna, gadis remaja berusia lima belas tahun berdiri di depan pintu. Tatapan tak senang terlihat di wajahnya. Ia bahkan langsung berlari ke arah mereka dan menyingkirkan Hanin dari pelukan Aariz.

1
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!