NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: MAWAR DI BALIK DURI

​Pagi itu, Adrian tidak muncul dengan jas formalnya yang kaku. Ia mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan lebih santai namun tetap memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Ia menemukan Ghea sedang berdiri di balkon, menatap hutan pinus dengan tatapan yang sengaja dibuat sendu.

​"Kau tampak sangat tenang pagi ini, Ghea," suara Adrian memecah keheningan.

​Ghea berbalik, memberikan senyum tipis yang tampak rapuh. "Udara di sini mengingatkanku pada sesuatu yang jauh di masa lalu. Tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas."

​Adrian mendekat, menyampirkan sehelai syal kasmir ke bahu Ghea. "Mungkin kau tidak perlu mengingat masa lalu yang menyakitkan. Mari kita buat kenangan baru. Ikutlah denganku, ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu."

​Adrian membimbing Ghea melewati lorong-lorong villa yang belum pernah ia lalui. Mereka sampai di sebuah pintu kayu ek tua yang tersembunyi di balik sebuah lukisan besar. Saat Adrian membukanya, Ghea tertegun.

​Itu adalah sebuah Taman Rahasia yang berada di tengah-tengah struktur villa, seolah-olah bangunan mewah itu dibangun mengelilingi tempat ini. Taman itu penuh dengan mawar putih—ratusan, mungkin ribuan—yang sedang mekar sempurna. Wanginya begitu kuat, manis namun memiliki aroma yang entah mengapa terasa seperti duka.

​"Indah sekali..." bisik Ghea. Ia melangkah masuk, jemarinya menyentuh kelopak mawar yang lembut. "Kenapa kau menyembunyikan tempat sesempurna ini?"

​Adrian berdiri di tengah taman, tatapannya menerawang jauh melampaui tembok-tembok villa. "Ini adalah taman ibuku. Dahulu, sebelum semuanya hancur, dia menghabiskan seluruh waktunya di sini. Dia selalu berkata bahwa mawar putih adalah simbol dari cinta yang tak ternoda, namun ia lupa bahwa mawar selalu memiliki duri untuk melindungi dirinya."

​Ghea menoleh, menangkap kilat kesedihan yang jarang terlihat di mata Adrian. Inilah saatnya. Ghea harus memetakan luka ini. Ia harus menjadi cermin bagi kesedihan Adrian agar pria itu merasa memiliki belahan jiwa.

​"Ibumu... di mana dia sekarang?" tanya Ghea dengan nada yang sangat lembut, seolah takut merusak suasana.

​Adrian tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat pahit. "Dia mati karena mencintai orang yang salah. Ayahku... pria itu menghancurkannya berkeping-keping hingga tidak ada yang tersisa selain mawar-mawar ini. Dia membiarkan ibuku layu dalam kesepian sementara dia mengejar kekuasaan dan wanita lain."

​Ghea melangkah mendekati Adrian, memberanikan diri untuk menggenggam tangan pria itu. Tangannya terasa dingin, namun ia tetap bertahan. "Jadi itu sebabnya kau begitu posesif padaku? Karena kau takut aku akan layu seperti ibumu jika kau tidak melindungiku?"

​Adrian menatap Ghea lekat-lekat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, Ghea. Aku tidak akan menjadi seperti ayahku yang membiarkan hartanya yang paling berharga hancur."

​Ghea menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, sebuah gerakan manipulatif yang sempurna. "Aku merasakannya, Adrian. Rasa sakitmu. Kadang aku merasa kita memiliki luka yang sama, meski penyebabnya berbeda."

​Adrian membelai rambut Ghea, tampak sangat terbuai oleh simpati palsu yang diberikan wanita itu. "Kau adalah satu-satunya orang yang bisa memahami ini, Ghea. Itulah sebabnya kau harus tetap di sini. Di dunia luar, orang-orang hanya akan memetik kelopakmu dan membuangmu saat kau layu."

​Ghea terdiam, otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Ia mencatat setiap detail: Adrian memiliki kebencian mendalam pada ayahnya, rasa bersalah yang besar terhadap ibunya, dan sebuah trauma akan kehilangan yang membuatnya menjadi monster posesif. Ini adalah celah emosional yang bisa ia gunakan.

​Sambil tetap bersandar pada Adrian, mata Ghea menyisir taman itu. Ia melihat sebuah bangku taman tua yang memiliki kaki besi berkarat. Di sudut bangku itu, ada sebuah sekrup besar yang hampir lepas. Jika ia bisa mengambilnya, itu bisa menjadi alat yang lebih kuat daripada kunci titaniumnya untuk membuka panel-panel listrik atau bahkan kunci manual.

​"Boleh aku menghabiskan waktu di sini setiap hari?" tanya Ghea, menatap Adrian dengan mata memohon.

​"Tentu, Sayang. Tempat ini adalah milikmu sekarang," jawab Adrian tanpa curiga.

​Ghea lalu sengaja menjatuhkan syalnya di dekat bangku taman itu. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, tangannya dengan secepat kilat meraih sekrup besar yang sudah goyah tersebut. Dengan satu tarikan kuat yang disamarkan oleh gerakan mengambil syal, sekrup itu kini berada di dalam genggamannya.

​Ia menyembunyikan benda logam tajam itu di balik lipatan syalnya.

​"Terima kasih, Adrian. Aku merasa... jauh lebih tenang sekarang," ucap Ghea sambil tersenyum manis.

​Adrian mengecup kening Ghea. Pria itu merasa sangat bahagia karena mengira ia telah berhasil membagikan rahasia terdalamnya kepada Ghea dan mendapatkan simpati wanita itu sebagai balasan. Ia tidak menyadari bahwa Ghea baru saja menggunakan cerita tentang ibunya untuk memetakan kelemahan psikologisnya.

​Bagi Adrian, taman ini adalah tempat perlindungan. Bagi Ghea, taman ini adalah laboratorium untuk mencari alat kematian.

​Saat mereka berjalan kembali menuju bangunan utama, Ghea meremas sekrup di balik syalnya. Ia merasa satu langkah lebih maju. Ia kini tahu bahwa Adrian bukan hanya seorang psikopat berdarah dingin; ia adalah seorang pria kecil yang terluka dan mencoba menjadi Tuhan di dunianya sendiri.

​Kau menceritakan tentang ibumu agar aku mencintaimu, Adrian, batin Ghea dingin saat mereka melewati pintu rahasia itu kembali. Tapi kau hanya memberiku peta untuk menghancurkan jantungmu lebih dalam lagi. Mawar putihmu mungkin indah, tapi duri yang kutanam akan jauh lebih mematikan.

​Malam itu, Ghea menyimpan sekrup besar itu di bawah bantalnya, bersanding dengan kunci titanium dan botol kimia yang ia curi dari dapur. Koleksi senjatanya mulai lengkap, namun yang paling tajam dari semuanya adalah informasi tentang masa lalu Adrian yang kini ia pegang erat.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!