Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ariel melangkah masuk ke ruang kerja dengan wajah yang tampak lelah namun penuh simpati.
Ia segera menghampiri Relia, menggenggam kedua tangan istrinya yang terasa dingin.
"Sayang," suara Ariel rendah dan lembut, mencoba memberikan kekuatan.
"Aku baru saja mendapat laporan medis terbaru dari rumah sakit. Kondisi Sarah menurun drastis. Organ-organnya mulai mengalami kegagalan fungsi akibat komplikasi dosis obat yang ia telan."
Relia menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak, hanya terdengar suara rintik hujan yang semakin deras di luar.
"Mas tahu betapa sulitnya ini bagimu," lanjut Ariel.
"Aku tidak akan memintamu untuk memeluknya atau berbicara dengannya jika kamu belum siap. Tapi, sebagai dokter dan sebagai suamimu, aku hanya tidak ingin kamu hidup dengan rasa penyesalan seumur hidup jika sesuatu yang buruk terjadi malam ini."
Ariel mengusap lembut ibu jari Relia. "Bagaimana kalau kita ke sana sekarang? Kamu cukup melihatnya dari balik kaca ruang ICU. Kamu tidak perlu masuk, tidak perlu bicara. Hanya melihatnya dari jauh, untuk memberikan penutupan bagi batinmu sendiri."
Relia menunduk, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi tangannya.
Ia teringat masa kecil mereka, saat Sarah menyisir rambutnya dengan penuh kasih sayang sebelum segala sesuatunya berubah menjadi mimpi buruk.
"Apakah dia benar-benar akan pergi, Mas?" tanya Relia dengan suara parau.
"Kondisinya kritis, Sayang. Malam ini adalah masa yang paling menentukan," jawab Ariel jujur.
Relia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Ia menatap Ariel dan mengangguk pelan. "Baik, Mas. Aku ikut. Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali, meskipun hanya dari jauh."
Ariel mengecup kening istrinya dengan rasa lega.
"Ayo. Satrio sudah menyiapkan mobil di depan."
Lampu neon di koridor ICU terasa begitu dingin, namun panas di dada Relia tak lagi tertahankan.
Begitu ia berdiri di depan kaca besar itu, ia melihat Sarah.
Kakak yang dulu ia benci, kakak yang pernah mengkhianatinya—tampak begitu rapuh di balik tumpukan kabel dan selang.
Tepat saat itu, kelopak mata Sarah bergerak perlahan.
Matanya yang sayu bertemu dengan tatapan Relia.
Ada kilatan kerinduan dan kepedihan yang mendalam di sana.
Relia tidak bisa lagi menahan dirinya. Mengabaikan semua sekat kebencian yang ia bangun, ia mendorong pintu kaca itu.
Ariel sempat terkejut, namun ia memberikan ruang bagi istrinya, memberikan isyarat pada perawat agar membiarkan momen ini terjadi.
Relia melangkah mendekat ke ranjang, dan saat tangannya menyentuh tangan Sarah yang dingin, pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Ia membungkuk, memeluk tubuh kakaknya dengan hati-hati namun erat, seolah mencoba menyalurkan nyawa dari tubuhnya sendiri.
"Kakak harus sembuh," bisik Relia di telinga Sarah, suaranya pecah oleh tangis.
"Jangan tinggalkan aku sekarang. Aku sudah kehilangan banyak hal, aku tidak mau kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa."
Sarah yang sudah sangat lemah, berusaha menggerakkan jarinya untuk membalas genggaman Relia.
Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi bantal rumah sakit yang putih bersih.
"Kakak harus temani aku melihat dunia yang baru. Kita mulai lagi dari awal, Kak. Janji ya, Kak? Kakak harus kuat," tangis Relia semakin pecah.
"Janji ya, Kak?"
Sarah tidak mampu mengeluarkan kata-kata karena masker oksigen yang menempel di wajahnya, namun ia menangis sesenggukan.
Bahunya bergetar hebat. Isak tangisnya adalah suara penyesalan yang paling jujur yang pernah Relia dengar.
Dalam tangisan itu, Sarah seolah memohon ampun atas setiap detik luka yang pernah ia torehkan pada adiknya.
Ariel berdiri di ambang pintu, matanya ikut berkaca-kaca melihat rekonsiliasi yang begitu memilukan itu.
Ia tahu, momen ini adalah bagian dari penyembuhan jiwa Relia yang paling besar.
Melihat grafik di monitor yang perlahan mulai stabil, Ariel memberikan isyarat kepada para perawat untuk tetap tenang.
Kehadiran Relia ternyata menjadi obat yang jauh lebih kuat daripada dosis kimia mana pun di ruangan itu.
Relia mengusap air mata di pipinya, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya masih perih.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah, membisikkan janji yang memberikan harapan baru bagi sang kakak.
"Kak, Kakak harus cepat pulih. Aku tahu Kakak harus mempertanggungjawabkan semuanya di hukum nanti, tapi aku janji,.aku akan selalu menjenguk Kakak saat di penjara," ucap Relia lembut.
Sarah menatap Relia dengan tatapan yang kini lebih jernih, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat karena pengampunan adiknya.
"Nanti kalau aku datang, Kakak mau aku masakkan apa? Cumi hitam, ya?" tanya Relia sambil mengusap punggung tangan Sarah.
"Aku masih ingat itu makanan kesukaan Kakak. Aku akan masak yang paling enak untuk Kakak."
Mendengar kata "cumi hitam", sebuah kenangan masa kecil yang manis seolah melintas di antara mereka.
Sarah memberikan respons yang paling kuat sejak ia masuk rumah sakit; ia menggenggam tangan Relia dengan sisa-sisa kekuatannya dan menganggukkan kepalanya perlahan.
Air mata syukurnya mengalir, bukan lagi karena putus asa, melainkan karena ia merasa masih memiliki alasan untuk tetap hidup dan menebus kesalahannya.
Ariel melangkah masuk dan merangkul bahu Relia dari belakang.
"Sudah ya, Sayang. Kak Sarah butuh istirahat total supaya kondisinya terus membaik. Kita berikan waktu untuk tim medis bekerja."
Relia mencium punggung tangan kakaknya sekali lagi sebelum berdiri.
"Aku pulang dulu, Kak. Besok aku ke sini lagi. Ingat janji kita."
Saat mereka berjalan keluar dari ruang ICU, Relia merasa hatinya jauh lebih ringan.
Dendam itu telah luruh, digantikan oleh harapan akan sebuah awal yang baru, meski jalan menuju sana masih panjang.
Pintu mobil SUV itu tertutup rapat, mengunci suara deru hujan Jakarta di luar.
Di dalam kabin yang tenang dan remang, Ariel segera menarik Relia ke dalam pelukannya.
Ia membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya, tempat paling aman di seluruh dunia bagi Relia.
"Terima kasih, bidadariku," bisik Ariel dengan suara yang bergetar karena haru.
"Terima kasih sudah memilih untuk memaafkan. Kamu adalah jiwa paling cantik yang pernah aku temui."
Relia tidak lagi menahan isak tangisnya. Ia menangis sesenggukan di pelukan Ariel, tangannya meremas kemeja suaminya hingga kusut.
Semua emosi yang ia pendam selama berbulan-bulan—rasa benci, dikhianati, hingga rasa rindu pada sosok kakak—tumpah ruah malam itu.
"Aku ingin marah, Mas. Aku ingin sekali membencinya sampai mati," ucap Relia di sela tangisnya yang sesak.
"Tapi saat melihatnya sekecil itu di atas ranjang, aku tidak tega. Aku melihat Kakak yang dulu melindungiku sebelum Markus menghancurkan hatinya. Aku tidak bisa membiarkannya pergi membawa kebencianku."
Ariel mengusap punggung Relia dengan gerakan memutar yang menenangkan, membiarkan istrinya mengeluarkan seluruh bebannya.
"Itu bukan tanda kelemahan, Sayang. Itu adalah kekuatan. Hanya orang yang benar-benar kuat yang bisa melepaskan dendam saat mereka punya alasan untuk marah."
Relia mendongak, menatap Ariel dengan mata yang sembab namun kini tampak lebih jernih.
"Apakah aku salah, Mas? Setelah semua yang dia lakukan padaku?"
"Tidak, Relia. Kamu melakukan hal yang benar untuk dirimu sendiri," jawab Ariel tegas sambil menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jari.
"Dengan memaafkan, kamu tidak lagi terikat pada masa lalu. Kamu sudah benar-benar merdeka sekarang."
Mobil perlahan melaju membelah jalanan kota yang basah.
Di bawah lampu jalan yang kekuningan, Relia menyandarkan kepalanya di bahu Ariel, menatap keluar jendela.
Ia merasa seperti baru saja melepaskan batu besar yang selama ini mengikat kakinya di dasar laut.
Di dalam kabin mobil yang bergerak perlahan, hanya ada suara sapuan wiper dan musik instrumen pelan dari radio.
Relia menyandarkan keningnya di kaca jendela yang dingin, menatap butiran air hujan yang berkejaran turun, membiaskan lampu-lampu kota Jakarta yang tampak seperti lukisan abstrak yang basah.
Tangan kirinya meraih iPad yang sejak tadi ia peluk.
Di bawah cahaya lampu kabin yang temaram, jemarinya mulai mengetik, menuangkan sisa-sisa sesak dan kelegaan yang masih berputar di dadanya.
Bab: Hujan di Balik Kaca
Hujan malam ini terasa berbeda. Ia tidak lagi terdengar seperti ancaman atau langkah kaki yang mengejarku dalam gelap.
Malam ini, rintiknya terdengar seperti simfoni pembersihan—membasuh sisa-sisa amarah yang sempat berkarat di sudut hati.
Ternyata, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan adalah cara jiwaku melepaskan rantai yang mengikatku pada rasa sakit.
Tadi, saat aku memeluknya, aku tidak hanya memeluk seorang kakak yang hancur; aku sedang memeluk diriku sendiri yang dulu terluka.
Aku ingin marah, aku ingin berteriak pada dunia tentang ketidakadilan ini. Namun, saat menatap matanya yang redup, aku sadar bahwa kebencian adalah beban yang terlalu berat untuk dibawa pulang.
Aku lebih memilih membawa pulang kedamaian.
Terima kasih untuk pria di sampingku, yang tidak pernah memaksaku menjadi kuat, tapi selalu ada saat aku merasa rapuh.
Melalui jendela yang basah ini, aku melihat masa depan yang tidak lagi berkabut.
Hujan akan reda, dan besok, aku akan memasak cumi hitam itu—bukan sebagai tanda kekalahan, tapi sebagai bumbu pertama dari kehidupan baru yang kami mulai.
Relia menekan tombol save dengan helaan napas panjang yang lega. Ia mematikan layar iPad-nya, lalu menoleh ke arah Ariel yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum tipis yang penuh kekaguman.
Ariel meraih tangan Relia, mengecupnya lembut tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depan.
"Tulisan yang indah?" tanya Ariel pelan.
"Tulisan yang jujur, Mas," jawab Relia sambil menggenggam balik tangan suaminya.
Mobil terus melaju, menembus sisa hujan malam itu, membawa mereka pulang ke rumah yang kini benar-benar terasa seperti istana kedamaian.
mudah"an relia selamat