Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Hidup di Bawah Reruntuhan
Hujan deras mengguyur kota Semarang, tapi bagi Sinta, air yang turun dari langit itu tidak terasa sedingin kenyataan yang harus ia hadapi.
Di sebuah kamar kos berukuran tiga kali tiga meter di pinggiran kawasan industri, Sinta terduduk di atas kasur lantai yang tipis dan berbau apek. Tidak ada lagi AC, tidak ada lagi sofa krem mewah, dan tidak ada lagi cermin besar tempat ia biasa mematut diri sebelum berangkat ke kantor firma arsitek.
Rumahnya sudah resmi disita bank. Semua barang-barangnya, mulai dari kulkas hingga mesin cuci, diangkut untuk menutupi hutang-hutang Rangga yang tidak masuk akal. Sekarang, yang tersisa hanyalah satu koper pakaian dan beberapa peralatan mandi.
Sinta menatap tangannya yang kini kasar. Karena statusnya yang bermasalah dengan bank dan kasus penipuan Rangga yang menyeret namanya ke kepolisian, Sinta dipecat dari kantornya secara tidak hormat.
Tidak ada firma arsitek lain yang mau menerimanya. Sekarang, ia bekerja sebagai tenaga administrasi harian di sebuah gudang material bangunan. Tugasnya adalah menghitung jumlah sak semen dan tumpukan besi yang masuk di bawah terik matahari atau siraman hujan.
"Sinta! Ini ada kiriman surat buat kamu!" teriak ibu kos dari balik pintu kayu yang sudah lapuk.
Sinta membuka pintu. Sebuah amplop cokelat kusam ia terima. Begitu melihat pengirimnya, jantung Sinta berdegup kencang. Itu dari lembaga pemasyarakatan. Dari Rangga.
Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu, berharap ada kata maaf atau setidaknya ungkapan rindu yang tulus. Tapi, isi surat itu justru menjadi belati terakhir yang merobek jantungnya.
"Sin, aku tahu kamu lagi susah. Tapi tolonglah, di sini aku butuh uang buat makan yang layak dan biaya pengacara untuk banding. Kamu kan masih punya koneksi teman-teman arsitek, pinjamlah dulu ke mereka. Atau kalau perlu, kamu hubungi Senja. Rayu dia, minta maaf, bilang kamu menyesal. Dia pasti luluh kalau kamu yang minta. Nanti kalau aku sudah keluar, kita bangun hidup baru lagi. Aku janji."
Sinta meremas surat itu sampai hancur. "Bangun hidup baru?" gumamnya dengan tawa miris yang terdengar seperti tangisan.
"Pakai apa, Mas? Rumahku sudah hilang, emas ibuku sudah habis, namaku sudah busuk... dan kamu masih minta aku mengemis pada Senja?"
Di titik inilah, Sinta benar-benar merasakan apa yang dirasakan Senja dulu. Rasa mual karena menyadari bahwa orang yang ia tolong hanyalah seekor lintah yang tidak akan berhenti menghisap sampai inangnya mati. Ia teringat betapa sombongnya ia dulu menasehati Senja tentang "kesempatan kedua" dan "hati yang mulia". Sekarang, semua kalimat itu terasa seperti ludah yang berbalik mengenai wajahnya sendiri.
Sore harinya, Sinta berjalan kaki menuju sebuah warung makan kecil di dekat gudang tempatnya bekerja. Ia hanya punya uang sepuluh ribu rupiah di kantongnya untuk makan malam. Saat ia sedang menunggu pesanannya, matanya terpaku pada sebuah majalah properti lama yang tergeletak di meja warung.
Di sampul majalah itu, ada foto Senja Amara. Senja tampak begitu anggun dengan pakaian profesional, berdiri di depan sebuah maket bangunan megah. Judul artikelnya: "Senja Amara: Arsitek yang Membangun Kembali Kejayaannya di Ibu Kota."
Sinta mengelus wajah Senja di foto itu dengan ujung jarinya yang kotor karena debu semen. Air matanya jatuh, menetes di atas kertas majalah yang mengkilap.
"Maafin aku, Ja..." bisik Sinta lirih. "Aku pikir aku lebih baik dari kamu karena aku punya 'perasaan'. Ternyata aku cuma lebih bodoh dari kamu karena aku nggak punya logika."
Tiba-tiba, suara klakson mobil mewah mengejutkannya. Sebuah mobil SUV putih bersih berhenti di depan warung untuk menghindari genangan air. Sinta melihat ke arah mobil itu. Di dalamnya, ia melihat seorang wanita yang mirip sekali dengan Mbak Sari, sedang tertawa sambil memegang kopi bermerek. Mereka tampak begitu jauh dari dunia Sinta yang sekarang penuh lumpur dan bau semen.
Sinta segera menundukkan kepala, menutup wajahnya dengan rambutnya yang kini kusam dan lepek. Ia merasa sangat malu. Ia takut jika ada orang dari masa lalunya yang mengenalinya sebagai "Sinta si Arsitek" yang dulu begitu vokal di grup WhatsApp kantor.
Dunia Sinta benar-benar sudah rata dengan tanah. Ia kini hidup di bawah reruntuhan egonya sendiri. Ia menyadari bahwa memungut "sampah" yang dibuang orang lain tidak menjadikannya seorang pahlawan, melainkan menjadikannya tempat sampah yang baru.
Malam itu, Sinta tidak bisa tidur. Perutnya melilit karena sakit maag yang mulai kambuh, dan udara di kamar kosnya sangat pengap. Ia mengambil ponselnya yang layarnya retak, mencoba mencari nama Senja di kontak, tapi ia sadar nomornya sudah diblokir sejak lama.
Ia kemudian membuka media sosial menggunakan akun palsu hanya untuk melihat kabar Senja. Ia melihat foto terbaru Senja sedang berada di sebuah acara gala dinner di Jakarta.
Senja tampak begitu bahagia, dikelilingi oleh orang-orang hebat. Tidak ada raut dendam di wajah Senja. Senja terlihat sudah benar-benar melupakan bahwa ada orang bernama Sinta di dunia ini.
Itulah hukuman paling berat bagi Sinta: Dilupakan.
Senja tidak perlu memaki Sinta. Senja tidak perlu membalas perbuatan Sinta. Keberhasilan Senja dan ketidakpeduliannya adalah tamparan yang jauh lebih menyakitkan daripada seribu makian. Sinta menyadari bahwa bagi Senja, dia hanyalah sebuah "kesalahan teknis" dalam desain hidup yang kini sudah diperbaiki.
Sinta mematikan lampu kamarnya yang remang-remang. Di tengah kegelapan, ia hanya bisa mendengar suara tikus yang mencicit di balik plafon, persis seperti bayang-bayang Rangga yang terus mengejarnya untuk meminta uang.
Sinta menangis tanpa suara sampai tertidur. Ia bermimpi sedang membangun sebuah rumah besar, tapi setiap kali ia memasang batu bata, batu itu berubah menjadi debu semen yang menyesakkan napasnya. Ia telah membangun penjara bagi dirinya sendiri, dan kuncinya telah ia buang saat ia memilih untuk memihak pada seorang pengkhianat.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭