Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Ruangan itu didominasi oleh kesunyian yang mencekam, hanya terdengar desis pendingin dari sudut-sudut ruangan yang mengeluarkan asap putih tipis. Karina bergerak gelisah di dekat box bening yang berisi Ranra, nafasnya agak tersengal karena rasa dingin yang semakin menusuk.
“Apa yang terjadi di luar?” tanya Karina pada Tasya. Tasya tampak lebih tenang, namun kedua matanya tetap waspada.
“Entahlah, mungkin mereka sedang berusaha mengusir Hugo,” jawab Tasya pelan.
Sudah hampir satu jam sejak Damon keluar, namun masih belum ada tanda-tanda dia akan kembali. Karina semakin gelisah, berjalan mondar-mandir di antara kotak-kotak dan perabotan, hingga akhirnya ia berhenti ketika merasakan suhu ruangan tiba-tiba semakin dingin, menusuk hingga ke tulang.
“Tasya,” panggil Karina dengan suara bergetar.
Tasya menoleh. “Iya, kenapa?”
“Kamu ngerasain nggak? Suhu di ruangan ini tambah dingin,” tanya Karina, bulu kuduknya berdiri.
“Ya, aku juga merasakannya,” jawab Tasya sambil mengusap tengkuknya yang merinding. Suasana di ruangan itu semakin membuat hati mereka berdebar.
Keduanya saling menatap, lalu entah kenapa, secara bersamaan mereka melirik ke dalam box Ranra. Dari sanalah, sepasang mata Ranra yang kini sudah sepenuhnya hitam menatap tajam, menyorot mereka berdua dengan intensitas yang membekukan.
“Aku salah lihat, pasti salah lihat,” gumam Karina sambil mengucek matanya cepat.
Namun tidak. Saat matanya kembali dibuka, mata itu masih menatapnya, tidak berkedip, menembus rasa takut hingga ke tulang.
Karina dan Tasya saling berpandangan dengan nafas tercekat. Suhu dingin di ruangan itu semakin menusuk.
Tiba-tiba, box bening itu bergetar pelan. Awalnya halus, seperti pergerakan air yang bergerak tenang, namun semakin lama semakin terasa nyata dan cepat. Karina memegang erat tangan Tasya.
“Ranra?” bisik Karina nyaris tidak terdengar.
Tasya merapatkan tangannya ke tangan Karina, menatap box itu dengan mata melebar. “Jangan, jangan sampai dia bergerak!”
Box itu bergetar lagi, kali ini lebih kuat. Cairan biru gelap di dalamnya bergoyang, dan tubuh Ranra, meski mati seakan menyesuaikan posisi, kepalanya sedikit menunduk, tangan-tangannya bergerak sedikit, seperti berusaha meraih sesuatu.
Karina mundur beberapa langkah, menabrak kursi di dekatnya. Jantungnya berdetak kencang. “T-Tasya, ini, ini tidak mungkin…” Suaranya gemetar hebat.
Tasya menahan Karina. “Tenang. Fokus, kita harus tetap tenang,” ucapnya, meskipun tangan mereka bergetar tak terkendali.
Box itu kembali bergetar keras, dan sebuah suara lirih, nyaris seperti bisikan dari dalam, terdengar samar.
“Aku di sini…”
Karina menutup mulutnya, matanya melebar, bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya terasa kaku, seperti semua ototnya menolak bergerak. Cairan di dalam box bergelombang, dan sesaat, kepalanya Ranra mengangkat sedikit, menatap mereka seperti mata hitam itu akan menembus jiwa mereka.
“Ini gila,” Karina hampir terdengar berbisik, tapi suaranya tersendat.
“Kita harus tunggu Damon. Jangan coba apa-apa, Karin, jangan.” Tasya ikut berbisik sambil mengeratkan tangannya di tangan Karina.
Mata Karina tidak bisa melepaskan pandangan dari Ranra. Tubuh Ranra bergerak lagi, kali ini sedikit menengadah, bibirnya yang membiru bergerak. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Panik merambat ke seluruh tubuh Karina. Ia menatap Tasya, tapi Tasya pun tampak sama ketakutannya. Damon harus segera kembali atau mereka tidak akan bisa mengendalikan apa yang sedang terjadi.
Tapi tak lama kemudian, Ranra kembali diam. Matanya terpejam, dan getaran di dalam kotak berhenti sepenuhnya. Hening.
“Huft, syukurlah.” Karina menghembuskan napas lega, tangannya menekan dadanya yang sesak sejak tadi. Tubuhnya masih gemetar karena ketegangan yang baru saja melintas.
“Stttt!” Tasya menempelkan jari telunjuk di bibirnya, meminta Karina diam. “Ada seseorang di luar,” bisiknya.
Kepanikan yang tadi sempat mereda, kini kembali menyelimuti Karina. Pikiran buruk mulai membanjiri benaknya. Bagaimana kalau itu Hugo dan komplotannya yang datang untuk menculiknya lagi?
“Tasya,” Karina menatap temannya dengan mata melebar penuh kecemasan. “Kita, kita harus sembunyi dulu, sebelum mereka masuk.”
Karina menoleh sekeliling ruangan, matanya menelusuri setiap sudut. Uap putih tipis dari pendingin membuat bayangan di ruangan itu bergerak samar-samar.
“Tasya, ada tempat sembunyi nggak?” bisik Karina, suaranya nyaris tenggelam oleh desisan udara dingin.
Tasya menatap sekeliling dengan cepat, lalu menunjuk ke pojok ruangan di balik tabir uap. “Di sana. Kita bisa bersembunyi di balik box-box penyimpanan. Tapi diam saja, jangan bergerak terlalu banyak.”
Karina mengangguk pelan, langkahnya nyaris tak bersuara saat menempelkan diri ke dinding. Tasya menggeser satu box besar ke samping, membukakan celah kecil. “Masuk ke sini,” bisiknya lagi.
Karina merunduk dan masuk perlahan, tubuhnya hampir menempel ke Tasya. “Kamu pikir, siapa yang di luar?” bisiknya, mata menatap ke celah kecil antara box dan dinding.
Tasya menghela napas pelan, mengangkat bahunya. “Aku nggak tahu, tapi aura di luar berbeda. Aku merasakan sesuatu yang lain.”
Karina menelan ludah, bulu kuduknya berdiri. “Jangan bilang kalau itu… Hugo?”
“Kalau itu Hugo, kita nggak akan selamat kalau sampai ketahuan. Tapi mungkin juga bukan dia. Entahlah, kita harus tunggu Damon kembali.”
Mereka berdua menahan nafas, bisikan mereka satu-satunya suara yang terdengar di tengah keheningan ruangan. Uap putih terus berputar pelan di sekitar kotak bening Ranra.
Karina merapat ke Tasya, tubuhnya masih gemetar. “Aku takut,” bisiknya.
“Aku juga,” jawab Tasya, menekan bahu Karina untuk menenangkan. “Tapi kita harus bertahan sampai Damon kembali. Diam dan jangan membuat suara apapun.”
Mereka berdua menatap celah kecil ke arah pintu, siap untuk bergerak atau menunduk lebih dalam jika bayangan di luar mulai mendekat.
...***...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor