Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Tim Pengganti
Hai, aku datang lagi. Cerita kali ini lebih ringan ya. Semoga suka dan baca sampai selesai. Jangan di skip apalagi ditinggalkan, nanti author cubit nihhhh. Thanks before dan jangan lupa tinggalkan jejak.
\=\=\=\=\=\=\=
Bab 1
“Sa, makasih ya. Lo pahlawan gue banget.”
Lisa hanya tersenyum kecut saat rekan sejawatnya menjabat tangan dengan wajah sendu dan kedua mata berkaca-kaca.
“Biasa aja kali.”
“Lo hati-hati di sana ya. Kalau butuh apa-apa kabarin?”
“Lah, mau ngapain? Kirim kebutuhan gua atau ….”
“Nggak, gue doain semoga Tuhan penuhi kebutuhan lo. Nggak mungkinlah gue langsung lari ke tempat itu bawa kabulkan apa yang lo mau apalagi sampai gantiin posisi lo. Ogah banget.”
“Hah, dasar.” Lisa mengibaskan tangan di depan wajah sambil tersenyum lalu mengusir rekannya. Takutnya ia menyesal dan membatalkan keberangkatan itu.
Profesinya sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah dengan program pengabdian di pelosok desa. Sebenarnya nama Lisa tidak tercantum dalam keberangkatan tersebut, tapi Manda rekan sejawatnya yang terpilih. Menangis saat namanya sudah tercantum dan berniat berhenti dari rumah sakit itu. Alasannya karena orangtua yang sudah sepuh, tidak mungkin ditinggal jauh di mana dia anak satu-satunya juga sedang mempersiapkan pernikahan impian.
Menjadi pahlawan kesiangan bukan pilihannya. Ingin menjauh dari keluarga yang menurutnya toxic. Kecewa karena Ayahnya menikah lagi bulan lalu, padahal kematian ibunya belum genap satu tahun. Bukan tidak peduli dan tidak mengerti dengan kondisi Ayahnya, tapi hubungan mereka jadi buruk semenjak ibu dan adik sambungnya hadir.
“Lisa, saranghaeyo,” ujar Manda sambil membentuk cinta dengan kedua jarinya.
“Hah, lebay. Udah sana, nanti gue melow terus batal berangkat.” Lisa menarik koper menuju tempat kumpul untuk brifing sebelum keberangkatan tugas di tempat baru.
“Sering telpon gue ya.”
“Ogah,” teriak Lisa sambil melambaikan tangan tanpa menatap Manda.
“Bye. Lisa!”
Lisa tersenyum lalu menghela nafasnya. Menuju lobby utara rumah sakit, titik kumpul sebelum berangkat. Bawaannya hanya satu koper besar dan tas jinjing yang disangkutkan di atas koper juga tas ransel yang dipakainya. Sudah mengirimkan satu tas lainnya berisi beberapa pasang sepatu dan sandal. Mungkin satu atau dua hari akan sampai.
“Nah, itu dia tersangkanya sudah datang.”
“Sorry, udah telat ya,” ujarnya.
“Ck, belum ngapa-ngapain masa udah telat aja sih,” ejek Rama. “Cepet sini, mau dibrief dulu. Habis ketemu sama Rizwan Karim ya?”
“Dih apaan sih, gak jelas.” Lisa meninggalkan kopernya dengan koper-koper lain, lalu bergabung dengan tim yang akan berangkat.
“Kan lo Lisa Marisini yang lagi viral.”
“Please deh, Ram! Shut up your mouth. Sini Lis,” ujar Yuli, baru dua tahun bekerja di rumah sakit itu sebagai bidan. KAlau dilihat penampilannya lebih mirip selebgram jika tanpa seragam profesinya.
“Oke, diabsen dulu ya. dokter Asoka?”
“Ya.” Pria dengan kaos polo navy dengan penampilan oppa korea mengangkat tangannya. Yang Lisa tahu pria itu dokter umum yang bertugas di UGD, tidak terlalu kenal karena tugasnya di bangsal rawat inap. Gayanya cool dan datar, bahkan sejak pertemuan untuk persiapan keberangkatan, hanya dia yang jarang bicara dan berinteraksi dengan yang lain. Bicara seperlunya, irit seperti mengirit uang di tanggal tua.
“Rama Purwangga?”
“Hadir.”
Rama profesinya perawat, biasanya bertugas di ruang OK atau ruang tindakan operasi. Sayang banget kalau harus bertugas di pelosok, karena tempat tugasnya hanya pusat kesehatan masyarakat dan tidak melakukan proses operasi.
“Sapri?”
“Di sini pak,” jawab Sapri dengan logat jawa yang begitu medok. Pemuda yang bertugas sebagai OB.
“Beni Juan.”
“Di sinilah, saya. Nggak kelihatan gitu?”
Lisa menoleh lalu tersenyum. Tidak aneh, Beni yang biasanya bertugas sebagai supir ambulance terkenal kocak bahkan sering dianggap seolah sedang stand up comedy.
“Ngapain pula pake diabsen, yang mau jalan Cuma enam biji. Dilihat pake mata juga cukup. Macam anak sekolah pake diabsen.”
“Sabar, bang Beni,” ucap Sapri sambil menepuk bahu pria itu.
“Tahan bang. waktu kita di sana lumayan panjang, satu tahun loh. Simpan energi dan emosimu kisanak, mana tahu apa yang akan terjadi di depan mata,” tutur Rama.
“Di depan mataku adanya belek,” sahut Beni lagi.
“Ish, kalian apaan sih. Ga Jelas deh. Udah pak lanjut lagi,” keluh Yuli.
Manager HRD kembali melanjutkan briefingnya setelah terkekeh karena perdebatan anggota tim. Menjelaskan singkat tugas dan keberangkatan serta kapan mereka dapat jadwal pulang ke jakarta dan kembali ke lokasi.
“Hah, jadi nggak bareng ya?” tanya Yuli
“Ya nggak dong. Kalau bareng di sana siapa yang jaga.” Kali ini Rama yang menanggapi
Lisa menghela nafas, bukan khawatir dengan tugas dan jadwal pulang ke jakarta per dua bulan sekali, itu pun hanya tiga hari. Menunduk sambil menatap layar ponsel dan membaca lagi pesan dari ayahnya.
Ayah
Kamu tega tinggalkan Ayah?
Awalnya ia ingin abaikan saja pria yang selalu dipanggil ayah dan dipuja bak ksatria, tapi perlahan rasa itu pudar berganti kecewa. Sejak Ibu Nina dan Inka menjadi keluarga karena ikatan pernikahan dan tinggal satu atap, banyak drama yang terjadi dan berakhir dia terpojok dengan status bersalah.
Ini adalah langkahnya untuk protes. Penjelasan pun percuma, karena dari awal ia kurang setuju, berharap Ayah mau menunda sampai genap satu tahun kepergiannya bunda. Setiap perdebatan dan pertengkarannya dengan Inka lalu dia malah menjadi tersangka, bahkan penjelasan kebenaran menurut pov-nya pun percuma. Ayah akan ikut menyalahkan dengan tuduhan ia melakukan itu karena tidak suka ayah menikah lagi.
Sudah ada Ibu Nina dan Inka. Mereka lebih mengerti Ayah dan bisa dipercaya dibanding aku sipembangkang
Balasan pesan darinya untuk ayah.
“Jaga kesehatan, jaga sikap dan jaga nama baik pribadi, profesi dan institusi.”
Lisa kembali fokus mendengarkan arahan dan tidak lama selesai. Mereka menuju mini bus yang sudah terparkir dan menaikan bawaan ke dalam bagasi. Ada 16 seat di mobil itu, satu deret kursi belakang dilepas untuk space bagasi yang lebih lebar.
Dokter Oka, menempati seat di belakang supir lalu baris berikutnya kosong dan berikutnya Lisa menempati kursi single sebaris dengan Yuli. Seat minibus itu 1-2 sampai ke belakang.
“Perjalanan menuju alam baka,” ucap Rama saat naik.
“Rama, mulut lo ya,” sentak Yuli.
“Apa sih ibu Bidan. Mau gue temenin nggak? Perjalanan kita jauh loh.”
“Ogah, sana belakang dan tutup mulut nyinyir lo itu.”
Lisa tersenyum lalu menggeleng pelan mendengarkan ocehan Yuli dan Rama. Meletakan ransel di samping kakinya, mengeratkan cardigan yang dipakai.
“Mas Rama sendiri ya?” tanya Sapri yang baru saja naik.
“Sendiri pala lo. Kita bareng-bareng sapri. Belum berangkat lo udah jet lag ya.”
“Maksud saya, duduk sendiri?”
“Kenapa, lo minta dipangku? Nggak ada, sana ke belakang. Gue jagain ibu bidan takut mendadak kedinginan.” Rama duduk di belakang Yuli.
“Idih, apaan lo.”
Dokter Oka sempat menoleh karena suara-suara perdebatan itu, tepat saat Lisa menatap ke depan dan pandangan mereka bertemu. Canggung, akhirnya Lisa mengangguk dengan senyum tipis karena tidak begitu kenal dengan Asoka.
Menyandarkan kepala bersiap untuk pemberangkatan, dalam hati Lisa sudah mengucap doa agar mereka selamat sampai tujuan dan kegiatan di sana berjalan lancar.
“Udah nih?” tanya Beni sudah melewati Lisa dan Yuli.
“Udah apaan bang?” tanya Rama menoleh karena Beni menempati kursi tunggal sebaris dengan Sapri di belakangnya.
“Udah siap jalan belum atau kita bubar saja sebelum masuk tol. Hah, gimana?”
“Jangan bercanda Bang Beni. Mending pimpin doa, biar berkah dan selamat,” usul Yuli ada benarnya.
“Oke. Kita doa dulu ya. Dokter Oka, maaf saya yang pimpin ya, secara usia saya paling muda.”
“Silahkan,” ujar dokter Oka.
“Kita mulai ya. Bismillahirrohmanirrohim. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut.”
“Aamiin,” sahut Sapri.
“Selimut mana selimut.” Kali ini Rama yang menimpali karena Beni malah membaca doa mau tidur
“Baek-baek, malah tidur selamanya,” ejek Yuli lalu terkekeh.
“Ya ampun,” keluh Lisa tidak menduga kalau ia berada di tengah pemain dagelan. Entah seperti apa kehidupannya setahun ke depan bersama orang-orang spesial ini.
------
Rama : Ehem, tes-tes, disini lapak trio semprul. Para suhu jangan ada yang nongol ya
Sakti : Apaan nih, kisah gue baru tamat, masih pengen eksis. Gue jadi figuran nggak thor ?
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur