Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Mengadopsi Kucing
Ashilla duduk di kursi penumpang, memeluk kucing itu di dadanya, berusaha menahan tangis saat merasakan tubuh kecil itu bergetar lemah.
“Bertahan ya… sebentar lagi sampai,” bisiknya pelan.
Ken mengemudi lebih cepat dari biasanya, namun tetap berhati-hati.
“Klinik hewan terdekat sekitar sepuluh menit dari sini,” katanya.
“Terima kasih,” ucap Ashilla lirih.
Ken tidak menjawab, tapi tangannya di setir mengencang.
Sesampainya di klinik, Ashilla langsung turun lebih dulu, berlari masuk sambil memanggil dokter.
“Tolong! Kucing ini tertabrak mobil!”
Dokter dan perawat segera datang, membawa tandu kecil dan mengambil kucing itu dari pelukan Ashilla.
“Kami akan tangani segera. Silakan tunggu di luar.”
Ashilla berdiri kaku di depan ruang periksa, tangannya masih terasa kosong.
Ken berdiri di sampingnya, memperhatikan jemari Ashilla yang gemetar.
“Kamu… suka hewan?” tanyanya pelan.
Ashilla mengangguk. “Waktu kecil, cuma hewan yang nggak pernah menyakitiku.”
Ken terdiam.
Beberapa menit terasa sangat lama.
Akhirnya, dokter keluar dan menampilkan wajah lega lalu menyampaikan:
“Tidak ada pendarahan dalam, dan patah tulang kaki kanan depan tidak serius. Karena masih dalam masa pertumbuhan, kondisinya seharusnya bisa pulih sepenuhnya setelah menjalani perawatan.”
Kemudian dokter melanjutkan,
“Kamu baru saja mengambil kucing liar, ya? Jika kamu berencana mengadopsinya, apakah ingin sekalian melakukan vaksinasi?”
Setelah kaki kanan depan anak kucing itu digips, Ashilla menyetujui kucing itu untuk divaksin. Beberapa bagian bulunya yang kusut dan tidak bisa diselamatkan terpaksa dipotong, lalu ia dimandikan dengan sangat hati-hati.
Usai dimandikan, anak kucing itu tak lagi sebesar telapak tangan. Beberapa bagian tubuhnya tampak botak, membuatnya terlihat lebih buruk daripada sebelumnya.
Namun, staf yang memandikannya justru tersenyum dan berkata kepada Ashilla,
“Itu kucing Singa Linqing. Bulunya akan tumbuh kembali dan nantinya sangat cantik.”
“Apakah di sini tidak menerima penitipan hewan?” tanya Ashilla, sedikit terkejut.
“Apakah kamu tidak mau mengadopsinya?” tanya Ken yang mengira bahwa Ashilla sudah siap memelihara kucing itu saat mengambil keputusan untuk membawanya ke klinik.
“Hah?” Ashilla tertegun, lalu menunduk menatap kucing putih kecil dalam pelukannya.
Ashilla mengusap bulu kucing itu pelan, seolah ragu pada ucapannya sendiri.
“Aku bisa merawatnya, tapi keluargaku mungkin tidak Menyukai kucing ini…”
Ken menatap kucing kecil yang meringkuk lemah di pelukan Ashilla. Perbannya masih baru, napasnya naik turun pelan. Entah kenapa, pemandangan itu membuat dadanya terasa agak sesak.
“Kalau begitu,” ujar Ken setelah hening sejenak, “biar aku yang menjaganya dulu.”
Ashilla mendongak cepat. “Kamu?”
Ashilla tak menyangka, Ken yang ia kenal dingin di masa lalu bisa menawarkan diri untuk menjaga seekor kucing liar yang baru saja ia pungut.
“Iya.” Ken mengangguk. “Rumahku cukup tenang. Tidak ada yang akan mempermasalahkan keberadaannya.”
Ashilla terdiam. Ia jelas ragu. “Tapi… kamu kan tidak terlalu suka hewan.”
“Aku tidak terbiasa,” koreksi Ken. “Bukan berarti aku tidak bisa belajar.”
Kucing kecil itu bergerak sedikit, mengeluarkan suara lirih. Ken tanpa sadar mendekat setengah langkah, menatapnya lebih saksama.
“Lagipula,” lanjutnya pelan, “dia masih butuh perawatan. Kamu juga perlu waktu untuk… membereskan urusan keluargamu.”
Ashilla menatap Ken lama. Ada ketulusan yang jarang ia lihat terpancar dari wajah pria itu—tidak memaksa, tidak menggurui.
“Kalau dia kenapa-kenapa…” suara Ashilla melemah.
“Aku akan bertanggung jawab,” jawab Ken tegas. “Kamu boleh datang kapan saja untuk melihatnya.. anggap saja kita merawatnya bersama.”
Kalimat kita membuat Ashilla sedikit tertegun.
Ia menunduk lagi, lalu mengangguk pelan. “Baik… tapi hanya sementara. Sampai aku bisa membawanya pulang.”
Ken tersenyum tipis. “Deal.”
Perawat datang membawa kandang kecil, kemudian Ashilla memasukkan anak kucing itu kedalamnya dan memberikannya pada Ken yang menerima kandang tersebut dengan hati-hati.
“Apa namanya?” tanya Ken tiba-tiba.
"Ha?"
"Bukankah kamu harus memberikan nama pada peliharaanmu? Atau haruskah aku yang memberinya nama?"