Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desir Ombak Pantai
Proyek pelabuhan timur mengharuskan mereka melakukan survei langsung ke lokasi.
Letaknya jauh dari hunian mereka.
Dua jam penerbangan, lalu satu jam perjalanan darat menuju kawasan pantai yang masih sepi pembangunan.
“Kita hanya dua hari,” ucap Arka singkat saat mereka turun dari mobil.
Angin pantai berhembus cukup kencang, membuat rambut Aurora berantakan.
“Dua hari dengan Anda?” balasnya ringan. “Semoga saya selamat.”
Arka meliriknya datar.
“Kalau anda bekerja dengan benar, peluang hidup anda cukup tinggi.”
Aurora terkekeh.
Dan untuk pertama kalinya, sudut bibir Arka bergerak sedikit.
Sangat tipis.
Tapi nyata.
Karena penginapan sekitar proyek masih terbatas, mereka hanya mendapat satu vila kerja dengan dua kamar terpisah.
“Tenang saja,” ucap Aurora sambil menyerahkan koper pada staf. “Saya tidak berniat menyerang Anda tengah malam.”
Arka berhenti melangkah.
Menoleh pelan.
“Kepercayaan diri anda tinggi juga.”
Aurora menyipitkan mata. “Itu penolakan halus?”
“Fakta.”
Ia berjalan lebih dulu.
Namun saat Aurora tidak melihat, Arka tersenyum kecil.
Dan entah kenapa, ia merasa ringan.
Hari pertama penuh pekerjaan.
Pengecekan lahan.
Rapat dengan pemerintah daerah.
Diskusi teknis.
Aurora tak pernah mengeluh. Ia mencatat, bertanya, bahkan berdebat dengan kontraktor senior.
Arka memperhatikannya diam-diam.
“Ia bukan boneka Surya”.
“Ia berdiri dengan pikirannya sendiri”
“Bukan gadis manja yang berdiri di balik nama Surya Pradana”
Saat matahari mulai tenggelam, mereka duduk di tepi pantai setelah pekerjaan selesai.
Angin sore membawa aroma asin laut.
“Apa Anda selalu se-serius ini?” tanya Aurora sambil melepas sepatu heels-nya.
“Dalam bisnis? Ya.”
“Dalam hidup?”
Arka terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi terasa pribadi.
“Serius membuat segalanya lebih terkontrol,” jawabnya akhirnya.
Aurora menatap laut.
“Kadang terlalu terkontrol bikin kita lupa caranya bahagia.”
Kalimat itu membuat sesuatu dalam dada Arka terusik.
Tiba-tiba—
Sebuah kenangan kecil muncul.
Seorang gadis kecil mengejarnya di halaman rumah lama.
“Tertangkap!”
Tawa riang.
Hangat.
Arka mengerutkan kening.
Kenapa perasaan itu terasa mirip dengan sekarang?
Aurora tiba-tiba berdiri dan berjalan ke air.
“Kalau jatuh, saya tidak tanggung jawab ya,” ucap Arka.
Aurora berbalik sambil berjalan mundur. “Hidup perlu sedikit risiko, Pak Wiryamanta.”
Dan benar saja—
Ombak kecil menghantam kakinya membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Ara !!!”
Arka refleks menangkap tangannya.
Tubuh Aurora hampir jatuh, namun Arka menahannya tepat waktu.
Kini jarak mereka sangat dekat.
Sangat dekat.
Napas Aurora tercekat.
Tatapan Arka tak lagi sedingin biasanya.
“Risiko yang bodoh,” gumam Arka pelan.
Aurora tersenyum, jantungnya berdebar tidak normal.
“Kalau tidak ada yang menangkap, baru bodoh.”Aurora menyeringai nakal.
Dan Aurora menyipratkan air ke muka Arka, dan yaaaa mereka bermain air
Seperti anak kecil yang belum pernah bertemu dengan Pantai…..
Setelah Lelah bertingkah seperti usia balita
Mereka duduk di bibir Pantai menyaksikan indahnya sunset….
Hanya suara ombak terdengar.
Dan sesuatu yang tumbuh perlahan di antara mereka.
Malamnya, listrik vila sempat padam karena gangguan genset.
Aurora mengeluh kecil dari ruang tengah.
“Jangan bilang Anda takut gelap,” suara Arka terdengar dari dapur.
“Saya hanya tidak suka kejutan,” balasnya.
Arka muncul membawa lilin.
Cahaya temaram membuat wajahnya terlihat lebih lembut.
“Duduk,” ucapnya.
Aurora menurut.
“Apa Anda selalu menyuruh orang tanpa kata tolong?” godanya.
Arka menatapnya sebentar.
“…Tolong.”
Aurora membeku, lalu tertawa.
Dan untuk pertama kalinya—
Arka ikut tertawa.
Tawa yang dalam. Hangat. Tidak dibuat-buat.
Aurora terdiam melihatnya.
“Kamu terlihat berbeda saat tertawa,” ucapnya pelan.
Arka mengangkat alis. “Lebih jelek?”
“Lebih manusia.”
Kalimat itu membuat Arka tak langsung menjawab.
Ia menatap Aurora lama.
Dan entah kenapa…
Ia merasa seperti kembali menjadi anak kecil yang berlari tanpa beban.
Tanpa kecurigaan.
Tanpa dendam keluarga.
Hanya dua anak kecil yang tertawa di bawah matahari.
“Ara,” panggilnya tanpa sadar.
Aurora menoleh.
Cara ia menyebut namanya… terasa berbeda.
Lembut.
Dan sangat familiar.
Jantung Aurora berdebar.
Seperti ada sesuatu yang hampir teringat.
Namun belum.
Di kamarnya malam itu, Arka berdiri lama di depan jendela.
Ia seharusnya tetap waspada.
Tetap curiga.
Tetap mengingat siapa ayah Aurora.
Namun perasaan yang tumbuh itu…
Tidak mengikuti logika.
“Ini hanya ketertarikan sementara,” gumamnya.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Arka Wiryamanta takut bukan karena kehilangan bisnis.
Melainkan karena takut jatuh cinta kepada seorang wanita.
yang ia bahkan belum tahu… siapa sebenarnya wanita itu.
😭😭😭