NovelToon NovelToon
Puteri Sampah Yang Berubah

Puteri Sampah Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.

Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!

Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Bersih-Bersih

​Setelah penggeledahan di kediaman Menteri Bai, suasana di Paviliun Pangeran Pertama berubah menjadi markas intelijen yang dingin. Tumpukan dokumen asli yang berhasil diselamatkan kini memenuhi meja besar. Wan Long sedang memilah berkas dengan teliti, sementara Bai Hua berada di dekat jendela, memerhatikan Choi yang sedang menyiapkan teh dengan tangan gemetar.

​"Nona Muda," bisik Choi sambil meletakkan cangkir teh. "Hamba mendengar desas-desus di dapur istana. Permaisuri sangat murka karena Menteri Bai ditahan. Mereka bilang... akan ada pembersihan besar-besaran di paviliun ini."

​Bai Hua menepuk tangan Choi pelan. "Jangan takut, Choi. Selama kau berada di dekatku, tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Fokuslah menjaga pintu depan. Dan kau harus selalu patuh pada apa yang kuperintahkan."

"Baik Nona Muda, saya permisi dulu."

​Choi mengangguk mantap dan keluar. Begitu Choi pergi, Wan Long tiba-tiba membanting sebuah gulungan kertas ke meja.

​"Ada yang tidak beres," ujar Wan Long, suaranya berat. "Daftar pengiriman logistik ke perbatasan utara ini... ada kode yang hanya diketahui oleh komandan lapangan. Dan kode ini baru saja diubah tiga hari yang lalu."

​Bai Hua memutar kursi rodanya mendekat. "Maksudmu, ada seseorang yang membocorkan detail audit kita kepada pihak luar sebelum kita sampai ke rumah ayahku?"

​Wan Long mengangguk tajam. "Salah satu dari dua belas pengawal tua yang kau pilih. Seseorang telah menyusup ke dalam timmu, Bai Hua. Dan dia sangat rapi."

​Bai Hua menyipitkan mata. "Mustahil. Aku sendiri yang menyeleksi mereka berdasarkan catatan militer lama."

​"Catatan bisa dipalsukan, Agen Mei Lin," sindir Wan Long. "Saat kau sibuk mengurus ayahmu tadi, aku melihat salah satu pengawalmu, si tua Han, memberikan isyarat tangan kepada pelayan Permaisuri di gerbang depan."

​Tensi di antara mereka kembali memanas. Bai Hua merasa kekuasaan nya ditantang. "Jika Han adalah pengkhianatnya, aku akan membereskannya. Kau tidak perlu ikut campur."

​"Kita terikat racun dupa, ingat?" Wan Long berdiri, mendekati Bai Hua hingga bayangannya menutupi gadis itu. "Jika kau terjebak dalam perangkap pengawalmu sendiri, aku juga yang akan terseret. Kita harus memancingnya keluar malam ini."

​Belum sempat mereka menyusun rencana, seorang kasim dari Istana Pusat datang membawa undangan. Permaisuri mengundang Bai Hua untuk minum teh sore di Taman Ungu---sebuah tempat yang terkenal indah namun penuh dengan tanaman hias yang aromanya bisa mematikan jika diracik dengan benar.

​"Dia ingin memisahkan kita," gumam Wan Long saat membaca undangan itu. "Undangan ini hanya untukmu. Dia tahu tentang aturan sepuluh meter itu?"

​"Tidak mungkin dia tahu detailnya," sahut Bai Hua. "Tapi dia pasti curiga kenapa kita selalu menempel seperti perangko. Dia ingin menguji apakah kita benar-benar tidak bisa dipisahkan."

​Wan Long menyeringai licik. "Kalau begitu, mari kita beri dia pertunjukan. Aku akan menyamar menjadi salah satu pengawal kursimu. Dengan seragam zirah lengkap dan helm tertutup, dia tidak akan mengenali Pangeran Pertama yang biasanya 'idiot'."

"Aku akan memerintahkan choi untuk mengatur pengawalku yang jujur. Kita akan mulai rencana." Gumam Bai Hua.

***

​Satu jam kemudian, mereka tiba di Taman Ungu. Permaisuri duduk di paviliun terbuka, dikelilingi oleh bunga-bunga Aconitum yang cantik namun mematikan.

​"Bai Hua, kemarilah," sapa Permaisuri dengan senyum palsu yang sempurna. "Biarkan pengawalmu menunggu di tangga bawah. Kita perlu bicara sebagai sesama wanita."

​Bai Hua melirik "pengawal" di belakangnya yang tak lain adalah Wan Long. Wan Long memberikan tekanan kecil pada bahu kursi roda Bai Hua---sebuah kode agar dia tetap tenang.

​"Maafkan hamba, Yang Mulia," ujar Bai Hua dengan nada lemah lembut yang dibuat-buat. "Setelah kejadian di hutan, hamba menjadi sangat penakut. Pengawal ini adalah satu-satunya yang hamba percayai untuk menjaga jarak satu langkah dari hamba."

​Mata Permaisuri menyipit. "Begitukah? Kau sangat protektif terhadap nyawamu."

​Permaisuri menuangkan teh ke cangkir Bai Hua. "Menteri Bai dalam kesulitan besar. Sebagai putrinya, bukankah kau merasa berdosa telah menghancurkan ayahmu sendiri? Jika kau memberikan dokumen asli itu padaku, aku bisa menjamin keselamatanmu... dan mungkin, aku bisa menyembuhkan kakimu."

​Bai Hua tertawa kecil. "Keselamatan? Di istana ini, kata itu lebih langka daripada emas, Yang Mulia. Dan soal kakiku... aku lebih suka duduk di sini dan melihat orang-orang yang merendahkanku jatuh satu per satu."

​Tiba-tiba, pengawal Han---si terduga pengkhianat---muncul dari balik semak-semak taman dengan pedang terhunus. Namun, ia tidak menyerang Bai Hua. Ia justru mengarahkan pedangnya ke arah Permaisuri.

​"Yang Mulia Permaisuri, awas!" teriak Han.

​Itu adalah sebuah skenario. Han berpura-pura menjadi pembunuh yang menyerang Permaisuri agar pengawal lain (termasuk Wan Long yang sedang menyamar) terpaksa bergerak menjauh dari Bai Hua untuk melindungi Permaisuri.

​Sial, ini jebakan! batin Wan Long.

​Jika Wan Long mengejar Han untuk menghentikan "serangan" itu, jaraknya dengan Bai Hua akan lebih dari sepuluh meter. Tapi jika dia diam saja, identitasnya akan dicurigai karena tidak melindungi Permaisuri.

​Bai Hua merasakan jantungnya mulai berdenyut sakit. Wan Long mulai bergerak menjauh.

​"Wang Yu, jangan!" bisik Bai Hua tertahan.

​Wan Long berhenti tepat di batas sembilan meter. Ia melihat Han yang bersiap melakukan gerakan akrobatik untuk memancingnya lebih jauh. Dengan insting jenderal polisinya, Wan Long tidak mengejar Han. Sebaliknya, ia mencabut belati tersembunyi dan melemparnya tepat ke arah... kaki kursi roda Bai Hua.

​Ting!

​Belati itu mengenai mekanisme pengunci kursi roda, membuat kursi roda itu meluncur turun mengikuti arah Wan Long karena jalanan taman yang miring.

​Jarak mereka terjaga. Wan Long menangkap kursi roda itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menghunus pedang ke arah Han.

​"Permainan yang buruk, Han," suara Wan Long terdengar berat dari balik helm zirahnya.

​Permaisuri berdiri dengan wajah pucat. "Siapa... siapa pengawal ini?!"

​Wan Long membuka helmnya, menampakkan wajahnya yang penuh keringat namun terlihat sangat jantan dan berbahaya. "Putra sulungmu yang 'idiot', Ibu Permaisuri. Maaf merusak pesta tehmu, tapi sepertinya pengawal pilihan istriku butuh sedikit... bimbingan disiplin."

​Han yang ketakutan mencoba lari, namun Bai Hua sudah lebih dulu menekan tombol di kursi rodanya. Sebuah kawat tipis melesat, mengikat pergelangan kaki Han hingga pria itu jatuh tersungkur.

​"Choi!" panggil Bai Hua keras.

​Choi muncul dari balik gerbang taman bersama pasukan pengawal setia lainnya. "Hamba di sini, Nona Muda!"

​"Bawa Han ke ruang bawah tanah paviliun kita. Aku ingin tahu siapa yang membayarnya untuk sandiwara murah ini," perintah Bai Hua dingin.

​Permaisuri mengepalkan tangannya di balik lengan baju sutranya. Rencananya untuk memisahkan mereka dan melenyapkan Bai Hua gagal total.

***

Happy Reading ❤️

Note : Tolong baca nya jangan lompat lompat ya kak... Kalo misal tidak terlalu nyaman dengan salah satu bab dan ingin melompat ke bab lain, tolong di scroll saja , jangan di lewatin ya kakak~ terimakasih~🥰

Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih

1
Pa Muhsid
buka puasa gak usah beli kolak udah ada yang manis😍😍😍 wangyu dan meilin
Pa Muhsid
bbc berlapis ok👍
mimief
wkwkwkwkwkwk
definisi sebel tapi rindu
benci tapi butuh🤣🤣
Roti Bakar
lanjutttt kpn upp?
mimief
gimana?
ya elah mati aja ga mau ngalah lu bang
ok Leh yuk lah bareng "🫣🤣
Pa Muhsid
cinta sejati😘😘😘❤❤❤ berbungkus benci (benar "cinta)
Dede Dedeh
rame... pisan lanjut thor
Pa Muhsid
visual nya mana tor
mimief
wah...seru
jadi bayangin visual merekanya bertarung
SusanTee
lnjutt
mimief
bukan??🤣🤣🤣
anak kan cuman niru orang tuannya yaa
jgn salahin kalau jadi anak durhaka
tih punya orang tua durhaka
mimief
iy..ya
mang disini pada ngeluh masalah retensinya
banyak othor yg juga akhirnya nyerah dan banyak pindah ke berbagai platform 🥹🥹.
semangat ya Thor...
aku mah dukung aja
karena terkadang penghargaan itu ga butuh cuman pengakuan,tapi cuan yg menentukan 🤣🤣
ANWi/Berly Re: hehe iya kak, susah susah gampang sistem retensi ini. bikin bingung😭😭😭😭
total 1 replies
mimief
senjata makan tuan ya gaes .
lu pikir bisa mengendalikan seluruh permainan
hei..masa depan itu lebih menakutkan dr yg dilihat
dimana ga ada binatang buas di hutan belantara
tapi manusia yg punya nafsu buas di antara hutan sesungguhnya.
beginilah realita di masa depan.
sahabat pena
ga punya kak
sahabat pena: siap kak. semangat up nya
total 2 replies
Roti Bakar
ah aku paham! Jd si kaisar biarin para anjing saling tarung gitu yahh??? (permaisuri-wanjin-meteri bai vs bai hua-wan long) trs dia tinggal leyeh leyeh 🤭
Roti Bakar
oh wan jin , dia kn anak permaisuri yah?? brarti dia disitu atas printah permaisuri dong
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️💪
Pa Muhsid
👍👍👍🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
mimief
Waduuuh...
sebenarnya siapa yg jebak siapa.🫣
hayooo kau berhadapan dengan polisi dan mata mata dr masa depan lu bang
siap siap aja yaa
Roti Bakar
ini kpn up nya????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!