NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nona rambut badai

Mobil berhenti di depan IGD, lampu putih terang menyinari area masuk, zea turun hampir bersamaan dengan mama dan fira, langkahnya cepat, napasnya terasa berat. Di lorong depan ruang tindakan papa berdiri sambil berbicara dengan perawat.

"Pa!" panggil zea.

Papa langsung menoleh, wajahnya terlihat lelah tapi begitu melihat zea ada kelegaan jelas di sana.

"Kamu sudah sampai rumah tadi?" tanyanya.

Zea mengangguk cepat. "Iya pa, maaf ponsel zea mati….zea nggak tau kalo_

Papa menggeleng pelan. "Yang penting kamu aman."

"Pak rio gimana pa?" suara zea pelan, hampir bergetar.

"Sudah ditangani, tangan kirinya patah jadi harus dipasang pen, keningnya kena benturan tadi sudah diperban tapi sadar, dokter bilang harus observasi semalam."

Beberapa menit kemudian, mereka diperbolehkan masuk sebentar, zea melangkah pelan ke dalam ruang perawatan. Di atas ranjang pak rio terbaring dengan tangan kiri disangga dan perban melilit keningnya, wajahnya pucat tapi matanya terbuka.

Begitu melihat zea, ia mencoba tersenyum tipis. "Non zea… sudah pulang sekolah?" suaranya lemah.

Air mata zea langsung menggenang, bahkan ia tidak menyadari lagi jika ia masih mengenakan baju sekolah.

"Iya pak…." suaranya lirih. "Maaf, harusnya zea tadi bisa dihubungi…" lanjutnya.

Pak Rio menggeleng pelan. "Bukan salah non, namanya juga musibah."

Zea berdiri di samping tempat tidur, menatap tangan kiri yang diperban tebal itu. "Sakit ya, pak?"

"Dikit." jawabnya berusaha bercanda.

Zea mencoba tersenyum walau matanya masih basah. "Mobilnya gimana, pak?"

"Maaf ya non....mobilnya lecet parah di samping." jawab pak rio lirih.

"Nggak hancur, nanti bisa diperbaiki." jawab papa dari belakang.

Zea mengangguk pelan. "Nggak apa-apa pak, semoga pak rio cepat sembuh ya." ucapnya tulus.

"Besok zea bawain makanan favorit bapak." lanjut zea.

Pak rio tersenyum lagi, lebih jelas meski tetap lelah. "Siap non."

Zea menunduk sebentar, menenangkan dirinya, beberapa waktu lalu ia masih sempat tersenyum senang dan berbunga-bunga di atas motor tapi sekarang ia berdiri di rumah sakit, menyadari betapa cepat suasana bisa berubah.

Zea benar-benar bersyukur karena pak rio masih selamat, baginya itu yang paling penting. Pak rio sudah bekerja di rumahnya sejak zea berusia lima tahun, sejak ia pertama kali masuk TK papa mempekerjakan pak rio untuk mengantar dan menjemput zea sekolah, dari TK, lalu SD, SMP, hingga sekarang ia duduk di bangku SMA, pak rio lah yang selalu ada.

Setiap pagi yang terburu-buru, setiap hujan deras sepulang sekolah, setiap hari saat zea tertidur di kursi belakang mobil setelah kegiatan disekolah, pak rio yang setia mengantar dengan sabar, tidak pernah banyak bicara tapi selalu memastikan zea sampai dengan aman. Karena itulah bagi zea pak rio bukan sekadar sopir, ia sudah seperti bagian dari keluarganya sendiri.

Mengingat tangan pak rio yang patah membuat hati zea terasa berat tapi setidaknya ia selamat dan itu cukup membuat zea merasa lega.

Setelah beberapa menit perawat memberi tanda bahwa waktu kunjungan sudah cukup, zea melangkah mundur pelan dari sisi ranjang.

"Istirahat ya pak." ucapnya lembut.

"Iya non, besok sekolah yang benar ya non." jawab pak rio pelan, masih sempat bercanda tipis.

Zea tersenyum kecil dan keluar dari ruang perawatan, pintu tertutup perlahan.

"Tadi mobil dari arah samping ngebut nerobos lampu kuning yang hampir merah, bukan salah pak rio." di lorong, papa langsung menjelaskan lebih jelas agar semuanya tenang.

Raka mengangguk. "Dashcam mobil juga nyala, tadi udah dicek."

"Polisi juga bilang posisi mobil kita sudah benar." tambah papa.

"Yang penting sekarang pak rio selamat." sahut mama zea.

"Itu mobil bisa dibenerin kan, pa?" tanya zea.

"Bisa, body sampingnya lecet dan penyok, tapi rangka aman, asuransi juga aktif." jawab papanya.

Zea mengangguk lega, raka menepuk bahunya ringan. "Lo nggak usah kepikiran, yang penting orangnya nggak kenapa-napa."

"Iya kak." sahut zea mantap, tidak ada pikiran aneh hanya rasa syukur.

Beberapa saat kemudian mereka memutuskan pulang dulu untuk istirahat dan kembali besok pagi, di mobil suasana jauh lebih tenang dibanding saat berangkat tadi. Zea bersandar ke kursi, menatap lampu-lampu kota yang lewat cepat di balik jendela.

Hari itu terasa panjang bagi zea, dari latihan basket, adu tantang di lapangan, sampai berdiri di ruang rumah sakit, semuanya berubah dalam hitungan jam. Zea menarik napas dalam, besok pagi ia akan kembali menjenguk pak rio dan untuk saat ini yang terpenting pak rio masih ada dan baik-baik saja.

****

Sesampainya di rumah, suasana sudah jauh lebih tenang dibanding saat mereka berangkat tadi. Mama langsung masuk ke kamar untuk beristirahat sebentar, papa duduk di ruang tamu, wajahnya terlihat lelah tapi lebih tenang dari sebelumnya dan raka, kakaknya itu merebahkan diri di sofa.

Zea masuk ke kamarnya tanpa banyak bicara, tasnya ia letakkan di kursi dekat meja belajar lalu ia duduk pelan di tepi ranjang, tubuhnya terasa lelah bukan hanya fisik, tapi juga pikirannya.

Ia meraih charger menyambungkan ponselnya dan menyalakannya. Layar langsung menyala terang, deretan notifikasi berdatangan tanpa jeda. Sebelas panggilan tak terjawab dari mama, tujuh panggilan dari kakaknya dan beberapa pesan dari chacha dan angel yang menanyakan kenapa ia tiba-tiba tidak bisa dihubungi.

Zea menatap layar itu beberapa detik, jempolnya menggulir pelan membaca sekilas pesan-pesan yang penuh tanda tanya dan kekhawatiran.

Satu pesan dari chacha.

"Kemana lo ze? mama lo telfon gue, katanya lo ga bisa dihubungi dan belum pulang."

Dua pesan singkat dari angel.

"Zea, lo dimana? jawab dong."

"Lo aman kan?"

Dadanya terasa hangat sekaligus berat, ia tahu mereka khawatir tapi hari ini benar-benar terasa panjang. Tanpa membalas apa pun dulu, zea mengunci kembali layarnya dan meletakkan ponsel di samping bantal lalu ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu sunyi dibanding riuh notifikasi tadi. Ia menarik napas dalam-dalam, besok pagi sebelum sekolah ia akan ke rumah sakit lagi untuk menjenguk pak rio, setidaknya memastikan kondisinya benar-benar stabil.

Hari ini sudah melelahkan dan untuk sementara zea hanya ingin diam memberi ruang pada dirinya untuk bernapas sebelum menghadapi hari berikutnya.

Klekk

Pintu kamar zea terbuka tanpa diketuk dulu, fira masuk sambil menatap sepupunya yang tiduran memeluk bantal dan menatap kosong ke langit-langit kamar.

"Lo ngapain sih?" tanya fira heran.

"Belum mandi, belum bersih-bersih, dari tadi ngelamun mulu." lanjut fira.

Zea menoleh pelan, lalu tertawa kecil. "Ih, baru juga rebahan bentar."

Fira mengangkat alis. "Udah mandi sana, gerah gue liat rambut lo berantakan kayak baru bangun dari sarang burung."

Zea langsung tertawa kecil sambil memegang rambutnya sendiri yang memang kusut. "Segitunya banget?" katanya sambil menyipitkan mata ke arah fira.

Fira mengangkat bahu santai. "Kaca ada, coba liat sendiri."

Zea menggeleng pelan, masih tertawa. "Iya, iya, bawel deh."

Zea akhirnya bangun dari tempat tidurnya lalu meraih handuk yang tergantung di kursi, dan berjalan menuju kamar mandi.

"Cepetan sana, jangan ngelamun mulu, entar kamar lo yang pingsan duluan nyium bau rambut lo." kata fira lagi dari belakang.

Zea langsung melotot namun terlihat lucu. "Apaan sih, jahat banget deh."

Fira mengibaskan tangan di depan hidungnya pura-pura. "Serius, gue kayak lagi lewat kandang kambing."

Zea melempar bantal kecil ke arah fira. "Berisik!"

Fira menangkap bantal itu sambil nyengir. "Udah mandi sana."

"Iya bu fira." balas zea bercanda sebelum menutup pintu kamar mandi.

Tidak lama kemudian terdengar suara air menyala dari dalam, fira menghela napas kecil lalu duduk di tepi ranjang zea.

Beberapa menit kemudian, zea keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan wajah yang terlihat jauh lebih segar.

"Lumayan, udah keliatan manusia lagi." komentar fira sambil meliriknya

Zea menyeringai tipis. "Makasih banget lo ya."

Fira terkekeh kecil, sementara zea berjalan ke meja rias untuk merapikan rambutnya. Ia duduk di depan meja rias, menyisir rambut pelan, fira menyandarkan badan ke dinding.

"Ngapain lo ngelamun sedalam itu tadi? kayak lagi mikirin skripsi aja." tanya fira.

Zea berhenti menyisir sebentar, lalu mengangkat bahu kecil. "Nggak kok, pengen ngelamun aja."

Fira mengerutkan kening sambil menatapnya heran. "Aneh, orang biasanya ngelamun karena mikirin sesuatu, ini lo malah ngelamun cuma… pengen aja."

Zea tertawa kecil mendengar itu. "Emang kenapa?"

"Ya aneh." balas fira sambil menggeleng.

"Kayak orang lagi nonton TV tapi TV nya dimatiin." lanjut fira.

Zea kembali menyisir rambutnya di depan cermin, masih dengan senyum tipis. "Biarin."

"Yang penting semuanya aman, kan?" tanya fira.

"Iya, aman kok." jawab zea lembut.

Suasana kamar jadi lebih tenang, angin sore masuk lewat jendela, membuat tirai bergerak pelan.

"Oke, kalo lo udah selesai nyisirin rambut lo yang udah kayak kesetrum colokan listrik itu, baru kita turun buat makan malam." fira menahan tawa sambil menatap kepala zea.

Zea langsung melotot. "Ih, parah banget lo."

Fira malah tertawa kecil. "Serius, tadi tuh berdiri semua, kayak habis ketemu balon digosok."

Zea mendengus sambil terus menyisir rambutnya di depan cermin. "Lebay."

"Bukan lebay." kata fira santai.

"Gue cuma nyelamatin reputasi lo sebelum keluar kamar." lanjut fira.

Zea memutar bola matanya di depan cermin, lalu menyisir rambutnya sedikit lebih rapi. "Reputasi apaan?" gumamnya.

"Di rumah juga yang lihat cuma lo, mama, papa, sama kak aka." ujar zea.

Fira berpindah menyandarkan bahunya ke kusen pintu, masih memperhatikan zea dengan ekspresi geli. "Justru itu, gue yang jadi saksi pertama kalo lo keluar kamar dengan rambut kayak sarang burung."

Zea langsung menoleh cepat. "Eh! sarang burung apaan sih."

Fira mengangkat kedua tangannya pura-pura menyerah. "Ya udah bukan sarang burung tapi lebih cocok dibilang habis kena angin topan kecil."

Zea akhirnya tertawa pelan, menggeleng sambil menaruh sisir di meja rias. "Udah selesai, sekarang masih jelek nggak?"

Fira menatapnya beberapa detik dari ujung kepala sampai kaki, pura-pura menilai dengan serius. "Hm….mendingan."

Zea menyipitkan mata. "Mendingan?"

"Iya." fira mengangguk santai.

"Sekarang cuma keliatan kayak orang baru bangun tidur setengah jam, bukan yang baru selamat dari badai."

Zea langsung mengambil bantal dari ranjang dan melemparkannya ke arah fira.

Fira menangkap bantal itu sambil tertawa. "Apaan! gue jujur kok."

Zea ikut tertawa kecil sambil menghela napas, suasana kamar yang tadi sunyi sekarang terasa lebih ringan.

"Udah, ayo turun." kata zea akhirnya sambil berdiri dari kursi rias.

"Nanti mama manggil, gue nggak mau dengarin suaranya yang udah kayak toa masjid lagi pengumuman penting." lanjut zea.

Fira langsung terkekeh dan mengangguk, lalu membuka pintu kamar lebih lebar.

"Ya udah nona rambut badai, silakan duluan."

Zea mendengus geli sebelum berjalan keluar kamar, sementara fira masih tertawa kecil di belakangnya.

Bersambung

1
syahsari
zea emang ga waras sih😭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!