(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)
Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apapun (18+)
WARNING!!! BOCIL DILARANG BACA!
Berani baca gue laporin emak bapak Lo ya!
Jangan lupa Vote,komen dan like nya Sayang 😘😘
Sinar matahari menerobos masuk kedalam kamar dari sela-sela jendela yang sedikit tersingkap, Rania membuka mata nya perlahan, ia mengerang pelan, tubuhnya sakit semua rasanya ia diremukkan dengan mesin berat. Rania terbangun seorang diri dikamar, perlahan ia turun dari tempat tidur namun baru satu langkah ia terjatuh terduduk, rasanya sangat sakit di bawah sana.
"hampir sepuluh tahun aku menikah dan sering bercinta dengan mantan suamiku tapi baru kali ini aku benar-benar tidak bisa berjalan! Sial kenapa bisa sebesar itu" gumam Rania sendiri sambil mendengus.
Pintu kamarnya terbuka Marry masuk kedalam, wanita tua itu langsung buru-buru menghampiri Rania dan membantu Rania berdiri.
"Terimakasih Marry" ujar Rania tersenyum sendu.
"tidak apa-apa Nyonya ini sudah tugas saya" ujar Marry sambil menarik selimut menutupi tubuh Rania yang ekhem! Masih telanjang.
Rania sendiri menunduk matanya berkaca-kaca. "Jangan panggil aku Nyonya Marry, panggil saja aku Rania seperti biasa" ujar Rania sendu.
Marry tersenyum lembut lalu mengusap rambut Rania.
"tidak Nyonya, mulai sekarang anda harus terbiasa dengan panggilan ini"ujar Marry.
Marry membantu memapah Rania kekamar mandi, setelah nya Marry keluar dari kamar mandi dan bersiap membersihkan kamar tidur. Namun wanita tua itu menghela nafas panjang, sprei ini baru saja diganti semalam.
"Dasar pengantin baru, main nya menggebu sekali" gumam Marry dan mulai membersihkan tempat tidur.
...Sum by: pinterest...
...🧐🌑...
Dikamar mandi Rania sedang berbaring di bathtub air hangat merendam tubuhnya meredakan sakit pada pinggang dan selangkangan nya.
"Apa yang harus aku lakukan? Anak-anak ku, mereka masih kecil, Vano. Cantika maafin Bunda hikss..." Isak tangis mulai keluar dari mulut Rania.
Bibirnya bergetar, dada nya juga. Niat hati ia merantau untuk memberikan kehidupan terbaik untuk anak-anak dan keluarga nya malah berakhir menjadi istri seseorang di negara asing ini.
Rania melorotkan tubuhnya ke dalam air menahan dirinya disana, baru sebentar tiba-tiba ia teringat dengan Vika. Rania langsung keluar, ia berdiri dan berjalan tertatih mengenakan bathrobe dan keluar dari kamar mandi.
Kamar nya sudah rapi dan entah sejak kapan walk in closet milik Marco yang dulunya hanya ada pakaian Marco kini sudah berisi pakaian nya juga. Rania mengenakan pakaian nya. Lalu berjalan keluar dengan tertatih karna perih diarea bawah sana.
Saat turun keruang tamu, semua maid dan bodyguard menunduk hormat. Rania mengangguk gugup saat seorang maid yang seusia Ibunya tak sengaja menjatuhkan gelas, maid itu gemetar hendak berlutut untuk memungut pecahan gelas namun Rania dengan cepat menahan nya.
"biarkan saja... Anda harus memperhatikan kesehatan anda" ujar Rania.
Maid itu tertegun, setelah menjadi Nyonya rumah Rania tetap rendah hati dan bersikap sopan seperti saat ia masih menjadi maid.
"Nyonya, maaf saya_"
"tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf. Yang penting anda tidak terluka" ujar Rania memotong ucapan maid itu.
Rania berjalan mendekat ke Marry. "Marry kau melihat Vika?" tanya Rania.
Marry yang sedang mengelap terhenti, ia menatap Rania. "Nyonya. Tuan tau jika Vika yang membantu mu melarikan diri, dan sekarang Vika berada di ruang bawah tanah untuk menerima hukuman.
Diruang bawah tanah dua bodyguard yang menjaga Rania sudah tergeletak tak bernyawa karna dihabisi langsung oleh Marco.
Dikursi Vika duduk terikat tubuhnya gemetar, ia memejamkan mata nya, jika memang dia mati disini, Vika akan terima. Tapi ia menyesal karna tidak bisa membantu sahabat nya melarikan diri, ia menyesal andai dulu ia tidak memaksa Rania untuk datang kemari dan bekerja. Karna Vika tau sahabat nya itu sudah sudah banyak menderita, dan kini sahabat nya akan semakin menderita dengan Marco. Marco sangat kejam dan tidak kenal ampun.
Marco menodongkan pistol ke kepala Vika saat ia hendak menarik pelatuk pintu terbuka kasar, Vika membuka mata, Marco menoleh Rania berjalan dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari jalan nya sedikit tertatih karna masih sakit.
"Jangan.... Saya mohon jangan bunuh sahabat saya" ujar Rania matanya merah.
Marco segera menghampiri istri nya, ia menahan Rania.
"Kenapa kau kemari?" tanya Marco dingin namun lembut. Vika menangkap kelembutan itu.
Rania memegangi tangan Marco dan memohon. "Saya mohon jangan bunuh Vika, dia satu-satunya sahabat saya, Vika juga tidak bersalah" ujar Rania.
Marco menatap mata istrinya yang memerah ia mengulurkan tangannya mengusap pipi istrinya.
"Dia membantu mu melarikan diri, bukankah dia pantas dihukum" ujar Marco menyeringai.
Rania menggeleng cepat airmata nya sudah jatuh merembes membasahi pipinya.
" tidak saya mohon, jangan bunuh Vika. Saya akan lakukan apapun asal Anda tidak membunuh nya" ujar Rania memohon.
Marco terkekeh kecil. "Apapun ya? Baiklah pertama jangan bicara formal padaku, kedua jangan pernah mencoba lari dariku dan ketiga... Akan ku katakan nanti" ujar Marco.
Marco menggendong Rania ala koala dan membawanya keluar dari ruangan, didepan pintu ia menyuruh Jerry melepaskan Vika.
Marco mendudukkan Rania di tepi ranjang, ia menggenggam tangan Rania erat dan mencium nya berkali-kali.
"Sayang, kenapa langsung menemui ku? Apakah kamu masih sakit?" tanya Marco lembut, ia hanya lembut pada istri nya.
Rania menatap Marco lama ia melihat wajah Marco, wajah tampan, mata tajam bak elang, bibir tipis, rahang tegas.
"tolong jangan sakiti Vika, jangan bunuh dia" ujar Rania pelan.
Marco kembali mengecup punggung tangan Rania.
"Tidak akan tapi jangan lupa syarat nya" ujar Marco lembut.
"Terimakasih, H-hubby" ujar Rania gugup.
Marco terdiam mendengar panggilan Hubby dari mulut Rania. rahangnya mengeras ia menggertakkan giginya.
"Damnt! Aku tidak tahan" ujarnya serak langsung menyambar bibir Rania.
"Balas sayang,atau sahabat mu akan ku hukum" bisik Marco pelan.
Rania mengangkat tangannya menekan dada Marco, perlahan ia membuka bibirnya membalas ciuman Marco.
Marco tersenyum disela ciuman mereka, ia menekan tengkuk Rania semakin memperdalam ciuman, bibirnya terus menyesap, mengecap dan menggigit bibir Rania.
Marco mendorong Rania berbaring terlentang di atas ranjang ia menjauh sebentar melepaskan ciumannya menata wajah Rania yang memerah, bibirnya yang bengkak, lalu kembali mencium bibir Rania. Tangan nya menggenggam tangan Rania, tangan besar nya cukup menyembunyikan seluruh genggam Rania.
Ciuman Marco turun dari bibir ke leher Rania.
"aahh.. B-bisakah kita tidak melakukan nya? Ini masih siang" ujar Rania disertai erangan saat Marco menggigit lehernya meninggalkan tanda merah keunguan disana.
Marco tidak menggubris ia hanya terus mencium leher Rania lalu kembali naik mencium bibir Rania.
Rania mau tidak mau menuruti kemauan Marco, ia mengalungkan kedua tangannya keleher Marco dan membalas ciuman itu.
Pintu kamar nya terbuka Jerry dan Marry masuk Jerry dengan dokumen ditangan nya Marry dengan nampan ditangan nya, saat mereka masuk mereka segera berbalik begitu melihat Marco dan Rania diranjang.
"Aku lupa Marr, tuan sudah menikah" ujar Jerry.
Marry terkekeh. "pengantin baru wajar masih menggebu, Tuan mu sudah menikah, kau kapan Jerry? " tanya Marry.
Jerry hanya bisa menghela nafas panjang, ia menatap Marry dengan wajah bosan.
"kau sendiri melihat bagaimana tuan kita yang kejam itu memperlakukan ku Marry. Tidak peduli badai petir, tengah malam jika dia menelpon aku harus tiba dalam 5 menit, bagaimana aku bisa cari istri" curhat Jerry pada Marry.
Marry terkekeh sambil menepuk pundak Jerry pelan. "Sabar ya Jerry, jodoh mu pasti juga sedang menunggu mu, itupun jika Tuan mengizinkan mu libur" ujar Marry tertawa kecil. Jerry semakin menghela nafas berat.
"Kejam nya Tuan ku"ujar Jerry sambil menatap pintu kamar yang tertutup.