Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan dan Jebakan — Para Pengkhianat Bergerak
Di gedung tinggi yang remang-remang, beberapa mantan pejabat dan aparat berkumpul. Mereka duduk di ruang rapat yang dijaga ketat, namun suasana di dalam sangat tegang. Lampu neon berkelap-kelip, dan suara gesekan kursi menambah aura cemas.
Seorang mantan perwira, wajahnya pucat, mengetuk meja keras. “Kita tidak bisa diam. Armand sudah kembali. Dia mengetahui semua yang kita lakukan. Semua celah yang kita pikir aman—dia pasti sudah tahu.”
Seorang pengacara licik menimpali, suaranya mengandung ketakutan tapi juga keserakahan: “Dia mungkin hanya satu orang, tapi informasi yang dia miliki… jika ia bergerak, semua aset kita, bahkan jabatan, bisa terancam.”
Seorang pria tua, mantan bawahan Armand yang dulu dikhianati, menepuk meja, nadanya keras: “Kita harus menangkapnya. Sekarang. Jangan beri dia waktu. Setiap menit dia di luar sana, kita kehilangan kendali.”
Seorang perempuan muda, yang dulu pernah dibantu Armand tapi kini ikut campur karena takut kehilangan keuntungan, menambahkan dengan nada hampir berbisik: “Tapi… dia bukan orang yang mudah ditangkap. Dia tahu semua jalur, semua titik pengawasan. Kita harus cerdik. Ini bukan sekadar menangkap, tapi menjebaknya.”
Di luar gedung, beberapa mobil hitam bergerak perlahan, mengintai arah yang mungkin akan dilewati Armand. Mereka mengira Armand berada di Batam untuk urusan biasa, tapi satu informasi bocor—dia sedang mempersiapkan strategi, dan mereka tidak tahu apa yang sudah ia ketahui.
Dalam kepanikan itu, para pengkhianat mulai saling curiga. “Siapa yang membocorkan lokasi kita?” seorang pejabat menjerit. “Jika Armand mengetahui ini, semua rencana gagal!”
Seorang pengacara menunduk, berkata dengan nada menahan ketakutan: “Kita harus bergerak diam-diam. Tidak boleh ada jejak. Jika Armand mencium ini, kita habis.”
Sejenak, sunyi menutupi ruangan. Semua menyadari bahwa mereka sedang bermain dengan seseorang yang lebih cerdik, lebih cepat, dan jauh lebih berpengalaman daripada mereka bayangkan.
Di Batam, Armand duduk di kamar hotelnya, menatap layar laptop. Ia membaca pesan, memantau jalur-jalur kota, dan menandai potensi jebakan yang sedang disiapkan. Ia tersenyum tipis, hampir dingin. “Mereka bergerak,” gumamnya, “dan itu berarti mereka panik. Kesalahan pertama mereka—panik sebelum waktunya.”
Dalam pikirannya, Armand mulai menyiapkan lawan-lawan lama itu—tidak dengan kekerasan, tetapi dengan strategi. Setiap langkah mereka akan ia prediksi, setiap gerakan mereka akan ia kendalikan. Dan satu hal pasti: mereka tidak akan pernah bisa menangkapnya, setidaknya, bukan tanpa membayar harga mahal.
Di Batam, malam itu panas, udara terasa penuh ketegangan. Kota yang dulu biasa kini menjadi medan permainan baru. Dan Armand tahu, perang ini bukan soal siapa lebih kuat, tapi siapa yang lebih cerdik, siapa yang bisa bertahan lebih lama di antara bayang-bayang masa lalu yang menunggu
Jebakan Pertama — Panik yang Terencana
Malam itu, di salah satu jalan kecil di Batam, beberapa mobil hitam bergerak perlahan. Lampu jalan hanya samar, dan bayangan pohon menari di dinding gedung tua. Para pengkhianat, mantan pejabat dan aparat yang dulu dibantu Armand, menahan napas. Mereka yakin malam ini akan menjadi malam yang menentukan.
“Pastikan jalur keluar tertutup,” perintah seorang pria berkemeja putih, matanya tajam. “Dia tidak boleh lolos.”
Di dalam salah satu mobil, seorang pengacara menatap ponselnya, wajahnya tegang. “Sinyal GPS sudah diaktifkan. Kita bisa tahu ke mana dia bergerak.”
Sementara itu, Armand duduk di kamar hotelnya. Lampu laptop memantulkan wajahnya yang tenang namun penuh fokus. Ia menatap layar, mengamati gerakan kendaraan mencurigakan dari kamera tersembunyi yang ia pasang di beberapa titik kota.
“Sudah bergerak lebih cepat dari yang kukira,” gumam Armand pelan, matanya menyipit. “Tapi mereka panik… panik selalu membuat orang salah langkah.”
...----------------...
Di jalan, mobil hitam itu berhenti di tikungan sempit. Salah seorang pengkhianat membuka pintu, menatap jalanan. “Dia harus lewat sini. Tidak mungkin dia memilih rute lain.”
Tanpa mereka sadari, Armand sudah memprediksi ini. Ia menyalakan beberapa kamera tambahan dan memberi sinyal ke jalur-jalur alternatif. “Jika mereka menyerang frontal, aku akan alihkan mereka… biarkan mereka mengejar bayangan,” pikirnya.
Di kantor pusat pengkhianat, ketegangan memuncak. “Apakah dia sudah terlihat?” tanya seorang perwira dengan suara gemetar.
“Belum,” jawab seorang pria muda, “tapi kami yakin dia akan muncul di sini. Jalur ini satu-satunya yang memungkinkan.”
Sekali lagi, Armand tersenyum tipis. Ia tahu mereka menaruh fokus pada jalur sempit itu. Dan tentu saja, itu bukan jalurnya. Ia sudah mempersiapkan jalan lain lebih aman, lebih cepat, dan dengan jebakan terselubung yang akan membuat mereka berpikir Armand ada di depan mereka, padahal ia jauh di tempat lain.
Di luar, gelap, panas, dan aroma laut samar menambah ketegangan. Mobil-mobil hitam itu bergerak perlahan, sementara Armand bergerak dengan tenang. Setiap langkah pengkhianat, setiap napas mereka, sudah ia hitung. Strategi mereka? Mereka bahkan tidak menyadari bahwa strategi itu sudah ia baca sejak awal.
Malam itu, di Batam, duel tidak terjadi dengan peluru atau kekerasan. Duel terjadi di antara pikiran, di antara bayangan, di antara strategi dan kontra-strategi. Dan satu hal yang pasti: mereka yang panik, mereka yang tergesa-gesa, akan selalu kalah di tangan Armand.
Di tikungan sempit itu, mobil-mobil hitam berhenti tepat di posisi yang telah mereka perkirakan. Lampu jalan memantulkan wajah tegang mereka. Semua mata tertuju pada jalan di depan, yakin Armand akan muncul.
Tapi… yang mereka lihat hanyalah bayangan samar, tiang listrik yang bergoyang, dan angin laut yang membawa aroma asin.
“Dia pasti di sini!” teriak seorang perwira, hampir panik. “Lihat! Di sana!”
Beberapa pria menembakkan lampu sorot ke jalanan. Tapi jalan itu kosong. Tidak ada Armand.
Di tempat lain, beberapa rute alternatif yang telah dipersiapkan Armand mulai bergerak. Kamera mini, sensor gerak, dan tim kecilnya yang tersembunyi—semua beroperasi sempurna. Armand menatap layar laptopnya, tenang, wajahnya nyaris tak berubah.
“Panik membuat mereka buta,” gumamnya pelan. “Sekarang saatnya… mereka akan jatuh ke perangkap mereka sendiri.”
Salah seorang pengkhianat membuka pintu mobil dan melangkah ke jalan, menurunkan pistol. “Aku akan mengejarnya sendiri!”
“Jangan!” teriak yang lain. Tapi terlalu lambat. Armand sudah memprediksi gerakan ini.
Mereka mulai tersandung pada jebakan kecil yang telah dipasang Armand: beberapa remang lampu, kabel tipis di jalan, sensor yang memicu alarm diam-diam di beberapa titik. Mobil itu berhenti mendadak, suara rem berdecit. Beberapa pria terpental, sebagian panik dan mulai menyalakan radio komunikasi tanpa koordinasi.
“Dia… dia tidak di sini!” teriak seorang pengacara, nadanya setengah gemetar.
Di kamar hotel, Armand memutar kursinya, melihat peta kota yang menampilkan titik-titik merah—mobil pengkhianat itu. Ia menekan tombol kecil, dan beberapa lampu jalan di jalur mereka berkedip, membuat mereka bingung, menebak arah Armand.
“Semua sudah ku perhitungkan,” katanya pelan. “Mereka berlari mengejar bayangan… dan bayangan itu selalu bisa aku kendalikan.”
Di kantor pusat mereka, ketegangan memuncak. “Apa yang terjadi?” teriak salah satu pejabat panik. “Dia menghilang… jalur utama kami aman, tapi kami kehilangan jejak!”
“Ini… ini tidak mungkin!” seorang pengkhianat muda hampir histeris. “Dia selalu satu langkah di depan!”
Armand tersenyum tipis. Malam itu bukan soal kekerasan, tapi tentang pikiran, strategi, dan ketenangan. Dan satu hal yang pasti: mereka yang serakah, yang panik, yang merasa bisa menekan Armand… malam ini belajar, bahwa Armand adalah bayangan yang tak pernah bisa mereka tangkap.
Di Batam, di kamar hotel, Armand menutup laptop, menarik napas panjang. Ia menatap kota dari jendela. Lampu-lampu jalan tampak tenang. Semua terlihat biasa. Tapi Armand tahu, semua yang bergerak di luar sana—para pengkhianat, aparat yang korup, mantan sekutu yang kini ingin menjeratnya—sedang panik.
Dan malam itu, satu hal jelas: permainan baru telah dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...