Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertarik
“Ini karena Nona Mirea sudah mengundang… aku nggak bisa menolak,” ujar Boris sambil tersenyum lebar.
“Begini saja, aku antar kalian berdua. Silakan,” tambahnya lagi, mempersilakan dengan gaya sok gentleman.
Mirea dan Noel saling berpandangan sebentar, lalu mengangguk bersamaan. Tanpa banyak bicara, mereka pun mengikuti langkah Boris ke arah pintu keluar, meninggalkan Kael dan Farel begitu saja di dalam ruangan.
Pintu tertutup.
Farel langsung menghela napas keras, wajahnya jelas tidak terima.
“Selera Mirea ini benar-benar rendah,” gerutunya kesal sambil melirik ke arah pintu.
“Dia nggak tertarik sama kamu, putra konglomerat dari Zhenkai… malah suka sama Boris, cowok bodoh itu,” lanjut Farel dengan nada meremehkan.
Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar gelas wine di tangannya perlahan, cairan merah di dalamnya ikut berputar mengikuti gerakan jarinya.
“Suka…?” gumamnya pelan.
Dalam benaknya, terlintas ekspresi Mirea barusan—senyum manis yang ia berikan pada Boris, lalu tatapan datarnya pada Kael sejak awal. Dua ekspresi yang sangat berbeda.
Kael berdiri dari duduknya. Ia meletakkan gelas wine di atas meja dengan tenang, lalu mengancingkan jas yang tadi terbuka.
“Bantu aku selidiki,” ujarnya singkat, suaranya datar tapi tegas.
“Di mana pesta pengakuan keluarga Rotwell akan diadakan.”
Mendengar itu, Farel langsung terdiam sesaat, lalu menatap Kael dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan geli.
“Wah… Tuan Kael, kamu terlalu kejam,” ujarnya setengah tertawa kecil.
“Kamu mau datang dan membatalkan semuanya di hari pengakuan keluarganya, ya?” tebak Farel, setengah bercanda tapi juga serius.
Kael hanya tersenyum kecil, terlihat justru semakin senang.
“Siapa bilang aku mau membatalkan pernikahan?” ujarnya santai, seolah itu bukan masalah besar.
“Hah?”
Farel langsung terpelongo. Alisnya terangkat tinggi, jelas tidak menyangka jawaban itu.
“Terus… kamu mau ngapain sebenarnya?” tanyanya, bingung setengah tidak percaya.
Kael tidak menjawab lagi. Ia hanya melirik ke arah pintu yang tadi dilewati Mirea, senyum tipis masih terlukis di sudut bibirnya.
......................
Sementara itu, di rumah…
Noel sedang dalam posisi paling menyedihkan seumur hidupnya.
Ia berlutut di depan sofa ruang keluarga, tepat di hadapan dua kakaknya yang lain—Aren dan Theo—dengan kedua tangan menyatu di atas kepala seperti terdakwa.
“Kak Aren, Kak Theo…” ujar Noel dengan suara serius tapi pasrah.
“Aku yang salah. Aku janji nggak akan ngajak adik pergi ke tempat kayak gitu lagi,” lanjutnya sambil menunduk dalam-dalam.
Aren duduk di sofa dengan tangan menyilang di dada, ekspresinya dingin dan tegas.
Theo di sampingnya hanya menghela napas panjang, menatap Noel seperti orang tua yang lelah menghadapi anak bandel.
Mirea berdiri di samping Noel, terlihat bingung sendiri.
“Eeh… aku… aku juga harus berlutut ya?” ucapnya polos sambil menunjuk dirinya sendiri.
Baru saja ia hendak ikut menunduk, tangan Aren langsung terulur menahan pundaknya.
“Tidak usah, Dik Mire,” kata Aren lembut tapi tegas.
“Kamu pasti ketakutan setelah pergi ke tempat seperti itu.”
Aren menarik Mirea untuk duduk di sebelahnya di sofa, sementara Noel… tetap dibiarkan berlutut di lantai.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aren khawatir.
Theo ikut mencondongkan tubuh, meneliti tangan Mirea, lengan, bahkan bahunya, memastikan tidak ada luka.
Mirea mengangguk cepat.
“Aku baik-baik saja, Kak. Kak Noel melindungi aku dengan baik,” ujarnya sambil menoleh ke arah Noel.
“Kak Noel sampai terluka demi melindungi aku,” tambahnya lagi dengan nada serius.
Mendengar itu, Noel langsung refleks berdiri, merapikan jasnya, membusungkan dada.
Seolah baru saja dinobatkan sebagai pahlawan keluarga.
Aren dan Theo menoleh bersamaan ke arah Noel.
“Siapa yang berani ganggu kalian?!”
Theo tiba-tiba bangkit dari duduknya, wajahnya langsung berubah tegang dan marah. Aura kakak tertua yang protektif itu langsung terasa memenuhi ruangan.
“Ah…”
Noel terlihat sedikit gugup. Ia merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak kusut.
“Aku sudah catat nama-namanya,” ujarnya pelan, lalu menyerahkan kertas itu ke arah Theo.
Sontak Mirea sedikit terkejut melihat itu.
“Selain Deza Yugala, ada juga Arif dari keluarga Fazleraz, dan beberapa yang lain,” lanjut Noel.
Belum sempat Noel selesai bicara, kertas itu langsung direbut Theo dengan gerakan kasar. Matanya menyapu daftar nama di sana satu per satu, sorotnya semakin gelap.
“Kak Theo akan bantu kalian memberi mereka pelajaran,” ujar Theo dingin, lalu melangkah menjauh beberapa langkah sambil mengeluarkan ponselnya.
Reaksi itu justru membuat Mirea makin kaget.
“Ng-nggak apa-apa, Dik Mire. Kakak ada di sini,” ujar Aren cepat, menepuk bahu Mirea pelan untuk menenangkannya.
Theo menekan nomor di ponselnya. Suaranya terdengar rendah, serius, berbicara singkat tapi padat. Ekspresinya perlahan berubah, dari marah… menjadi kaku.
“…Apa maksudmu?” ucap Theo tiba-tiba.
Ia menoleh ke arah Noel, Aren, dan Mirea. Tangannya meremas kertas di genggamannya sampai kusut.
“Semua orang-orang ini…”
Ia menelan ludah.
“…sudah mati?”
Sontak Aren dan Noel langsung membeku.
“Apa?!” Aren berdiri setengah refleks.
“Mati?” ulang Noel, tidak percaya.
Ruangan itu mendadak hening.
Sedangkan Mirea… hanya diam.
Tatapannya menunduk sedikit, ekspresinya datar, seolah sedang menghitung sesuatu di dalam kepalanya.
Oh… cepat juga, batinnya tenang.