Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Cemburu yang Tak Berizin
Gudang di pinggiran pelabuhan itu terasa lembab. Suara air laut yang menghantam dermaga menjadi latar belakang yang suram bagi ketegangan di dalam ruangan. Setelah panggilan telepon dari Seline terputus, keheningan yang tercipta justru terasa lebih menyesakkan daripada suara sirine polisi tadi.
Ryuga masih berlutut di depan Kiara, tangannya memegang perban baru. Namun, matanya terpaku pada ponselnya yang baru saja ia lempar ke atas peti kayu.
"Pak," suara Kiara terdengar bergetar. "Apa benar yang Anda katakan pada Dokter Seline tadi? Bahwa saya... alasan Anda memiliki masa depan?"
Ryuga terdiam sejenak. Ia tidak menjawab langsung, melainkan melanjutkan membalut luka Kiara dengan gerakan yang sangat hati-hati. Saat ia merogoh saku jas hitamnya yang tersampir di dekatnya untuk mengambil gunting medis, sebuah dompet kulit terjatuh.
Dompet itu terbuka di lantai. Di balik plastik beningnya, terselip sebuah foto lama yang sudah agak memudar. Seorang wanita cantik tertawa di samping Ryuga muda yang tampak lebih hangat itu adalah Seline.
Kiara melihatnya. Rasa perih yang ia rasakan saat Seline menghinanya tadi kini berubah menjadi bara api yang membakar dadanya. Jadi, dia masih menyimpan fotonya? pikir Kiara.
"Pak Ryuga," Kiara menarik kakinya dengan tiba-tiba, membuat balutan perban itu terlepas lagi. "Sepertinya saya sudah bisa mengurus diri saya sendiri. Lagipula, saya tidak ingin menjadi penghalang antara Anda dan... masa depan yang sebenarnya Anda inginkan."
Dino yang sedang mengotak-atik sistem navigasi ambulans di pojok gudang, tidak menyadari situasi yang sedang memanas. Ia justru sibuk dengan penemuan barunya.
"Waduh! Ryuga! Kiara!" seru Dino tanpa menoleh. "Aku baru saja meretas kurir pengiriman gaun merah yang mau dipakai Kiara di rencana awal kemarin. Pengirimnya bukan Seline, bukan juga Hendra!"
Dino menunjukkan layar tabletnya yang berkedip. "Alamat pengirimnya berasal dari sebuah panti asuhan tua di pinggiran kota. Namanya 'Panti Asuhan Cahaya'. Dan yang lebih gila lagi... dana pengirimannya di debit dari rekening yang sudah dibekukan sepuluh tahun lalu atas nama... Ayahmu, Kiara!"
Kiara dan Ryuga menoleh serentak. "Ayahku?" gumam Kiara.
Belum sempat mereka mencerna informasi dari Dino, pintu besi gudang digedor dengan keras.
Bukan gedoran polisi yang teratur, melainkan gedoran yang brutal dan tak sabaran.
"Ryuga! Aku tahu kau di dalam!" suara berat Hendra menggema dari luar. "Berikan jam itu dan gadis itu, atau aku akan membakar seluruh pelabuhan ini!"
Ryuga segera berdiri, ia menyambar pistol dari balik pinggang nya. "Dino, bawa Kiara ke pintu belakang! Sekarang!"
"Tidak!" Kiara berdiri, meskipun kakinya sakit. "Saya tidak akan meninggalkan Anda lagi. Jika ayah saya terlibat dalam semua ini, maka ini adalah misi saya juga."
Ryuga menatap Kiara dengan intens. Di tengah ancaman Hendra, ia menarik Kiara mendekat, memegang kedua bahunya. "Dengar, Kiara. Foto itu... itu hanya pengingat akan pengkhianatan yang tidak boleh kuulangi. Bukan karena aku masih mencintainya."
Dino menyambar tas kameranya dan sebuah tabung pemadam api. "Hei, drama cintanya nanti saja setelah kita tidak jadi abu! Hendra membawa lima orang bersenjata. Kiara, kau punya pisau taktis itu kan?"
Kiara mengangguk, ia mengeluarkan pisau kecil dari balik garter di paha yang tertutup gaun birunya yang robek. Ia tampak seperti pejuang yang terluka namun mematikan.
"Baiklah," Ryuga mematikan lampu gudang, membuat mereka berada dalam kegelapan total. "Dino, gunakan lampu flash kamera mu sebagai pengalih perhatian saat mereka masuk. Kiara, tetap di belakangku."
Pintu gudang roboh ditabrak mobil jip. Cahaya lampu jip menyambar ke dalam, menampakkan siluet Hendra dan anak buahnya.
"Selamat datang di pelabuhan kematian, Tuan Muda," ucap Hendra sambil menyeringai.
Kegelapan di dalam gudang itu terasa pekat, hanya menyisakan aroma solar dan garam laut yang menyengat.
Pernyataan Ryuga tentang foto Seline masih menggantung di udara, namun dentuman pintu besi yang nyaris roboh memaksa perasaan pribadi mereka terkunci rapat di balik adrenalin.
"Satu menit, Dino," bisik Ryuga sambil memeriksa magasin senjatanya. "Pastikan ambulans itu siap melesat begitu aku memberi aba-aba."
"Siap, Pak Bos! Tapi sumpah, kalau kita selamat, aku ingin pensiun jadi fotografer hantu dan pindah jadi fotografer makanan saja. Setidaknya donat tidak pernah menembaki kita!" Dino bergumam sambil menyiapkan flash eksternal berkekuatan tinggi di kedua tangannya.
BRAAAKKK!
Pintu gudang benar-benar hancur.
Dua buah mobil jip merangsek masuk, lampu jauhnya menyilaukan mata, membelah kegelapan seperti pedang cahaya. Hendra melangkah turun, memegang cerutu yang menyala merah di tengah kabut asap knalpot.
"Keluarlah, Ryuga! Jangan biarkan gadis pembuat jam itu mati konyol di sini!" teriak Hendra.
"SEKARANG, DINO!" Ryuga memberi perintah.
BLAAST!
Dino menekan tombol shutter kameranya berkali-kali. Cahaya lampu flash yang sangat terang meledak di dalam gudang yang gelap, menciptakan efek strobe yang membutakan mata Hendra dan anak buahnya.
Dalam hitungan detik, Ryuga bergerak seperti bayangan. Ia tidak menembak untuk membunuh, melainkan mengincar ban jip dan lampu-lampu utama. Kiara tidak tinggal diam; meskipun kakinya diperban, ia merayap di antara tumpukan peti, menggunakan keahlian memanjatnya untuk mencapai langit-langit gudang lewat tangga monyet.
Dari atas balok besi, Kiara melihat salah satu anak buah Hendra sedang membidik punggung Ryuga. Tanpa ragu, Kiara menjatuhkan sebuah rantai kapal besar yang tergantung di dekatnya.
KRAAAANG!
Rantai itu menghantam senjata pria tersebut hingga terlepas. Kiara meluncur turun menggunakan tali tambang, mendarat tepat di belakang pria itu dan melumpuhkannya dengan gagang pisau taktisnya.
"Kerja bagus, Kiara!" seru Ryuga. Ia segera menarik Kiara ke balik perlindungan peti baja.
Namun, Hendra tertawa dingin di balik mobilnya. "Kalian pikir cahaya lampu bisa menyelamatkan kalian? Aku sudah tahu tentang S-1945 lebih dari yang kalian duga. Jam itu bukan cuma kunci satelit, tapi juga pemegang data pencucian uang ayahmu, Ryuga!"
Di tengah baku tembak, sebuah sepeda motor sport hitam legam menerjang masuk ke dalam gudang lewat jendela samping yang pecah. Pengendaranya menggunakan helm full-face gelap dan jaket kulit hitam.
Tanpa bicara, orang misterius ini melemparkan beberapa granat asap ke arah anak buah Hendra, menciptakan tabir pelindung bagi Ryuga dan Kiara.
"Siapa lagi itu? Orangmu, Dino?" tanya Kiara sambil terbatuk karena asap.
"Bukan! Aku tidak punya teman sekeren itu!" jawab Dino dari balik ambulans.
Orang misterius itu memberi isyarat tangan agar mereka mengikuti arahannya menuju pintu keluar rahasia di dermaga belakang. Saat ia melewati Kiara, sebuah aroma parfum yang sangat familiar tercium oleh Kiara campuran antara kayu cendana dan bunga lily yang sama dengan aroma gaun merah misterius.
Ryuga menyambar tangan Kiara, membantunya berdiri. Saat mereka berlari menyusuri dermaga di bawah hujan yang kembali turun, Ryuga sempat melirik ke arah dompetnya yang masih tergeletak di lantai gudang ditinggalkan begitu saja.
"Ryuga, dompetmu!" Kiara berteriak di tengah deru angin.
"Biarkan saja!" sahut Ryuga tanpa menoleh. "Foto itu milik masa lalu yang sudah mati. Kau adalah masa depan yang sedang aku perjuangkan sekarang!"
Perkataan itu membuat langkah Kiara sedikit terhenti. Di tengah kepungan musuh dan hujan yang mengguyur Gaun Biru Safir-nya yang kini compang-camping, Kiara merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Ryuga tidak lagi memanggilnya asisten , tapi menyebutnya sebagai 'masa depan'.
*Pelarian ke Panti Asuhan*
Mereka berhasil melompat ke atas speedboat yang sudah disiapkan oleh si pengendara misterius. Dino menyusul dengan aksi teatrikal, hampir terpeleset masuk ke laut jika tidak ditarik oleh Ryuga.
"Ke mana kita?" tanya Dino sambil mengatur napas.
Orang misterius itu membuka kaca helmnya sedikit, menampakkan mata yang tajam namun penuh kesedihan. "Ke Panti Asuhan Cahaya. Tempat di mana semua kebohongan Dewangga dimulai."
Ryuga tertegun. Suara itu... ia merasa pernah mendengarnya, tapi di mana?
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?