Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu pagi-pagi buta?
“Enak,” ucap Zoran dengan wajah cerah.
Dia benar-benar merasakannya. Bunga itu memiliki rasa yang agak aneh, sedikit manis, bercampur pedas tipis yang menghangatkan tenggorokan.
Namun yang paling jelas terasa adalah perubahan pada tubuhnya.
Dingin yang sejak tadi mencengkeram hingga ke tulang perlahan mereda. Tidak banyak, tapi cukup terasa.
Zoran menatap tangannya sendiri, lalu mengepalkannya pelan. “Hah… rasanya sedikit lebih baik,” gumamnya puas.
“Sudah kuduga,” katanya sambil terkekeh. “Bunga secantik ini pasti tanaman obat.”
Tanpa ragu lagi, Zoran kembali memetik bunga-bunga merah bercorak oranye itu. Kali ini lebih banyak. Dia menyimpannya di saku dan di lipatan bajunya, memastikan tidak ada yang terjatuh.
Di kepalanya, sebuah rencana sederhana terbentuk.
Nanti aku bisa membuat minuman dari bunga ini. Kalau efeknya bisa menghangatkan tubuh, ini sangat berguna di tempat sialan ini.
Setelah merasa cukup, Zoran akhirnya meninggalkan semak-semak itu dan kembali ke tempat tinggal sementaranya.
Begitu sampai, Zoran langsung menyalakan api unggun. Dia mengambil batu yang memiliki lubang alami di tengahnya, lalu memanaskan salju hingga mencair. Setelah itu, bunga-bunga yang dia kumpulkan dimasukkan satu per satu ke dalam air panas.
Aroma aneh namun cukup harum mulai tercium.
Zoran menunggu sebentar, lalu meminum air itu perlahan. “Haaah…” Dia tersenyum puas.
Minuman itu terasa lebih ringan daripada memakan bunganya langsung, dan efek hangatnya terasa sedikit lebih jelas.
Setelah menghabiskan beberapa teguk, tubuh Zoran akhirnya terasa cukup nyaman untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Tak lama kemudian, kelelahan menguasainya.
Zoran pun tertidur.
Malam semakin larut.
Di antara pepohonan yang tertutup salju, sebuah sosok bersembunyi. Dia berdiri diam di balik batang pohon besar, mengamati Zoran yang tertidur pulas di dekat tendanya.
Tatapannya penuh kebingungan.
Sosok itu memperhatikan api unggun yang mulai meredup, lalu menatap wajah Zoran yang pucat namun terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Dia mengamati cukup lama.
Sangat lama.
Akhirnya, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, sosok itu berbalik dan menghilang di antara pepohonan.
\*\*\*
Keesokan harinya...
Zoran terbangun dengan jantung berdebar kencang.
Suara-suara berat dan napas kasar terdengar di sekelilingnya.
Saat dia membuka mata, darahnya seakan membeku.
Di sekeliling tendanya, segerombolan serigala telah mengepung. Tubuh mereka besar, bulu mereka tebal, dan mata mereka memantulkan kilatan dingin yang mengerikan.
Zoran sudah terlanjur berada di luar tenda. “Ke-kenapa pagi-pagi buta sudah ada tamu begini” gumamnya gugup.
Auu
Auu
Auuu
Raungan para serigala terdengar bergantian, membuat suasana pagi yang sunyi berubah mencekam.
Tanpa berpikir panjang, Zoran meraih obor di dekatnya dan mengacungkannya ke arah para serigala.
Api bergoyang tertiup angin.
“Pergi!!” teriak Zoran keras, mencoba menutupi ketakutannya.
Para serigala tidak langsung mundur. Mereka bergerak perlahan, mengelilinginya, seolah menunggu celah.
Keringat dingin mengalir di punggung Zoran.
Saat Zoran mengancam para serigala dengan obor di tangannya, suasana justru menjadi semakin tegang.
Tiba-tiba...
Sebuah bayangan gelap menerkam dari samping.
Zoran terkejut. Matanya membelalak, tapi tubuhnya sudah terlambat bereaksi.
Brak!
Tubuhnya terjatuh keras ke tanah bersalju. Sebelum dia sempat bangkit, rasa sakit luar biasa menghantam bahunya.
“Aaargh!!”
Sebuah rahang besar menggigit bahu Zoran dengan brutal. Gigi-gigi tajam menancap dalam, membuat darah langsung mengalir hangat di tengah dingin yang membekukan.
“Keparat!!”
Zoran meraung kesakitan. Dengan panik, dia meronta-ronta sekuat tenaga. Tangannya menghantam tubuh serigala itu tanpa arah, kadang dengan kepalan kosong, kadang dengan obor yang masih menyala.
Api menyambar bulu serigala, namun binatang itu tetap menggigit, seolah tidak peduli dengan rasa sakit.
Belum sempat Zoran melepaskan diri, rasa putus asa kembali menghantamnya.
Dari sudut matanya, dia melihat serigala-serigala lain mulai mendekat.
Perlahan.
Tenang.
Pasti.
Tatapan mereka tajam dan dingin, menatap Zoran seperti mangsa lezat yang sudah terpojok. Air liur menetes dari mulut mereka, menodai salju di bawah kaki-kaki mereka.
Zoran tahu. Begitu dia jatuh sepenuhnya, mereka akan menerkam bersama-sama.
Dalam kepanikan, Zoran terus meronta. Tanpa sengaja, ujung obor di tangannya menghantam wajah serigala yang menggigit bahunya.
Tepat mengenai mata.
Rawr!!
Serigala itu meraung keras, raungan yang penuh rasa sakit. Gigitannya melemah, lalu tubuhnya meloncat mundur dengan liar, mengibaskan kepala sambil mengerang.
Serigala-serigala lain terhenti sejenak.
Tatapan mereka tetap tertuju pada Zoran, tajam dan penuh niat membunuh.
Dengan napas terengah-engah, Zoran segera memanfaatkan kesempatan itu. Dia bangkit tertatih-tatih dan mundur, menjaga jarak sambil terus mengacungkan obor.
Namun harapannya segera runtuh.
Para serigala tidak pergi. Mereka bergerak. Perlahan tapi pasti, mereka mengepungnya.
Depan.
Belakang.
Samping.
Tidak ada celah.
“Pagi-pagi sudah kena sial begini…” gumam Zoran dengan wajah meringis.
Tangannya gemetar saat memegangi bahunya yang terluka. Luka itu dalam, sangat dalam, hampir membuat bahunya terasa seperti akan terlepas dari tubuhnya.
“Apa aku memang sesial ini…”
Darah terus menetes, membasahi salju di bawah kakinya.
Auuuu!!
Tiba-tiba, raungan panjang terdengar.
Bukan satu.
Raungan itu menggema, berat dan penuh tekanan, membuat bulu kuduk Zoran berdiri.
Para serigala berhenti bergerak.
Setelah raungan itu berhenti, sesuatu yang aneh terjadi.
Para serigala… membuka jalan. Lalu satu sosok bergerak dari barisan serigala.
Seekor serigala melangkah maju dengan sikap angkuh, berjalan perlahan melewati para serigala lain yang langsung menundukkan kepala begitu ia lewat.
Tatapannya dingin dan merendahkan, menatap Zoran seolah sedang melihat sesuatu yang bahkan tidak layak disebut mangsa.
Sampah.
Zoran tertegun. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Dia mengenal serigala itu.
“Itu…” napas Zoran tersendat. “Itu serigala sialan itu.”
Serigala yang pernah dia potong kemaluannya.
Rasa frustrasi mendadak membanjiri kepalanya, bercampur dengan ketakutan dan kemarahan yang sulit dibedakan. Tangannya yang memegang obor bergetar hebat.
“Pasti dia datang untuk balas dendam?” pikirnya pahit.
Tidak masuk akal jika serigala itu datang hanya untuk sekadar lewat. Apalagi setelah semua yang Zoran alami di dunia ini, dia mulai sadar bahwa hewan-hewan di tempat ini tidak bisa disamakan dengan binatang biasa di Bumi.
Mereka punya kecerdasan.
Dan serigala di hadapannya ini… jelas berada di tingkat yang berbeda.
Cara para serigala lain menunduk, sikapnya yang tenang, tatapan penuh penghinaan... semua itu menunjukkan satu hal.
Serigala ini adalah pemimpin.
Dan pemimpin itu terlalu kuat.
Terlalu sulit dipercaya bahwa makhluk seperti ini tidak memiliki kecerdasan jauh di atas serigala lain.
Perasaan putus asa menghantam Zoran seperti palu besar. Namun justru di saat itulah, matanya memerah.
“Tidak bisa,” gumamnya serak. “Kalaupun mati… aku tidak mau mati sambil pasrah.”
Tanpa ragu lagi, Zoran berteriak dan berlari ke depan. Dia menyerang.
Zoran mengacungkan obor dan menusukkannya ke arah pemimpin serigala itu dengan seluruh sisa tenaga yang dia miliki.
Namun serigala itu hanya menatapnya sekilas. Tatapannya meremehkan.
Dengan gerakan santai, pemimpin serigala melangkah menyamping, menghindari tusukan itu seolah Zoran hanya anak kecil yang mengayunkan tongkat.
Belum sempat Zoran menarik obornya kembali...
Srak
Cakar tajam menghantam punggungnya.
Tubuh Zoran terlempar ke depan dan menghantam tanah bersalju.
Bruk!
Salju bercampur darah.
Darah mengalir dari hidung Zoran, menetes ke tanah putih di bawahnya. Dengan napas terengah-engah dan tubuh gemetar, Zoran memaksa dirinya bangkit.
Belum sempat rasa sakit mereda, dia kembali berlari.
Menyerang lagi.
Dan lagi.
Namun waktu berlalu, dan hasilnya tetap sama.
Setiap kali Zoran menyerang, pemimpin serigala itu selalu menghindar dengan mudah. Kadang melangkah ke samping, kadang melompat ringan, lalu membalas dengan satu cakar cepat yang membuat Zoran kembali tersungkur.
Tidak pernah membunuhnya.
Hanya menjatuhkannya.
Berulang kali.
Serigala itu tampak menikmati permainan ini. Seolah sedang mempermainkan mangsa yang sudah pasti mati, hanya menunggu waktu.
Napas Zoran semakin berat. Pandangannya mulai kabur, tubuhnya penuh luka, namun pemimpin serigala itu tetap berdiri tegak tanpa setitik pun luka.
Tatapannya masih sama.
Dingin.
Meremehkan.