akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 – Regu yang Memilih Jalan Sendiri
Lapangan utama pusat pelatihan dipenuhi barisan manusia berseragam abu-abu gelap. Di hadapan mereka, sebuah panggung darurat berdiri dengan bendera nasional berkibar di belakangnya. Kamera pengawas mengarah ke segala penjuru, merekam setiap wajah yang berdiri di sana.
Tulisan besar terpampang di layar:
PENGUMUMAN REGU SUPERHUMAN RESMI PERTAMA
Rey berdiri sejajar dengan Leoni dan Sila di barisan tengah. Boy berdiri beberapa langkah di depan mereka, tubuh tegapnya terlihat menonjol di antara para superhuman lain. Api kecil berdenyut samar di telapak tangannya, seperti mencerminkan kegelisahan di dadanya.
Seorang pejabat tinggi pemerintah melangkah maju.
“Mulai hari ini,” ucapnya lantang,
“pemerintah secara resmi membentuk regu superhuman pertama untuk melawan ancaman monster. Mereka yang terpilih akan menjadi garis depan pertahanan umat manusia.”
Nama-nama mulai dipanggil satu per satu.
“Leoni, kemampuan jarak jauh tipe sniper otomatis.”
Leoni mengangkat kepala, matanya sedikit melebar.
“Sila, kemampuan tipe listrik.”
Tubuh Sila menegang. Rey bisa merasakan tangan adiknya sedikit gemetar di sampingnya.
“Boy, kemampuan elemen api. Ditunjuk sebagai wakil kapten regu resmi pertama.”
Suara gumaman langsung menyebar di barisan. Boy terdiam, napasnya tertahan sejenak.
Lalu nama terakhir dipanggil.
“Rey, kemampuan pertahanan tipe tameng energi. Diproyeksikan sebagai anggota inti regu.”
Semua mata tertuju pada Rey.
Ia melangkah maju satu langkah, namun tidak langsung berdiri di barisan depan seperti yang diperintahkan.
Pejabat itu mengangguk puas.
“Kalian berempat, bersama sepuluh superhuman lainnya, akan menjadi fondasi pasukan resmi pemerintah.”
Namun Rey justru mengangkat tangannya.
“Maaf,” katanya tenang namun jelas terdengar di seluruh lapangan.
“Saya menolak.”
Suasana langsung berubah tegang.
“Apa maksudmu?” tanya pejabat itu dingin.
“Saya tidak ingin berada di bawah komando penuh pemerintah,” jawab Rey.
“Saya ingin melindungi orang-orang… bukan menjadi alat.”
Bisik-bisik panik terdengar.
“Rey…” bisik Leoni kaget.
Rey menoleh ke arah Sila.
“Kamu tidak harus ikut aku.”
Namun Sila justru melangkah maju.
“Aku ikut kakak,” katanya lirih tapi tegas.
“Aku tidak mau terpisah atau jauh dari kakak.”
Leoni menggertakkan gigi sejenak, lalu ikut maju.
“Kalau Rey tidak masuk regu resmi… aku juga tidak.”
Kini suasana benar-benar kacau.
“Ini pembangkangan!”
“Mereka menolak perintah negara!”
Boy berdiri kaku di barisan depan. Dadanya terasa sesak.
Wakil kapten…
Regu resmi…
Itu seharusnya menjadi kehormatan terbesar.
Namun matanya tidak bisa lepas dari Rey, Sila, dan Leoni yang berdiri terpisah dari barisan.
Pejabat itu menatap Rey tajam.
“Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Tanpa sistem, tanpa struktur, kalian akan menjadi liar.”
Rey tidak menunduk.
“Saya sadar Pak, tapi saya akan tetap mendukung pemerintah.”
Keheningan panjang menyelimuti lapangan.
Beberapa jam kemudian, mereka dipanggil ke ruang rapat tertutup.
Rey, Sila, Leoni, dan Boy duduk di satu sisi meja panjang. Di sisi lain, beberapa pejabat dan perwira militer menatap mereka dengan ekspresi serius.
“Kami tidak bisa membiarkan individu kuat berjalan tanpa kendali,” kata seorang jenderal.
Rey menjawab tenang,
“Dan saya tidak bisa membiarkan tim saya dalam kendali pemerintah.”
Seorang pejabat lain membuka tablet dan menampilkan rekaman.
Pertarungan melawan monster pertama.
Pertarungan melawan laba-laba raksasa.
“Kalian telah membunuh dua monster,” katanya.
“Tanpa korban jiwa sipil.”
Rey terdiam.
“Kami mengakui jasa kalian,” lanjutnya.
“Dan kemampuanmu sebagai pemimpin.”
Jenderal itu menyilangkan tangan.
“Karena itu… kami akan membuat pengecualian.”
Rey mengangkat kepala.
“Kami akan membentuk satu unit khusus di luar regu resmi.
Dipimpin olehmu.”
Leoni membelalakkan mata.
“Sungguh?”
“Tetap di bawah pengawasan pemerintah,” tambah pejabat itu,
“namun dengan otonomi terbatas.”
Sila mencengkeram lengan Rey.
“Kak…”
Rey mengangguk pelan.
“Kami terima.”
Di luar ruang rapat, Boy berdiri sendirian di lorong panjang.
Seragam regu resmi terlipat di tangannya. Lambang wakil kapten terpasang rapi di dada.
Ia menatap lambang itu lama.
“Aku seharusnya bangga…”
Namun bayangan Rey yang berdiri melindungi Sila terus terlintas di pikirannya.
Kalau aku ikut regu resmi…
aku akan berdiri di barisan berbeda dari mereka.
Langkah kaki terdengar.
Rey berdiri di ujung lorong.
“Kamu dipilih jadi wakil kapten,” kata Rey.
Boy tertawa kecil tanpa humor.
“Harusnya aku senang ya.”
“Ini kesempatan besar.”
“Iya,” Boy mengangguk.
“Dan itu yang bikin berat.”
Ia menatap Rey.
“Kalau aku ikut mereka… aku nggak bisa lagi bertarung bareng kalian.”
Rey diam.
“Aku tentara bayaran,” lanjut Boy.
“Aku biasa nurut perintah. Tapi waktu lihat kamu berdiri depan adikmu… aku sadar…”
“Tembakan paling penting bukan ke monster,” katanya pelan.
“Tapi berdiri di depan orang yang mau kamu lindungi.”
Boy menarik napas dalam.
“Aku menolak regu resmi.”
Rey terkejut.
“Kamu yakin?”
Boy melepas lambang di dadanya dan menggenggamnya erat.
“Aku pilih timmu.”
Keputusan Boy mengejutkan seluruh pusat pelatihan.
“Wakil kapten mengundurkan diri?”
“Dia ikut Rey?”
“Kelompok khusus?”
Pejabat yang sama memanggil mereka kembali.
“Kami sudah tahu keputusanmu, Boy,” katanya datar.
Boy berdiri tegap.
“Saya ingin bergabung dengan tim Rey.”
Ruangan hening.
Jenderal menghela napas panjang.
“Baik.
Kalian akan menjadi…”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata,
“Unit Khusus Independen.
Dipimpin oleh Rey.
Anggota awal: Rey, Sila, Leoni, dan Boy.”
Rey mengepalkan tangan.
Sila tersenyum kecil.
Leoni menghela napas lega.
Boy tersenyum lebar.
“Regu Rey,” katanya ringan.
Rey menatap mereka bertiga.
“Mulai sekarang… kita bukan bagian dari regu resmi.”
“Tapi kita akan berdiri di depan mereka,” sambung Leoni.
“Buat lindungi orang,” kata Sila.
Boy mengepalkan tinju.
“Dan bunuh monster.”
Rey menatap langit dari jendela gedung.
Regu resmi terbentuk.
Regu khusus juga lahir.
Dua jalan kekuatan kini terbuka.
Dan ia tahu…
jalan yang ia pilih jauh lebih berbahaya.
Namun itu adalah jalan yang ia yakini benar.
Pemerintah membentuk unit khusus di bawah Rey. Boy meninggalkan jabatan wakil kapten dan memilih tim Rey.
Dua kekuatan manusia kini berjalan berdampingan…
dan dunia semakin mendekati perang besar.