Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Senja
Pikiran Arman dipenuhi oleh Nadia sepanjang perjalanan pulang. Bukan dengan nafsu yang buta seperti ketika ia terpana pada foto-foto di Instagram Budi, tapi dengan sebuah daya tarik yang lebih dalam, lebih membahayakan.
Ia terpukau oleh ketenangannya, kecerdasannya, dan—yang paling mengusik—pengakuannya yang tulus bahwa pilihan Arman adalah langka. Kata itu menggema di telinganya. Langka.
Setelah sekian lama merasa biasa-biasa saja, bahkan gagal, dianggap langka oleh seorang wanita seperti Nadia adalah obat manis yang langsung menyuntikkan kepercayaan diri yang lama mati suri.
Di sisi lain kota, Nadia duduk di dalam mobil SUV hitam yang nyaman, tangannya masih terasa hangat oleh jabatan tangan anak-anak yatim.
Senyum ramahnya telah luluh, digantikan oleh ekspresi kontemplatif yang dalam. Ia menatap jalanan yang mulai terang oleh lampu jalan.
Betapa beruntungnya dirimu, Rani, pikirnya, dengan rasa iri yang samar namun nyata. Memiliki seorang suami yang, di tengah segala kekurangannya, masih memiliki prinsip yang ia pegang.
Yang memilih berjuang di dapur bersama istrinya daripada menerima tawaran yang memudahkan jalannya. Sebuah bayangan melintas: andai Arman melangkah, meraih peluang yang ditawarkan Budi, mungkin dia bisa menjadi pria yang lebih "layak" di matanya.
Tapi justru karena ia menolak, ia terlihat lebih berharga. Jangan sampai kau salah langkah, Rani. Jangan sampai kau biarkan kelelahan dan kecurigaanmu menghancurkan apa yang kau punya.
Karena kalau kau lengah… Ia tidak menyelesaikan kalimat itu, tapi sebuah senyum kecil yang ambigu mengerling di sudut bibirnya. …dia mungkin akan melangkah ke pelukanku, dan kau tak akan mampu menahannya.
Arman tiba di rumah dengan kepala masih berawan. Ia menyerahkan amplop berisi uang pembayaran plus tip dari Nadia kepada Rani, yang sedang menghitung uang receh hasil warung.
"Terima kasih," kata Rani singkat, tanpa menatapnya, mengambil amplop dan menambahkannya ke dalam tumpukan uang yang sedang ia hitung. Tidak ada tanya-tanya tentang pesanan, tentang yayasan, tentang bagaimana harinya. Hanya ada transaksi bisnis yang dingin.
Malam itu, ritual ngopi di teras kembali dilakukan Arman. Namun kali ini, rasanya berbeda. Rasa kopi pahit itu terasa seperti cermin dari hidupnya: ditinggalkan sendirian dalam dinginnya malam, dicurigai tanpa henti, dianggap tidak cukup.
Mentang-mentang gue cuma ojol, pikirnya getir, menatap langit yang tak berbulan. Nggak bisa kasih rumah mewah, emas bertumpuk, atau liburan ke mall mewah. Jadinya setiap kata gue dianggap salah, setiap niat gue dianggap jahat.
Dan dalam keheningan yang menyakitkan itu, bayangan Nadia muncul lagi. Wanita yang melihatnya tanpa prasangka itu. Wanita yang menganggap pilihannya langka. Wanita yang berbicara kepadanya dengan nada penghormatan, bukan nada kecurigaan atau kekecewaan.
Sosoknya hadir seperti oasis di tengah padang pasir pengabaian di rumahnya sendiri. Pikiran itu berbahaya, ia tahu. Tapi malam itu, kelelahan dan rasa sakit hatinya membuat benteng pertahanannya rapuh.
Keesokan paginya, Arman bangkit dengan tekad yang tumpul. Ia mengenakan jaket hijau, merasa seperti kembali memakai baju tahanan.
Dunia di luar sana, meski keras, terasa lebih adil daripada keheningan yang menyiksa di rumah ini. Setidaknya di jalan, ia dihargai dengan uang yang jelas untuk jasanya, bukan dengan tatapan curiga.
Sepanjang pagi, ia menerima orderan biasa. Mengantar seorang bapak-bapak ke kantor kelurahan.
“Macetnya makin jadi-jadi ya, Mas,” ujar si bapak, bersandar di jok belakang.
“Iya, Pak. Tiap tahun makin parah,” jawab Arman otomatis.
“Sekarang kerja apa aja susah. Anak saya lulusan S1 nganggur setahun.”
“Semoga cepat dapat rezeki, Pak.”
Obrolan kosong itu mengalir, mengisi waktu tanpa menyentuh sisi mana pun dari jiwanya yang sedang kacau. Ia hanya mesin yang berbicara.
Sementara itu, di rumah, Rani menyibukkan diri dengan ritme barunya. Tanpa bergantung pada Arman, ia menemukan stabilitas kecil. Orderan risoles dan pisang goreng untuk arisan kompleks datang rutin.
Ia juga mulai menerima pesanan nasi bungkus sederhana untuk para tukang yang bekerja di perumahan baru dekat situ. Omzetnya tidak besar, namun cukup untuk kebutuhan harian, membeli susu Aldi, dan perlahan-lahan menyisihkan untuk tagihan.
Ia bekerja sama dengan Ibu Tuti, dan hubungan mereka sederhana, jelas: bagi hasil. Tidak ada emosi yang ruwet, tidak ada tuduhan yang menyakitkan. Dalam kesendiriannya, Rani justru menemukan ketenangan tertentu.
Namun, di sudut hati terdalam, ada kekosongan yang tak terisi oleh dering uang receh. Ia melihat Arman yang datang dan pergi seperti bayangan, dan hatinya sesekali tercekat. Tapi harga diri dan lukanya masih terlalu besar untuk mengulurkan tangan terlebih dahulu.
Siang yang terik. Arman memutuskan istirahat di titik kumpul ojol langganannya di bawah jembatan layang. Ia duduk di atas kardus, membeli nasi bungkus seharga sepuluh ribu, dan makan dengan lahap sambil mendengarkan keluhan teman-temannya tentang penumpang yang tidak jelas alamatnya.
“Gue tadi disuruh muter-muter aja sama cewek, katanya lagi nelponin pacarnya yang mau putus. Gue jadi tukang intimidasi bayaran,” keluh Juki, dan semua orang tertawa.
Dalam suasana santai itu, ponsel Arman bergetar. Bukan notifikasi orderan. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Jantungnya langsung berdebar kencang. Ia punya firasat.
Ia membukanya.
[Nomor Tak Dikenal] : Lagi santai ya, Mas?
Arman menatap sekeliling dengan cepat, seperti merasa diawasi. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya teman-teman ojol yang sedang asyik ngobrol.
[Nomor Tak Dikenal] : Saya lihat Mas dari sini. Di kafe seberang jalan ini. Yang ada payung birunya.
Arman menoleh ke arah yang dimaksud. Di seberang jalan raya, memang ada sebuah kafe kecil dengan teras outdoor dan beberapa payung biru. Dari kejauhan, sosok seorang wanita duduk sendirian di salah satu meja. Pakaiannya sederhana, tapi posturnya… familiar.
[Nomor Tak Dikenal] : Kesini aja kalau lagi kosong. Saya udah pesenin kopi.
“Ada apa, Man? Wajah lo kayak habis dapet orderan ke Bali,” goda Bayu.
“Ah, nggak. Cuma… ada yang perlu di urus,” jawab Arman berdiri, membereskan sisa makanannya.
“Hati-hati di jalan.”
Dengan langkah yang sedikit ragu namun dipenuhi oleh tarikan magnet yang kuat, Arman menyeberang jalan. Semakin dekat, sosok itu semakin jelas. Itu memang Nadia. Ia mengenakan blus lengan panjang warna krem dari bahan linen yang terlihat mahal, dan celana palazzo hitam.
Rambutnya tersibak rapi memperlihatkan anting-anting mutiara kecil di telinganya. Di hadapannya, ada dua cangkir kopi. Ia sedang menatap layar laptop tipis, tetapi saat Arman mendekat, ia menutupnya perlahan dan mengangkat wajah. Senyumnya hangat, namun matanya masih memancarkan kecerdasan dan intensitas yang sama.
“Mas Arman. Tepat seperti yang saya duga, pasti datang,” sambutnya.
“Mba Nadia. Ini… kebetulan yang aneh,” kata Arman, masih berdiri.
“Duduk dulu, Mas. Kopinya nanti dingin.” Nadia menunjuk kursi di seberangnya. “Dan ini bukan kebetulan. Saya sengaja menunggu di sini. Saya tahu ini titik kumpul driver di area sini.”
“Kenapa? Untuk apa?” tanya Arman, akhirnya duduk. Aroma kopi hitam yang kuat memenuhi hidungnya.
“Untuk melanjutkan percakapan kita kemarin. Dan untuk menawarkan sesuatu,” jawab Nadia, menyeruput kopinya sendiri—sepertinya latte.
“Menawarkan sesuatu? Saya sudah bilang, saya tidak tertarik dengan yang Bapak Budi tawarkan.”
“Ini bukan dari Budi,” sahut Nadia cepat, matanya tajam.
“Ini murni dari saya. Saya melihat potensi. Dan saya punya jaringan. Katering istri Mas punya cita rasa yang bagus, tapi marketing dan skalanya mentok. Saya bisa bantu membawanya ke level berikutnya.
Menjadi supplier tetap untuk beberapa acara yayasan saya, bahkan untuk koperasi karyawan di beberapa perusahaan klien saya.”
Arman terkesiap. Ini tawaran bisnis yang nyata. Bukan soal poligami. Tapi dari Nadia, segala sesuatu terasa memiliki dua lapisan makna
.
“Kenapa mau bantu kami?” tanyanya penuh curiga.
“Karena saya percaya pada orang yang berprinsip. Dan karena,” Nadia memandangnya dalam-dalam, “saya rasa Mas dan istri Mas layak dapat kesempatan. Tanpa ada embel-embel lain. Murni bisnis.”
“Kalau murni bisnis, kenapa tidak hubungi istri saya langsung? Atau lewat kontak bisnis?”
Nadia tersenyum, sedikit misterius. “Karena saya ingin memastikan komitmen Mas terlebih dahulu. Dalam bisnis, komitmen suami-istri itu penting. Kalau salah satu goyah, usaha akan runtuh. Setelah mengamati Mas kemarin dan hari ini, saya yakin Mas punya komitmen itu. Meski…” ia jeda, “…rumah tangga Mas sedang tidak dalam kondisi terbaik.”
Kata-katanya seperti pisau bedah. Arman merasa terbuka. “Itu urusan kami.”
“Tentu. Dan saya tidak ikut campur. Saya hanya menawarkan bisnis. Jadi, bagaimana? Maukah Mas menyampaikan tawaran ini pada istri Mas? Atau kita buat meeting kecil bertiga besok?”
Arman bingung. Ini seperti mimpi. Jaringan. Supplier tetap. Ini bisa menjadi solusi nyata dari semua masalah ekonomi mereka. Tapi ada alarm kecil di kepalanya. Ini terlalu mudah. Dan datang dari sumber yang… ambigu.
“Saya… harus bicara dulu dengan istri saya,” jawab Arman akhirnya, jawaban paling aman.
“Wajar.” Nadia mengangguk. Ia mengeluarkan kartu nama dari tas kulit kecilnya. Bukan kartu nama biasa, tapi kartu yang terbuat dari kertas tebal, hanya bertuliskan nama Nadia Farah dan sebuah alamat email. Tidak ada nomor telepon, tidak ada jabatan.
“Email saya. Diskusikan dengan istri Mas. Jika setuju, balas email ini. Kita atur pertemuan.”
Arman menerima kartu itu. Terasa berat di tangannya.
“Dan Mas,” tambah Nadia sebelum Arman pergi, suaranya lebih lembut, “jangan terlalu keras pada diri sendiri. Terkadang, jalan keluar itu datang dari arah yang tak terduga. Bukan dari hantaman kepala ke tembok yang sama.”
Dengan kata-kata itu, Nadia membayar kedua kopi mereka, memberikan senyum terakhir yang membekas, dan berjalan pergi dengan elegan, meninggalkan Arman sendirian di meja dengan dua cangkir kopi: satunya sudah habis, satunya lagi—kopi hitam untuk nya—masih penuh, mengepulkan asap tipis ke udara Jakarta yang sudah mulai berwarna jingga.
Arman memandangi kartu nama itu, lalu ke arah langit senja. Sebuah tawaran penyelamatan datang. Bukan dari doa di teras rumah, bukan dari kerja keras narik ojol, tapi dari seorang wanita misterius yang datang bagai dewa dan dalam dadanya, konflik yang lebih dahsyat daripada sekadar memilih antara terima atau tolak kini bergolak.
Antara kesetiaan pada perjanjian dengan Rani (yang sedang retak), dengan kesempatan nyata untuk mengangkat derajat keluarganya.
Dan di balik semua itu, ada bisikan halus yang menggoda: Apa benar ini murni bisnis?
Senja semakin pekat, dan bayang-bayang pilihan yang harus diambil Arman semakin panjang, menyapu aspal panas yang telah menjadi saksi bisu seluruh pergulatan hidupnya.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.