NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan di Gang Sempit

(Pagi setelah tiba di Yorknew, sehari sebelum Raito naik ke lantai 1)

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai tipis di kamar Moonlight Inn, menerangi debu yang beterbangan seperti butir-butir emas kecil. Raito terbangun lebih dulu, tubuhnya kaku karena tidur di kasur tipis yang sudah berlubang di beberapa tempat. Dia duduk di tepi tempat tidur, memandang Mira yang masih tertidur lelap di kasur sebelah—wajahnya rileks, tapi tangan kanannya tetap berada di dekat pisau di pinggang, seperti refleks yang tak pernah hilang.

Raito menghela napas pelan. Kemarin malam, setelah latihan kecil di kamar, dia hampir pingsan karena menguras aura terlalu banyak. Kepalanya masih pusing ringan, seperti habis minum kopi terlalu banyak. Dia sadar: kalau mau bertahan di Heavens Arena, dia tidak bisa cuma mengandalkan “rasa” atau insting. Dia butuh persiapan—fisik, mental, dan yang paling mendesak: uang.

Dia bangun pelan, mengenakan sepatu, lalu keluar kamar tanpa membangunkan Mira. Gang di belakang penginapan masih sepi, hanya ada beberapa pedagang pagi yang membuka kios kecil: roti tawar basi, sup sisa malam, dan koran bekas. Raito berjalan ke ujung gang, mencari tempat yang tenang untuk berpikir.

Dia duduk di trotoar retak, punggung bersandar ke tembok dingin. Dompetnya—yang sekarang berisi sisa uang dari Mira—hanya punya sekitar 80.000 jenny. Biaya penginapan seminggu lagi akan habis. Makanan murah sehari-hari butuh minimal 5.000 jenny. Kalau dia kalah terus di arena, mereka bisa kelaparan dalam dua minggu.

“Harus dapat uang cepat,” gumamnya pada diri sendiri. “Tapi aku nggak bisa curi. Nggak bisa jual apa-apa. Cuma punya kekuatan ini…”

Dia angkat tangan kanan, fokus seperti malam tadi. Aliran hangat muncul lagi, tapi kali ini lebih lemah—seperti baterai yang hampir habis. Bola cahaya kecil muncul di telapak, tapi cepat padam. Raito menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa pakai ini untuk cari uang di jalan. Terlalu mencolok. Bisa ditangkap polisi atau mafia.”

Dia ingat kata Mira kemarin: “Heavens Arena bukan cuma tempat bertarung. Ada taruhan sampingan di lantai bawah. Kalau kamu yakin menang, bisa pasang taruhan kecil. Tapi kalau kalah, hutang. Jangan main kalau nggak siap.”

Taruhan. Itu berisiko. Tapi kalau dia menang sekali saja di lantai rendah, hadiahnya cukup untuk dua minggu makan dan penginapan. Risikonya: kalau kalah, mereka harus cari cara lain—mungkin Mira harus kembali ke pekerjaan lama sebagai pemburu bayaran, yang dia benci.

Raito berdiri. “Fisik dulu. Mental belakangan.”

Dia mulai berlari kecil di gang sempit itu—lari-lari di tempat, push-up di trotoar kotor, squat sampai kaki gemetar. Setiap gerakan membuatnya ingat maraton di Hunter Exam. Saat itu dia hampir menyerah, tapi sekarang dia punya alasan: bukan cuma bertahan hidup, tapi membuktikan bahwa dia bukan cuma “orang yang terlempar ke sini”.

Setelah satu jam, keringat membasahi bajunya. Dia kembali ke penginapan. Mira sudah bangun, sedang membersihkan pisau di meja kecil.

“Bangun pagi ya?” tanyanya tanpa menoleh.

“Aku latihan fisik. Nggak mau masuk arena dengan tubuh lemah.”

Mira mengangguk setuju. “Bagus. Fisik adalah dasar Nen. Aura mengalir lebih baik kalau tubuh kuat. Hari ini kita fokus endurance dan kekuatan dasar. Nggak pakai Nen dulu—supaya kamu nggak kelelahan sebelum besok.”

Mereka keluar lagi. Mira membawa Raito ke sebuah lapangan kecil di belakang pasar gelap—tempat yang jarang dikunjungi orang biasa, tapi sering dipakai petarung latihan. Di sana ada beberapa pohon tua, batu besar, dan tanah berpasir.

“Lari keliling lapangan 20 putaran,” kata Mira. “Setiap putaran, stop dan lakukan 20 push-up. Kalau capek, istirahat 30 detik saja. Jangan lebih.”

Raito mulai. Putaran pertama mudah. Putaran kelima, napasnya sudah tersengal. Putaran kesepuluh, kakinya terasa seperti timah. Mira berjalan di samping, tidak berlari, tapi terus bicara.

“Fokus napas. Tarik dalam, hembus pelan. Jangan biarkan pikiran bilang ‘cukup’. Bilang ‘masih bisa satu lagi’.”

Raito mengikuti. Saat sampai putaran 15, dia hampir jatuh. Tapi dia ingat senyum Gon di tepi sungai—anak itu berlari riang meski semua orang capek. Raito menggertak gigi, lanjut sampai 20.

Setelah itu, push-up. Mira ikut, tapi dia lebih cepat—bisa 50 tanpa henti. Raito hanya sampai 30 sebelum tangannya gemetar.

“Bagus untuk hari pertama,” kata Mira. “Besok tambah 5 putaran. Fisikmu akan naik cepat kalau kamu konsisten.”

Mereka istirahat di bawah pohon. Mira membagi roti kering yang dibeli tadi pagi.

“Sekarang mental,” katanya. “Heavens Arena bukan cuma soal pukul orang. Banyak petarung yang kalah karena takut. Takut sakit, takut kalah, takut mati. Kamu harus siap kalau lawan lebih kuat. Siap kalau kamu terluka parah. Siap kalau kamu kalah dan nggak dapat uang.”

Raito memandang roti di tangannya. “Aku takut. Tapi… aku lebih takut kalau kita kelaparan. Aku lebih takut kalau aku nggak pernah tahu kenapa aku dibawa ke sini.”

Mira tersenyum tipis. “Itu sudah cukup. Gunakan rasa takut itu sebagai bahan bakar. Bukan untuk lari, tapi untuk maju.”

Mereka latihan lagi sampai siang: sparring ringan tanpa Nen, Mira mengajari teknik dasar tinju dan tendangan rendah. Raito belajar cepat—instingnya tajam, meski tubuhnya masih kaku.

Sore harinya, mereka ke pasar gelap untuk cari uang kecil. Mira menjual pisau cadangan lama yang dia punya—dapat 30.000 jenny. Raito membantu angkat barang untuk pedagang, dapat 5.000 jenny tambahan. Total: cukup untuk makan tiga hari dan tiket masuk arena besok.

Malam itu, kembali ke kamar, Raito duduk bersila di lantai. Dia latihan Ten lagi—membungkus tubuh dengan aura tipis. Kali ini lebih stabil, meski masih samar. Mira mengawasi dari tempat tidur.

“Besok, lantai 1. Lawanmu kemungkinan besar orang biasa. Tapi jangan remehkan. Kekuatan fisik murni bisa membunuh kalau nggak hati-hati.”

Raito mengangguk. “Aku nggak akan remehkan. Dan aku nggak akan menyerah.”

Cahaya kecil di telapak tangannya berpendar pelan, menerangi wajahnya yang penuh tekad.

Mira memandangnya lama. “Kamu berubah sejak ujian Hunter. Dulu kamu cuma ingin pulang. Sekarang… kamu mulai ingin bertahan.”

Raito tersenyum kecil. “Mungkin karena aku mulai punya alasan. Bukan cuma pulang… tapi jadi seseorang yang bisa bantu orang lain, seperti Gon bantu aku tanpa sadar.”

Mira diam sejenak. Lalu dia berbaring, memejamkan mata. “Tidur. Besok hari besar.”

Raito mematikan lampu. Dalam kegelapan, cahaya kecil di dadanya masih terasa—hangat, stabil, seperti janji bahwa besok dia akan lebih kuat.

Dan untuk pertama kalinya sejak terlempar ke dunia ini, Raito tidur tanpa mimpi buruk.

Hanya mimpi tentang ring pertarungan, dan cahaya yang semakin terang.

(Flashback berakhir – kembali ke masa kini, setelah pertarungan pertama di lantai 1)

Raito duduk di koridor Heavens Arena, memandang kartu kemenangan di tangannya. 50.000 jenny. Cukup untuk makan seminggu dan bayar penginapan.

Mira duduk di sampingnya, tersenyum bangga. “Hari pertama sukses. Besok lantai 2. Kamu siap?”

Raito mengangguk. “Lebih siap dari kemarin.”

Cahaya di dadanya berdenyut pelan—seperti mengiyakan.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!