NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Yang Tak Pernah Padam

Angin malam di atas atap mansion Irina bukan sekadar hembusan udara, ia adalah saksi bisu dari drama kosmik yang telah berlangsung selama berabad-abad. Angin itu menyapu permukaan genteng tua dengan kasar, membawa aroma hujan yang belum tumpah dan bau besi yang tajam aroma khas dari mantra pelindung keluarga Grozen yang sedang bekerja ekstra keras. Di puncak bangunan yang megah itu, dua sosok berdiri dalam keheningan yang menyesakkan.

Dua hellhound hitam. Dua entitas yang lahir dari api neraka yang paling murni, kini terperangkap dalam tubuh yang ditekan oleh sihir manusia.

Jover berdiri di tepi atap, sosoknya tampak seperti patung yang dipahat dari bayangan. Punggungnya lurus sempurna, bahunya lebar, menopang beban yang tak kasat mata. Matanya yang kuning terang menembus kegelapan malam, menatap lurus ke arah bulan perak yang menggantung di langit dunia manusia. Bulan itu tampak begitu tenang, begitu acuh tak acuh terhadap gejolak api yang membara di dalam dada sang prajurit neraka.

Beberapa langkah di belakangnya, Calona berdiri dengan keanggunan seorang ratu yang sedang terluka. Rambut hitamnya yang panjang bergerak liar tertiup angin, seperti lidah api yang menari di tengah kegelapan. Gaun gelapnya yang indah berkibar-kibar, sesekali memperlihatkan siluet tubuhnya yang tegang. Rahangnya mengeras, dan riasan tajam di wajah cantiknya tampak seperti topeng perang yang mulai retak.

“Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu,” ucap Calona tiba-tiba. Suaranya dingin, namun ada getaran halus yang ia coba tekan sekuat tenaga. “Itu tidak cocok dengan wajahmu, Jover.”

Jover menoleh perlahan, gerakannya lambat dan penuh perhitungan. “Irina menyuruhmu bicara padaku?”

Calona mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang tertahan di tenggorokan Jover. “Sejak kapan kau menjadi begitu patuh pada kata-kata seorang manusia? Apakah mantra rumah ini sudah merusak otak bengis mu?”

Calona tidak terpancing. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung kelelahan ribuan tahun.

“Sejak aku menyadari bahwa beberapa keputusan, beberapa pengorbanan, jauh lebih besar dan lebih penting daripada api yang kita banggakan ini.”

Keheningan kembali jatuh di antara mereka, lebih berat dari sebelumnya. Hanya suara derit halus dari atap kayu dan hembusan angin yang mengisi ruang kosong di antara dua hati yang retak.

“Kau masih mencintainya,” ucap Calona akhirnya. Itu bukan sebuah pertanyaan. Itu adalah vonis yang telah ia simpan selama bertahun-tahun di dalam hatinya yang membara.

Jover tidak memalingkan wajah. Ia tidak mencoba mencari alasan atau menyembunyikan kebenaran di balik metafora

“Ya.”

Satu kata itu jatuh seperti batu besar ke dalam kolam air yang tenang, menciptakan riak yang menghancurkan refleksi diri Calona. Satu kata yang cukup untuk mengoyak kembali luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.

“Dan kau juga mencintaiku,” lanjut Calona, kali ini suaranya melemah, nyaris tenggelam oleh deru angin. “Bukan begitu?”

Jover kini menatapnya sepenuhnya. Cahaya kuning di matanya bertemu dengan api kuning di mata Calona. Dua frekuensi energi yang sama, namun membawa resonansi yang berbeda.

“Ya.”

Dua kata itu jatuh lebih berat dari api neraka mana pun. Calona tertawa kecil, sebuah tawa getir yang pecah di udara malam.

“Kau benar-benar serakah, Jover. Kau menginginkan kedamaian dari sang putih, namun kau tidak bisa melepaskan panas dari sang hitam.”

“Mungkin,” jawab Jover jujur, suaranya parau.

“Atau mungkin aku adalah makhluk bodoh yang tidak pernah belajar bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah mendarah daging.”

Calona melangkah mendekat, memangkas jarak yang memisahkan mereka. Panas tubuhnya yang ditekan cincin masih terasa menyengat.

“Kau menikahinya di depan mataku. Kau memberikan sumpah padanya demi apa yang kau sebut 'keseimbangan'.”

“Aku menikahinya karena tugas, karena garis keturunan hellhound putih tidak boleh padam,” jawab Jover dengan nada yang mulai bergetar.

“Namun aku jatuh cinta padanya di luar rencana. Kesuciannya, ketenangannya itu adalah sesuatu yang tidak pernah kutemukan di neraka.”

“Dan aku? Apa aku hanya sisa-sisa dari rencana yang berantakan itu?” tanya Calona, matanya menyala lebih terang, mencerminkan rasa sakit yang amat sangat.

“Kau adalah api yang selalu kupilih, Calona,” kata Jover pelan, langkahnya kini mendekat hingga mereka hampir bersentuhan

“Bahkan ketika aku tahu aku tidak seharusnya memilihmu, tetapi aku tetap memilihmu.”

Kata-kata itu seharusnya memberikan kehangatan, namun bagi Calona, itu justru seperti menuangkan minyak ke atas bara api. Ia memalingkan wajahnya, menatap kerlip lampu kota manusia di kejauhan yang tampak seperti bintang-bintang palsu yang jatuh ke bumi.

“Aku selalu menghibur diriku dengan memanggil Nivera sebagai gundik,” bisik Calona, air mata yang tak pernah ia izinkan jatuh kini menggenang di sudut matanya

“Makhluk putih menjijikkan yang mengambil tempatku di sisimu. Aku menciptakan narasi itu agar aku bisa terus membencinya tanpa merasa bersalah.”

Ia tertawa lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih pahit. “Padahal, kenyataan pahitnya adalah... akulah yang datang belakangan. Akulah yang harus mengemis perhatianmu.”

Jover tidak menyangkal. Keheningan yang ia berikan adalah pengakuan paling jujur yang bisa ia tawarkan.

“Aku membenci diriku sendiri,” lanjut Calona jujur

“Karena meskipun aku tahu aku dipilih terakhir, meskipun aku tahu cintamu terbelah, aku tetap bertahan di sisimu.”

Jover berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas mereka saling bersentuhan. Api di dalam diri mereka seolah ingin meledak, menghancurkan cincin penahan yang mengekang mereka, hanya untuk saling mendekap dalam kehancuran.

“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Calona,” kata Jover akhirnya. “Dan memiliki dua cinta dalam satu jiwa adalah dosa terbesarku.”

Calona menutup matanya, membiarkan angin malam menyapu wajahnya. “Setelah semua ini selesai, setelah Irina melahirkan anak nya, aku akan pergi. Aku akan kembali ke Perditon. Istana itu sudah terlalu lama kosong tanpa ratunya.”

Jover mengangguk pelan. Ia tahu ia tidak bisa menahan wanita ini lebih lama lagi dalam sangkar emas dunia manusia.

“Dan Cloudet?” tanya Jover.

Calona membuka matanya, menatap Jover dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dia adalah bukti hidup dari cintamu yang bercabang. Dia membawa darah putih kesucian yang aku benci dan darah hitam kegekapan yang aku cintai.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Jaga dia, Jover. Jaga dia lebih baik daripada caramu menjaga Nivera. Jangan biarkan dia mati karena ketidakseimbangan yang kita ciptakan.”

Calona berbalik, melangkah menuju kegelapan di sisi lain atap. Sebelum ia benar-benar menghilang, ia berhenti satu kali lagi tanpa menoleh.

“Jover,” katanya dengan suara yang sangat tenang namun membawa luka yang abadi

“Di kehidupan selanjutnya, jika kita memang harus bertemu lagi. tolong… jangan pilih aku. Biarkan aku menjadi api yang bebas, tanpa harus terbakar oleh cintamu.”

Langkahnya berlanjut hingga ia tertelan oleh bayangan. Jover berdiri sendirian di bawah langit dunia manusia yang luas. Api di dadanya berdenyut pelan, terjepit di antara memori tentang Nivera yang suci dan cinta yang membara pada Calona yang kini pergi.

Di atas atap itu, dua cinta besar telah berpisah. Bukan karena mereka berhenti peduli, melainkan karena mereka menyadari bahwa sejak awal, takdir tidak pernah memberikan mereka ruang untuk saling memiliki secara utuh. Angin malam terus bertiup, membawa sisa-sisa api yang kini hanya menjadi abu di udara.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Blueberry Solenne
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!