Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang manis
Cahaya matahari pagi mulai mengintip malu-malu di balik celah gorden kamar, membawa rona keemasan yang lembut. Carmenita perlahan membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Rasa kantuk masih menggelayuti kesadarannya, namun sensasi hangat dan berat di area perutnya membuat ia terjaga sepenuhnya.
Di sana, sebuah lengan kekar melingkar posesif, mendekapnya erat seolah takut ia akan menghilang. Carmen bisa merasakan hembusan napas teratur yang hangat menerpa tengkuknya. Itu adalah napas Samudera, pria yang semalaman ini telah membawanya mengarungi samudera gair*h yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Carmen tersenyum kecil, namun seketika rona merah padam menjalar hingga ke lehernya. Di bawah selimut tebal itu, ia bisa merasakan setiap inci kulit mereka yang bersentuhan tanpa penghalang sehelai benang pun. Saat ia mengedarkan pandangan ke lantai marmer, hatinya makin berdesir melihat pakaian yang berserakan tak beraturan menjadi saksi bisu betapa membara malam yang mereka lalui.
‘Tubuhku benar-benar terasa remuk,’ batinnya malu-malu, mengingat bagaimana Samudera memanjakannya berkali-kali hingga ia kehilangan tenaga.
Dengan gerakan sangat pelan, Carmen membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah suaminya. Samudera terlihat begitu damai dalam tidurnya, gurat tegas di wajahnya melunak, membuatnya tampak jauh lebih muda. Merasa sangat gemas dan penuh cinta, Carmen memberanikan diri. Ia memajukan wajahnya sedikit, lalu mengecup pipi kanan Samudera dengan sangat lembut.
Baru saja ia hendak menarik diri, sebuah suara berat yang serak khas bangun tidur memecah keheningan.
"Kenapa kau menciumku? Apakah semalam masih kurang?"
Carmen tersentak hebat. Matanya membulat saat melihat Samudera perlahan membuka kelopak matanya, menatapnya dengan tatapan intens yang masih menyimpan sisa-sisa gair*h semalam.
"Apa perlu aku cium lagi seluruh tubuhmu?" sambung Samudera dengan seringai tipis yang menggoda.
"A-ah! Om sudah bangun?!" seru Carmen panik. Wajahnya terasa panas seperti terbakar. Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh kepalanya, bersembunyi di balik kegelapan kain tersebut karena malu yang luar biasa.
Samudera terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat seksi di telinga Carmen. Alih-alih membiarkan istrinya bersembunyi, Samudera justru mendekat, merapatkan tubuhnya hingga tak ada celah di antara mereka. Ia memeluk gundukan selimut itu dengan gemas.
"Kenapa bersembunyi, Sayang? Bukannya semalam kau sangat berani memintaku untuk tidak berhenti?" bisik Samudera tepat di balik selimut, membuat Carmen semakin meringkuk.
"Ommm! Jangan dibahas! Aku malu!" suara Carmen teredam, terdengar sangat menggemaskan.
Samudera menarik sedikit ujung selimut itu hingga mata jernih Carmen terlihat. Ia mengecup kening istrinya dengan sayang. "Tidak perlu malu. Kau adalah milikku, Carmen. Seluruhnya. Dan apa yang terjadi semalam... itu adalah cara terbaikku untuk bilang kalau aku sangat mencintaimu."
Mendengar pengakuan itu, Carmen memberanikan diri menurunkan selimutnya hingga sebatas hidung. "Benar ya? Om tidak akan menyesal karena sudah 'menyerahkan diri' padaku?" tanyanya dengan nada polos yang jenaka.
Samudera menaikkan sebelah alisnya, lalu dengan gerakan cepat ia membalikkan posisi hingga kini ia berada di atas Carmen, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan.
"Menyesal? Justru aku menyesal kenapa tidak melakukan ini sejak malam pertama kita," jawab Samudera sungguh-sungguh, sebelum akhirnya kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman pagi yang hangat dan penuh janji.
.
.
Meja makan pagi itu terasa berbeda. Meski hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring porselen, atmosfer di antara mereka terasa begitu padat. Carmen menunduk dalam, mengaduk nasi gorengnya dengan gerakan lambat. Sesekali ia melirik Samudera dari sudut matanya, lalu kembali menunduk saat menyadari pria itu juga sedang menatapnya. Semuanya terasa seperti mimpi indah yang terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.
"Habiskan sarapanmu, setelah itu jangan lupa minum obat," suara berat Samudera memecah keheningan. Ia meletakkan sendoknya, menatap Carmen dengan gurat kecemasan yang samar. "Oh iya, besok aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku sedikit khawatir setelah kejadian semalam... Maaf jika aku sudah menyentuhmu terlalu jauh, Carmen."
Mendengar permintaan maaf yang tulus itu, rasa malu Carmen seketika menguap, berganti dengan keberanian yang muncul dari lubuk hatinya. Ia tidak ingin Samudera merasa bersalah atas kebahagiaan yang mereka bagi.
Carmen beranjak dari kursinya. Dengan langkah pasti namun tetap dengan pipi yang merona, ia menghampiri Samudera dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya. Tindakan tiba-tiba itu membuat Samudera sedikit tersentak, namun lengannya dengan sigap melingkar di pinggang ramping Carmen agar istrinya tidak terjatuh.
"Om tidak perlu meminta maaf," bisik Carmen sambil menangkup wajah tegas suaminya. "Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Bukankah Om Sam mencintaiku?"
Samudera tertegun sejenak, menatap mata bening yang memancarkan kejujuran itu. Perlahan, ia menarik Carmen ke dalam pelukan yang sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Carmen, menghirup dalam-dalam aroma sampo stroberi yang manis dan menenangkan.
"Terima kasih, Istriku," jawab Samudera tulus. Tatapan matanya yang tajam kini melunak, hanya menyisakan binar kasih sayang.
Jantung Carmen berdegup kencang. Panggilan "Istriku" dari bibir Samudera terdengar seperti melodi paling indah. Ia tersenyum sangat lebar, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami dengan hati yang membuncah bahagia.
Sinar matahari pagi yang hangat menemani langkah mereka keluar rumah. Sesuai janji, Samudera mengajak Carmen berjalan-jalan santai di sekitar komplek. Tangan mereka bertautan erat, jemari yang saling mengunci seolah tak ingin lepas barang sedetik pun.
Taman komplek mulai ramai oleh para penghuni yang berjoging atau sekadar berjalan santai. Carmen berceloteh riang tentang keinginannya menanam bunga di halaman depan, sementara Samudera mendengarkan dengan senyum tipis yang tak lepas dari wajahnya.
Namun, momen manis itu tiba-tiba terganggu.
"Sam... aaarrrrkkkhhh! Kau kah itu? Akhirnya ketemu juga!"
Seorang wanita cantik dengan pakaian joging ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya berlari kecil menghampiri mereka. Carmen seketika menghentikan langkahnya. Mood nya merosot tajam melihat kehadiran wanita asing yang tiba-tiba memotong percakapan mereka.
Samudera menyipitkan mata, mencoba menggali ingatan dari masa lalunya.
"Mayang ya?" tanya Samudera akhirnya setelah berhasil mengenali wajah itu.
"Ya ampun! Rupanya kau masih ingat denganku, Sam! Ya, aku Mayang, penggemar setiamu. Wah, kau terlihat awet muda ya!" sahut wanita itu dengan nada genit, bahkan ia sempat menyentuh lengan Samudera sekilas sambil tertawa kecil.
Carmen yang berdiri tepat di samping Samudera merasa seperti udara di sekitarnya mendadak panas. Wanita bernama Mayang itu sama sekali tidak melirik ke arahnya, seolah-olah Carmen hanyalah patung pajangan di taman itu. Carmen mengeratkan genggaman tangannya pada Samudera, sementara tangan kirinya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
‘Siapa tante-tante genit ini? Berani-beraninya dia mengabaikan ku dan menyentuh Om Sam!’ batin Carmen kesal bukan main.
Bersambung...
lagian kamu jangan ngehina Carmen y,,kamu belum tau y klo istri nya singa lg marah? 🙈
hati2 Saaam!! singa betina d samping mu siap menerkam klo kamu melenceng sedikit..🤭
awas lho Sam klo kamu sampe nyakitin Carmen,,dia udh menyerahkan seluruh hidup nya bwt kamu..jangan sampe kamu berpaling dr Carmen,,awas aj klo itu sampe terjadi!!!! 👊
maka nya Sam jangan bergelut dgn kerjaan aj atuuh,,peka dikit..kan skarang kamu udh punya istri, masih belia bgt lg 🤭..skali kali cari tau pergaulan anak remaja kaya gimana, biar kamu jg ikutan muda lg..biarpun yaaaa kamu jg masih keliatan muda sih dr usia kamu, tp kan klo kamu selalu update tentang kehidupan remaja jd nilai plus bwt kamu...secara istri kamu tuh 'putri kecil' mu yg naik tingkat 😁